Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Di kantor Laurent Group, Dominic duduk kaku di balik meja kerjanya. Sebuah map tebal tergeletak di hadapannya. Sejak beberapa menit lalu, tangannya terus membalik halaman demi halaman laporan audit dengan gerakan yang semakin cepat.
Nama transaksi, jumlah dana, tanggal pembayaran, hingga persetujuan penggunaan uang tercatat dengan sangat rinci. Tidak ada satu pun bagian yang bisa ia abaikan begitu saja.
Wajah Dominic perlahan kehilangan warna. "Ini tidak mungkin ...," gumam Dominic dengan suara bergetar.
Dominic membalik halaman berikutnya. Matanya bergerak cepat membaca angka-angka yang tercantum di sana. Beberapa transaksi yang selama ini ia anggap tidak akan pernah diperiksa ternyata semuanya tercatat.
Seorang direktur yang berdiri di seberang meja menatap Dominic dengan wajah serius.
"Maaf, Tuan Dominic, semua transaksi sudah diperiksa dan dicocokkan dengan laporan keuangan," ujar pria itu dengan tenang.
Dominic tiba-tiba membanting map tersebut ke atas meja. "Aku punya kewenangan untuk menggunakan dana perusahaan!" bentaknya sambil menunjuk laporan itu.
Direktur tersebut tetap berdiri dengan tenang. "Memang, Tuan Dominic. Namun, kewenangan itu tetap memiliki batas."
Dominic mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Sebagian penggunaan dana tersebut tidak memiliki dokumen pendukung yang sesuai," jelas sang direktur sambil membuka salah satu dokumen. "Ada transaksi yang tercatat sebagai kebutuhan operasional, tetapi bukti penggunaannya tidak sesuai dengan keterangan."
Dominic langsung berdiri. Kursinya terdorong ke belakang hingga menimbulkan suara berdecit.
"Kamu tahu siapa aku?" tanya Dominic dengan rahang mengeras.
Direktur itu tidak langsung menjawab.
Dominic melangkah mendekat. "Aku orang yang selama ini menjalankan perusahaan ini!" katanya lagi dengan suara lebih tinggi.
"Kami tahu, Tuan," jawab direktur itu tetap tenang.
"Lalu kenapa sekarang kalian memperlakukanku seperti penjahat?" bentak Dominic.
Ruangan mendadak sunyi. Direktur tersebut menatap Dominic beberapa saat sebelum kembali melihat dokumen di tangannya. "Karena hasil audit menemukan adanya penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi," jawabnya tegas.
Wajah Dominic seketika menegang. "Berapa?" tanyanya lirih.
Direktur itu menyebutkan jumlahnya dan Dominic langsung terdiam. Tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah berkali-kali, tetapi rasa sesak di dadanya tidak kunjung hilang.
"Vivienne." Nama istrinya keluar tanpa sadar dari bibirnya.
Dominic segera mengambil ponselnya. Jarinya bergerak cepat mencari nomor Vivienne. Namun, sebelum menelepon, ia terdiam. Selama ini Vivienne selalu memberinya kepercayaan penuh. Bahkan ketika ia membutuhkan dana untuk keluarganya, urusan pribadi, atau berbagai keperluan lain, Vivienne jarang bertanya terlalu banyak. Akan tetapi, sekarang semuanya berubah. Dominic mulai menyadari bahwa perubahan itu mungkin bukan kebetulan.
Beberapa saat kemudian, Dominic sudah berada di rumah. Begitu pintu kamar terbuka, ia langsung melihat Vivienne sedang duduk di sofa dekat jendela. Di tangannya terdapat buku tentang merawat bayi. Sesekali perempuan itu mengusap perutnya dengan lembut.
Vivienne mengangkat wajah ketika mendengar langkah kaki.
"Dominic. Kamu sudah pulang?" sapa Vivienne sambil menutup bukunya. "
Dominic tidak menjawab sapaan itu dengan senyum seperti biasanya. Ia berjalan cepat menghampiri istrinya.
"Vivi, kita perlu bicara," ujar Dominic dengan napas sedikit berat.
Vivienne langsung memasang wajah khawatir. "Ada apa?" tanyanya sambil menggeser tubuhnya agar memberi ruang.
Dominic duduk di hadapannya. "Aku mengalami masalah di perusahaan."
Mata Vivienne membesar. "Masalah apa?" tanyanya dengan suara lembut.
"Ada audit."
Vivienne seketika memasang wajah terkejut. "Audit?"
"Iya," jawab Dominic sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Mereka menemukan beberapa transaksi."
Vivienne menatapnya dengan cemas. "Transaksi apa?"
Dominic terdiam beberapa saat. Matanya menghindari tatapan Vivienne. "Beberapa uang perusahaan digunakan untuk kebutuhan tertentu," jawabnya akhirnya.
Vivienne mengerutkan kening. "Untuk kebutuhan apa?"
Dominic mengangkat wajah dan menatap istrinya. "Kamu tahu aku menggunakan uang itu."
Vivienne terdiam. Dominic segera meraih tangan istrinya.
