Indonesia
NovelToon NovelToon
PENGANTIN YANG DITUKAR

PENGANTIN YANG DITUKAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.

​Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.

​Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGANTIN YANG DITUKAR

​

​Lampu-lampu jalanan kota mulai menyala satu per satu saat mobil sedan hitam milik Reno melaju pelan memasuki kawasan perumahan bernuansa asri di pinggiran kota. Suasana kompleks begitu tenang, jauh dari riuk pikuk kebisingan pusat industri. Di ujung blok yang berhadapan langsung dengan taman kecil, kendaraan itu berhenti tepat di depan sebuah pagar besi minimalis berwarna hitam doff kombinasi kayu sintetis warm oak.

​Kalea Mahika memajukan tubuhnya, menatap keluar jendela mobil dengan binar mata yang meluap-luap. Rasa lelah akibat berkutat dengan draf desain busana sepanjang hari seolah sirna begitu saja saat pemandangan di depannya tersaji.

​"Kita sampai, Sayang," bisik Reno lembut seraya mematikan mesin mobil. Pria itu menoleh pada Mahika, tersenyum hangat melihat binar kebahagiaan yang terpancar dari wajah tunangannya.

​Mahika tak membuang waktu. Ia segera membuka pintu mobil dan melangkah keluar, menghirup udara sore yang berhembus pelan. Di hadapannya kini berdiri kokoh sebuah rumah dua lantai berkonsep Japandi Modern perpaduan antara kepraktisan ala Skandinavia dan estetika alam ala Jepang yang sangat menenangkan.

​Rumah ini bukan sekadar bangunan dari semen dan bata. Rumah ini adalah wujud nyata dari setiap rupiah yang disisihkan Mahika selama bertahun-tahun. Dari bonus lembur, komisi desain logo, hingga bagi hasil penjualan distro tempatnya bekerja, semuanya tertuang di tiap sudut bangunan ini.

​Reno melangkah menghampiri, merogoh saku celananya dan mengulurkan seikat kunci dengan gantung berbentuk rumah kayu kecil. "Silakan dibuka oleh sang pemilik sah," goda Reno renyah.

​Mahika menerima kunci itu dengan jemari yang sedikit gemetar karena haru. Ia melangkah menyusuri jalan setapak beraspal halus yang diapit oleh rumput gajah mini yang tertata rapi. Di sudut halaman depan, sebuah pohon kamboja fosil berpucuk merah berdiri anggun, dikelilingi batuan kerikil putih bersih.

Semua penataan lanskap ini adalah hasil coretan sketsa tangan Mahika sendiri di kala malam, saat ia kelelahan menatap layar laptop.

​Klek.

​Pintu utama berbahan kayu jati solid berukir garis vertikal minimalis terbuka lebar. Begitu melangkah masuk, aroma kayu baru dan wangi reed diffuser beraroma vanilla chamomile menyapa indera penciuman.

​Area lantai dasar didesain tanpa sekat (open space), menciptakan kesan lapang dan terang. Cahaya sore menerobos masuk secara alami melalui jendela kaca berukuran besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Dindingnya dipoles warna warm off-white, dipadukan dengan lantai berbahan granit motif kayu berwarna krem muda.

​"Bagus banget, Ren..." bisik Mahika takjub, padahal ia sendiri yang merancang denah dan memilih seluruh materialnya. Namun melihatnya mewujud secara nyata tetap memberikan sensasi luar biasa di dadanya.

​"Pilihan kamu memang enggak pernah salah, Mahika," puji Reno sembari menyandarkan bahunya di pintu. "Setiap sudut rumah ini benar-benar mencerminkan kepribadian kamu. Cerdas, rapi, dan menenangkan."

​Mahika melangkah menuju area ruang tamu. Di sana sudah tertata rapi sebuah sofa berbentuk L berwarna light grey berbahan kain woven yang sangat empuk. Di depannya terdapat meja kopi kayu berbentuk oval dengan kaki-kaki melengkung halus. Mahika menyapu permukaan meja kayu itu dengan jemarinya, merasakan teksturnya yang halus.

​"Sofa ini... yang waktu itu kita cari ke tiga toko mebel kan, Ren?" tanya Mahika terkekeh pelan.

​"Ingat banget aku," sahut Reno mengangguk-angguk gembira. "Kamu sampai berdebat sama penjualnya gara-gara mau memastikan busanya pakai jenis high-density foam biar enggak gampang kempis kalau dipakai berkumpul nanti."

​"Harus dong! Kita kan beli barang buat dipakai puluhan tahun, bukan cuma buat pajangan," sahut Mahika mantap.

​Mata Mahika kemudian beralih ke area dapur bersih dan ruang makan yang menyatu di sudut kanan. Sebuah kitchen island berlapis batu marmer buatan berwarna putih dengan urat-urat abu-abu tipis menjadi pusat perhatian. Di atasnya menggantung dua lampu hias bergaya pendant light berbahan anyaman bambu modern yang memberikan sentuhan hangat.

​Set kabinet dapur menggunakan warna sage green lembut yang dipadukan dengan pegangan kuningan keemasan. Semua perabotan dapur mulai dari kompor tanam dua tungku, cooker hood, hingga oven listrik semuanya dibeli Mahika menggunakan uang tabungan bersama mereka, dengan porsi terbesar berasal dari tabungan pribadi Mahika yang dikumpulkan sejak tahun ketiga kuliah.

​"Dapur impian kamu akhirnya selesai 100 persen," ujar Reno berjalan mendekati kitchen island, lalu mengusap bahu Mahika dari belakang. "Tinggal diisi sama masakan-masakan enak kamu nanti kalau kita udah resmi nikah."

​Mahika menoleh, menatap Reno dengan senyum mengembang. "Bukan cuma masakan aku. Nanti kita harus masak bareng di sini tiap akhir pekan. Kamu yang potong bahan-bahannya, aku yang bumbuin."

​"Siap, Koki Mahika!" jawab Reno memberi hormat setengah bercanda, memancing tawa halus dari bibir Mahika.

​Mahika menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Di sana terdapat ruang santai keluarga yang dilengkapi rak buku melekat pada dinding (built-in bookshelf) tempat ia berencana menaruh koleksi majalah mode dan buku-buku desainnya. Di sebelah kanan, terdapat kamar tidur utama.

​Ketika Mahika membuka pintu kamar utama, matanya tertuju pada ranjang berukuran king size berbahan kayu mahoni dengan headboard terbalut kain beludru krem. Di samping tempat tidur, jendela kaca besar mengarah langsung ke balkon kecil yang menghadap ke taman depan.

​"Kasur ini empuk banget," gumam Mahika sembari menekan permukaan tempat tidur. "Spreinya nanti mau aku pakai warna terakota atau olive green, biar pas sama nuansa kamarnya."

​"Apapun warnanya, asal tidurnya sama kamu, aku pasti nyenyak," bisik Reno yang menyusul berdiri di ambang pintu kamar.

​Mahika merona tipis mendengar godaan itu, tetapi hatinya diliputi kehangatan yang tak terkira. Rumah ini adalah saksi perjuangan cinta mereka berdua selama delapan tahun. Tidak ada campur tangan atau bantuan finansial dari pihak keluarga mana pun. Semuanya murni dari jerih payah, tetesan keringat, dan kedisiplinan mereka menahan diri untuk tidak hidup foya-foya demi mewujudkan satu impian: memiliki tempat bernaung yang aman dan nyaman.

​Saat mereka kembali turun ke lantai dasar, Reno mengajak Mahika duduk sejenak di tepi kitchen island. Pria itu merogoh tas kerjanya, memindahkan sebuah map dokumen tebal berwarna biru tua ke atas meja marmer.

​"Oh iya, Mahika. Ada satu hal penting yang mau aku tunjukkan," ucap Reno dengan raut wajah serius namun penuh kebanggaan.

​Mahika mengernyit heran. "Dokumen apa ini, Ren?."

​Reno menggeser map itu mendekati Mahika. "Buka aja."

