Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Xavier sudah beberapa hari ini dilatih bela diri dasar. Meskipun beberapa kali ia berlatih dengan senjata seperti pedang panjang, tapi itu hanya sesi pengenalan saja. Latihan utamanya tetap masih di tingkat dasar. Bahkan hari ini ia diminta untuk mengulang gerakan yang sama sejak latihan dimulai.
“Guru, ini berlebihan,” keluhnya sambil terus bergerak.
“Tambah kekuatanmu!” teriak sang guru.
“HA!” “HA!” “HA!”
Xavier mengikuti perintah gurunya dan menambah kekuatan. Semakin besar kekuatan yang ia keluarkan, semakin keras juga suaranya.
Di tengah-tengah latihan tersebut, datanglah seorang prajurit yang diikuti oleh seorang pemuda.
“Tuan Ragnar, Komandan meminta saya mengantar murid baru anda,” ucap prajurit tersebut.
Ragnar menoleh lalu mengangguk dan mengangkat tangannya memberi perintah agar prajurit tersebut pergi. Kemudian ia berjalan ke tepi arena berlatih menghampiri pemuda tersebut.
“Dante Grimm?”
“Iya Tuan Guru.”
“Jangan panggil aku Tuan Guru, cukup panggil Guru saja.”
“Baik Tuan Guru, maksud saya Guru.”
Ragnar menggelengkan kepalanya, sepertinya ia mendapat satu murid yang sangat bersemangat. Ia berharap muridnya kali ini tidak secerewet Xavier dan juga cukup kompeten untuk mempelajari ilmu beladiri, tidak seperti Xavier.
Kemudian Ragnar menoleh ke arah Xavier dan menginstruksikannya untuk berhenti. Xavier pun berhenti. Nafasnya terdengar memburu.
“Kalian bertanding lah!”
Xavier dan Dante saling menatap kemudian mereka menoleh ke arah Sang Guru secara bersamaan.
“Hah? apa? tapi kenapa?” Seru keduanya secara bersamaan.
“Sudah lakukan saja!” Teriak Ragnar membuat keduanya langsung menutup mulut masing-masing..
Dante masuk ke arena latihan lalu membungkuk hormat ke arah Xavier. Tanpa aba-aba, Dante langsung menyerang Xavier menggunakan tinjunya.
“AAAAAAAAA,” Xavier berteriak dan berlari menghindar. Semua yang sudah dipelajarinya beberapa hari ini menguap begitu saja.
Teriakan yang begitu memekakkan telinga itu membuat Ragnar menepuk dahinya pelan. Ia menghela nafas lalu berteriak, “BERHENTI! Sudah cukup!”
“Kamu bahkan kalah dengan anak yang baru masuk.”
“Jangan salahkan aku, aku memang tidak berbakat bela diri,” ucap Xavier membela dirinya sendiri.
“Sebesar apapun bakat seseorang, tanpa latihan juga akan sia-sia. Orang tidak berbakat juga bisa lebih baik jika rajin berlatih,” ucap Sang Guru.
Xavier diam mendengarkan meskipun tidak minat untuk memahami ucapan Sang Guru. Sedangkan Dante, ia menganggukkan kepalanya. Memahami ucapan Sang Guru dengan baik dan menyimpannya di dalam hati.
Setelah itu, Ragnar meminta Dante untuk berdiri dengan memasang kuda-kuda dan mengangkat tangannya lurus ke depan.
“Tekuk lagi kakinya!” Seru Ragnar.
Dante menekuk lagi kakinya sesuai perintah Ragnar dan merasakan hal yang berbeda daripada saat berlatih sendiri. Gerakan yang sama namun kali ini terasa lebih berat dari biasanya.
“Aku dengar kamu sering berlatih mengikuti para prajurit, rajin berlatih memang bagus tapi berlatih dengan teknik yang benar itu lebih bagus lagi dan bisa memaksimalkan hasilnya terutama saat bertarung sungguhan. Lalu…”
“Berlatih dengan teknik yang benar bisa menurunkan kemungkinan cedera. Prajurit yang cedera hanyalah cangkang kosong, jadi menjaga diri agar tidak cedera selama latihan itu penting.”
“BAIK TUAN GURU! eh.. GURU!”
Dante terus mendengarkan ucapan Ragnar baik-baik dan menyimpannya di dalam kepala dan hatinya. Ia sedikit memahami kenapa Tuan Komandan membuatnya berlatih dari dasar. Ia juga merasa sedikit malu saat mengingat tadi sempat menyombongkan latihannya selama bertahun-tahun.
“Terus aku ngapain guru?” Tanya Xavier.
“Kamu lanjutkan gerakan yang tadi.”
“Lagi?”
“Kamu bahkan belum mencapai tujuh puluh persen dari gerakan yang benar.”
“ARGHHHH!”
Meskipun terus mengeluh dan berteriak frustasi, Xavier tetap melakukan perintah Ragnar untuk melanjutkan latihannya.
Beberapa saat yang lalu, Dante datang ke tenda Kaelen sesuai ucapannya waktu itu. Kondisi temannya sudah membaik dan bisa ditinggal di rumah sendirian.
