Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Sama
Sudut Pandang Dante
Ia tak berkata apa-apa. Hanya menatapku. Selama beberapa detik. Seolah berusaha memahami… apakah ini nyata. Atau masih bagian dari mimpi buruk.
Lalu… ia mengangguk. Berbalik. Dan keluar dari ruangan. Tanpa tergesa. Tapi juga tanpa ragu.
Aku tetap di sana. Terpaku. Di tempat yang sama. Menunggu. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama… menunggu sesuatu yang tak kukendalikan.
Keheningan terasa lebih berat sekarang. Lebih pekat. Karena aku tahu. Mereka ada di sana. Hanya beberapa meter jauhnya. Dan dalam hitungan detik… aku akan berhadapan dengan sesuatu yang tak pernah menjadi bagian hidupku. Anak.
Kuusap rahangku. Kutarik napas dalam. Sekali. Mengendalikan. Seperti biasa. Tapi kali ini… tak sesederhana itu.
Suara langkah di lorong menarik perhatianku. Kuangkat pandangan. Dan kemudian… mereka muncul. Keduanya.
Mereka berhenti di ambang ruang tamu. Tak langsung mendekat. Menatapku. Menilaiku. Persis seperti yang kulakukan pada mereka.
Yang pertama menarik perhatianku… adalah yang lebih pendiam. Heitor. Terlihat jelas. Dari caranya berdiri. Dari tatapannya. Ia tak bicara. Tak perlu. Matanya awas. Menghitung. Mengamati setiap detail dariku. Setiap gerakan. Setiap tarikan napas.
Dan aku ingat. Kata-kata Rebecca. "Dia yang paling jeli mengamati." Ya. Ia benar.
Sedangkan yang satu lagi… Henrique. Kebalikannya. Tatapannya langsung. Penuh rasa ingin tahu. Nyaris menantang. Seolah tertarik. Seolah ingin cepat mengerti. Tak sabar hanya untuk sekadar mengamati. Impulsif. Juga persis seperti kata Rebecca.
Aku diam. Membiarkan momen itu berjalan apa adanya. Tanpa tergesa. Tanpa memaksa.
Aku maju selangkah. Mereka tak mundur. Bagus.
Mata mereka… terpaku pada mataku. Dan di sanalah. Pada detik itu juga… aku melihatnya. Tanpa ragu. Tanpa celah untuk dipertanyakan. Mereka anakku.
Warna mata yang sama. Bobot tatapan yang sama. Intensitas yang sama. Hal semacam itu tak bisa dipelajari. Tak bisa ditiru. Itu darah. Murni. Langsung.
Dan itu… menggetarkan sesuatu. Lebih dari yang kuduga.
Kuamati lebih saksama. Mereka berbadan besar. Tinggi. Sudah bukan anak-anak lagi. Bahkan… lebih besar daripada dia. Rebecca tampak mungil di samping mereka. Terlindungi. Padahal dialah yang selama ini selalu melindungi.
Sebuah pikiran cepat melintas di benakku. Tujuh belas tahun. Hilang begitu saja. Seumur hidup… yang tak kusaksikan. Tapi tak kubiarkan itu tampak. Tak pernah kubiarkan.
Kulipat tangan. Menjaga sikap tetap tegar. "Heitor," ucapku lebih dulu.
Tatapannya tak goyah. Ia hanya mengangguk tipis. Membenarkan.
"Henrique."
Yang satu lagi menjawab dengan setengah senyum. "Itu aku." Langsung. Tanpa basa-basi.
Aku menatap keduanya. Tak tahu persis apa yang harus kukatakan. Apa yang harus kulakukan. Ini baru. Benar-benar baru. Tapi satu hal pasti. Aku tak akan menunjukkan keraguan.
"Kalian sudah dites," ujarku. Tenang. Terkendali. "Dan hasilnya positif."
Hening. Mereka bertukar pandang cepat. Nyaris tak terlihat. Tapi aku melihatnya.
"Aku ayah kalian." Langsung. Tanpa berputar-putar.
Henrique menghela napas lewat hidung. Seolah berusaha mencernanya. "Anjing…" gumamnya pelan.
Heitor tak berkata apa-apa. Tapi tatapannya berubah. Sedikit. Hanya sedikit.
Rebecca muncul di belakang mereka. Dalam diam. Mengamati. Mungkin sama tegangnya dengan mereka. Atau lebih.
Kutatap ketiganya. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… aku tak punya rencana. Tak punya strategi yang siap. Tak punya kendali penuh atas situasi. Tapi aku punya satu kepastian. Mereka anakku. Dan itu… mengubah segalanya.
Aku maju satu langkah lagi. "Mulai sekarang…" Suaraku keluar mantap. Wajar. "Tak ada yang boleh menyentuh kalian."
Keheningan jatuh. Tapi kali ini… tidak hampa. Melainkan sarat. Oleh sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum bisa kuberi nama. Tapi sudah ada di sana. Hadir. Dan mustahil diabaikan.