Setelah Virus Covid-19 menyebar luar di Dunia, banyak negara-negara yang melakukan lockdown dan banyak juga tempat hiburan dan sekolah di tutup. Hal itu membuat murid-murid menjadi belajar online di rumahnya masing-masing.
Setelah 2 tahun jumlah orang yang terkena Virus Covid-19 menurun, karena sudah di temukannya Vaksin. Pemerintah di Indonesia pun langsung memperbolehkan di bukanya kembali sekolah-sekolah.
Menceritakan seorang anak SMP kelas 9 yang bernama Johan, yang ingin menyatakan cintanya kepada teman perempuan nya yang ia suka dari kelas 7 sebelum ia lulus. Walaupun mereka berdua berbeda keyakinan, tetapi Johan tetep kukuh untuk menyatakan perasaannya. Namun, tiba-tiba Johan juga menyukai teman perempuan di kelasnya yang sudah berteman dari nya dari TK dan ia memiliki keyakinan yang sama seperti Johan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deepa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Day 8 part 2
Tetapi mereka berdua tidak mendengar suara itu, karena sedang asyik bercanda di dalam. Ini juga pertama kalinya Johan sama sekali tidak merasa canggung di depan Annisa, karena itu ia sangat menikmati momen ini dan berharap selamanya seperti ini.
"JO! LO UDAH BANGUN KAN! " Teriak Steven dengan sangat kencang.
Johan dan Annisa sangat terkejut, bahkan Annisa sampai tidak jadi menyuap makanannya, karena sendoknya jatuh ke bawah kolong kasur.
"Nah, nih, Johan! Lo kalau udah sehat jawab dong Jo! " Bentak Steven ke Johan.
Wajah Annisa memerah seperti tomat sekarang, ia sangat malu karena tiba-tiba ada yang masuk. Johan hanya dengan sekali melihatnya langsung tau yang Annisa rasakan sekarang.
"Bacot lo, Pen! " Bentak Johan yang masih mengunyah makanannya.
Steven langsung terdiam membisu, ia sangat terkejut melihat sahabatnya sangat marah seperti itu kepadanya.
Tanpa berkata-kata Annisa pun langsung keluar dari ruang UKS meninggalkan bekalnya di kasur.
Johan langsung ingin mengejarnya, tapi saat di depan pintu ia terkejut melihat Hakeem, Andika, Kezia, Zizi, dan Nanta berkumpul di depan pintu.
Mereka juga terkejut melihat Annisa yang keluar dari ruangan yang sama seperti Johan, dan ia langsung berjalan keluar sambil melewati mereka sambil menundukkan kepalanya.
"Ke-kenapa, Jo? " Tanya Nanta.
Johan tidak menjawab pertanyaan Nanta, ia langsung mengejar Annisa lagi. Nanta, Kezia dan Zizi pun ingin mengejar Johan, karena mereka mengira Johan lari karena sudah bosan di dalam.
Tetapi, Hakeem dan Andika langsung tau kalau Johan ingin mengobrol dengan Annisa, mereka pun langsung menghalangi Nanta, Kezia, dan Zizi untuk keluar dari UKS.
"Ettt, udah gak usah di kejar nanti juga balik lagi kok. " Ucap Hakeem
"Santai aja, dia udah sehat, kok. Tunggu aja di dalam." Ujar Andika.
Mereka bertiga pun hanya bisa mengiyakannya saja. Steven pun keluar dari ruangan yang tadi, wajahnya keliatan terkejut kedua matanya juga berkaca-kaca seperti ingin menangis.
"Pen, lo kenapa? " Tanya Andika dan Hakeem yang terkejut.
"Ta-tadi gue di marahin sama, Johan... " Jawab Steven.
Bukanya bersimpati dengan Steven, Hakeem dan Andika malah menertawakannya.
"Hahaha, mampus lo, Pen! "
Di luar, Johan masih sedang mengejar Annisa.
"Nis, Nis, tunggu! " Panggil Johan yang sudah memegang tangan Annisa.
Annisa pun berhenti berjalan, Johan menatap serius ke arah Annisa yang membelakanginya.
"Nis, Steven gak liat kok. " Ucap Johan pelan.
Namun, Annisa tetap tidak berbicara ia juga tidak menoleh ke Johan. Johan pun merasa menyesal, karena ia berpikir harusnya tidak memakan bekal Annisa dan menyuruhnya juga ikut makan.
"Nis, maafin gue ya...? " Ucap spontan Johan, yang bingung mau berkata apa lagi.
Annisa pun langsung menoleh ke Johan, ia sangat terkejut melihat kedua mata Johan yang murung sedang menatapnya. Annisa mendekatkan dirinya ke badan Johan, lalu ia memegang halus kedua pipi Johan.
"Jo, gue gapapa kok, jadi lu gak perlu minta maaf. Lagian ini juga salah gue yang lari tiba-tiba ninggalin lu. Maafin gue ya Jo. " Ucap Annisa dengan lembut.
Johan sangat senang mendengar perkataan Annisa, di tambah kedua tangan Annisa menyentuh kedua pipinya yang membuatnya ingin meledak saking semangatnya.
"Iya, Nis, gapapa kok... " Jawab Johan sambil tersenyum.
