Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Cherry badmood.
Bang Dante terdiam sejenak, jemarinya mencengkeram kuat ujung meja, dadanya bergejolak memikirkan banyak hal di balik keputusannya. Ia tau betul hitungan waktu yang ia ucapkan bukanlah hitungan sembarang, bukan angka yang ia buat asal saja ia sebutkan. Itu hitungan yang sudah ia perhitungkan.
"Jangan sampai salah. Tulis... lima minggu." Ulangnya pelan namun tegas, matanya menatap lurus ke arah pria di hadapannya namun tetap terdengar jantan dan tegas.
Anggota itu mengangguk hormat, lalu menuliskan angka tersebut di berkas dengan rapi. "Siap, Ndan. Proses akan kami percepat. Semoga di lancarkan semuanya."
...
"Lima minggu, Om??"
"Iya, jawab saja hamil lima minggu." Kata Bang Dante.
"Tapi bagaimana kalau ketahuan, Cherry nggak hamil." Tanya Cherry.
"Biar saja, kau hanya perlu bilang begitu. Kau mau kan, ikut saya ke bumi Karang Hitam??" Balas Bang Dante.
Sebenarnya Cherry sangat takut dan berat, tapi kini namanya sudah masuk dalam catatan militer sebagai istri dari Letnan Wiradante.
...
"Hati-hati Bu Dante. Disini licin sekali, baru di pel." Kata salah seorang ibu pengurus cabang karena 'tau' Cherry sedang hamil muda.
Cherry hanya bisa tersenyum kecut tapi tak bisa berbuat apapun.
"Iya Bu. Terima kasih banyak." Kata Cherry sambil berlalu.
Saat kakinya menuruni anak tangga, ia melihat Bang Dante keluar dari masjid Batalyon. Sesaat tadi, Bang Dante menanyakan kesiapan dirinya jika menjadi istri seorang perwira. Pria tersebut juga meminta ijin nya agar bisa segera menikahinya. Cherry pun menyanggupi meskipun ia tidak paham apa yang terjadi.
"Bagaimana, Om."
"Alhamdulillah, sudah beres." Jawab Bang Dante sambil mengajak Cherry menuju ruang kerjanya yang beberapa hari lagi akan segera ia tinggalkan. "Nanti sore kita rumah sakit. Malamnya menghadap Danyon."
"Masih berapa lama lagi sih prosesnya??? Cherry capek, Om." Rengek Cherry.
Bang Dante tersenyum tipis kemudian mengarahkan Cherry agar berjalan lebih dulu masuk ke dalam ruang kerjanya.
Setelah mereka sampai di ruangan. Bang Dante mengambilkan air minum untuk Cherry, jus jeruk. "Sabar sedikit lagi. Kita harus punya surat resmi biar kemanapun langkah kakimu berjalan, kamu 'selamat'. Di manapun kamu berada, nama saya bisa melindungimu." Kata Bang Dante.
"Sebenarnya..... Apa tujuan Om, berbuat seperti ini. Mengaku kalau Cherry hamil, itu juga akan menjatuhkan harga diri Om." Ujar Cherry.
Bang Dante berhenti bergerak sejenak, gelas jus di tangannya tergenggam erat. Ia meletakkannya perlahan di meja di hadapan Cherry, lalu menarik kursi hingga duduk berhadapan dengannya. Tatapannya yang biasanya tajam, tak menghilangkan kewibawaannya. Tatapannya begitu lembut tapi seakan mengisyaratkan selama ini ada banyak beban yang ia pikul sendirian, dan baru kali ini ingin ia ungkapkan.
"Menjatuhkan harga diri?" ulangnya pelan, namun jelas. "Bagi saya, melindungimu justru satu-satunya hal yang menjaga harga diri saya, Cherry."
Bang Dante menarik napas panjang, ia menatap mata gadis itu dengan lekat seolah ingin memastikan setiap kata yang keluar sampai ke hati.
