Berliana Arumi adalah seorang gadis yang sudah diikat dengan tali perjodohan dengan kakak angkatnya yang bernama Satrio Permana. Rasa kasih sayang yang besar membuat kedua orang tua Arumi takut akan kehilangan sosok Satrio. Sehingga mereka menjodohkan Arumi anak kandung mereka dengan Satrio yang sudah diasuh dari kecil. Setelah Satrio dewasa,Satrio menjadi ragu akan perasaannya kepada Arumi. Ditambah dengan kehadiran sosok Niken Saputri. Satrio menjalin hubungan dengan Niken, tujuannya untuk meyakinkan perasaannya kepada Arumi Apakah Satrio mencintai Arumi atau hanya menyayanginya sebagai adik. Arumi tidak menerima alasan apapun setelah mengetahui hubungan Satrio dengan Niken. Perasaan Arumi sangat hancur. Arumi sudah bertekad akan menganggap Satrio hanya sebagai kakak tidak lebih. Akankah Arumi melupakan perasaannya kepada Satrio? Sedangkan Satrio selalu ada di sampingnya walaupun hanya sebagai seorang kakak. Ikuti kisahnya di Jejak Arumi yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juju Juhartini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. FOBIA
Kini Arumi dan Satrio berada dalam kamar mereka masing-masing. Keduanya tidak dapat memejamkan mata. Pertemuannya dengan Niken membuat Arumi berpikir lebih jauh. Tidak mungkin Arumi menyimpan atau merahasiakan permasalahannya dengan Satrio untuk selamanya? Tidak mungkin Arumi melakukan sandiwara hingga ke jenjang pernikahan? Arumi tidak mempunyai kekuatan untuk berterus terang kepada kedua orangtuanya. Arumi pun tidak ingin terjebak dalam sandiwara yang dibuatnya. Arumi berpikir dirinya harus menemukan cara untuk keluar dari permasalahan tersebut. Akan tetapi Bagaimana caranya?
Sedangkan Satrio masih terpaku di dalam kamarnya. Ia duduk di lantai dan bersandar pada dinding. Arumi sering melontarkan kata yang menyakitkan hatinya dan Entah sudah yang ke berapa Satrio merasakannya. Ingin sekali ia menghancurkan benda-benda yang ada di sekitarnya, hanya untuk meluapkan rasa yang menyesakkan dadanya. Akan tetapi, jika ia melakukan hal konyol tersebut. Maka, akan mengundang tanda tanya dari kedua orang tuanya dan secara tidak langsung akan membongkar permasalahannya.
Arumi terus saja merasa gelisah. Pikirannya tidak tenang. Arumi berjalan mondar-mandir, lalu duduk di tepi ranjang. Arumi pun mencoba untuk tidur. Tidur posisi miring Ke kanan Salah, tidur posisi miring ke kiri salah. Tidur terlentang salah, tengkurap pun salah. Dalam posisi tengkurap, Arumi menutup kepala bagian belakang dengan bantal. Kedua kakinya ia hentakan seperti gerakan Seorang perenang. Arumi pun merasa gemas dan kesal sendiri. Karena, belum menemukan cara untuk menyelesaikan permasalahannya.
Arumi melirik jam dinding yang terpasang dan memperhatikannya. Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Arumi berpikir saat ini dirinya harus tidur, tidak untuk berpikir. Arumi mengambil ponselnya dan memutar lagu. Lagu tersebut diharapkan dapat membantu Arumi untuk segera tidur.
Dan Entah dari jam berapa Satrio sudah tertidur. Posisinya tetap sama. Masih duduk di lantai dan menenggelamkan kepalanya di atas tangan yang tertumpuk di atas lutut. Satrio terlihat menyedihkan dan memprihatinkan. Satrio berharap, dengan tidur rasa sesak di dadanya luntur. Satrio berharap, dengan tidur permasalahannya terkubur. Satrio berharap, dengan tidur hatinya tidak menjadi hancur.
