Anak-anak kelas 12 dari sebuah SMA harus berjuang mengalahkan sekelompok ALIEN bejad. Dimana mereka di pimpin oleh seorang kapten tentara yang sudah kehilangan banyak anggotanya.
Bersama Wisnu dan Yoga... Vino, Putra, Ian, Mesya dan Tya berusaha bersama mengusir penjajah asing tersebut sampai merdeka.
Tanpa di sangka, justru dari kemenangan itu, ke lima anak itu malah di rekrut menjadi badan penyelamat galaksi.
(Sementara author Hiatus dalam jangka waktu yang belum di tentukan)
jangan lupa like comen and vote
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deni syah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlawanan
"Hati-hati kalian, aku akan membantu yang lain di bawah sana" Putra memberikan pesan terhadap ketiga orang yang kini sudah berdiri tegak di atas kapal alien sambil memegangi senjata masing-masing. Entah bagaimana caranya nanti agar mereka masuk ke dalam sana.
Putra meninggalkan tempat itu dengan helikopternya.
"Baiklah ikuti aku" Wisnu berlari ke tengah.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tya memperhatikan dengan bingung. Ia dan Vino mengikutinya dengan tergesa-gesa.
"Mundur sekarang" Wisnu berlari mundur setelah meletakkan sesuatu di sana.
Tut tut tut
Tya dan Vino ikut berlari menghindar setelah mengetahui itu adalah bom.
Bummmm
Ledakan yang sedikit besar telah terjadi, beruntung mereka masih bisa menghindari ledakan.
"Untuk apa kita disuruh mengikutimu tadi? Okhok" Vino menggerutu.
Mereka kembali lagi ke tempat tadi yang sudah jebol.
"Cepat masuk, kita tak punya banyak waktu..." Wisnu terjun ke bawah di ikuti dua anggota itu.
.
.
Putra kotar katir menyeimbangkan helikopternya yang sudah tertembak di bagian ekor.
Wuing wuing wuing wuing
Brak...
Benda itu jatuh di tengah jalan.
Putra keluar dari helikopter yang sudah bodol itu, badannya serasa di cabik-cabik. Darah menetes di dahinya, kakinya juga terkilir dan sakit. Ia segera berlari dengan pincangnya menghindari helikopter yang mungkin sebentar lagi akan meledak.
Dan benar saja, tiba-tiba ledakan terjadi di belakangnya. Ia sedikit terhempas ke depan dan jatuh terjerembab. Alhasil, kakinya menjadi semakin sakit ketika di ajak berdiri.
"Sial" gerutunya.
.
.
Alien-alien tersebut mulai turun dari kediamannya, mahkluk hijau itu mengincar para pemberontak yang menyerang keberadaan mereka.
Bum..
Bum..
Bum..
Mereka terus saja meledakkan tempat yang mereka temui.
"Khaaaaaaaaaa" suara mereka melengking tinggi bagai cengkok lemeted edition, jika kalian tau apa itu monyet, maka suaranya seperti dia namun lebih melengking dan tinggi.
Mereka semakin banyak dan semakin ganas, tak lupa banyak juga robot-robot aneh yang berkeliaran. Seperti robot ular yang sempat mengejar Vino waktu itu, benda itu berkeliling mencari keberadaan adanya kehidupan manusia.
"Mahkluk itu lagi, dia sudah membuat susah teman berdebatku pagi tadi...akan ku habisi dia kali ini" Ian menggerutu ketika melihat benda itu menyosor melewati jendela bolong di salah satu lantai. Ia sendiri sedang mengumpat di bawah meja pegawai di salah satu gedung, tepatnya di lantai tiga.
Kepalanya sudah di hiasi darah merah nan segar dan benjolan-benjolan kecil. Kakinya sedikit lecet di bagian paha.
"1190, aktifkan senjata" ucapnya, lalu jadilah senjata tembaknya menjadi senjata seperti meriam.
"Semoga ini berhasil" Ian bangkit dan menatap tubuh benda itu. Namun tak kalah penting, mata benda itu tertuju padanya dan siap untuk menerjang. "Aku benci ular" Ian berteriak.
Benda tersebut menyisir cepat ke arah Ian.
Bum...
Ia menembak mata benda itu hingga hancur sebelum ia berhasil di terkam.
"Tapi benda ini lebih keren si" Ian menginjak kepala yang baru saja ia ledakkan. Ia langsung berlari ke atas, setelah mengingat lagi tujuannya. Ia harus bersiap-siap jika ada yang perlu bantuannya.
Gedung itu adalah salah satu gedung terdekat jaraknya dengan pesawat tersebut, Yoga menyuruh Ian kesana karena jika ada sesuatu masalah tiba-tiba, Ian bisa langsung menanganinya.
.
.
Putra masuk ke dalam sebuah toko jam. Ia mendudukkan dirinya di samping meja sembari bersandar. Kakinya sudah sangat lemah, luka ada di mana-mana dan darah terus saja mengalir.
Pandangannya mulai buram, hitam dan tak jelas. Rasa sakitnya semakin menjalar di seluruh tubuhnya. Ia tak bisa menahan penderita itu terus. Hingga sesuatu menepuk-nepuk pipinya.
"Hey tukang goda... Bangunlah, jangan mati" Mesya menggoyangkan pipi Putra yang matanya mulai terpejam.
"Hng. . . Ka- kau?" Putra melihat wajah Mesya yang lusuh, rambutnya yang di ikat pun sudah berantakan. Sinar dari lampu di luar mengarah pada wajah gadis itu.
Putra mengangkat tangan kanannya, ia usap pipi gadis itu dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Mesya hanya bengong, di sertai degup jantungnya yang tak karuan.
"Apa kau kesurupan? Tak usah sok romantis" Mesya menabok pipi Putra, kini sedikit lebih keras.
"Huh... Aku ngantuk, ingin tidur" Putra mengalihkan pandangannya, menatap dinding polos yang ada di dekatnya.
"Kau benar-benar gila, di saat-saat seperti ini kau ingin asik tidur" Mesya membentak.
"Iya... Maafkan aku..." Putra melirik sekilas. "Btw di mana yang lain?" Ia mencoba mencari topik.
"Kita semua terpisah, dan sekarang hanya tinggal ka Wisnu, Yoga dan Tya yang bisa mengatasi ini" Mesya mengalihkan matanya, ia melihat ke pintu, ia begitu khawatir jika ada serbuan tiba-tiba.
"Baiklah... Ayo kita tuntaskan ini" Putra berdiri, Mesya ikut berdiri mengikuti lelaki itu.
Mereka berjalan beriringan, dan dengan santainya mereka menembak di sepanjang jalan. Kemampuan mereka tak bisa di remehkan, sekali menembak, sasaran mereka langsung pupus.
Makhluk hijau itu sudah banyak yang tepar di mana-mana, namun jumlahnya masih sangat sedikit jika di bandingkan dengan yang masih beringas.
.
.
"Pesttt, cepat ikuti aku... Jangan sampai kita terpisah, atu kalian akan aku tabok lagi" Wisnu mengancam.
Mereka sedang berada di sebuah lorong gelap yang cukup sempit. Mereka berjalan dengan penuh kehati-hatian supaya tidak menciptakan suara apapun.
Beberapa menit mereka berjalan, akhirnya cahaya harapan pun tiba. Cahaya itu terlihat sangat terang dan jelas, mungkin seperti puluhan lampu LED yang di nyalakan bersama-sama dalam satu waktu.
Mereka menatap ke bawah, di mana cahaya itu berasal. Dan mata mereka langsung terbelalak ketika melihat aktivitas di bawah mereka.
Banyak orang yang di sekap dalam kurungan yang besar, bisa di bilang seperti sangkar burung. Orang-orang itu kelihatan sudah berputus asa dan tidak mempunyai harapan hidup.
Jumlah sangkar-sangkar raksasa itu terhitung lebih dari 10, masing-masing sangkar di isi lebih dari 1000 orang, bayangkan... betapa luasnya itu.
"Bagaimana ini?" Vino memandang kaptennya, ia mendesak meminta ide.
"Apa kalian mampu mencari senjata besar itu tanpa aku?" Wisnu memberikan idenya, benarnya ia agak tak yakin dengan itu.
Tya dan Vino berpandangan, lalu mereka mengangguk dengan kompak.
"Baiklah, pergilah dan cari senjata itu dan hancurkan setelah mendapatkan perintah dariku" Wisnu memberikan beberapa benda yang menggantung di sabuknya, itu adalah bom.
"Siap kak, hubungi aku jika kau ingin memerintah" Vino menyetujui.
"Oke, sekarang ikuti lorong ini lagi dan cari jalan sendiri, menurut firasat ku benda itu ada di tengah pesawat ini" Wisnu menerangkan.
"Baik kak" Vino kembali menyahut. Tya mengangguk.
"Semoga berhasil" Wisnu bergumam sebelum dua orang itu pergi dari hadapannya.
Ia sendiri membuka besi yang menghalangi lubang di bawahnya. Ia turun dengan terengah-engah, takut akan ada yang melihatnya. Beruntungnya ada tangga di bawah lubang.
"Tolong kami ... tolong"
"Aku kelaparan...."
"Tolong....."
Teriak orang-orang yang kini telah melihat kedatangan Wisnu .
"Iya baiklah, aku akan menolong kalian, tapi tolong jangan ada yang bersuara" Wisnu berteriak. Semoga makhluk itu tidak ada yang mendengarkan.
"Baiklah" mereka menjawab dengan serempak.
Dengan rahasianya, Wisnu membuka kurungan itu dengan mudah. Hanya dengan tangan kosong. Tanpa di ketahui SIAPAPUN.
.
.
"Kemana kak Yoga pergi? Aku sangat gugup, jika nanti pesawat ini menindihi ku bagaimana?" Ian menatap piring terbang di atasnya.
.
.
.
.
"Aku tau benar kau akan meminta tolong padaku, tapi aku ingin melihat kemampuan mereka sebelum ku rekrut, jadi... maafkan aku" Rama menggumpalkan nasi.
"Tapi Rama... Ini sudah kacau, banyak manusia yang sudah menjadi korban gara-gara makhluk itu" Yoga sedikit memohon.
"Hmm ini ulah bangsa EN sendiri, mereka yang ingin membalas dendam, jangan kau bawa-bawa aku pada urusan manusia" Rama memasukkan nasinya ke dalam mulut. "Makanan manusia memang enak, jarang-jarang aku ke sini" Rama sangat menikmati.
"Baiklah, awas saja kau... akan ku beri pelajaran padamu" Yoga pergi dari sana, keluar dari pesawat alien sinting yang kerjanya hanya merekrut orang saja.
"Hmmm terserah kau sajalah... Wah enak juga ayam gorengnya..." Ia malah makin menikmati makanannya.
.
.
Setelah lama Ian bermenung sembari menonton makhluk hijau itu keluar dari cahaya, tiba-tiba ada seseorang yang menghubunginya.
Drtttttt drtttt
"Halo Ian" itu suara Wisnu.
"Halo halo Bandung kak" Ian memfokuskan diri.
"Tak usah melawak di saat seperti ini...aku butuh bantuanmu... cepatlah naik ke sini" suruh Wisnu.
"Hah... Bagaimana caranya?" Ian terperanjat.
"Sesukamu, ku tunggu setengah jam... Ku harap kau sudah masuk dan menemukan ku di dalam sini ..... Tut" Wisnu mengakhiri panggilan.
"Sial" umpat Ian... Ia berdiam diri sembari berfikir. Bagaimana caranya ia masuk ke atas, sedangkan ia tak bisa mengendarai pesawat ataupun helikopter.
Ya... jalan satu-satunya adalah, ia harus menemukan Putra.
.
.
"Alien-alien itu terus saja berdatangan, aku kewalahan" Mesya menyeka keringat yang mengucur di dahinya.
"Dasar perempuan" gerutu Putra. Ia masih saja menembaki para alien yang berada di berbagai arah.
"Namanya aja perempuan" Mesya menyelis datar.
Mereka berdua sibuk menembaki incarannya, kadang mereka akan lari jika lawan mereka terlalu banyak dan lebih cekatan. Mereka selalu berpindah tempat persembunyian.
Drttttt drttttt
"Halo Putra, kau dimana?" Ian berbicara dengan nada teriak.
"Aku? Aku berada di sebuah perempatan jalan bersama Mesya" Putra masih memperhatikan musuhnya, bersama Mesya yang berada di sampingnya.
"Jalan apa?" Ian bertanya, kini nadanya lebih rendah.
"Mmm jalan .. ini jalan, jalan apa yah?" Putra menatap Mesya sekilas.
Ian mundur, musuh di depannya terlalu banyak.
Putra mencari informasi di sekelilingnya, jalan apa yang mereka lalui ini.
Dor...
Dor...
Ian masih mundur dengan senjatanya yang masih ia arahkan pada target. Sampai-sampai ia menabrak sesuatu di belakangnya.
"Eh?" Ian berbalik. Begitu juga orang yang berada di belakangnya.
"Ian?" Mesya dan Putra berteriak.
"Kalian, syukurlah... cepat tolong aku" Ian memutar tubuhnya dan kembali menyerang. Kini dengan bantuan Mesya dan Putra, musuh tumbang dengan begitu cepat dalam beberapa detik.
"Sekarang, kalian harus membantuku" Ian menatap kedua temannya.
"Ha?" Keduanya bingung.
.
.
Yoga menyerang satu persatu lawannya dengan mudah, sekali tembakan menumbangkan dua musuh sekaligus. Tentunya berkat senjata yang ia gunakan.
"Kemana para pemuda itu? Kenapa aku tak melihat mereka dimanapun" Yoga berfikir.
.
.
"Cepatlah, waktuku hanya 20 menit untuk sampai menemui kapten konyol itu" Ian berteriak tak jelas. Helikopter memang sudah terbang, tapi Ian tetap saja berteriak-teriak.
Makhluk-makhluk itu mengincar mereka dari bawah sana. Karena tak mau tinggal diam, akhirnya Ian dan Mesya melawan dari ketinggian itu.
"Aduh... helikopternya lamban" gerutu Putra sembari menyetir helikopternya.
End,.
Note: Kalo kalian gak paham sama jalan ceritanya saran aku di skip aja... di sini author hanya menuangkan apa yang ada di fikiran author saja
Jadi buat yang mau lanjut ya silahkan, kalo enggak ya udah, lebih baik jujur pada diri sendiri.
Dan hindari komentar yang buruk-buruk ya, belum tentu yg komentar buruk itu mampu berimajinasi. Jadi tetap di bawa santai aja.
Kalo author mah maunya saran ya, bukannya mau karya author di bully. Cuma mau SARAN, agar author bisa lebih mengembangkan cara menulis novel yang lebih baik dan benar.
Jadi, happy reading .... Semoga kalian terhibur...
author i lop yu
jangan lupa kunjungan baliknya 😊😊😊