Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Satupun Bisa Memerintah ku!
Bab 11 Istri Polos Tuan Garra
Alex masih berdiri menunggu di depan ruangan 312. Ia sengaja memberikan ruang privasi bagi Garra dan gadis itu untuk berbicara, sambil dia berjaga di depan kamar tersebut seperti bodyguard. Wajahnya datar, tapi telinganya waspada.
Entah apa yang keduanya bicarakan di dalam. Awalnya masih terdengar bentakan pelan, sekarang suaranya mulai tidak terdengar dengan jelas. Alex sudah tak bisa menguping lagi. Pintu rumah sakit itu cukup kedap.
Sementara di dalam sana, Anggara memang sudah menekan suaranya, tak keras seperti sebelumnya. Itu dia lakukan bukan karena takut, tapi karena melihat wajah Elisa yang pucat pasi bahkan tak mau menatap wajahnya. Ada rasa sesak aneh di dadanya melihat gadis itu ketakutan.
"Saya akan panggil perawat, jika anda tak juga keluar," ucap Elisa. Kali ini suaranya tak keras, bahkan terdengar lemah dan bergetar. Mungkin dia sadar, siapa yang dihadapinya. Semakin melawan, semakin dia ditekan oleh pria yang kelihatan punya kuasa besar tersebut. Tenaganya juga sudah habis.
"Tidak satu orang pun yang berani memerintahku! Jadi, simpan saja tenaga mu itu untuk merawat anakku," balas Anggara dingin.
Elisa mau melawan, membuka mulut untuk membantah kata "anakku" itu, tapi perutnya malah kram melilit. Rasa mual yang dari tadi ia tahan langsung menyerang hebat. Asam lambungnya naik.
Uekh!
Elisa langsung berlari kecil - dengan tiang infus yang terseret - ke wastafel di sudut kamar dan muntah. Wajahnya memerah menahan rasa tidak nyaman itu.
Sedangkan Anggara diam sebagai penonton. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang Anggara yang selalu punya solusi untuk segalanya, bingung. Mungkin tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Haruskah ia pegang punggungnya? Haruskah ia panggil dokter?
Tangannya terangkat setengah, lalu turun lagi.
"Kau baik-baik saja?"
Pertanyaan yang terdengar sangat kaku, canggung, keluar dari mulut Anggara. Ia mencoba mendekat selangkah dan akan menyentuh punggung Elisa. Namun, gadis itu dengan cepat menjauh, bahkan sambil masih mual.
"Jangan sentuh saya!" pintanya dengan tegas, tapi suaranya terdengar lemah dan hampir menangis.
Anggara langsung kesal, rahangnya mengeras. Baru kali ini ada wanita yang membentaknya, menolak sentuhannya, meskipun nadanya tak keras, tetap saja ego-nya sebagai pria terpukul. Tapi kemudian ia membiarkannya. Ia melihat bahu Elisa yang bergetar.
Pada akhirnya, Anggara hanya duduk kembali di kursi, melihat Elisa yang terisak di depan wastafel. Baru tenang sebentar, Elisa kembali mual lagi. Tahu ada yang tak beres, Anggara tidak tahan lagi. Ia langsung keluar dengan wajah panik yang ia tutupi dengan kemarahan.
Elisa langsung merasa lega saat pintu tertutup. Udara di kamar seperti langsung penuh dengan oksigen lagi. Semula terasa sesak, berat, dan membuatnya tak nyaman. Keberadaan Anggara membuatnya merasa terancam, merasa kotor, karena ingat apa yang dulu terjadi antara mereka berdua di hotel malam itu.
Lima belas menit kemudian, ada yang masuk kamar. Elisa langsung waspada, tubuhnya menegang, ia kira Anggara kembali.
Ternyata hanya perawat senior yang datang dengan nampan berisi obat dan vitamin.
"Mbak Elisa, ini obat mualnya ya. Dari dokter kandungan. Minum sekarang, nanti mualnya reda. Ini vitamin untuk janinnya juga yang paling bagus," kata perawat itu ramah.
Elisa juga diberikan obat terbaik yang langsung disuntikkan ke selang infusnya, untuk meredakan rasa mual nya dengan cepat. Elisa tak tahu, dibalik obat mahal yang datang dengan perawat itu, adalah Anggara. Dialah yang tadi keluar dan langsung membentak dokter jaga untuk memberikan penanganan terbaik, tanpa peduli berapa biayanya.
Tapi pria itu tidak kelihatan di dalam sana, di luar kamar perawatan pun kosong, Alex juga tak kelihatan batang hidungnya. Seolah menghilang.
Setelah minum obat dan disuntik, benar saja. Perasaannya lebih nyaman. Perutnya pun tak terasa bergejolak seperti sebelumnya. Kepalanya yang pusing juga perlahan hilang.
Tok tok tok
Pintu diketuk sopan.
"Lisaaa, aku datang!"