Dan Satrio berharap, dengan datangnya pagi nanti membuat hidupnya lebih berarti. Satrio berharap, dengan datangnya pagi nanti hidupnya lebih berseri. Satrio berharap, dengan datangnya pagi nanti warna buram tergantikan dengan warna-warni.
Siang ini di tempat magang. Arumi mengajak kedua temannya makan siang di ruangannya. Arumi mendapatkan kiriman makanan dari Satrio. Satrio menggunakan jasa kurir untuk mengantar makanan tersebut. Satrio mengirimkan makanan tersebut dikarenakan Arumi tidak sarapan tadi pagi. Karena tidur larut malam, Arumi jadi terlambat bangun. Arumi hanya sempat minum susu. Sang Ibu menyarankan untuk membawa bekal. Akan tetapi Arumi menolaknya dengan alasan Arumi bisa sarapan di kantor. Sedangkan Satrio hanya diam dan memperhatikan saja.
Haaahhhh
Di sela-sela makannya, Arumi menguap dan segera menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Bergadang lo? "
Ririn pun bertanya.
"Tidur jam berapa lo? "
Kini Gina pun menyusul bertanya kepada Arumi.
" jam 2-an. Haaahhhh. "
Arumi menjawab dan menguap kembali.
" Ngapain lo tidur jam segitu? "
Gina pun kembali bertanya.
"Baca Novel gue. Ceritanya seru, sampai lupa waktu. Enggak terasa udah jam 02.00 aja Haaahhhh. "
Arumi beralasan dan berbohong. Tidak mungkin Arumi menceritakan yang sebenarnya dan meminta saran dari kedua temannya. Dirinya sendiri pun bingung bagaimana caranya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut? apalagi kedua temannya. Sedangkan kedua temannya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara seseorang yang jauh di sana, telah selesai menyantap makanan yang sama dengan Arumi. Satrio pesan makanan tidak hanya untuk Arumi akan tetapi untuk dirinya juga. Satrio berharap makanan tersebut diterima, disantap dan disukai Arumi. Ingin sekali Satrio menghubungi Arumi, hanya untuk sekedar bertanya sudah dimakan atau belum? Apakah Rumi suka makanan yang kakak kirimkan? Akan tetapi Satrio sungkan untuk bertanya. Karena, kata-kata menyakitkan dari Arumi Sebelum turun dari mobil semalam masih terus terngiang di telinga Satrio. Satrio bangkit dan mendekati jendela yang ada di ruangannya. Ruang kerja Satrio berada di lantai 6 dari 8 lantai. Satrio menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi dan di bawah terdapat jalan raya yang keadaannya sedang padat merayap serta lampu-lampu kendaraan yang dinyalakan pada siang hari. Lalu Satrio mendongakkan kepala menatap langit, terlihat awan hitam pertanda akan turunnya hujan. Satrio pun segera menyadari sesuatu. Lalu Satrio mengambil ponselnya untuk menghubungi asistennya Rudi, agar segera masuk ke dalam ruangannya.
"Rud, tolong handle semua pekerjaan saya hari ini. Dan tolong bereskan meja saya. "
Setelah melihat pintu dibuka Satrio segera berucap. Satrio terlihat terburu-buru. Satrio dengan cepat mengancingkan jasnya, memasukkan dompetnya ke dalam saku celana dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Baik Bos. "
Budi menjawab dan menganggukkan kepalanya.
"Rud, kunci mobil saya? "
Baru saja Satrio akan membuka pintu, akan tetapi ditutupnya kembali setelah mengingat sesuatu. Kunci mobilnya memang selalu dipegang asistennya jika berada di kantor dan akan dikembalikan pada pemiliknya jika sudah sampai rumah.
"Ini Bos. "
Rudi memberikan kunci mobil dan Satrio pun menerimanya. Lalu Satrio membuka pintu kembali dan menutupnya. Satrio akan meneruskan tujuannya. Sedangkan Rudi mengerjakan apa yang diperintah oleh atasannya.
Sementara di ruangan Arumi, Arumi dan kedua temannya baru saja selesai menyantap makanan yang dikirimkan oleh Satrio. Mereka bertiga pun sedang membereskan bekas makanan tersebut.
