Indonesia
NovelToon NovelToon
CEO Posesif Untuk Putri Agresif

CEO Posesif Untuk Putri Agresif

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Chicklit
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Riri__awrite

MAAF KARYA INI di REVISI. BARU SAMPAI BAB 6

Mauren adalah seorang putri dari keluarga kaya yang sedang tergila-gila menyukai adik dari seorang CEO berhati dingin dan tampan.

Suatu hari dia sengaja mengikuti adik sang CEO ke suatu night club. Maureen bertemu dengan Sean, sang CEO.
Mereka berdua beradu mulut, karena sang CEO tidak menyukai sikap Maureen kepada adiknya.

"Berhenti!" Maureen menghentikan seorang pelayan yang membawa dua gelas wine. "Kalo kamu bisa menghabiskan segelas wine ini, aku akan pergi dari sini tanpa mengganggu adikmu," tantang Maureen.

"Tapi, Nona. Wine ini milik-"

"Nanti saya ganti!"

Sang pelayan meneguk saliva-nya kasar. Tugasnya mengantarkan minuman yang berisi obat perangsang untuk seseorang gagal total.

Mau tau kelanjutan ceritanya? Yuk mampir dulu di cerita aku. Ini hasil karya original.
"CEO Posesif untuk Putri Agresif"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri__awrite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitting dress

Mengapa waktu seolah berputar semakin cepat? Seolah baru saja Maureen beranjak tidur, menutup matanya, dan mulai terlelap satu menit yang lalu. Akan tetapi, alarm digital yang berada di atas nakasnya sudah berdering nyaring.

"Alarm sialan," gumam Maureen seraya menggerayangi alarm itu dan segera mematikannya. Bukannya bangun, dia malah menaikkan selimut sampai ke leher, dan beranjak tidur lagi.

Setengah jam berlalu, kini malah alarm hp-nya yang berdering lebih nyaring, menggelora di seluruh kamarnya.

Maureen berdecak kesal. "Ck, mulai besok aku gak akan pakai alarm lagi."

Selimut biru muda itu dia singkap, kemudian beranjak bangun dari ranjang. Matanya beralih menatap ke jendela. Rupanya bi Ita sudah membukakan gorden biru mudanya. Jangan heran jika kamarnya serba warna itu, dia penyuka warna biru muda soalnya.

"Kemana yang katanya mau jemput buat fitting baju?" gumam Maureen.

Dia sudah memasang alarm agar bangun lebih pagi, yakni bangun jam sembilan. Itu termasuk masih pagi menurut Maureen, karena jika libur dia terbiasa bangun jam setengah sebelas.

Jam dinding besar dengan hiasan burung merak yang berada di ruang tamunya telah menunjukkan pukul satu siang. Artinya dia telah menunggu selama empat jam, walaupun dua jam ia habiskan untuk berdandan dan makan.

"Salah aku, karena gak nanya jamnya. Apa aku telepon aja?" gumam Maureen. "Masa harus aku yang telepon? Harusnya, kan, dia yang nentuin waktu dan tempatnya."

Maureen meletakkan kembali hpnya di atas meja rias. Dia terlalu gengsi untuk menghubungi Sean. Pria itu sungguh membuat dia kesal. Moodnya dibuat buruk. Apalagi hormon kehamilannya yang membuat dia gampang emosi.

"Seanjing!" umpatnya, kemudian merebahkan diri ke kasur bergerak menuju alam mimpi.

...****************...

"Maureen, bangun, Sayang. Bukannya hari ini kamu fitting gaun? Sean sudah menunggumu di ruang tamu."

Tessa mengguncangkan tubuh anaknya yang sudah seperti batu jika tertidur. Anaknya ini bisa dinobatkan menjadi Putri Kebo yang suka tidur.

"Eungh ...." Maureen melenguh panjang. Dia menggeliat dan berkedip menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netranya.

"Ditunggu calon suamimu," ucap Tessa.

"Giliran Maureen masih ngantuk gini dia baru dateng," jawabnya.

"Dia sibuk kerja. Bayangin, dia baru datang dari kantor seharian, dan langsung nemuin kamu."

"Halah, cari muka," cela Maureen, kemudian dia langsung beranjak bangkit menuju ke kamar mandi sebelum mamanya mengoceh lebih banyak lagi.

Maureen dengan gerakan secepat kilat langsung mencuci mukanya. Dia tidak berniat mandi. Sean pasti sudah bosan menunggu dirinya sejak tadi.

"Lama."