Susan masuk dengan langkah ceria, wajahnya tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang tertata rapi. Ia membawa dua kantong besar.
"Mas Dimas sudah pulang daritadi ya? Katanya dia ada urusan mendesak ke site. Oh ya, aku bawa buah apel sama pir kesukaan kamu. Sama bubur ayam biar ada tenaga!"
Susan langsung meletakkan kantong plastik yang berisi buah yang dibelinya tadi di meja. Ia langsung sigap seperti seorang kakak.
"Maaf, San. Aku ngerepotin kalian terus. Dari kemarin kamu sama Mas Dimas yang urus aku," kata Elisa lirih.
"Eh, jangan bilang begitu! Kita sudah berteman dari semester satu, Lis. Lagian dulu, pas aku sakit tipes hampir satu bulan, kamu yang bolak-balik jenguk ke rumah. Bawain buku-buku tugas juga, bikinin catatan. Kamu juga gak pernah ngeluh. Kita kan teman, Lis. Sudah mirip sodara juga. Jangan sungkan ya. Pokoknya, kamu sudah aku anggap sodara sendiri," jawab Susan sambil mengupas apel.
Elisa menatap haru, tertunduk. Menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca yang hampir tumpah lagi.
Susan lalu menyodorkan potongan apel ke mulut Elisa, mereka makan sama-sama sambil ngobrol ringan tentang kampus. Nah, setelah suasana agak cair, Susan mulai mencari momen. Dia mulai mengorek informasi yang paling ia penasaran. Sebenarnya, Elisa hamil dengan siapa. Karena ia yakin Elisa bukan wanita sembarangan.
"Lis... kita kan sudah temanan lama. Bahkan saling tahu rahasia terdalam. Kamu juga tahu kan, aku sempat naksir berat sama Pak Dosen Arman yang masih single itu," Susan memulai, mencoba mencairkan suasana.
Elisa mengangguk.
"Nah, sekarang... boleh nggak. Kalau kamu kasih tahu aku. Tapi... kalau kamu belum mau cerita sekarang, gak apa-apa banget, sih. Aku nggak maksa," kata Susan hati-hati.
Elisa mulai curiga. Pasti akan tanya tentang kehamilannya.
"Mau tanya apa, San?" tanya Elisa, pura-pura tidak tahu.
"Tapi kamu janji, jangan tersinggung atau marah ya sama aku."
"Hem," Elisa mengangguk.
"Em... sebenarnya, siapa yang sudah membuat kamu hamil, Lis? Pacar kamu yang mana? Selama ini kamu gak pernah cerita punya pacar."
Elisa langsung diam seribu bahasa. Sendok di tangannya berhenti. Wajahnya yang baru sedikit cerah kembali pucat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia bilang bahwa ia menjual dirinya untuk biaya rumah sakit ibunya?
Klek!
Pintu terbuka tiba-tiba, memecah keheningan yang canggung itu. Seseorang masuk dengan kedua tangannya penuh dengan paperbag belanjaan mewah. Isinya baju hamil, buah-buahan impor, susu ibu hamil.
Susan wajahnya langsung heran, menatap curiga melihat siapa yang datang. Seorang pria asing berjas rapi yang sama sekali tidak dikenal. Alex.
(Jangan-jangan ini pria yang menghamili Elisa? Tampangnya sih mapan, tapi kok tua?)
Susan langsung negative thinking. Sambil bisik-bisik, dia mendekatkan diri ke Elisa dan berbisik pelan, "Lis... apa dia orangnya? Bapaknya?"
Elisa menggeleng pelan dengan panik. "Bu-bukan!"
Di belakang Alex, muncul lagi pria yang lebih tinggi, wajahnya sangat kharismatik, baunya terasa wangi mahal, gantengnya kebangetan, tapi terlihat sangat dingin dan berkuasa. Dia masuk dan menatap dua wanita di ranjang itu dengan tatapan tajam yang langsung menusuk.
Anggara kembali.
Dan kini, tatapannya bukan hanya pada Elisa, tapi juga pada Susan.
Bersambung.
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,
dan punya anak sudah tipis harapan nya lontong sayur jangan di makan ontong
ehhh si Eneng meh kabur ta,,,mugo mugo di sirep wong penjaga hahah jadi bisa kabur deh Elisa,,,, mimpi bukan tu malah nyambung ya ketangkap duhh ngelu ko bisa ya ga jadi di serep yae orang orang itu
di bim salabim Abra kadabra jadi cacing semua dalam satu jam saja 🤣 pasti ketangkep nih sama KPK wahh gaswat Gatot tenan ki 🤔🤔 cari jalan tembus Mba Elisa biar biar ga ketangkap ayo brojol tu anak baru juga beberapa minggu melas men yo,,,Mas Bro Gara kejam tapi ganteng 😁😁
Bukti kan kalau kamu bukan gadis matre , kamu masih mengutamakan hati nurani 👍👍👍