" Rum, sering-sering aja kakak lo ngirimin makanan. Gue siap buat menampungnya. "
"Termasuk hatinya, lo juga siapkan buat menampungnya. "
"kalau soal itu jangan ditanya lagi. Sampai kapan pun pintu hati gue selalu terbuka buat Kakak lo. "
"Ngarep lo. "
Percakapan antara Ririn dan Gina hanya membuat Arumi tersenyum. Arumi bisa saja berkata kepada kedua temannya, jika Satrio kini bukan milik siapa-siapa. Akan tetapi Arumi khawatir situasi akan semakin rumit.
" By the way, makasih ya atas makanannya. "
Ririn mengucapkan terima kasih kepada Arumi dan Arumi hanya menganggukkan kepala.
"Eh. Jangan lupa sering-sering ya? Iya kan Gin? "
Ririn masih tetap menambahi dan meminta persetujuan Gina.
"Elo kalau ngomong suka bener. "
Gina pun menyetujui. Lalu Ririn dan Gina pun bertos ria dengan menempelkan kepalan tangan mereka sebagai perwujudan kekompakan.
"Ya udah, gue balik ke ruangan ya. "
Ririn izin pamit.
"Gue juga. "
Gina pun sama.
Haaahhhh
Sembari menganggukkan kepala, Arumi menguap kembali.
"Rum, ngopi sono biar enggak ngantuk. Lo minta tolong OB aja buat buatin. "
Ririn memberi solusi.
"Gue lihat, di samping Kantor Pajak ada kedai kopi sederhana. Lo beli aja di sana. "
Gina pun sama memberi solusi kepada Arumi.
"Kayaknya emang bener, gue perlu ngopi. Gue beli dulu ya. "
Arumi menyetujui. Lalu mengambil dompetnya yang berada di dalam tas.
" Lo berdua mau enggak? "
Arumi menawarkan kopi kepada kedua temannya dan kedua temannya kedua
menggelengkan kepala.
Baru saja Arumi keluar dari gedung perbankan, Arumi menjadi ragu untuk meneruskan langkahnya. Keadaan langit yang mendung membuat orang-orang yang berada di luar segera mencari tempat yang aman. Para karyawan berhamburan, mereka berlarian menuju ke tempat kerja masing-masing. Para pedagang sibuk membereskan atau menutupi dagangan mereka.
Arumi berharap hujan turun setelah ia mendapatkan kopinya. Arumi pun meneruskan langkahnya kembali.
Sembari mengemudi Satrio terus berusaha menghubungi Arumi. Satrio ingin memastikan keberadaan Arumi. Tentu saja Arumi tidak menerima panggilan tersebut. Dikarenakan, Arumi tidak membawa ponselnya yang tertinggal di dalam tas.
"kopinya satu Mas. "
" Rasa apa Mbak? "
"Cappuccino. "
"Sebentar ya mbak? "
Arumi menganggukkan kepala sebagai jawaban. Arumi bergerak gelisah, ia takut terjebak hujan. Arumi membuka dompetnya, diambilnya satu lembar pecahan Rp100.000 untuk membayar kopi tersebut.
"Kopinya Mbak. "
Sang penjual telah selesai meracik kopinya Dan meletakkan kopi tersebut di atas meja. Arumi menyerahkan uangnya dan diterima sang penjual.
"Sebentar ya Mbak, kembaliannya? "
Sang penjual meminta untuk Arumi menunggu. Arumi mengangguk kembali sebagai jawaban. Lalu Arumi mengambil kopi pesanannya dan mencoba meneguknya.
Tiba-tiba angin datang dengan kencangnya dan Arumi reflek menangkisnya. Padahal angin tersebut tidak dapat dilihat, hanya dapat dirasakan. Secara bersamaan sebuah mobil mogok di tengah jalan. Sehingga menimbulkan kemacetan. Banyak bunyi klakson yang saling bersahutan. Tidak hanya bunyi klakson yang memekakkan telinga, pemilik kendaraan tersebut ikut bersuara dan ada juga yang berteriak agar mereka dapat meneruskan perjalanannya.