Maureen berjengkit dan membulatkan mata terkejut. Baru saja dipikirkan, lelaki itu tiba-tiba saja berdiri di pintu kamar Maureen. Dia masih mengenakan jas kerja, wajahnya terlihat cool dengan kedua tangan berada di dalam saku celana.

"Ekhm, baru bangun." Maureen berdeham, menetralkan suaranya, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

"Cepat, aku beri waktu lima menit," ucap Sean seraya menutup pintu kamar Maureen.

"Lima menit?! Aku mau bersiap-siap. Ganti baju, make up, nyisir rambut. Kamu pikir aku cewek apaan?" sungut Maureen.

Sean membuka kembali pintu kamar. "Cewek jadi-jadian," ucapnya dengan datar, kemudian menutup kembali pintunya.

"Seanjing! Eh ...." Maureen segera membekap mulutnya.

"Ngomong apa barusan?" Pintu kamar di buka lagi, kali ini dengan gerakan cepat.

"Ng-nggak," ucap Maureen gugup.

"Aku masih punya telinga." Sean melangkah maju mendekati Maureen.

Wanita itu memundurkan langkahnya dengan pelan. "Berhenti, jangan bergerak," ucapnya.

Sean tersenyum miring. "Kaki itu digunakan untuk jalan. Kalo masih punya kaki, buat apa menghentikan langkah hanya untuk menurutimu."

Maureen terus memundurkan langkahnya hingga sudah tidak bisa bergerak lagi ketika punggungnya membentur ke tembok.

Kini Sean telah berada tepat di depannya, dia mengikis jarak di antara mereka berdua. Tangan kanan pria itu menyentuh tembok.

"Ulangi lagi perkataanmu itu," titahnya.

"Aku gak ngomong apa-apa," balas Maureen seraya menggelengkan kepalanya.

"Yakin?"

Sean mengapit tubuh Maureen. Kedua tangannya kini telah membatasi pergerakan wanita itu dengan mengapit kedua bahunya. Sean menunduk, mendekatkan bibirnya di telinga Maureen.

"Mau mengulangi hal yang sama? Untuk kedua kalinya," bisik Sean.

Maureen merinding mendengarnya. Untuk sesaat dia masih loading, berusaha mencerna perkataan Sean. Dia dengan sekuat tenaga langsung mendorong tubuh Sean.

"Gila!" Maureen dengan sekuat tenaga langsung mendorong dada bidang Sean.

Pria itu terkejut dengan dorongan kuat dari Maureen, hingga hampir menyenggol sebuah vas bunga berwarna biru muda.

Sean mengusap baju bagian depan yang sudah disentuh Maureen, seakan-akan ternodai oleh debu. "Tenang. Aku tidak akan pernah mengkhianati tunanganku, bayi itu dihasilkan oleh kesalahan kita sendiri."

Maureen tersenyum kecut. "Iya, bayi ini tak akan pernah kamu anggap. Sejujurnya aku tidak mau menikah denganmu."

Sean tidak menghiraukan perkataan Maureen. Dia membalikkan badan lantas pergi meninggalkan Maureen.

"Sepuluh menit. Kau harus selesai dalam waktu itu," ucap Sean sebelum menutup pintu kamar Maureen.

...****************...

Suasana begitu hening saat mereka berdua berada di dalam mobil. Sesekali Maureen mencuri pandangan kepada Sean yang sibuk menyetir.

"Aku tahu, aku memang tampan," ucap Sean tiba-tiba.

Maureen segera mengalihkan pandangannya. "Gak usah ge er. Aku lagi ngeliatin wajahmu yang berjerawat."

"Tidak ada jerawat di wajahku."

Maureen memutar kepalanya menghadap Sean. "Itu di dahimu apa kalo bukan jerawat? Berlian yang menempel?" balas Maureen.

Sean langsung berkaca pada spion tengah mobil. "Jadi kamu benar-benar memerhatikanku?"

Pertanyaan Sean membuat Maureen salah tingkah. Dia segera menghadap ke jendela mobil. "Gak sengaja liat."

"Don't lie. Ini beruntusan, bukan jerawat. Kamu tidak akan tahu jika tidak memerhatikan dahiku dengan intens," ucap Sean yang berhasil membuat Maureen terbungkam hingga sampai di sebuah butik.

Seorang wanita berambut sebahu menyambut kedatangan mereka berdua dengan antusias. Terlihat dari wajahnya yang terlihat sangat senang saat Maureen tiba.

"Maureen, lama tidak bertemu," sapa wanita tersebut.

"Halo, Tante Devi. Ini butik Tante? tanya Maureen.

Wanita itu menjawab Maureen dengan senyuman indahnya seraya menganggukkan kepala.