"Vivi, aku memang menggunakan beberapa dana tanpa menjelaskan semuanya kepadamu," ujar Dominic dengan nada memohon. "Tapi aku tidak bermaksud merugikan perusahaan."
Vivienne perlahan menarik tangannya. "Kenapa kamu melakukannya?" tanyanya.
"Aku membutuhkannya."
"Untuk apa?" tanya Vivienne lagi.
Dominic menundukkan kepala. "Untuk keluarga."
Vivienne membeku. "Keluargamu?" ulangnya perlahan.
Dominic mengangguk. "Dan beberapa urusan lain."
Tatapan Vivienne berubah. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu menggunakan uang perusahaan tanpa memberitahuku?" tanyanya lirih.
Dominic buru-buru mendekat. "Vivi, aku akan mengembalikannya," ujar Dominic cepat. "Aku janji."
Vivienne menggeleng pelan. "Kapan?"
Dominic terdiam. "Aku akan mencari jalan," jawabnya setelah beberapa detik.
"Bagaimana?" tanya Vivienne.
Dominic kembali terdiam. Tidak ada jawaban.
Vivienne menatap wajah suaminya dengan tatapan terluka. Air matanya perlahan mengalir melewati pipi. "Aku selama ini percaya kepadamu," ujar Vivienne dengan suara bergetar.
Dominic langsung merasa bersalah. "Vivi ...."
"Aku memberikanmu kepercayaan," lanjut Vivienne sambil mengusap air matanya. "Aku memberikanmu kewenangan karena aku percaya kamu akan menjaga perusahaan ini."
Dominic segera menggenggam tangannya. "Maafkan aku," ucap Dominic dengan wajah penuh penyesalan.
Vivienne menatapnya. "Aku tidak ingin masalah ini menghancurkanmu."
Dominic mengangguk cepat. "Itulah sebabnya aku datang kepadamu."
Vivienne mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Dominic menarik napas panjang sebelum mengatakannya. "Tolong hentikan audit ini."
Vivienne langsung menatapnya. "Apa?"
"Tolong hentikan," pinta Dominic sekali lagi. "Hanya kamu yang bisa melakukannya."
Vivienne menggeleng perlahan. "Aku tidak bisa."
"Kamu bisa," desak Dominic. "Kamu pemilik perusahaan."
Vivienne menundukkan wajahnya. Tangannya meremas ujung buku yang berada di pangkuannya.
"Aku tidak bisa menghapus kesalahanmu begitu saja," jawabnya lirih.
Dominic semakin gelisah. "Vivi, aku suamimu."
"Aku tahu."
"Kalau begitu, tolong aku," pinta Dominic sambil menggenggam kedua tangan istrinya.
Vivienne mengangkat wajah. "Dominic, kenapa kamu melakukan ini kepadaku?" Suaranya begitu lembut hingga membuat Dominic menahan napas.
Dominic terdiam. Tidak ada jawaban yang bisa diberikan.
Vivienne membuang wajah ke arah jendela. "Aku selalu membelamu," katanya sambil menahan isak. "Aku bahkan tidak pernah membayangkan kamu bisa melakukan sesuatu yang membuatku harus memilih antara menjadi istrimu atau menjadi pemilik perusahaan."
Dominic semakin panik. "Vivi, aku bersumpah semuanya bisa diselesaikan," ujar Dominic cepat.
Vivienne perlahan menoleh. "Benarkah?" tanyanya.
"Iya."
"Kalau begitu ...." Vivienne menarik napas panjang. "Buktikan."
Dominic terdiam. Ia tidak tahu harus membuktikan apa. Ia bahkan tidak menyadari bahwa kalimat sederhana itu justru menjadi tuntutan paling berbahaya yang pernah diberikan Vivienne kepadanya.
Vivienne mengusap air matanya.
"Untuk sekarang, aku akan pikirkan apa yang bisa kulakukan," ujar Vivienne dengan suara lemah.
Dominic langsung mengembuskan napas lega. "Terima kasih, Vivi. Aku tahu kamu tidak akan meninggalkanku," katanya sambil menggenggam tangan istrinya.
Vivienne hanya tersenyum tipis.
Dominic kemudian membungkuk dan mengecup punggung tangan istrinya. "Kamu istri terbaik," ujar Dominic dengan suara penuh lega.
Vivienne menundukkan wajah.
Senyumnya masih bertahan.
Namun, begitu Dominic mengalihkan pandangan, senyum itu perlahan lenyap.
Tatapan hangat di matanya berubah dingin.
"Kamu benar, Dominic. Aku memang menjadi istri terlalu terbaik sama kamu," batin Vivienne. "Itulah sebabnya aku akan memastikan kamu tidak pernah bisa melupakan bagaimana rasanya kehilangan semuanya."
Dominic masih duduk di hadapannya, merasa sedikit lega karena mengira istrinya akan menyelamatkannya. Ia tidak tahu bahwa Vivienne sama sekali tidak berniat menghentikan audit tersebut.
Vivienne hanya sedang memberinya sedikit harapan. Harapan palsu yang sengaja dibiarkan hidup agar Dominic tidak menyadari bahwa pintu keluar dari masalahnya sudah perlahan ditutup satu per satu.
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess