Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 18
Kevin masih berdiri terpaku di teras rumah Nisa. Kepalanya bersandar kaku pada daun pintu yang baru saja dihantamkan ke wajahnya. Suara dentum bantingannya masih bergema di telinganya, menyisakan ngilu yang menjalar hingga ke dada. Rasa bersalah yang bergulung-gulung kini bertransformasi menjadi rasa takut yang membakar. Dilara pergi tanpa membawa sepeser pun uang dari tabungan bersama, tanpa membawa perhiasan, bahkan tanpa membawa baju-baju mahal yang pernah Kevin belikan. Wanita itu pergi hanya membawa koper berisi pakaian lamanya sebelum menikah.
Bahkan ternyata sisa uang belanja bulanan selama ini masih tersimpan di dalam atm yang dia berikan padanya. Apalagi Dilara juga menolak bantuannya. Sekarang Dilara bekerja dimana? Bagaimana kalau dia bertemu orang jahat di luar sana dan memanfaatkan kebaikan Dilara. Itu yang menjadi ketakutan Kevin.
"Kamu di mana, Dilara... Kamu makan apa sekarang?" bisik Kevin parau. Suaranya pecah di tengah pekatnya angin malam.
Dengan langkah gontai dan dada sesak, Kevin menuruni anak tangga teras menuju mobilnya. Jemarinya yang bergetar hebat meraih ponsel di saku celana. Ia mencoba menekan nomor yang sangat ia hafal di luar kepala, meski ia tahu hasilnya akan sama.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
"Sial!" bentak Kevin pada dirinya sendiri. Ia menggeprak lingkar kemudi mobilnya kuat-kuat. BAM!
Suara klakson menyalak singkat di kegelapan malam. Pandangannya kabur oleh air mata yang terus menetes. Ucapan Nisa terus berputar bagai kaset rusak di otaknya.
'Apa kurangnya dia sebagai wanita dan istrumu? Bahkan Dilara jauh segalanya dibandingkan dengan cintamu itu...'
Kevin menyalakan mesin mobil, membelah jalanan yang mulai sepi tanpa tujuan yang jelas. Ia menyusuri jalanan yang biasa ia lalui bersama Dilara, berharap secara ajaib menemukan sosok berhijab krem itu sedang berjalan di trotoar. Namun nihil. Kota ini terasa terlalu luas untuk mencari seseorang yang memang sengaja ingin menghilang.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Adrian, keheningan malam mulai mencair saat jam dinding menunjukkan pukul enam pagi.
Cahaya fajar menerobos masuk lewat celah tirai ruang makan. Pak Adrian sudah duduk membaca koran bisnisnya dengan segelas kopi hitam panas, sementara Bu Melani sibuk mengoles selai pada roti tawar.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Elian turun dengan setelan kemeja putih yang lengan bajunya sudah tergulung rapi hingga siku. Wajahnya segar, namun pandangan matanya menyiratkan kelelahan tipis, tanda bahwa pria itu tidak tidur nyenyak semalaman karena memikirkan rahasia pengasuh baru keponakannya.
"Pagi, Elian," sapa Bu Melani lembut.
"Tumben jam segini sudah siap? Rapat pagi lagi?"
"Pagi, Ma. Iya, ada meeting jam delapan," jawab Elian singkat. Ia menarik kursi makan, namun matanya secara refleks melirik ke arah pintu dapur bersih.
"Elang mana?"
"Masih tidur nyenyak di kamarnya," sahut Pak Adrian tanpa menurunkan korannya.
"Dilara tadi sudah bangun dari jam lima, sudah selesai mandi dan sekarang lagi bantu Mbok Nah siapkan sarapan di dapur."
Tepat saat nama itu disebut, Dilara melangkah masuk dari area dapur membawa nampan berisi mangkuk buah segar dan teko susu hangat. Ia mengenakan gamis simpel berwarna abu-abu muda dengan hijab warna senada yang terpasang rapi. Wajahnya tenang, matanya bersih, sama sekali tidak menyisakan jejak bahwa semalam ia baru saja memutus harapan masa lalunya lewat telepon.
"Selamat pagi, Pak Adrian, Bu Melani," tutur Dilara santun seraya meletakkan nampan di tengah meja. Ia lalu melirik Elian sebentar dan menunduk sopan.