​Dengan penasaran, Mahika membuka sampul map tebal tersebut. Di lembar pertama, tertera sertifikat resmi kepemilikan tanah dan bangunan dari Badan Pertanahan Nasional. Mata Mahika menyisir baris demi baris tulisan resmi di kertas tebal tersebut hingga matanya tertahan pada kolom nama pemegang hak milik.

​Nama yang tertera di sana bukan nama Reno Alamsyah. Melainkan: Kalea Mahika.

​Mahika membelalak kaget. Ia dengan cepat menatap Reno, tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya.

​"Ren... ini... kenapa nama aku yang tertulis di sini?" suara Mahika terdengar tercekat. "Kan kita sepakat sertifikat ini atas nama kamu, atau minimal atas nama kita berdua?"

​Reno tersenyum manis, meraih jemari Mahika yang masih memegang pinggiran sertifikat. "Itu kejutan dari aku, Sayang. Minggu lalu pas proses balik nama di kantor notaris, aku minta namanya diubah sepenuhnya jadi nama kamu."

​"Tapi kenapa?" tanya Mahika bingung sekaligus haru. "Ini rumah kita bareng-bareng. Tabungan kamu juga masuk di sini."

​"Iya, tapi porsi terbesar tabungan itu punya kamu, Mahika," jawab Reno lembut, menatap mata Mahika dengan penuh kesungguhan. "Delapan tahun kamu nemenin aku dari nol. Kamu enggak pernah nuntut barang-barang mewah, kamu selalu hemat, dan kamu berjuang keras banget buat mengumpulkan uang mukanya. Ini bentuk penghormatan aku buat semua pengorbanan kamu. Aku mau kamu merasa aman. Rumah ini sepenuhnya hak milik kamu."

​Air mata haru yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes juga di pipi Mahika. Ia tidak pernah menyangka Reno akan bermurah hati dan sebegitu menghargai kerja kerasnya. Bagi seorang wanita, tindakan Reno bukan sekadar masalah aset, melainkan bentuk perlindungan dan rasa cinta yang begitu luar biasa.

​"Reno... makasih... makasih banyak ya," bisik Mahika terisak kecil.

​Reno mengusap air mata di pipi Mahika dengan ibu jarinya. "Sama-sama, Calon Istriku. Kamu berhak mendapatkan ini semua."

​Hari semakin sore, warna jingga di langit perlahan berganti menjadi keunguan. Setelah menyapu beberapa area dapur dan memastikan seluruh jendela terkunci rapat, Mahika dan Reno kembali ke mobil untuk menuju ke rumah orang tua Mahika.

​Sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga puluh menit, suasana di dalam mobil terasa hangat. Musik akustik berputar pelan melengkapi obrolan mereka mengenai detail-detail kecil pernikahan yang tinggal menempuh waktu tiga puluh hari lagi.

​Mobil Reno akhirnya berhenti di depan pagar rumah bernuansa hijau pudar milik keluarga Pak Bambang. Lampu teras rumah sudah menyala terang.

​"Makasih ya buat hari ini, Ren," ucap Mahika lembut seraya melepaskan sabuk pengamannya. "Kamu mau mampir dulu? Di dalam ada Ibu sama Bapak. Tadi Ibu sempat chat bilang mau bahas soal katering sama seragam."

​Reno terdiam sejenak. Tangannya yang berada di atas lingkar kemudi tampak mengetuk-ngetuk pelan, seolah sedang menimbang sesuatu. Ada kilat ketidaktenangan yang melintas cepat di matanya, namun langsung ia sembunyikan dengan senyuman tipis.

​"Emm... kayaknya sore ini aku enggak bisa mampir dulu deh, Mahika," sahut Reno dengan nada agak sungkan.

​Mahika mengernyit pelan. "Lho, kenapa? Cuma sebentar kok, minum teh hangat dulu. Bapak pasti seneng kalau kamu mampir."

​"Aku bukannya enggak mau, Sayang," potong Reno cepat. "Tapi... aku mendadak ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan sore ini. Ada laporan stok kain di gudang pusat yang belum aku verifikasi. Kalau ditunda, besok pagi staf gudang enggak bisa kirim bahan ke konveksi."

