Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Sangkar Emas

Pewaris Dalam Sangkar Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.

​Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.

​Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

Sinar matahari pagi yang menembus celah tirai sutra presidential suite terasa hangat, namun hangatnya sang surya tak mampu mengikis rasa dingin yang menghinggapi tubuh Alana.

​Saat kelopak matanya terbuka perlahan, rasa nyeri yang hebat menyengat sekujur tubuhnya. Setiap kali ia mencoba bergerak, bagian bawah tubuhnya serasa ditikam sembilu—sebuah jejak nyata dari penyatuan tanpa rasa belas kasihan semalam. Alana menunduk, memandangi pergelangan tangan dan pangkal pahanya yang dihiasi lebam kemerahan. Bekas cengkeraman jemari Kenzo yang kaku tercetak jelas di sana, menyisakan bukti betapa dinginnya dominasi pria itu.

​Suara gesekan kain yang halus menarik perhatian Alana. Ia memalingkan wajah dan menemukan Kenzo sudah berdiri di depan cermin besar. Pria itu tampak sangat rapi berbalut setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap buatan desainer ternama. Rambut hitamnya tertata klimis, dan wajahnya kembali memancarkan pesona dingin seorang CEO yang tak tersentuh. Seolah peristiwa mencekam dan rintihan kesakitan Alana semalam tidak pernah terjadi sama sekali.

​Kenzo memasang kancing jasnya tanpa memandang Alana melalui pantulan cermin. "Kamu sudah bangun," ujarnya datar.

​Alana mencoba duduk, menarik selimut tebal untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang bertelanjang dada. "Mas... jam berapa ini?" suaranya serak dan parau.

​Kenzo melirik jam tangan mewahnya sejenak tanpa sedikit pun menyapa atau menanyakan keadaannya. "Jam tujuh lewat lima belas menit. Saya ada meeting direksi jam delapan pagi ini." Pria itu menyambar ponselnya dari atas meja, lalu melangkah menuju pintu suite.

​"Mas Kenzo, tunggu..." panggil Alana pelan, menahan rasa sakit di dadanya. "Apakah Mas tidak sarapan dulu?"

​Langkah Kenzo terhenti di ambang pintu. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan samping yang teramat dingin. "Saya tidak punya waktu untuk sarapan yang tak berguna. Nanti jam sembilan, sopir pribadi keluarga Elard akan menjemputmu dan membawamu langsung ke mansion utama. Kemasi barang-barangmu sendiri."

​"Tapi kita belum mendiskusikan—"

​"Tidak ada yang perlu didiskusikan lagi, Alana," potong Kenzo tanpa kompromi. "Tugasmu hari ini hanya pindah ke mansion dan menyesuaikan diri. Sisanya, lakukan sesuai kontrak."

​Klek.

​Pintu suite tertutup rapat. Kenzo pergi begitu saja ke kantor tanpa pamit lebih lanjut, meninggalkan Alana yang terpaku sendirian di atas ranjang yang berantakan. Air mata yang sempat mengering kembali menetes pelan, menyusuri pipinya yang pucat.

​Dengan sisa-sisa tenaga dan rasa sakit fisik yang menghimpit, Alana memaksa kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Ia meringis menahan nyeri saat melangkah tertatih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di bawah pancuran air hangat, Alana membiarkan bulir-bulir air membasahi tubuhnya, mencoba membilas rasa asing dan trauma yang tertinggal.

​**

Tepat pukul sembilan pagi, Alana dijemput oleh sopir pribadi keluarga Elard menuju mansion utama. Kendaraan mewah itu melewati gerbang besi tempa yang menjulang tinggi dan menyusuri jalan setapak beraspal mulus menuju sebuah bangunan megah bergaya klasik Eropa. Mansion utama Keluarga Elard berdiri kokoh bagaikan istana—sebuah tempat yang kini menjadi rumah tinggal mereka bersama, sekaligus sangkar emas yang menakutkan bagi Alana.

​Saat mobil berhenti tepat di depan pilar-pilar besar mansion, pintu dibuka dan Alana disambut oleh barisan pelayan berseragam hitam-putih. Di depan mereka, berdiri seorang wanita paruh baya berwajah kaku dengan sanggul rambut yang amat ketat.

​"Selamat datang di Mansion Elard, Nyonya Alana. Saya Bibi Rika, kepala pengurus rumah tangga di sini," sapa wanita itu dingin.