"Kau tak tau apa yang sedang terjadi di balik semua ini. Saya tidak dengan sengaja menyebut angka sembarangan. Angka 'lima minggu' itu bukan kebohongan tanpa alasan. Itu cara tercepat, satu-satunya jalan yang saya temukan agar nama sah milik saya bisa segera melekat padamu. Agar tak ada satu pun orang yang berani menyakitimu, menipumu, atau menyeretmu ke dalam masalah baru."
Tatap mata itu terus mengarah pada Cherry. Gadis itu sungguh membuatnya tidak tega.
"Apapun yang saya lakukan, semua saya lakukan yang terbaik untukmu, meskipun jalannya berat." Kata Bang Dante.
Bang Dante tidak mengalihkan pandangan dari Cherry, menunggu gadis itu bicara dari reaksi gelisahnya tapi gadis itu tak juga mau membuka suara.
"Apa yang kau takutkan?" Lagi-lagi Bang Dante berusaha menyelami isi hati gadis kecilnya.
"Disana tidak ada siapa-siapa yang Cherry kenal dan Om.........." Jemari Cherry bergerak gelisah lalu meremas ujung roknya.
"Kenapa????" Tanya Bang Dante.
"Bagaimana kalau Om langsung meninggalkan Cherry dan membiarkan Cherry hidup sendiri disana??"
Bang Dante tertegun sejenak. Perlahan, sedikit demi sedikit ia semakin memahami Cherry.
"Bagaimana kau bisa punya pikiran begitu padahal kau sendiri belum seratus persen kenal dengan saya?"
"Laki-laki biasa begitu." Kata Cherry.
"Kalau begitu masukan saya pada golongan laki-laki yang tidak biasa." Jawab Bang Dante.
...
Cherry mulai kesal. Dua jam menunggu Danyon hingga hari sudah nyaris maghrib tapi komandan tertinggi di Batalyon itu tak kunjung hadir.
"Lama sekali sih?? Kalau memang sedang banyak kegiatan, sebaiknya di undur saja janji temunya, kenapa harus membuang waktu begini??? Apa begini kelakuan para atasan?????" Bibir Cherry terus mengomel, ia tak sadar bahwa Danyon berdiri tak jauh dari mereka.
"Lama menunggu ya??"
"Siap, tidak lama.. Danyon." Jawab Bang Dante memberi sikap formal.
"Lama." Sambar Cherry singkat.
Bang Dante menoleh. Tapi bukannya marah ia mendengar kata singkat itu, justru Bang Dante tersenyum tipis.
"Oohh.. Maaf ya, Bu Dante. Hari ini memang jadwal saya padat sekali." Jawab Danyon.
"Saya tau bapak ini komandan, tapi kita juga sama-sama manusia. Tolong lah untuk saling menghargai, tanpa anggota.. bapak tidak bisa di sebut komandan." Kata Cherry meluapkan rasa kesalnya.
Agaknya Danyon sedikit tersinggung, tapi melihat lawannya adalah istri Letnan Dante, dimana ia pun tau bagaimana sikap perwira muda tersebut, ia pun mengurungkan niat untuk membalas.
"Sekali lagi, saya mohon maaf. Bukan maksud saya untuk menunda waktu begitu lama."
"Ijin...!!" Bang Dante meletakan dua map berkas yang harus di tanda tangani.
Secepatnya Danyon menanda tangani berkas tersebut.
"Siap, terima kasih.. Ijin.." Akhirnya karena wajah Cherry yang sudah cemberut, Bang Dante memilih undur diri.
...
"Cherry mau mandi duluan. Om keluar dulu..!!" Katanya sambil meletakan kasar tas kecilnya diatas tempat tidur.
"Memangnya kenapa?" Tanya Bang Dante.
"Nggak sopan lah. Om keluar..!!" Pinta Cherry.
" 'Di dalam????' " Goda Bang Dante dengan wajah datarnya.
"Oomm.. Jangan bercanda..!!!!"
Melihat Cherry sudah kesal, Bang Dante berjalan menuju balkon kamar, masih dengan wajah datarnya.
"Menyebalkan." Gumam Cherry.
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara