### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Akhir
Waktu ujian tengah semester kelas XI-C berakhir tepat pukul sepuluh pagi. Bel berbunyi panjang, menandakan seluruh lembar jawaban harus dikumpulkan. Reyhan berjalan dari satu meja ke meja lain, mengumpulkan kertas-kertas jawaban satu per satu, dengan perasaan yang jauh lebih berat dari yang dia bayangkan sebelumnya.
Bukan hanya karena ini penentu akhir dari misi sistemnya lima dari tiga puluh murid harus naik minimal dua puluh poin, atau reward yang dia perjuangkan sepanjang minggu akan terpotong drastis.
Tapi lebih dari itu, ini juga penentu apakah metode yang dia bangun dengan susah payah selama enam hari terakhir benar-benar berhasil menyentuh murid-muridnya, atau hanya ilusi perubahan yang terlihat manis di permukaan saja.
Setelah semua kertas terkumpul, Reyhan meminta izin kepada Bu Retno untuk memeriksa hasil ujian sendiri di ruang guru, alih-alih menyerahkannya ke bagian kurikulum seperti prosedur biasa.
Ia beralasan ingin memberikan penilaian yang lebih personal, mengingat metode belajar yang dia terapkan juga berbeda dari biasanya. Bu Retno, meski awalnya ragu, akhirnya mengizinkan sebagian karena penasaran juga dengan hasilnya.
Ruang guru siang itu sepi, hanya ada Reyhan dan tumpukan kertas jawaban di mejanya. Ia mulai memeriksa satu per satu, membandingkan dengan nilai ujian sebelumnya yang sudah dia catat di awal minggu sebagai patokan dasar.
Kertas pertama yang dia periksa adalah milik Dimas. Tangannya sedikit gemetar membuka lembar itu, mengingat betapa banyak hal yang sudah mereka lalui bersama sepanjang minggu ini dari obrolan santai di warung sampai kejadian pagi tadi yang nyaris membuat Dimas tidak bisa ikut ujian sama sekali.
Angka di pojok kanan atas membuat Reyhan tersenyum lebar: **82**, naik jauh dari nilai sebelumnya yang hanya **48**. Kenaikan tiga puluh empat poin jauh melampaui target minimal dua puluh poin yang ditetapkan sistem.
Soal-soal hitungan persentase, yang minggu lalu pasti akan dikosongkan begitu saja oleh Dimas, kini dijawab dengan benar hampir semuanya, lengkap dengan cara pengerjaan yang rapi hasil dari kebiasaan menghitung untung warung yang mereka latih bersama.
Reyhan melanjutkan memeriksa kertas Nadia. Nilai sebelumnya sudah cukup tinggi, **75**, jadi target kenaikan dua puluh poin sebenarnya lebih berat untuknya dibanding murid lain yang nilainya rendah.
Tapi begitu Reyhan membuka lembar jawabannya, dia melihat hasil yang hampir sempurna di bagian soal pilihan ganda, ditambah esai bahasa Indonesia yang ditulis dengan begitu personal dan matang jauh melampaui standar biasa anak SMA.
Nilai akhir Nadia: **96**. Kenaikan dua puluh satu poin, tipis melampaui target, tapi cukup.
Reyhan menyandarkan punggungnya ke kursi sejenak, menghela napas lega. Dua murid sudah pasti masuk target. Ia melanjutkan memeriksa kertas-kertas lain satu per satu, dengan harapan yang mulai tumbuh di dadanya.
Kertas ketiga yang cukup mengejutkan datang dari salah satu murid yang selama ini tidak terlalu diperhatikan Reyhan seorang anak perempuan bernama Wulan, yang biasanya duduk diam di barisan tengah, tidak menonjol dalam hal buruk maupun baik.
Nilainya naik dari **50** menjadi **74**, kenaikan dua puluh empat poin. Reyhan tidak menyangka, ternyata metode belajar sambil bermain kelompok yang dia terapkan beberapa hari lalu permainan "warung imajiner" yang viral itu ternyata cukup efektif membantu murid-murid yang selama ini pasif di kelas, tanpa Reyhan sadari secara langsung.
Murid keempat yang naik signifikan adalah salah satu teman sekelompok Bimo saat permainan warung, seorang anak laki-laki bernama Rizky, yang nilainya naik dari **55** ke **77**, kenaikan dua puluh dua poin. Reyhan mengingat, Rizky termasuk yang paling aktif berdebat soal strategi warung imajiner mereka, bahkan sampai berdebat kecil dengan Bimo soal harga jual yang paling menguntungkan.
Empat murid sudah pasti melewati target. Tinggal satu murid lagi untuk memastikan misi ini berhasil sepenuhnya.
Reyhan mengambil kertas terakhir yang paling dia tunggu-tunggu: milik Bimo.
Ia membuka lembar jawaban itu perlahan, jantungnya berdegup kencang. Sepanjang minggu ini, Bimo adalah tantangan tersendiri bukan karena dia bodoh atau tidak mampu, tapi karena sikap sinis dan cueknya yang seringkali menghalangi dia untuk benar-benar berusaha.
Nilai sebelumnya: **60**. Reyhan menelusuri jawaban demi jawaban dengan teliti.
Beberapa soal awal dijawab dengan cukup baik, terlihat usaha yang lebih serius dibanding ujian-ujian sebelumnya.
Tapi di beberapa bagian belakang, terutama soal esai, jawabannya terlihat terburu-buru, seperti dikerjakan dengan sisa waktu yang sempit.
Reyhan menjumlahkan nilai akhir Bimo: **78**. Kenaikan delapan belas poin — dua poin di bawah target minimal dua puluh yang ditetapkan sistem.
Reyhan menghela napas panjang, campuran antara lega dan sedikit kecewa.
Empat murid sudah pasti melampaui target, cukup untuk memenuhi syarat minimal lima murid yang ditetapkan sistem tapi rasanya tanggung sekali kalau Bimo, yang sebenarnya sudah menunjukkan progres besar dibanding sikap awalnya, harus terlewat hanya karena selisih dua poin.
Ia membuka layar holografik sistem, memeriksa progres misi secara resmi.
> [Progres Misi: 4/5 murid mencapai target kenaikan nilai (konfirmasi akhir).]
> [Syarat minimum: 5 murid. Status: BELUM TERPENUHI.]
> [Sisa waktu: 3 jam.]
Reyhan menatap layar itu lama-lama, merasakan tekanan yang tiba-tiba kembali menghimpit dadanya. Empat murid saja tidak cukup. Ia butuh satu murid lagi yang mencapai target, dan waktu yang tersisa hanya tiga jam sebelum periode tugas ini resmi berakhir.
Ia memeriksa ulang seluruh kertas yang belum dia periksa dengan teliti, berharap ada murid lain yang terlewat, yang mungkin naik nilainya lebih tinggi dari perkiraan awal.
Tapi setelah memeriksa seluruh tiga puluh lembar jawaban, hasilnya tetap sama hanya empat murid yang benar-benar melampaui target dua puluh poin.
Reyhan duduk terdiam di ruang guru yang mulai sepi, memikirkan berbagai kemungkinan. Ia tahu, sistem tidak memberi ruang untuk toleransi atau kompromi target adalah target, dan gagal sedikit saja tetap dianggap gagal secara teknis.
Namun, di tengah kebuntuan itu, matanya tertuju pada kertas jawaban Bimo yang masih terbuka di mejanya.
Ia memperhatikan lagi jawaban-jawaban di bagian belakang yang terburu-buru itu bukan karena Bimo tidak tahu jawabannya, tapi karena waktu yang tersisa mepet, mungkin karena dia terlalu lama berpikir di soal-soal awal yang sebenarnya sudah dia kuasai dengan baik.
Sebuah ide muncul di kepala Reyhan. Sistem penilaian sekolah biasanya memungkinkan adanya sesi remedial atau ujian susulan singkat untuk kasus-kasus tertentu, terutama kalau ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Dan kebetulan, tiga jam yang tersisa sebelum periode misinya berakhir masih cukup waktu untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dia lakukan sepanjang minggu ini memberi Bimo kesempatan kedua, dengan caranya sendiri.
Reyhan bangkit dari kursinya, mengumpulkan kertas-kertas jawaban itu rapi-rapi, lalu bergegas keluar ruang guru menuju kelas XI-C, di mana Bimo dan beberapa murid lain masih menunggu jam pelajaran berikutnya dengan santai, tidak menyadari bahwa nasib misi gurunya sedang dipertaruhkan pada keputusan yang akan dia ambil dalam beberapa menit ke depan.
Waktu tiga jam itu terasa seperti berlari mengejar sesuatu yang mustahil dikejar tapi Reyhan sudah bertekad, dia tidak akan menyerah semudah itu, bukan setelah melihat sendiri betapa jauh Bimo sudah berubah sepanjang minggu ini, meski hasil di atas kertas belum sepenuhnya mencerminkan itu.