​Di belakang Bibi Rika, para pelayan saling berbisik pelan sambil menatap Alana dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. Tatapan yang menyiratkan bahwa mereka tahu betul status Alana: seorang wanita yang "dibeli" demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan. Kenyataan bahwa ia kini tinggal bersama Kenzo di mansion sebesar ini tak lantas membuatnya diterima; Alana tetap merasa asing di rumah suaminya sendiri.

​"Mari saya antarkan ke kamar Anda dan Tuan Kenzo, Nyonya," ujar Bibi Rika singkat.

​Alana melewatinya dan mengikuti langkah Bibi Rika menyusuri lorong-lorong mansion yang luas dan dingin. Di tengah lorong, langkah mereka terhenti ketika pintu ruang keluarga utama terbuka.

​Nyonya Helena Elard—ibu kandung Kenzo—keluar dari ruangan itu didampingi oleh Dr. Maya, seorang dokter spesialis reproduksi pribadi keluarga, yang membawa tas medis serta kotak berisi puluhan botol vitamin.

​"Selamat pagi, Ibu," sapa Alana seraya menundukkan kepala penuh hormat.

​Nyonya Helena menatap Alana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang amat dingin. "Baguslah kamu sudah sampai, Alana. Saya tidak punya waktu untuk basa-basi."

​"Ada apa, Ibu?" tanya Alana pelan.

​Nyonya Helena memberi isyarat pada Dr. Maya. "Saya membawa suplemen kesuburan khusus yang harus kamu konsumsi mulai hari ini. Dan Dr. Maya akan memeriksa kondisi fisikmu sekarang juga untuk memastikan rahimmu dalam keadaan prima."

​Jantung Alana berdegup kencang. "Pemeriksaan? Tapi Ibu... saya baru saja sampai..."

​"Justru karena kamu baru saja memulainya semalam," potong Nyonya Helena tegas. "Keluarga Elard membayar mahal untuk pernikahan ini, Alana. Kakek tidak ingin menunggu lama. Dr. Maya akan memeriksa tekanan darah, hormon, serta mengambil sampel darahmu sekarang di kamar."

​"Tapi Ibu, tolong berikan saya waktu..." Alana memohon dengan mata berkaca-kaca. Rasa malu dan kehilangan martabat meremukkan dadanya.

​"Di rumah ini ada aturan-aturan ketat yang wajib dipatuhi, Alana," balas Nyonya Helena tanpa empati sedikit pun. "Tugas utamamu tinggal di mansion ini adalah menjaga kesehatan, meminum suplemen, dan memastikan kamu siap melahirkan seorang putra pewaris tunggal. Jangan membantah!"

​Di bawah tekanan ibu mertuanya dan tatapan mata para pelayan yang menyaksikan dari jauh, Alana terpaksa menelan mentah-mentah rasa malunya. Ia diantarkan ke kamar utama—kamar megah yang kini ia tempati bersama Kenzo lalu dibaringkan di atas kasur, membiarkan jarum suntik Dr. Maya menembus kulit lengannya, serta meminum tiga butir pil suplemen kesuburan berukuran besar yang disodorkan. Setiap tegukan suplemen itu terasa pahit, seolah menegaskan statusnya yang tak lebih dari sekadar alat pencetak pewaris.

​Setelah pemeriksaan selesai dan Nyonya Helena meninggalkan mansion, Alana terduduk lemah di tepi ranjang. Meski mereka tinggal bersama dan berbagi kamar utama yang sama demi formalitas, Kenzo telah menegaskan batas tegas: sofa panjang di sudut ruangan menjadi wilayah terpisah, menegaskan bahwa Alana tetaplah orang asing bagi pria itu.

**

​Malam hari pun tiba. Pukul tujuh malam tepat, deru mesin mobil mewah terdengar berhenti di pelataran depan mansion. Kenzo Elard telah pulang dari kantor ke rumah bersama mereka.

​Alana yang sedang berada di ruang tamu bersama Nyonya Helena—yang sengaja kembali untuk makan malam—refleks berdiri saat langkah kaki tegap terdengar memasuki ruangan. Kenzo melangkah masuk, masih mengenakan kemeja kerja yang tergulung hingga siku, memancarkan aura dominasi yang kuat.

​"Kamu sudah pulang, Kenzo," sapa Nyonya Helena hangat.

