Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Beberapa hari kemudian, aktivitas di proyek kembali berjalan seperti biasa. Pekerjaan mulai memasuki tahap yang lebih padat. Sejumlah pekerja sibuk memindahkan material, sementara sebagian lainnya mengerjakan bagian struktur yang sudah bisa dilanjutkan.
Pagi itu Alfa sedang memeriksa catatan pekerjaan, ketika sebuah mobil memasuki area proyek. Seorang wanita dengan setelan formal turun dari dalamnya bersama dua orang staf.
Alfa yang melihat kedatangannya segera menghampiri.
“Selamat siang, Bu Ayudia,” sapa pria itu sopan.
“Siang, Mas Alfa,” jawab Ayudia.
"Bagaimana proses pembangunannya sejauh ini? Apa ada kendala berarti?" lanjutnya bertanya.
"Alhamdulillah, setiap ada kendala bisa kami selesaikan dengan baik, Bu," jawab Alfa.
Kemudian dia menyerahkan dokumen yang telah disiapkan kepada Ayudia. Dokumen tersebut berisi catatan penting tentang perkembangan pekerjaan, penggunaan material, serta beberapa penyesuaian yang dilakukan selama proses pengerjaan di lapangan.
Ayudia menerima dokumen itu lalu membukanya. Netranya menelusuri beberapa halaman lantas mengangguk pelan.
“Sejauh ini cukup jelas,” ujarnya. “Kalau begitu, saya ingin melihat langsung perkembangannya.”
Alfa mengangguk. “Tentu, Bu. Silakan.”
Dia lalu mempersilakan Ayudia mengikuti langkahnya. Dua staf yang datang bersamanya ikut menyusul dari belakang.
Ayudia mengamati bangunan di hadapannya. “Kalau begitu, kita lihat dari bagian dalam juga.”
“Baik, Bu. Mari.”
Alfa kemudian mengajak Ayudia berkeliling untuk melihat langsung bagian-bagian bangunan yang sedang dikerjakan.
Sesekali Ayudia bertanya mengenai perkembangan pekerjaan, dan Alfa menjawab seperlunya berdasarkan kondisi di lapangan.
“Bagian ini sudah selesai?” tanya Ayudia sambil menunjuk area di depannya.
“Sebagian, Bu. Sisanya masih dalam pengerjaan. Setelah bagian ini selesai, pekerjaan berikutnya bisa dilanjutkan dari sisi sebelah,” jawab Alfa.
Ayudia mengangguk lalu kembali berjalan. Mereka semakin mendekati area tempat beberapa pekerja sedang memindahkan material.
Alfa yang berada beberapa langkah di belakang tiba-tiba mendengar suara benda bergeser dari lantai atas.
Krek!
Dia spontan mendongak. Salah satu material di tepi lantai atas tampak bergeser dari tempatnya.
“Awas...!”
Tanpa berpikir panjang, Alfa melangkah cepat dan menarik Ayudia menjauh.
Brak!
Material tersebut jatuh tepat di tempat Ayudia berdiri beberapa detik sebelumnya. Debu langsung beterbangan.
Ayudia terhenyak. Wajahnya tampak pucat karena terkejut. Demikian pula dengan dua stafnya tak kalah terkejut.
Sebelum memastikan keadaan di atas Alfa segera menoleh ke arah atasannya tersebut.
“Ibu tidak apa-apa, kan?” tanyanya.
Ayudia menggeleng. “Tidak.”
“Syukurlah.”
Alfa kemudian menoleh ke arah Bowo yang sudah berlari mendekat.
“Pak Bowo, hentikan dulu pekerjaan di bagian atas. Periksa semua material di sana sebelum pekerja melanjutkan.”
“Siap, Mas,” jawab Bowo.
Bowo langsung memberi arahan kepada para pekerja.
Sementara itu, Ayudia masih berdiri di tempatnya. Napasnya perlahan mulai teratur.
“Kalau Mas Alfa nggak lihat tadi, mungkin...” ucapnya lirih.
Alfa menggeleng. “Yang penting Ibu tidak terluka.”
Ayudia menatap Alfa beberapa saat. “Terima kasih, Mas,” katanya.
“Sama-sama, Bu,” jawab Alfa.
Setelah peninjauan selesai, Ayudia kembali menuju mobil bersama dua stafnya. Sebelum masuk, ia sempat menoleh ke arah area proyek.
Alfa masih berada di sana. Dia sedang berbicara dengan Bowo sambil menunjuk bagian atas bangunan yang sebelumnya sempat diperiksa.
"Bagaimana Pak Bowo, apa sudah dibereskan kekacauan tadi?" tanya Alfa.
"Maaf, Mas. Ada pekerja yang tidak sengaja menjatuhkannya saat mengangkatnya tadi."
"Ya sudah untuk selanjutnya lebih berhati-hati," pesan Alfa.
"Baik, Mas. Saya sudah intruksikan pada mereka untuk selalu berhati-hati lagi."