​Mahika menatap wajah Reno sejenak. Walau ada sedikit rasa kecewa karena berharap bisa mengobrol bersama keluarganya dan Reno, Mahika mencoba mengerti. Reno memang dikenal sebagai sosok yang sangat bertanggung jawab pada pekerjaannya di pabrik.

​"Ooh... gitu ya? Ya udah kalau memang urusan pekerjaan," sahut Mahika legawa dan tersenyum mengerti. "Jangan dipaksakan kalau gitu. Nanti kamu malah kemalaman pulangnya."

​"Maaf ya, Mahika," ucap Reno mengusap lembut kepala Mahika yang terbalut hijab. "Nanti malam selesai urusan gudang, aku langsung telepon kamu, ya? Kamu bahas dulu aja sama Ibu dan Bapak."

​"Iya, enggak apa-apa kok, Ren. Kamu hati-hati di jalan ya," pamit Mahika seraya meraih tangan kanan Reno dan mencium punggung tangannya dengan santun kebiasaan kecil yang mulai mereka biasakan menjelang pernikahan.

​"Iya, Sayang. Langsung masuk ya," balas Reno.

​Mahika membuka pintu mobil dan melangkah turun. Ia berdiri di samping pagar, melambaikan tangan saat sedan hitam Reno perlahan memutar arah dan melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.

​Mahika memandangi mobil Reno hingga menghilang di belokan ujung jalan. Dengan perasaan bahagia yang membuncah memikirkan sertifikat rumah atas namanya dan masa depan indah yang menanti, Mahika membalikkan badan, membuka pintu pagar, dan melangkah masuk ke rumah orang tuanya.

​Ia tidak pernah menyadari bahwa di saat yang sama, mobil Reno justru berbelok menuju arah yang berlawanan dari gudang pusat menuju sebuah tempat di mana kebohongan terbesarnya sedang menanti.

1
sutiasih kasih
gmn rasanya... klean jdi gembel😅😅
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
Ernaaaaa
makasih Thor
merry
jdi gelandangan dech klian
merry
bisa gk hdp tnp mahika dan kluarga mu reno dan untuk cari krj susah nama mu dh terkenal 🤭🤭🤭🤭
sutiasih kasih
smpe sana.... rumah udh di jual😂😂😂😂😂😂
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
Lee Mba Young
selamat menikmati jd gembel
Mundri Astuti
mang dah bener ma pas ya, si Reno ma keluarga si sel ..sel..
Mundri Astuti
owh ortunya Reno org ada toh, tapi ko anaknya dompleng mahika yak🤔
sutiasih kasih: knaoa mndompleng mahika yg dri kalangan biasa....
mmbingungkn🤔🤔🤔
total 2 replies
Lee Mba Young
tanpa harta selamat mnikmati
Mundri Astuti
mang bisa tuh anak kesayangannya bangun atap aja, jangan bangun rumah dah
sutiasih kasih
di bangun lgi dunk rumah yg sdh runtuh.....
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
Tining Revi
bukanya mahika berhijab thor. kok "puji Tuhan"
merry
pdhl tdi mau bongkar ditmpt mrk resepsi dihotel tau ya mrk cm resepsi di tanah kosong dan mahika lewat live ig buat mrk maluu 🤭🤭🤭🤭se kanoha pd tau lhh
Mundri Astuti
sekali tepok ....jatuh semua .... gayanya mahika kereeennnn....Badas....😂😂😂
sutiasih kasih
tamatlah sudah riwayat para pmbohong & penghianat......
😂😂😂😂😂😂
Heni Setiyaningsih
Mahika,,,,,,, KEREN!! gk perlu teriak teriak cuma tunjukkan hasil dari kerja kamu, siapa itu Reno dan klrg toxic, hempaskan😂😂
Agunk Setyawan
bacanya deg"an banget🤣
Humay Uum
dtunggu bomy KK Thor 💪💪💪💪
falea sezi
kelamaan bertele tele 🤣
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!