Indonesia
NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:28.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Pria di Balik Suara Itu

Sore itu, begitu jam kerja berakhir, Alisha segera merapikan meja kerjanya. Ia memasukkan beberapa barang ke dalam tas, lalu berjalan menuju lift bersama karyawan lain.

Begitu sampai di lobby, seseorang memanggilnya.

“Lis!”

Alisha menoleh.

Dewi berjalan menghampirinya sambil membawa tas tangan. “Kamu mau ke rumah sakit, 'kan? Nemenin adikmu?” tanyanya. “Kita bareng yuk. Aku mau jenguk bibiku yang baru masuk rumah sakit.”

Alisha menggeleng pelan. “Hari ini aku nggak ke rumah sakit.”

Dewi langsung mengernyit. “Kenapa?”

“Aku harus beres-beres rumah. Sudah lama gak sempat dibersihin.”

“Oh, iya juga.” Dewi mengangguk. “Kalau begitu aku ke rumah sakit sendiri.”

“Titip salam buat bibimu," ucap Alisha.

“Siap. Besok aku ceritain kondisinya.” Dewi kemudian melangkah lebih dulu menuju pintu keluar.

Alisha menunggu sampai temannya pergi sebelum memesan ojek daring. Beberapa menit kemudian, kendaraan yang dipesannya tiba. Alisha naik dan memberikan alamat yang dikirimkan kepadanya kemarin.

Sepanjang perjalanan, pikirannya kembali dipenuhi berbagai hal. Hari ini ia akan menikah. Bukan dengan pria yang dicintainya. Bahkan wajah pria itu pun tidak boleh ia lihat.

Alisha menatap layar ponselnya, memastikan alamat tersebut sekali lagi.

Setelah perjalanan cukup panjang, kendaraan berhenti di depan sebuah rumah besar yang berada di kawasan privat.

Alisha turun. Ia memandang bangunan di hadapannya dengan sedikit ragu. Alamatnya benar.

Seseorang sudah menunggunya di depan. “Selamat sore, Nona Alisha.”

Mata Alisha sempat melebar beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. Ia tak menyangka pria yang tidak ia kenal itu tahu namanya.

“Selamat sore," jawabnya akhirnya.

“Silakan masuk. Semuanya sudah dipersiapkan.”

Alisha mengikuti lelaki itu ke dalam. Namun bukannya dibawa ke ruang tempat akad akan berlangsung, ia justru diarahkan menuju sebuah ruangan lain.

Di dalamnya sudah tersedia seorang terapis perempuan, beberapa perlengkapan perawatan, serta pakaian yang tampaknya telah disiapkan untuknya.

Alisha berhenti. “Ini apa?”

“Perawatan sebelum akad, Nona," jawab laki-laki tadi.

Kening Alisha berkerut. “Perawatan?”

“Sudah diatur oleh pihak Tuan Ares," jawab pria tersebut.

Alisha terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka Ares akan memikirkan hal seperti ini. “Berapa lama?”

"Nggak terlalu lama," jawab sang lelaki. "Setelah itu, Nona bisa istirahat sebentar sebelum akad pukul tujuh.”

Alisha melirik jam tangannya. Masih ada cukup waktu. Ia menghela napas pelan. Entah apa yang sebenarnya dipikirkan Ares dengan semua persiapan ini.

Namun, setidaknya ia bisa sedikit menenangkan diri sebelum menghadapi malam yang akan mengubah hidupnya.

Alisha akhirnya mengangguk. “Baik.”

 

Beberapa jam kemudian, setelah rangkaian perawatan selesai, Alisha berdiri di depan cermin.

Wajahnya terlihat lebih segar. Rambutnya ditata sederhana, kulitnya tampak terawat, dan gaun yang sudah disiapkan untuknya membuat penampilannya terlihat jauh berbeda dari perempuan yang beberapa jam lalu masih duduk di meja kantor.

Ia menatap bayangannya sendiri. Malam ini ia akan menjadi istri seseorang. Seseorang yang bahkan tidak boleh ia lihat.

Tangannya perlahan meremas ujung kain gaun. Beberapa jam lagi, ia akan duduk di hadapan penghulu dan mengucapkan sesuatu yang akan mengubah statusnya.

Istri. Kata itu terasa asing. Alisha menarik napas dalam-dalam. Kemudian seseorang mengetuk pintu.

Tok. Tok.

Alisha menoleh.

“Lima belas menit lagi akad dimulai, Nona.”

“Iya," sahut Alisha.

Langkah orang itu menjauh.

Alisha kembali menatap pantulan dirinya. Tinggal beberapa menit lagi. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia teringat satu syarat Ares.

Tutup mata. Bahkan ketika akad berlangsung. Alisha masih tidak mengerti kenapa laki-laki itu menginginkan hal tersebut. Namun ia sudah menyetujuinya.

Ia mengambil penutup mata yang telah disiapkan di atas meja. Benda sederhana itu tiba-tiba terasa jauh lebih berat daripada seharusnya. Alisha menggenggamnya beberapa saat. Lalu pintu kembali diketuk.

“Nona, waktunya.”

Alisha memejamkan mata sejenak sebelum mengenakan penutup tersebut. Dunia di sekelilingnya langsung berubah menjadi gelap.

Ia tidak bisa melihat siapa pun di sekelilingnya. Alisha menarik napas perlahan. Kemudian seseorang menuntunnya keluar dari ruangan.

Di ujung koridor, suara beberapa orang mulai terdengar. Ada percakapan pelan. Ada suara kursi bergeser.

Lalu suara seorang pria yang terdengar tenang. “Sudah siap?”

Alisha berhenti melangkah. Ia tidak tahu siapa yang baru saja bertanya. Namun entah kenapa, mendengar suara itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Mungkin karena ia tahu, beberapa menit lagi suara itu akan menjadi suara suaminya.

Alisha dituntun menuju tempat yang telah disiapkan untuk akad.

“Pelan-pelan,” ujar seseorang di sampingnya.

Alisha mengangguk, lalu duduk di tempat yang ditunjukkan.

Beberapa detik kemudian, seseorang duduk di sampingnya. Ares.

Penghulu yang duduk di hadapan mereka sempat mengerutkan dahi ketika melihat mata Alisha yang tertutup. “Maaf, Pak. Mata pengantin wanitanya kenapa?”

Sebelum pertanyaan itu berkembang lebih jauh, Ares menjawab tenang. “Penglihatannya sedang bermasalah. Dia lebih nyaman menutup mata untuk sementara.”

Penghulu mengangguk. “Baik. Kalo begitu kita mulai saja.”

Alisha menundukkan wajah. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.

Ia mendengar suara penghulu membacakan beberapa hal yang harus dipenuhi sebelum akad dimulai. Semuanya terdengar jelas melalui alat bantu dengarnya.

Kemudian tiba saatnya Ares mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap. Sekali. Tidak ada pengulangan.

“...sah?”

“SAH.”

Suara dua orang saksi terdengar hampir bersamaan.

Alisha mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Sudah selesai. Kini ia resmi menjadi istrinya.

Penghulu kemudian menyerahkan dokumen pernikahan siri kepada pihak yang bertanggung jawab.

“Surat ini nanti bisa dipakai kalo mau diurus pencatatan nikahnya secara resmi.”

Sudut bibir Alisha terangkat tipis membentuk senyuman pahit. Pernikahan ini saja membutuhkan begitu banyak kesepakatan dan syarat. Rasanya mustahil mereka akan melangkah lebih jauh sampai mengurus buku nikah.

Baginya, hubungan ini hanya kontrak. Tidak ada alasan bagi mereka untuk menjadi pasangan suami istri selamanya.

Setelah akad selesai, seseorang kemudian menuntun Alisha menuju kamar yang sudah disiapkan. Langkahnya terasa semakin berat ketika mereka berhenti di depan sebuah pintu.

“Nona, silakan masuk.”

Alisha mengangguk. Pintu terbuka. Ia melangkah masuk seorang diri. Pintu kembali tertutup di belakangnya. Alisha berdiri beberapa saat tanpa bergerak.

Malam ini adalah malam pertamanya sebagai seorang istri. Namun ia bahkan tidak tahu seperti apa wajah suaminya.

Alisha menyentuh alat bantu dengarnya, memastikan benda itu terpasang dengan baik.

“Tes...” gumamnya pelan.

Suaranya sendiri terdengar jelas. Ia mengembuskan napas lega. Setidaknya ia masih bisa mendengar dengan baik.

Alisha duduk di tepi ranjang. Jantungnya berdetak semakin cepat.

Ia mencoba menenangkan diri, tetapi suara langkah dari luar kamar justru membuat tubuhnya kembali menegang. Satu langkah, kemudian langkah berikutnya, hingga suara pintu terbuka.

Alisha langsung menegakkan tubuh. Seseorang masuk. Pintu tertutup kembali. Langkah pria itu terdengar semakin dekat.

Alisha menggenggam ujung selimut. “Tuan Ares?” tanyanya ragu.

Tidak ada jawaban. Hanya suara langkah yang terus mendekat.

Alisha menelan ludah. Ia masih tidak tahu bahwa suara yang akan didengarnya malam ini pernah terdengar jelas di koridor rumah sakit beberapa hari lalu.

Dan pria yang kini berdiri hanya beberapa langkah darinya adalah orang yang sama yang pernah ia tabrak tanpa sengaja.

 

...✨“Kadang, hidup membawa kita pada seseorang melalui jalan yang tidak pernah kita rencanakan. Kita mungkin belum mengenal wajahnya, tetapi waktu akan perlahan memperlihatkan alasan mengapa pertemuan itu terjadi.”...

...“Ada pertemuan yang kita anggap kebetulan, padahal tanpa kita sadari, orang yang kita cari mungkin sudah pernah berdiri begitu dekat.”✨...

.

To be continued

1
Oma Gavin
gimana ares rasanya diabaikan ngga dianggap jgn merasa kamu sudah mencukupi semua kebutuhan alisha dan membantu pengobatan adiknya kamu bisa memiliki alisha seutuhnya dia bertahan hanya karena kontrak yg kamu sodorkan dan ngga lebih dari itu sekarang saatnya alisha ambil keputusan berat tetap lanjut dgn kontrak nya atau pergi jauh dgn konsekuensi pengobatan raka berakhir
Cicih Sophiana
betul kata Ares klo si Arga itu pemain... hati hati aja Alisha harus waspada terus klo orang seperti itu...
Cicih Sophiana
hati mereka berdua sudah terpaut satu sama lain... hanya saja mereka tdk menyadari atau krn gengsi nya terlalu tinggi...
Cicih Sophiana
sudahi aja KONTRAK nya... jd nikah betulan dari pada tersiksa
Cicih Sophiana
Res hapus kata kontrak nya... jadikan Alisha hanya milik mu... jaga Alisha kawal terus dia walau dari jauh Res...
Cicih Sophiana
playboy cap kampak mulai beraksi kembali... pertahan kan Alisha Res
Dek Sri
lanjut
Cicih Sophiana
lumayan bagus dan masuk akal alasan Aisha kerja...biar ada bohong nya lumayan🫢 😂
Cicih Sophiana
Alisha seperti nya tdk seperti cewek lain yg mendekati Ares... yg matre, celamitan minta ini minta itu... bukti nya Alisha anteng anteng aja tuh gak macam...
Ass Yfa
rencana Arga berhasil menyakiti Ares
Cicih Sophiana
klo semua orang takut menikah Res dunia sepi dong... gak ada anak untuk penerus manusia... orang jg mungkin malas kerja dan beraktifitas untuk apa?
abimasta
puas yaa kamu arga
Cicih Sophiana
klo udah cemburu berarti udah ada rasa ya Res... jujur aja napa Res gapapa kok klo jujur jg Alisha seperti nya jg suka kamu deh...
Puji Hastuti
kamu selamat alisha
Cicih Sophiana
cie cie ada yg cemburu nih yeh... tp gak berani bilang cemburu... padahal jujur aja gak usah malu mas Ares 🫢
Cicih Sophiana
betul kak Nana bukan tempat yg membuat tenang tp seseorang yg tulus...
Cicih Sophiana
Ares kamu sdh ketergantung aroma tubuh Alisha...klo Alisha pergi meninggalkan kamu gimana coba..
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
kasian yah Alisha masa mata dan kuping nya harus di tutup... itu maksud nya Alisha gak boleh liat Ares takut Alisha jatuh cinta gitu yah 🫢
Fadillah Ahmad
Hoooh, sekarang aku tau kenapa Ares tidak ingin terlalu drkat dengan Alisha atau sampai mencintai Alisha. Karena Ares tau, bahwa itu bisa menjadi kelemahan terbesarnya uang bisa di manfaatkan oleh Pesaing bisnis seperti Arga... 😂😂😂 Karena, tidak di dunia ataus ataupun dunia bawah sekalipun, kelemahan terhadap Wanita itulah yang paling di cari oleh lawan... 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!