Jingga menolak lamaran tak resmi Biru dengan satu alasan, dia tidak ingin jadi wanita kotor yang menikahi seorang sebersih Biru.
Penolakan itu akhirnya membawa Jingga untuk pergi jauh dari tempat kelahirannya menuju satu kota di tanah Jawa, Jogjakarta. Di tempat itu, dia mencoba mencari hidup baru yang sesuai dengannya tanpa sadar jika dia justru terjerat sebuah kisah cinta dengan pria bernama Anto, seorang homoseksual yang tak lagi mau menerima identitas dirinya yang lama.
Siapakah tempat akhir yang jingga pilih sebagai pelabuhan? Biru yang menunggunya di tanah kelahiran? Atau Anto, seorang pria misterius yang mampu membuat Jingga merasa nyaman?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesal
Yuda menggigiti jarinya. Dia tampaknya kesal karena sedetik pun Anto tak mau repot mengiriminya kabar. Padahal dia sudah gelisah selama berjam-jam. Padahal Anto pasti tahu bahwa dia bisa membunuh dirinya karena gelisah berlebih itu
“Kamu sesibuk itu sampai gak mau hubungin aku? Kenapa, Nto? Sebenernya kamu beneran kerja gak sih?”
Barus saja chat dari Yuda terkirim, bel pintu Yuda ditekan tak sabar oleh seseorang di luar rumahnya.
Yuda yang kesal mengentak gemas dan segera mencari tahu siapa sosok yang bertamu tanpa memperhatikan perasaannya yang sedang tak mau diganggu.
Sampai Yuda menekan interkom dan memperlihatkan sosok dengan pesona mahal di balik kamera pintunya.
Seketika Yuda gemetar. Dia mencoba menenangkan diri dan membuka pintu pelan-pelan.
“Hai?” Seorang wanita peruh baya dengan penampilan mahal tapi sederhana memasuki pintu tanpa mau repot membaca situasi. “Kok sepi, Anto mana?”
Yuda duduk di sudut lain sofanya dan mencoba tetap tenang walau sulit.
“Anto lagi ke luar kota, Te. Tumben Tante ke sini? Ada apa?”
“Ke luar kota? Ada urusan apa?”
“Kata Anto soal pekerjaan.” Yuda tampak sedikit bingung karena seharusnya masalah kerja yang Anto lakukan diketahui oh sosok mahal itu.
Wanita yang bertamu itu bernama Elena. Seorang wanita kelas atas yang tahu betul bahwa pakaian dalam harus sama mahalnya dengan semua outfit yang dia pakai. Tak hanya itu, semua harus dalam satu tema, harus saling melengkapi sebagaimana alam diciptakan untuk melengkapi manusia. Sebuah filosofi yang berbau seni yang entah bagaimana seperti menggambarkan Anto dalam wujud lain.
“Anto gak pernah main ke rumah lagi, kamu jangan halangi dia pulang dong, Yud.”
Yuda terdiam. Seperti halnya Anto yang selalu tertekan dengan Ibunya, Yuda juga tertekan dengan keluarga Anto, termasuk orang tuanya yang kini duduk di depannya.
“Tante mau minum apa?”
“Aku gak datenh buat minum, ya Yud. Aku mau Anto pulang dulu ke rumah karena ada janji yang aku buat untuk dia dan juga beberapa wanita.”
Yuda mencoba tak gemetar. Ibu Anto selalu saja membuat keadaan asmaranya keruh. Dia bahkan tak mau repot-repot untuk menjaga perasaan Yuda yang sudah menjadi kekasih Anto bahkan sejak mereka remaja.
“Kamu gak berpikir untuk jadi kekasih Anto selamanya, kan Yud? Karena, aku tuh mau keturunan asli, dan kamu gak kaya sosok yang bisa hamil.”
Rasa sakit menyerang Yuda. Dia ingin menangis tapi tahu jika dia tak akan bisa duduk tenang jika menangis.
“Tan, kenapa Tante gak bisa menerima saja aku sebagai kekasih Anto?”
Di luar dugaan, wanita itu hanya tertawa.
“Yuda sayang. Membiarkan Anto bersamamu sepanjang tahun saja sudah membuatku kesal. Aku sudah berusaha sangat fleksibel, tapi kamu tahu kan kalau aku semakin tua dan tak bisa membiarkan garis keturunanku hancur di kamu. Tolong, mengerti lah.”
Wanita itu lalu bangkit. Duduk berlama-lama di depan seorang homoseksual membuatnya merinding dan cemas. Dia tak mungkin membiarkan stres mendadak jadi sebuah garis kerut yang abadi di wajahnya.
“Aku pergi. Bilang sama Anto buat buka chatnya. Dia itu semakin ada di dekat kamu semakin lupa kalau masih punya orang tua.”