Senyuman Johan sangat manis dan tulus di mata Annisa, ia sangat menyukai saat Johan tersenyum ke arahnya.
Tidak lama kemudian Annisa langsung tersipu malu lagi, setelah menyadari tangannya dari tadi menyentuh pipi Johan. Ia pun langsung menarik kedua tangannya dari pipi Johan.
"Ihhh... Kok di lepas si, Nis. " Ucap Johan.
"Ihhh, dah ah, aku mau ke kelas! " Jawab Annisa yang tertipu malu.
"Jangan atuh, ini pasiennya masih sakit loh, kak. " Ucap Johan bercanda dan tersenyum getir.
Namun, Annisa malah mencubit pinggang Johan.
"Udah sembuh kan, mas pasien? " Tanya Annisa yang menahan tawa melihat Johan yang kesakitan.
"I-iya, iya, udah sembuh kok... " Jawab Johan setengah berteriak.
Annisa tersenyum manis ke arah Johan, lalu ia berjalan pergi ke kelas sambil melambaikan tangannya ke Johan. Johan pun membalas sambil memegangi pinggangnya yang masih terasa sakit.
Setelah Annisa hilang dari pandangannya, Johan pun berjalan kembali ke UKS. Di depan pintu UKS Johan melihat Steven, Hakeem, dan Andika sedang mengintip ke arahnya.
"Emang berengsek tuh tiga orang. " Gumam Johan sambil berjalan ke sana.
Saat Johan datang, mereka bertiga langsung bertingkah aneh. Johan pun menatap sinis ke arah mereka bertiga, yang sempat membuat Hakeem, Steven, dan Andika sedikit merinding.
"Nan, Kez, Zi, sorry ya tadi gue ada urusan bentar. "
"Iya, Jo, gapapa kok. Jawab Nanta dan Zizi.
"Lu udah sehat? " Tanya Kezia dengan dingin.
"Ya, udah enakan sih, bisalah gue ke kelas sekarang. " Jawab Johan sambil membawa tasnya.
Johan pun melihat bekal makan Annisa yang ada di kasur, ia berhenti sebentar untuk mengambil bekalnya dan memasukkan ke dalam tas.
"Ada yang ketinggalan? " Tanya Kezia dengan dingin.
"E-enggak kok g-gak ada. Ayo ke kelas. " Jawab Johan terbata-bata.
Tetapi Johan melupakan sendok yang terjatuh di bawah kasur.
Johan pun duluan keluar di susul dengan Nanta, Kezia dan Zizi. Steven, Hakeem, dan Andika masih berada di UKS.
"Oi, lu bertiga ngapain masih di UKS?" Tanya Nanta yang balik lagi ke UKS karena tidak melihat mereka bertiga.
"Sstttt, udah duluan aja, Nan. Kita sebentar doang kok. " Ucap Steven.
Nanta menatap curiga ke mereka bertiga, tapi Nanta juga sudah lelah menghadapi tingkah laku mereka yang seperti anak kecil.
"Oke, 5 menit ya. " Balas Nanta yang langsung kembali lagi ke kelas.
"Siap, Bos. " Jawab serempak mereka bertiga.
Setelah Nanta pergi, Steven langsung mengajak kedua temannya ke ruangan tempat Johan dan Annisa tadi.
"Jadi ada apaan sih, Pen? "Tanya Hakeem dan Andika.
"Nih, tadi tuh pas gue masuk ke sini. Gue liat mereka berdua lagi makan bareng gitu, terus gue juga kiat bekal warna pink ada si atas kasur." Ucap Steven.
"Ya mungkin aja, itu bekalnya Annisa yang di kasih ke Johan. " Balas Hakeem.
Ettt, bukan itu doang. Tadi juga muka Annisa merah banget kayak tomat, lu berdua juga liat kan?
"Gue cuman liat kupingnya doang yang merah. " Jawab Hakeem
"Sama gue juga, soalnya tadi Annisa nundukin kepalanya pas keluar. " Balas Andika.
"Nah, sekarang lu pikir aja kenapa wajah Annisa bisa merah banget gitu bahkan sampe ke kupingnya. " Ucap Steven.
Namun, kedua temannya itu malah tambah bingung dengan ucapan Steven. Mereka berdua saling menatap ke Steven.
"BEGO! YA JELAS MEREKA LAKUIN HAL LAIN SELAIN MAKAN! " Teriak Steven sangat kencang.
Sontak mereka berdua langsung paham yang di maksud Steven.
"Ta-tapi mereka gak bakalan lakuin kayak begituan di sekolah! " Ucap Hakeem dan Andika terbata-bata.
"Ya, siapa tau mereka lagi khilaf. Hehehe. " Ucap Steven sambil melihat ke arah kasur. Tidak sengaja ia melihat sendok di bawah kasur. Ia pun langsung mengambil dan menunjukkan ke Hakeem dan Steven.
"Liat nih, pasti sendok mereka berdua yang tadi di pake makan bareng. " Ucap Steven memegang sendok itu.
"Kita bisa gunain ini buat ngancem Johan buat ngasih tau apa yang dia lakuin di UKS. "
"Hah? Cuman dengan sendok ini doang lo mau ngancem Johan? " Tanya Hakeem dan Andika
"Iya lah, udah lu berdua liat aja nanti. " Jawab Steven sambil tersenyum.