“Apa Tuan Komandan ada di dalam?” tanyanya kepada prajurit yang berjaga di luar tenda.
“Tunggu di sini!”
Prajurit tersebut masuk dan melaporkan kedatangan Dante. Setelah itu, baru ia diizinkan masuk ke dalam tenda.
“Apa temanmu sudah sembuh?” tanya Kaelen begitu melihat Dante masuk ke dalam tendanya.
“Iya Tuan Komandan!”
“Kalau begitu, latihanmu bisa dimulai hari ini. Kamu akan berlatih bersama dengan Xavier. Kalian juga saling kenal jadi itu akan memudahkan kalian untuk berinteraksi.”
Dante terdiam sesaat.
Berada di belakang benteng setiap hari membuatnya mengetahui desas desus yang beredar. Ia tahu kalau Xavier hanyalah seorang bangsawan kutu buku yang tidak memiliki dasar ilmu bela diri sedikitpun.
“Itu artinya aku akan berlatih bersama pemula?” tanyanya yang langsung dijawab sebuah anggukan oleh Kaelen.
“Tapi aku sudah berlatih selama bertahun-tahun.”
Dante merasa ia bisa mengikuti latihan prajurit seperti yang lain karena sudah bertahun-tahun mengikuti latihan bersama dengan mereka meskipun diam-diam dari balik semak.
“Aku bahkan belum melihat kemampuanmu, apa kamu merasa sehebat itu?” tanya Kaelen dengan nada datar.
“Ti..tidak Tuan Komandan,” Dante menundukkan kepalanya.
“Kalau mau jadi prajurit di sini lakukan sesuai perintahku, kalau tidak mau lebih baik pergi saja!”
“Saya akan mengikuti perintah anda Tuan.”
Dante menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak bisa mundur begitu saja hanya karena latihan yang tidak sesuai dengan bayangannya. Teman dan penduduk desa membutuhkannya untuk menjaga mereka. Ia harus menjadi semakin kuat sesegera mungkin.
“Prajurit!”
Seorang prajurit masuk ke dalam tenda setelah mendengar panggilan dari Sang Komandan.
“Antar dia ke tempat latihan Ragnar.”
“Baik Komandan!”
Waktu sudah menunjukkan hampir jam makan siang. Zephyr mengambil salep yang ditinggalkan Evren di atas meja. Memakai tudung kepalanya dan menutupi hampir seluruh wajahnya kemudian ia keluar dari tenda. Berjalan menyusuri jalan menuju arena berlatih. Wajahnya yang selalu tertutup tudung jubah membuat orang merasa segan untuk menyapanya terlebih dahulu. Orang-orang hanya melihatnya sekilas lalu menunduk saat melewatinya.
Sesampainya di arena berlatih, Xavier langsung menghampiri orang yang berdiri di depan. Orang yang menurutnya terlihat seperti Sang Pelatih.
Tidak ada suara langkah kaki datang dari belakangnya, Ragnar hampir saja melompat karena terkejut saat sebuah tangan menyentuh pundaknya. Ia langsung berbalik dan melihat Zephyr yang sudah berdiri diam di belakangnya dengan kepala yang tertutup.
Ragnar menatap pemuda berjubah itu dengan tatapan terkejut. Tapi sedetik kemudian raut wajahnya berubah serius. Ia tahu ada seorang penyihir di benteng ini dan kemampuannya saat perang kemarin pun ia sudah mendengarnya. Melihat sosok yang begitu misterius begini membuat Ragnar berfikir semua berita itu memang benar.
“Tuan Zephyr, ada apa?”
“Salep untuk Xavier,” jawabnya singkat.
Ragnar terdiam sesaat untuk mencerna maksud dari ucapannya. Kemudian ia teringat dengan luka di wajah muridnya, lalu ia menghentikan latihan Xavier dan memintanya untuk mendekat.
“Ada apa?” Xavier bertanya begitu sudah berdiri di hadapan Ragnar.
Tanpa basa basi, Zephyr langsung berbicara.
“Evren memintaku memberikan salep ini sesuai jadwal,” ucapnya.
Xavier pun teringat dengan lukanya dan ia tidak langsung menerima salep tersebut melainkan meminta Zephyr untuk membantunya
“Oleskan sekalian, aku tidak bisa melihat luka di wajahku sendiri.”
Zephyr menoleh ke kanan dan kiri lalu netranya jatuh pada sebuah pohon besar yang rindang di tepi arena berlatih. Tanpa bicara apapun, Zephyr berjalan menuju pohon tersebut dan diikuti oleh Xavier. Sementara itu, Ragnar menghentikan sesi latihan karena memang waktunya sudah masuk waktu makan siang. Ia mengajak Dante untuk mengambil jatah makan siang mereka di tenda dapur.
“Duduk,” perintahnya kepada Xavier.
Zephyr berjongkok di hadapan Xavier dan mulai mengoleskan salepnya secara perlahan.
“Kenapa kamu selalu memakai tudung kepala?” tanya Xavier tiba-tiba. Ia baru sadar kalau Zephyr selalu memakai tudung kepala dimanapun ia berada. Meskipun saat di dalam tenda, terkadang tudung kepalanya dibuka.