Seketika kopi yang berada di tangan Arumi terjatuh bersama dengan dompetnya. Tangan Arumi yang bergetar bergerak perlahan untuk menutup telinganya. Dengan mata terpejam Arumi menunduk,lalu Arumi berjongkok perlahan dengan masih menutup telinganya. Arumi ketakutan. Fobia Arumi kambuh. Arumi fobia angin kencang. Sebenarnya Arumi dapat mengatasi Fobianya dengan mencari tempat yang aman. Seperti masuk ke dalam bangunan baik rumah, gedung, mall dan sebagainya. Akan tetapi, jika angin kencang bersamaan dengan suara bising. Seperti suara mesin, teriakan atau tangisan Arumi akan sulit mengatasinya seperti saat ini.
Sedangkan Satrio pun terjebak dalam kemacetan tersebut. Satrio tetap berada di dalam mobilnya, hanya membunyikan klakson yang dilakukannya secara terus-menerus. Padahal tempat yang Satrio tuju berada di sebelah kanannya. Satrio tidak dapat membelokkan mobilnya secara langsung karena terdapat pembatas jalan di sebelah kanan. Satrio harus dapat melewati 3 mobil di depannya termasuk mobil mogok tersebut, agar dapat membelokkan mobilnya ke kanan.
"Mbak, mbak kenapa? "
Sang penjual yang berada di dalam kedai bertanya kepada Arumi. Lalu sang penjual pun ingin menghampiri Arumi.
"Mbak, mbak? "
Sang penjual mencoba menepuk pundak Arumi. Sang penjual heran dan ingin mengetahui apa yang terjadi pada pembelinya yang seperti sedang ketakutan.
"Ada apa Mas? "
Randy yang tidak sengaja lewat pun bertanya kepada sang penjual kopi. Randy sedang ada keperluan ke ATM, yang berada di seberang. ATM tersebut berada di dalam gedung perbankan tempat Arumi magang.
"Saya juga kurang tahu mas. "
Sang penjual kopi pun menjawab.
Lalu Randy memperhatikan perempuan yang sedang berjongkok tersebut. Randy seperti mengenali fisik perempuan tersebut. Sepertinya perempuan itu Dia. Dia yang di Bali, Dia yang di Warung Soto dan Dia yang di kereta. Lalu Randy pun berjongkok.
"Mbak,mbak tenang. Coba lihat saya,mbak kenal saya? "
Dengan memegang kedua pundak Arumi Randy pun bertanya. Arumi mencoba mendongakkan kepalanya perlahan, ia mengenali wajah yang ada dihadapannya. Perlahan Arumi menganggukkan kepalanya dan menurunkan tangannya dari telinga.
" Ayo saya antar ke tempat Mbaknya bekerja. "
Perlahan Randy membantu Arumi bangkit.
Sedangkan Satrio pun keluar dari mobilnya. Ia ingin melihat apa yang terjadi pada mobil di depannya sehingga menimbulkan kemacetan. Mobil mogok tersebut didorong oleh beberapa orang untuk menepi.
Tak diduga dan tak disangka Satrio melihat pemandangan yang benar-benar menyakitkan di depannya. Setelah mobil mogok berlalu, Arumi dan Randy menyeberang di depannya. Walaupun terhalang dua mobil di depannya, tidak mengurangi pandangan Satrio kepada dua orang yang sedang menyeberang tersebut. Satrio terus memperhatikan Arumi yang sedang dirangkul Randy oleh ekor matanya hingga mereka berdua hilang dari pandangan.
Tiiinnnn......
Tiiinnnn......
Bunyi klakson kembali yang saling bersahutan. Kini Satrio dan kendaraannya yang mulai membuat Jalanan menjadi macet kembali. Satrio melamun karena melihat Arumi bersama laki-laki lain.
"Woii jalan. "
makian dari pengendara lain terdengar.
Dengan tatapan kosong, Satrio masuk dan melajukan kembali kendaraannya.
BERSAMBUNG