⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 13: Pesta Santap Pagi
Langkah kaki Shen Yue bergaung santai menyusuri selasar kayu menuju aula makan di bagian timur Paviliun Barat. Aroma lezat tumisan rempah, aroma kaldu daging yang gurih, dan wangi manis dari beras ketan kukus sudah tercium dari jarak beberapa langkah, hingga menyenggol indra penciumannya yang lapar.
Begitu melangkah melewati ambang pintu kayu berukir, mata Shen Yue seketika berbinar terang.
Di atas meja kayu jati berbentuk persegi panjang yang dipelitur mengkilap, sudah terhidang berbagai macam makanan yang tertata sangat rapi dan cantik.
Asap tipis masih membumbung hangat dari mangkuk-mangkuk porselen bermotif naga dan bunga krisan.
Menu hidangan pagi itu benar-benar menggoda selera:
Mangkuk porselen besar berisi sup kaldu ayam hitam dengan irisan akar ginseng dan goji beri yang memancarkan aroma gurih yang pekat.
Piring perak berisi Daging sapi Kukus Manis dengan saus kecap pekat dan irisan jahe muda.
Piring porselen berisi Tumis Rebung Muda dan Jamur Kuping yang berkilau disiram minyak wijen.
Mangkuk berisi Bubur Daging Cincang Lembut berhias taburan daun bawang dan telur pitan.
Nampan bambu dengan Kue Beras Kukus Isi Kacang Merah yang masih hangat dan kenyal.
Melihat deretan makanan yang begitu melimpah dan menggiurkan, nafsu makan Shen Yue pun langsung bersemangat. Selama dua hari pingsan, tubuh ini hanya dijejali cairan obat pahit.
Di dunia modern pun, sebagai atlet bela diri, Shen Yue terbiasa mengonsumsi porsi makan yang sangat besar demi memenuhi kebutuhan kalori dan pemulihan fisiknya.
Melihat ekspresi majikannya yang tampak sangat bersemangat dan matanya berkilat gembira saat menatap meja makan, para pelayan yang berdiri berbaris di sisi ruangan pun ikut senang.
Pelayan berpakaian merah muda menundukkan kepala dengan senyum lega. Mereka berpikir pekerjaan dan usaha mereka menyiapkan hidangan terbaik sesuai instruksi Jenderal Shen Longwei telah berhasil membuat sang majikan puas dan terkesan.
"Nona muda, semua hidangan ini dimasak khusus oleh tim dapur utama atas perintah Jenderal. Mari hamba bantu—"
Tanpa menunda lama dan tanpa membuang waktu untuk keformalan ritual bangsawan yang bertele-tele, Shen Yue langsung melangkah cepat dan duduk di hadapan makanan tersebut.
"Tidak usah berdiri melayaniku, aku bisa sendiri," potong Shen Yue sambil meraih sumpit bambu di atas tatakan batu giok.
Sebelum para pelayan sempat menyendokkan nasi atau memotongkan daging untuknya, Shen Yue sudah lebih dulu menyambar sumpit dan sumpitnya bergerak lincah bagaikan badai.
Ia menyantap makanan itu dengan sangat lahap!
Nyam nyam nyam!
Mangkuk pertama berisi bubur daging cincang langsung licin dalam beberapa kali suapan besar. Tanpa jeda, jemari lentiknya meraih mangkuk sup ayam ginseng, menyeruput kaldunya yang hangat, lalu mengunyah potongan daging ayam hingga bersih tak tersisa.
Sumpitnya dengan sangat presisi menyapu tumisan rebung, melahap potongan daging kukus manis, dan sesekali menyambar kue beras kukus sebagai selingan.
Gaya makan Shen Yue sama sekali tidak mencerminkan putri bangsawan yang biasanya mengunyah tiga kali per suapan kecil dengan mulut tertutup rapat.
Cara makannya sangat efisien, cepat, dan penuh kelezatan khas seorang prajurit yang sedang mengisi ulang stamina usai latihan berat.
Tiga orang pelayan yang berdiri di sudut ruangan seketika membeku. Mata mereka membelalak lebar, bibir mereka menganga kecil, dan tercengang menyaksikan pemandangan tak masuk akal di depan mata mereka.
"B-bagaimana bisa..." bisik salah satu pelayan wanita dengan suara gemetar tak percaya pada rekannya.
"Bagaimana bisa Nona Muda makan sebanyak itu?" balas pelayan berpakaian merah muda dengan nada berbisik panik.
Dalam ingatan semua orang di kediaman ini, Shen Yue yang asli selalu makan seperti burung gereja, hanya menyentuh setengah mangkuk kecil bubur tipis, sangat pemilih, dan sering kali menyisakan makanan karena depresi atas tekanan ibu tirinya.
Tapi sosok di depan mereka saat ini justru melahap porsi makan tiga orang pria dewasa dalam hitungan sepuluh menit!
Makanan di atas meja yang tadinya terhias menggunung kini hampir habis licin tanpa sisa. Mangkok-mangkok porselen dan piring perak itu kini hanya meninggalkan sedikit sisa kuah dan kecap.