"Selamat pagi, Pak Elian."
Elian menatap wanita itu lurus-lurus. Binar mata Dilara yang tenang justru membuat Elian merasa gelisah. Bagaimana mungkin seorang wanita yang baru saja diceraikan, ditelantarkan, dan melarikan diri dari luka hatinya bisa memancarkan ketabahan sekuat ini?
"Pagi," balas Elian dingin.
Dilara mengangguk pelan, lalu berbalik hendak kembali ke kamar Elang.
"Tunggu, Dilara," panggil Elian tiba-tiba.
Langkah Dilara terhenti. Ia berbalik anggun, menatap Elian dengan raut bertanya. "Iya, Pak Elian? Ada yang bisa saya bantu?"
Pak Adrian dan Bu Melani saling lempar pandang, heran dengan kebiasaan Elian yang mendadak menahan pengasuh cucu mereka. Elian berdeham pelan, membuang muka ke arah cangkir kopinya sebelum kembali menatap Dilara.
"Hari ini saya mau kamu bawa Elang jalan-jalan ke supermarket. Belikan dia buku mewarnai baru dan mainan edukatif yang kamu maksud kemarin."
"Tapi Pak," sela Dilara halus, "saya bisa minta tolong Pak Dudung driver untuk membelikannya, atau saya izin membawa Elang bersama Pak Dudung agar aman."
"Saya tidak minta Pak Dudung yang pilih mainannya. Kamu yang lebih tahu apa yang Elang butuhkan," potong Elian cepat. Pria itu menyambar dompet kulitnya dari saku jas yang tersampir di kursi, lalu mengeluarkan sebuah kartu kredit dan menyerahkannya di atas meja.
"Gunakan ini. Beli semua kebutuhan Elang, dan... beli apa saja yang kamu perlukan untuk dirimu sendiri di sana."
Dilara tertegun melihat kartu berlogo hitam mengilap itu. Ia menggeleng halus.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Elian. Tapi untuk kebutuhan Elang, saya bisa minta uang tunai pada Bu Melani sesuai catatan anggaran. Dan untuk kebutuhan pribadi saya... saya masih memiliki tabungan sendiri dari hasil kerja saya," tolak Dilara sangat sopan namun tegas.
Elian menyipitkan mata. Sikap mandiri dan penolakan halus Dilara lagi-lagi membuat egonya tersentil. Pria itu berdiri dari kursinya, membuat badannya yang tegap tinggi menjulang di hadapan Dilara.
"Kamu bekerja untuk saya dan keluarga ini, Dilara," tutur Elian dengan suara berat yang mengintimidasi, namun tak lagi bernada ketus.
"Ini bukan soal kamu punya tabungan atau tidak. Ini fasilitas dari saya agar kamu tidak perlu repot menghitung uang kembalian saat menjaga balita yang aktif. Pegang kartunya."
Bu Melani tersenyum tipis melihat interaksi itu, lalu menepuk pelan tangan Dilara.
"Terima saja, Dilara. Elian kalau sudah bicara A tidak bisa dibantah B. Ambil saja untuk keperluan Elang ya, Nak."
Dilara menghembuskan napas pelan. Karena tidak ingin membuat suasana pagi menjadi tegang, ia akhirnya meraih kartu itu dengan ujung jemarinya.
"Baik, Pak Elian. Terima kasih banyak. Saya akan catat semua pengeluarannya dengan rinci," kata Dilara seraya memasukkan kartu itu ke saku gamisnya.
Elian memperhatikan gerakan jemari Dilara. Ada rasa puas samar yang muncul di hatinya saat wanita itu akhirnya menerima uluran tangannya—walau hanya selembar kartu kredit perusahaan.
"Saya berangkat sekarang," ucap Elian pamit pada orang tuanya. Saat melangkah melewati Dilara, Elian menghentikan langkahnya sejenak tepat di samping wanita itu, berbisik sangat pelan hingga hanya Dilara yang bisa mendengar.
"Kalau ada orang tidak dikenal yang mencarimu di luar... jangan pernah temui. Hubungi saya langsung."
Dilara tersentak kecil, matanya melebar menatap samping wajah Elian yang tegas. Namun sebelum Dilara sempat bertanya bagaimana pria itu bisa tahu, Elian sudah melangkah lebar keluar dari rumah.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