“Karena nyaman.”
“Tapi wajahmu tidak terlihat.”
“Aku kira kamu tahu banyak hal, ternyata pengetahuanmu hanya segini saja,” ucap Zephyr yang berhasil menyenggol ego Xavier. Ia merasa kesal sekaligus tertantang karena dianggap bodoh oleh pemuda pirang di depannya.
“Sudah selesai, pergi sana.”
Xavier pergi sambil menghentakkan kakinya karena kesal. Sementara Zephyr duduk dan bersandar pada pohon besar tersebut lalu menutup matanya. Duduk diam di bawah pohon tersebut cukup lama. Bahkan ketika ada salju yang jatuh ke bahunya ia tetap tidak bergerak sedikitpun.
“Tuan Xavier, kenapa Tuan berjubah itu melihat kita terus?” tanya Dante karena melihat posisi duduk Zephyr yang menghadap tepat ke arena berlatih.
Xavier melihatnya sekilas lalu kembali membuang mukanya.
“Tidak tahu, suka suka dia saja.”
Beberapa hari berlalu dan Zephyr melakukan rutinitas yang sama setiap jam makan siang tiba. Mengobati luka Xavier lalu duduk di bawah pohon cukup lama.
Termasuk saat makan siang hari ini, Xavier makan di tempat berlatih sambil sesekali melirik ke arah Zephyr yang masih tidak bergerak.
“Apa dia pingsan?” gumamnya.
Akhirnya ia berdiri dan menghampirinya. Menepuk lengannya pelan namun masih tidak bergerak juga. Ia mengangkat sedikit tudungnya dan melihat kedua matanya tertutup rapat. Akhirnya ia menggoyangkan tubuh Zephyr sedikit lebih kuat.
“Zephyr?” Serunya.
“Apa?”
“Aku kira kamu mati.”
“...”
“Jangan tidur di sini nanti sakit, aku yang repot,” ucap Xavier yang tidak digubris sama sekali oleh Zephyr. Kemudian Xavier menyerah dan kembali berlatih.
Selama beberapa hari ini, Evren diam-diam selalu menerima laporan itu dari rekan prajuritnya. Semua orang mengira bahwa hubungan Evren, Xavier dan Zephyr itu sangat dekat karena mereka datang ke Draven bersamaan dan tinggal dalam satu tenda yang sama. Karena itu, setiap kali melihat mereka melakukan sesuatu beberapa prajurit menceritakannya langsung kepada Evren.
Melihat situasi Zephyr yang menurutnya perlu perhatian lebih, akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi Kaelen.
“Komandan, saya punya usul,” ucap Evren kepada Kaelen.
“Usul apa?”
“Bagaimana kalau Zephyr diberi pelatihan fisik juga, sejak bangun beberapa hari yang lalu, perilakunya terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya. Kadang tidur di tenda kadang tidur di bawah pohon. Aku hanya khawatir kalau perang besar benar-benar pecah, tubuhnya tidak akan sanggup bertahan.”
Kaelen menganggukkan kepalanya setuju dengan pendapat Evren karena sejak perang hari itu ia juga sering memikirkan hal ini.
“Sebenarnya aku sempat memikirkan hal ini setelah melihat yang terjadi setelah perang waktu itu.”
“Dia membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan staminanya, tapi apa menurutmu kita harus menanyakan pendapatnya dulu?” tanya Kaelen kepada Evren.
“Biar saya yang bertanya nanti.”
“Baiklah.”
Setelah berdiskusi dengan Kaelen dan bertanya langsung dengan Zephyr, keesokan harinya, Zephyr resmi bergabung dan menjadi murid ketiga Ragnar bersama dengan Xavier dan Dante. Sosok yang cukup disegani oleh Ragnar kini malah berbaris bersama dua muridnya yang masih pemula.
Ragnar melihat Zephyr dari atas sampai bawah dan melihat sosok yang tenggelam dalam jubah besar.
“Tuan Zephyr, apa anda bisa melepas jubah anda?”
“Tidak bisa.”
“Sudahh lepas saja, susah kalau harus berlatih memakai jubah begini,” ucap Xavier.
Akhirnya mau tidak mau ia melepas jubahnya dan terlihat jelas kulit pucatnya yang selalu terlindung dibalik kain tersebut. Rambut pirangnya terlihat menyilaukan di bawah sinar matahari. Dan yang menarik adalah matanya berwarna silver.
“Loh kok matamu warnanya silver? aku ingat waktu pertama kali bertemu di lembah warnanya coklat. Terakhir di tenda matamu juga masih coklat, kok tiba-tiba silver sih, kamu tidak sakit kan?”
“Jangan berisik, kita mulai latihannya!” Seru ragnar.
Meskipun ia juga penasaran dengan kondisi Zephyr, tapi ini pertama kalinya ia melihat fisik pemuda itu. Ia tidak bisa menyimpulkan sesuatu hanya dari sekali lihat saja. Biar dirinya amati terlebih dahulu untuk mengambil keputusan selanjutnya.