"Seharusnya hal itu tidak terjadi, apalagi hampir mengenai bos kita. Ingat... keselamatan kerja itu paling utama," pungkas Alfa.
Setelah memastikan kondisi di sekitar kembali aman, Alfa melanjutkan pekerjaannya seperti tidak terjadi apa-apa.
Namun, bagi Ayudia, kejadian singkat itu meninggalkan kesan yang sulit diabaikan. Dia datang untuk melihat perkembangan gedung yang sedang dibangun, tetapi justru pulang membawa kesan lain tentang pria yang bertugas mengawasi proyek tersebut.
“Kita langsung kembali ke kantor, Bu?” tanya salah satu staf.
Ayudia mengalihkan pandangan. “Iya.”
Mobil pun meninggalkan area proyek. Di dalam perjalanan, Ayudia membuka kembali catatan yang dibawanya. Namun, pikirannya beberapa kali teralihkan pada kejadian tadi.
“Pria yang mendampingi saya tadi sudah berapa lama bekerja di proyek itu?” tanyanya.
“Beberapa bulan di sini, Bu,” jawab staf di sampingnya. “Tapi sebelumnya dia bekerja di proyek pembangunan apartemen. Karena kinerjanya bagus dan orangnya jujur, Pak Danu kemudian memberikan kepercayaan kepadanya untuk menangani proyek mall ini.”
Ayudia mengangguk. Ia kembali teringat bagaimana Alfa mengambil keputusan dengan cepat ketika melihat bahaya, kemudian langsung memastikan pekerjaan dihentikan sampai kondisi benar-benar aman. Ada sesuatu dari sikap pria itu yang membuatnya ingin tahu lebih banyak.
*
*
*
Waktu terus berjalan. Setelah kunjungan itu, Ayudia beberapa kali datang untuk memantau perkembangan pembangunan. Namun, interaksinya dengan Alfa tetap sebatas urusan pekerjaan.
Sementara itu, Alfa semakin sibuk dengan tanggung jawabnya. Dia memastikan setiap tahapan berjalan sesuai rencana, berkoordinasi dengan Mino dan Bowo, serta menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di lapangan.
Hari demi hari berlalu hingga tanpa terasa, satu tahun telah terlewati. Bangunan yang dulu masih berupa struktur kini telah berdiri kokoh. Pekerjaan memasuki tahap akhir, dan sebagian besar area sudah siap digunakan.
Pagi itu Alfa berdiri di halaman gedung sambil memperhatikan para pekerja menyelesaikan bagian terakhir. Mino datang membawa laporan di tangannya.
“Mas Alfa, bagian yang kemarin sudah selesai semua,” lapornya.
Alfa menerima laporan tersebut dan memeriksanya sekilas. “Sudah dicek ulang?”
“Sudah. Bowo juga sudah memastikan bagian lainnya tidak ada yang terlewat.”
“Bagus. Tinggal pemeriksaan akhir.”
“Siap, Mas.”
Beberapa hari kemudian, seluruh pekerjaan dinyatakan selesai. Hasil pembangunan sesuai dengan rencana, bahkan penyelesaiannya tidak mengalami keterlambatan berarti.
Pak Danu datang untuk melihat hasil akhir proyek. Dia berjalan bersama Alfa mengelilingi beberapa bagian gedung hingga akhirnya berhenti di salah satu area utama.
“Bagaimana menurut, Bapak?” tanya Alfa setelah mereka selesai berkeliling.
“Kerjamu bagus, Alfa,” ujar Pak Danu.
“Alhamdulillah, Pak. Semua ini berkat kerja sama tim,” jawab Alfa.
Pak Danu mengangguk. “Saya tahu. Tapi tetap saja, orang yang memegang tanggung jawab harus bisa memastikan semuanya berjalan lancar.”
Kemudian Pak Danu menyerahkan sebuah map kepada Alfa.
“Buka.”
Setelah menerima map itu, Alfa lantas membukanya. Membaca beberapa informasi yang tertera di halaman pertama. “Ini proyek berikutnya, Pak?”
“Iya. Saya ingin kamu lagi yang menangani proyek ini,” lanjut Pak Danu.
Alfa terdiam. Nilai proyek yang tercantum di dalam dokumen itu berkali-kali lipat lebih besar daripada proyek yang baru saja diselesaikan.
“Bapak yakin memberikan proyek sebesar ini kepada saya?”
Pak Danu tersenyum tipis. “Saya tidak akan memberikannya kalau belum yakin.”
“Tapi, Pak. saya—"
“Kenapa?” potong Pak Danu. “Kamu ragu?”
Seketika wajah Alfa berubah serius.
“Bukan begitu. Saya hanya tidak menyangka Bapak akan memberikan tanggung jawab sebesar ini kepada saya.”
“Karena kamu telah membuktikannya dan kamu mampu.”
Alfa kembali melihat dokumen di tangannya. Dia tahu, proyek ini bukan lagi sekadar kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.
Jika berhasil, namanya akan mulai diperhitungkan. Namun, jika gagal, kepercayaan sebesar ini bisa menjadi bumerang baginya.