Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Bayang-Bayang di Lorong Arsip

Malam semakin larut ketika gedung pencakar langit Lu Group berubah menjadi sebuah monumen sunyi yang dikelilingi lautan lampu kota. Sebagian besar karyawan dan jajaran direksi telah lama meninggalkan meja kerja mereka, menyerahkan lantai-lantai megah itu pada keheningan malam dan patroli petugas keamanan. Namun, di ruang kerja pribadi lantai paling atas, cahaya lampu meja bernuansa hijau zamrud masih menyala terang, memancarkan pendar hangat di tengah ruangan yang gelap.

Lu Jingyan duduk di balik meja kerja kayu mahoninya. Di hadapannya terbentang sebuah laptop canggih dengan layar menyala, menampilkan skema struktur organisasi internal perusahaan serta peta aliran dana lintas divisi yang rumit. Jemari tangannya yang panjang bergerak lincah di atas papan tik, membuka satu per satu berkas digital terenkripsi yang berhasil diretas dan disalin oleh Sekretaris Han dari server utama divisi keuangan.

Langkah kaki ringan yang berirama tenang terdengar mendekati pintu ruang kerja. Ketukan pelan sebanyak tiga kali memecah kesunyian malam.

"Masuk," ucap Jingyan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.

Pintu terbuka tanpa suara. Sekretaris Han melangkah masuk dengan membawa secangkir kopi hitam hangat di atas sebuah nampan kecil. Pria paruh baya itu meletakkan cangkir tersebut di sisi meja kerja atasannya dengan sangat hati-hati, lalu berdiri tegak kembali dengan sikap siaga.

"Laporan audit rahasia untuk kuartal ini sudah selesai saya periksa kembali, Tuan Muda," lapor Sekretaris Han dengan suara tertahan. "Seperti yang Anda prediksikan sebelumnya, Zhao Tianming tidak bergerak sendirian. Selain menggunakan perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman, ia juga memanfaatkan yayasan amal fiktif untuk menyalurkan dana suap kepada beberapa pejabat perizinan kota agar proyek-proyek konstruksi bermasalah tetap bisa lolos uji kelayakan."

Jingyan berhenti mengetik. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja yang empuk, lalu mengangkat cangkir kopi hitam itu dan menyesapnya pelan. Rasa pahit yang pekat langsung menyapa indra perasanya, membantu menjaga pikirannya tetap tajam di jam-jam rawan ini.

"Yayasan amal fiktif..." gumam Jingyan dingin. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sinis. "Manusia-manusia serakah itu selalu menggunakan kedok kemanusiaan dan ibadah sosial untuk menyembunyikan kebejatan moral mereka. Mereka pikir dengan mendirikan yayasan atas nama orang lain, jejak busuk mereka akan hilang begitu saja."

"Langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya, Tuan Muda?" tanya Sekretaris Han, menatap atasannya dengan sorot mata penuh antisipasi. "Apakah kita akan langsung membongkar dokumen yayasan fiktif ini ke hadapan komite etika dewan komisaris?"

Jingyan menggeleng pelan. Ia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja, lalu menatap tajam ke arah Sekretaris Han.

"Belum saatnya, Han. Komite etika di bawah kendali komisaris utama tidak akan langsung percaya begitu saja pada dokumen digital yang bisa saja mereka anggap sebagai fitnah atau rekayasa internal. Kita membutuhkan bukti fisik yang tidak terbantahkan—sesuatu yang disimpan rapat-rapat di tempat yang paling aman menurut mereka."

"Maksud Anda... ruang arsip rahasia di lantai bawah?" tebak Sekretaris Han dengan kening sedikit berkerut.

"Tepat sekali," jawab Jingyan mantap. "Ruang arsip bawah tanah di gedung utama menyimpan seluruh dokumen asli perjanjian kontrak subkontraktor, tanda tangan basah, dan catatan transaksi tunai fisik dari sepuluh tahun ke belakang. Zhao Tianming pasti menyimpan salinan fisik dokumen penting terkait proyek lantai 35 di sana, terkunci di dalam brankas pribadinya."

"Tapi ruang arsip bawah tanah itu dijaga ketat oleh sistem keamanan berlapis, sidik jari digital, dan kamera pengawas selama dua puluh empat jam penuh, Tuan Muda," sanggah Sekretaris Han mengingatkan dengan nada cemas. "Mendapatkan akses ke sana tanpa memicu alarm pusat bukanlah perkara mudah bagi orang luar."

Jingyan berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya, lalu berjalan perlahan menghadap jendela kaca besar yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri—wajah Lu Jingyan, namun dengan jiwa dan tatapan tajam milik Chen Guowei.

"Siapa bilang kita akan masuk sebagai orang luar?" suara Jingyan terdengar tenang namun mengandung otoritas mutlak. "Besok malam, Lu Group akan mengadakan jamuan makan malam formal tertutup bagi seluruh mitra bisnis strategis dan jajaran direksi senior. Semua mata akan tertuju pada ruang ballrom utama di lantai atas."

Sekretaris Han tertegun sejenak, lalu matanya seketika melebar saat memahami arah rencana sang atasan. "Ah... saya mengerti. Saat seluruh pengawas dan direksi sibuk menghadiri jamuan makan malam di lantai atas, tingkat pengamanan dan konsentrasi petugas di area bawah akan berada di titik paling longgar."

"Benar," sambung Jingyan sambil berbalik menghadap asisten setianya. "Dan kita akan menggunakan kesempatan itu untuk menyusup masuk ke ruang arsip bawah tanah, mengambil dokumen fisik yang kita butuhkan, dan mencatat setiap bukti kejahatan yang mereka sembunyikan rapat-rapat."

"Baik, Tuan Muda! Saya akan segera menyiapkan segala perlengkapan teknis dan menyusun jadwal penyusupan yang paling aman tanpa meninggalkan jejak sedikit pun," ucap Sekretaris Han penuh keyakinan, membungkuk hormat.

Selepas kepergian Sekretaris Han dari ruang kerja, ruangan itu kembali jatuh dalam keheningan malam yang pekat. Jingyan kembali memandang keluar jendela, menatap kerlip lampu kota yang membentang luas di bawah sana. Bayangan masa lalunya sebagai buruh kasar yang mati tertimpa besi dingin di gedung yang sama kembali berkelebat di dalam kepalanya, memicu kobaran api dendam yang semakin membakar semangat hidupnya.

Setiap langkah yang ia ambil hari ini bukan sekadar permainan kekuasaan korporat biasa. Ini adalah pertarungan hidup dan mati antara keadilan yang terabaikan dan keserakahan yang merajalela. Di dalam dada raga Lu Jingyan, detik demi detik waktu berjalan dengan kejam, menuntut pembuktian sebelum batas masa pinjaman jiwanya benar-benar habis di bumi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!