"Eu!"
Shen Yue menepuk dadanya pelan saat suara sendawa yang cukup nyaring lolos bebas dari tenggorokannya tanpa canggung.
"Kenyang sekali," serunya lega sambil mengelus perutnya yang kini sudah terisi penuh dan terasa hangat.
Sensasi energi dan gizi segar mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Tubuhnya yang tadinya terasa lemas dan kurus kering langsung dipenuhi kembali oleh vitalitas kehidupan.
Shen Yue kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi kayu jati, lalu memalingkan wajahnya dan melihat para pelayan yang masih berdiri kaku bagaikan patung batu di sudut ruangan.
Sorot mata mereka masih memancarkan rasa syok yang mendalam.
Shen Yue pun merasa heran. Alis mulusnya bertaut, dan menatap mereka satu per satu dengan bingung.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" batin Shen Yue bertanya-tanya. "Apakah mereka tidak pernah melihat orang makan sampai kenyang? Atau... cara makanku salah menurut aturan zaman kuno ini?"
Namun, tak ingin terlalu memikirkan hal itu karena menurutnya tidak ada yang salah dengan makan sampai kenyang dan menghargai hidangan, Shen Yue menggelengkan kepalanya dengan santai.
Bagi logikanya, menghabiskan makanan adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi juru masak.
Setelah itu...
Shen Yue menumpuk mangkuk porselen yang kosong ke atas piring perak. Sebagai seseorang yang terbiasa hidup mandiri di dunia modern, di mana ia selalu membereskan dan mencuci piring sendiri usai makan di apartemennya, Shen Yue beranjak dari kursi dan hendak membereskan bekas makannya sendiri.
Ia mengangkat nampan kayu berisi tumpukan mangkuk kosong tersebut dan berbalik hendak membawanya ke arah pintu belakang.
Melihat adegan itu, reaksi para pelayan berubah menjadi kepanikan tingkat tinggi!
"Nona Muda! Jangan!" jerit pelayan berpakaian merah muda seraya berlari kencang menerjang maju.
Dua pelayan lainnya ikut menghambur panik dengan wajah pucat pasi bagaikan melihat bencana besar. Mereka dengan sigap menghalau jalan Shen Yue dan langsung mengambil alih nampan kayu itu dari tangan sang majikan dengan gerakan gemetar.
"Ampun, Nona Muda! Biarkan hamba yang membawanya!" tangis pelayan berpakaian merah muda sambil berlutut memegang nampan tersebut.
Shen Yue memiringkan kepalanya, dan makin terheran-heran. "Hei, aku cuma mau bantu membereskan meja. Kenapa kalian ketakutan begitu?"
Pelayan itu mendongak dengan perasaan khawatir yang sangat besar, air matanya bahkan menetes di sudut mata akibat rasa panik.
Mereka sangat takut jika tindakan Shen Yue membereskan piring akan terlihat oleh pengawal atau dipikir sebagai tanda bahwa para pelayan ini lalai dan membiarkan majikannya melakukan pekerjaan kasar.
"Nona Muda, Hamba mohon jangan lakukan itu!" rayu pelayan itu dengan suara gemetar. "Tugas hamba sekalian adalah melayani Anda! Jika Nyonya Besar atau Jenderal mengetahui bahwa Anda mengangkat piring bekas makan Anda sendiri, kami semua akan dianggap tidak berguna dan bisa dihukum cambuk atau diusir dari kediaman ini!"
Shen Yue tertegun sejenak. Ia menatap wajah-wajah penuh ketakutan dari para pelayan muda di depannya.
Logika dunia modernnya bertabrakan keras dengan hierarki era feodal di tempat ini. Di dunia modern, membereskan piring sendiri adalah bentuk kesopanan dasar.
Namun di era ini, tindakan sederhana itu justru bisa membahayakan nyawa rakyat kecil yang menjadi pelayan.
Shen Yue akhirnya menghela napas panjang dan mengalah. Ia melepaskan pegangannya pada nampan kayu lalu berkata, "Baiklah, baiklah. Berdirilah, jangan menangis. Aku tidak akan menyentuh piring-piring itu lagi. Kalian yang urus semuanya."
"T-terima kasih atas kemurahan hati Nona Muda!" seru ketiga pelayan itu lalu bergegas membawa nampan berisi piring-piring kosong keluar ruangan dengan langkah terburu-buru seolah takut Shen Yue berubah pikiran.
Shen Yue menyilangkan kedua tangannya di dada, dan menatap pintu tempat para pelayan itu pergi.
"Sistem kasta dan hierarki zaman ini benar-benar aneh," gumam Shen Yue. "Tapi setidaknya, perutku sudah terisi penuh. Sekarang saatnya melatih kembali otot-otot tubuh ini agar siap menghadapi intrik apa pun yang dikirim Jiang Xiuwei berikutnya."
Shen Yue memutar tubuhnya, dan melangkah kembali ke halaman taman Paviliun Barat untuk memulai latihan fisik pertamanya di era kerajaan kuno ini.
Bersambung...