​Namun, begitu mata Kenzo menangkap keberadaan Alana, pandangannya yang tadinya dingin mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Sebuah senyuman tipis yang amat natural terukir di bibirnya. Langkah kakinya yang mantap mengarah langsung pada Alana.

​Tanpa diduga oleh Alana, Kenzo mengulurkan tangannya, merengkuh pinggang Alana dengan lembut dan menarik tubuh wanita itu mendekat ke pelukannya. Senyuman manis dan tatapan penuh kehangatan terpancar dari wajah pria yang pagi tadi begitu kejam meninggalkannya.

​"Maafkan saya membuatmu menunggu lama untuk makan malam, Sayang," ucap Kenzo dengan suara berat yang terdengar sangat lembut. Jemari tangannya yang panjang mengusap lengan Alana dengan penuh kasih sayang di depan Nyonya Helena dan para pelayan.

​Alana mematung seketika. Jantungnya berdegup kencang karena kaget. Sensasi sentuhan hangat Kenzo terasa begitu nyata, namun pikirannya dipenuhi kebingungan luar biasa. Pria di sampingnya ini terasa seperti sosok yang sama sekali berbeda dari pria yang acuh tak acuh tadi pagi.

​"Kenzo," tegur Nyonya Helena sambil tersenum puas melihat keakraban itu. "Ibu baru saja memastikan Alana meminum suplemen kesuburannya dengan teratur. Kamu harus memastikan dia tidak terlalu lelah."

​Kenzo menoleh pada ibunya, masih dengan tangan merangkul erat pinggang Alana. "Tentu saja, Bu. Saya sendiri yang akan mengawasi kesehatan istri saya. Alana adalah prioritas utama saya sekarang."

​Kenzo menunduk, menatap Alana yang terpaku. "Kamu sudah makan, hm?" tanya Kenzo lembut, nada suaranya begitu membuai hingga sanggup membuat siapa pun percaya bahwa ia adalah suami yang sangat mencintai istrinya.

​Alana menyapu pandangan pada para pelayan di sekeliling mereka yang kini menatapnya dengan pandangan takjub dan iri. Topeng yang dikenakan Kenzo sungguh luar biasa sempurna.

​"B-belum, Mas... Alana menunggu Mas Kenzo pulang," bisik Alana memaksakan diri merespons permainan peran ini.

​"Kalau begitu, mari kita makan malam bersama," balas Kenzo manis seraya menarikkan kursi untuk Alana dengan sikap ksatria yang sangat terpelajar.

​Ketika mereka berdua melangkah masuk ke dalam kamar utama tempat mereka tinggal bersama, Kenzo mendadak melepaskan rangkulan tangannya di pinggang Alana dengan kasar. Wajah tampannya yang beberapa menit lalu dihiasi senyum hangat, seketika luntur menjadi raut wajah yang dingin, datar, dan tak tersentuh.

​Pria itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan saputangan sutra, lalu mengelap telapak tangannya seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.

​Alana menghentikan langkahnya di dekat meja rias. Hatinya yang sempat goyah oleh kehangatan palsu tadi kini kembali terhempas ke dasar jurang kesakitan.

​"Mas Kenzo..." panggil Alana dengan suara bergetar.

​Kenzo melempar saputangannya ke atas meja kerja di sudut kamar, lalu melonggarkan ikatan dasinya tanpa emosi sedikit pun.

​"Ada apa?" tanya Kenzo datar.

​"Kenapa... kenapa Mas Kenzo bersikap seperti itu di depan Ibu dan para pelayan?" tanya Alana, menahan air mata yang mulai merebak di pelupuk matanya. "Kenapa Mas harus berpura-pura sangat perhatian dan mencintai saya, kalau kenyataannya di dalam kamar ini Mas bahkan memandang saya seperti sampah?"

​Kenzo terkekeh sinis. Tawa hampa itu bergema di dalam kamar mereka yang luas. Pria itu melangkah mendekati Alana, mengikis jarak hingga bayangan tubuh tingginya mengurung wanita itu.

​"Kamu amnesia dengan isi kontrak kita, Alana?" bisik Kenzo dengan nada suara yang begitu dingin. "Saya sudah bilang, di luar dan di depan keluarga besar, kita harus berakting sebagai pasangan yang saling mencintai. Kakek menempatkan mata-matanya di mansion tempat kita tinggal bersama ini. Kita memang harus tinggal satu kamar agar tidak memicu kecurigaan bahwa pernikahan ini hanya transaksi."