"Jadi, Maureen ini calon istrimu?" tanya tante Devi kepada Sean.

"Iya," jawab Sean singkat.

"Tunanganmu dulu sudah memutuskan hubungan dengan kalian?"

Sean diam sesaat. "Tante mengenal calon istriku?" tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Tentu. Dia dulu mantan anak Tante, Gabriel. Iya, kan, Maureen."

Maureen yang menjawab dengan menunjukkan deretan giginya, "Iya, Tante."

"Ayo, silakan memilih bajunya." Tante Devi mengajak mereka berdua memasuki butik. "Tadi Tante di telepon Sima - mamamu. Dia sudah memilih beberapa baju dan menyuruh Tante untuk menunjukkan kepada Maureen agar dia sendiri yang memilih yang baik di antara yang terbaik," ucap Tante Devi.

Maureen dan Sean hanya menurut. Mereka berdua berjalan mengikuti Tante Devi yang sedang menunjukkan baju pilihan mama Sima.

"Ini beberapa bajunya, kamu bisa mencobanya," ucap Tante Devi seraya mengambil baju-baju itu.

Maureen dibantu dua orang karyawan tante Devi segera pergi menuju fitting room membawa baju-baju itu. "Oh ya, Sean, beberapa tuxedo bagus dari brand ternama ada di bagian sana, dekat sekali dengan fitting room. Kamu bisa langsung memilihnya."

"Makasih Tante sudah melayani kita secara langsung. Biasanya, kan, karyawan butik," ucap Maureen.

"Kalian pelanggan spesial."

Sean segera melihat-lihat tuxedo. Matanya menatap sekeliling berusaha mencari mana yang bagus.

"Sean?" seseorang tiba-tiba menyapanya.

"Wah, bro. Aku dengar dari teman-teman, kamu akan menikah, emang bener?" Gabriel merangkul pundak Sean. Memperlihatkan betapa akrabnya mereka.

Baru saja Sean akan menjawab pertanyaan Gabriel, pintu fitting room tiba-tiba terbuka. Menampilkan Maureen yang mengenakan gaun pernikahan. Gaun itu terlihat sangat cocok dipakainya.

"Maureen? Wow, kamu terlihat cocok dengan gaun itu," puji Gabriel. Pria itu terlihat sangat terpesona dengan Maureen yang memakai gaun putih itu.

Sean yang melihat tatapan itu langsung berkomentar. "Terlalu simpel." Sean tidak setuju dengan pilihan pertama. Maureen mengangguk, kemudian masuk kembali.

"Terlalu terbuka," komen Sean.

"Terlalu ketat."

"Terlalu besar."

"Apakah itu gaun pernikahan? Mengapa terlihat seperti orang-orangan sawah?"

Entah sudah beberapa kali Sean menyuruhnya untuk ganti baju, hingga membuat wanita itu marah. " Bisa, gak, jangan main-main. Kamu kira aku gak capek bongkar-pasang gaunnya?!"

"Ekhm" Sean berdeham. "Pilih yang pertama tadi."

What?! Bener-bener Seanjing - umpat Maureen dalam hati.

1
YouTube: hofi adawiyah
aku mampir thor 🥰 mampir juga yuk ke novelku judulnya Sahabatku Berkhianat
Cokies🐇
jangan galak" bang
Cokies🐇
kelakuan
El
loh kok berhenti mendadak
padahal aku udah sayang sama Sean 😭
El: wkwkwk
maaf yaa baru bisa mampir 🤗🤗🤗
total 2 replies
El
aku udah tegang padahal😭
El
si kampret
El
nah kan rasain
El
nanti nyesel
El
akan aku tunggu kebucinanmu Sean 🤨
El
gak Sean, gak Devan kelakuannya bikin pengen nonjok 😤
El
aku senang saat Sean menderitaaaa 🤣
El
hajar aja
hajarr aku dukung 😤
meilin
seru bgt ka..... semangat up nya
raazhr_
ada loh Van, kmu aja yg blum rasain😔
raazhr_
aku mampir kak, aku baca pelan-pelan ya ceritanya bgus auto ku save 😉🌷
raazhr_
waduh, Maureen are you gwenchana?🥺
raazhr_
to the point bgt ya Maureen🤣
〈⎳ FT. Zira
setangkai 🌹mendarat untukmu thor.. buruan update yaa
〈⎳ FT. Zira
mau ketawa takut dosa.. tpi aku gak tahan🤣🤣🤣
Silvi Aulia
ceritanya makin seru 🤗

aku mampir lagi nih bawa like and subscribe 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!