Yuda membiarkan saja wanita itu pergi menjauhinya. Dia bahkan mencoba menghilangkan atmosfer tegang yang tak hilang walau ibu Anto sudah tiada.
Rasanya ia ingin menangis. Padahal Yuda hanya ingin hidup percintaan yang tenang. Dia hanya ingin diterima secara fisik dan emosional.
Bukan salahnya punya cinta. Dia bukan tak mau berubah, tapi tak ada lagi sosok yang mau melihatnya secara gendernya yang sebenarnya. Dia sudah terlanjur masuk ke dalam dunia yang suram dan tak punya keyakinan untuk kembali.
Telat. Yuda sudah menandatangani tiket nerakanya. Dia sudah hancur dan abadi di dalamnya.
Langkah Yuda kemudian beralih pada kabinet winenya. Dia punya barisan minuman yang mahal dan membantunya tenang. Dia bisa menghabiskan seluruh baris minuman mahal itu dalam perutnya da jatuh tak sadarkan diri demi bisa berdiam dan bahagia dalam mimpi.
***
Jingga meremas tangannya. Dia cemas luar biasa saat menunggu operasi ibunya di ruang tunggu. Sedang Anto hanya diam karena tahu banyak bicara hanya akan membuat Jingga bertambah gugup.
Waktu demi waktu teriring doa. Jingga meminta Yang Kuasa memberikan jawaban terbaik untuk doanya, untuk keselamatan ibunya sampai waktu yang Jingga sanggup untuk memisahkan mereka.
Seorang petugas medis keluar dengan ranjang yang didorong pelan. Dokter yang mengoperasi Ibu Jingga muncul dan terlihat cerah. Dia sepertinya punya berita yang bagus untuk diri Jingga.
“Semua bagus. Kita lihat perkembangan setelah operasi ini.” Dokter itu menepuk pundak Jingga sebelum pergi. Membiarkan Jingga jatuh karena lega dan tangisnya.
“Nto ....” Jingga ingin bicara. Dia ingin mengungkapkan rasa bahagianya, tapi hanya getar yang terlihat di bibirnya.
“Aku tahu. Aku tahu.” Anto menarik Jingga dalam peluknya. Dia ingin Jingga tahu bahwa semuanya adalah kenyataan manis bagi wanita itu. Bahwa penderitaannya sudah diangkat satu tingkat hingga dia tak perlu cemas.
***
“Halo?”
“Biru, Ibuku sudah dioperasi.”
Wajah Biru seketika cerah. “Yang benar, Ngga. Aku seneng banget dengernya.”
Jingga meraung dan Biru tahu kalau wanita itu menangis karena bahagia.
“Makasih ya Bi udah jagain Ibuku. Makasih kamu udah bantu keluarga kami.”
Biru tersenyum. Hatinya lega dengan ucapan tulus itu.
“Iya, Ngga. Gak masalah.”
Biru menutup panggilannya. Dia tahu kalau dia sudah berbuat baik dan itu tanpa pamrih sedikit pun.
***
“Hai, Nto.” Suara seorang wanita yang Anto kenal terdengar.
“Ada apa, Ma?”
“Lah kok ada apa? Mama loh kangen.” Suara tawa terdengar di belakang suara Ibu Anto. Sepertinya wanita itu tengah ada di dalam pesta dan separuh tak sadar.
“Ma, mama harusnya gak party, loh. Mama itu sudah tua.”
Suara tawa semakin menjadi. Sepertinya pesta yang Mama Anto lakukan lebih liar dari dugaannya.
“Mama kalau gak pesta ya bisa stres, Nto. Apa lagi, Mama udah gak ada harapan buat punya cucu. Menyedihkan sekali Mama ini. Padahal masa muda Mama gak seliar ini, tapi malah diazab dengan anak seperti kamu.”
Anto terdiam. Mamanya tak pernah mau repot menyaring ucapannya. Dia selalu menyakiti Anto seakan Anto bisa menerima semua ujaran kebencian. Seakan semua akan jadi lebih baik kalau dia dikomentari secara sinis.
“Anto, kapan kamu sadar kalau semua yang kamu lakukan itu salah?” Anto mendengar nada yang berbeda. Sepertinya minuman memabukkan yang Ibunya konsumsi sudah menghancurkan emosinya. “Mama hanya mau kamu lurus, Nto. Mama benci setiap membayangkan kalau kamu ada di pelukan seorang homoseksual. Sadar, Nto. Sadar!”
Anto menarik napas. Kepalanya sakit dengan seluruh omong kosong itu.
“Ma?” Anto berusaha tak gemetar. “Bagaimana kalau Anto bilang kalau sekarang Anto mungkin bisa memenuhi impian Mama?”
Ibu Anto terdiam. “Ma-maksudmu?”
“Anto punya pacar, dan pacar Anto yang sekarang perempuan.”