​Kenzo menyunggingkan senyum remeh yang menyayat hati Alana. "Jangan pernah terbawa perasaan hanya karena akting singkat saya di meja makan tadi, Alana. Meski kita berbagi satu kamar di rumah ini, kamu tetaplah orang asing bagi saya. Saya bersikap manis murni demi kelancaran rencana pewaris."

​Alana menggigit bibir bawahnya hingga rasa asin darah terasa di lidahnya. "Tapi Mas... Mas Kenzo tidak perlu membedakan saya sampai sejauh ini... Saya manusia, Mas. Saya punya perasaan..."

​"Dan perasaanmu sama sekali tidak ada harganya dalam bisnis ini," potong Kenzo tanpa simpati sedikit pun. Pria itu menunjuk ke arah ranjang berukuran king-size. "Tidur di kasurmu. Mulai besok, ikuti seluruh perintah Ibu dan dokter tanpa membantah. Saya akan tidur di sofa ini, dan jangan coba-coba mengganggu saya."

​Tanpa menunggu balasan dari Alana, Kenzo berbalik melangkah menuju sofa kulit di sudut kamar, mematikan lampu utama dan menyisakan temaram lampu tidur.

​Alana merosot terduduk di tepi ranjang yang dingin. Di dalam mansion megah tempat mereka tinggal bersama ini—di dalam satu kamar yang seharusnya menjadi saksi kehangatan suami istri—Alana memeluk tubuhnya sendiri. Air matanya menetes perlahan menembus keheningan malam, menyadari bahwa hatinya telah mulai mati rasa di hari pertama keberadaannya di rumah ini.

Bersambung....

1
merry
bisa jdi raga Alana nolak bayi mu zo,, krn bnci kmu fan kluarga mu yg ud kyk iblis yg kluar dari kerak bumi 🤭🤭🤭ap lg kakekmu dh aki aki itu nuntut hrs cwo lgg siapa yg gk tertekan cbb,,, yg blm hamil dtynin kpn hmil ajj bisa stress ap lg itu di tuntu hrs cwo lg
Mia Camelia
alana pasti lelah banget jiwa dan raga nya, tapi ngliat kenzo yg tulus pingin berubah , semoga aja alana mulai membuka diri😂
Mia Camelia
semoga kenzo beneran tulus mencintai alana, 😔
merry
cwe cwo mn bisa klian tentu knn,, ank kn dr Tuhan diksh alhamdulillah klo ngk y hrs sabar kan,, cwe cwo jg tergantung dr yg ksh emng bkin donat 🍩🍩🍩🍩😆😆😆😆bisa jdi cwe cwo
merry
Tuhan bukn dgrin doa manusia jht klian tp ank itu dtg untuk membela ibu y yg klian tindas 🤭🤭🤭🤭moga Alana hamil nyushin org yg ud bkin dia jiwa hbs tak tersisa 🤭🤭🤭
Siskasuryaningsih
buat mati aja thor alananya, kasian di buat gitu, habis cerita, 🤣🤣,, 🙏🙏🙏
guest1053527528
jangan dong thor semoga Alana bisa membuat Kenzo bangkit lagi dan bisa memimpin perusahaan dan sukses
merry
buktiin jg al klo mmpu beresin mslh perusahaan biasa kyk di novel cwe bangkit setelah hncur menjdi tangguh bisa segala y selain bkin ank biar kluarga bangke itu mingkep al
merry
klo cinta knp bgtu sm Alana zo skrg nyesel syurin biar kapok kmu,,, moga ank y kmbe cwo semuanya nakal pula🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
merry
in lg adik latnat zo ksh tau mutiara tp hati y gk sebagus nm y mutiaray dr biaya sekolah bju bju dan mkn sehari-hari ya,, biar tau biar jaga mulutnya wlpun gk bs kembalikan jiwa msa depn alana
merry
klo perlu Alana hamil kembar cwo semuanya kek tres nakal y minta ampun buat ngerjai para manusia tengik itu Thor tp nurut sm mm ya 🤭🤭🤭kan ngebet minta ank demi harta kn ywd ksh kembar genius biar hancurin saham dan hrga diri mrkk,, dikira buat ank kyk buat donat x ya
merry
moga ada yg dgr y klo dr maya melakukan malapraktik hampir buat nyawa org lain melayang biar di pecat trs mertua y Alana jdi mertua plg kejam krn memaksakan mantu y hamil demi saham,, moga ad yg dgr dr bocorin ke media biar kapok,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!