Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Zaira menempelkan kedua tangannya ke dada pria itu, hendak mendorongnya menjauh. Ia merasakan panas membara yang menguar dari tubuh Leonardo, ketegangan otot di balik kemeja yang basah oleh hasrat, dan detak jantungnya yang mantap bergema di ujung jemarinya. Jantungnya sendiri seolah berusaha mengikuti irama itu, liar, tak terkendali.
Namun tenaganya luruh. Jari-jarinya, alih-alih mendorong, malah mencengkeram kain kemeja itu dengan lemah, gemetar. Ia tak cukup kuat untuk menyingkirkannya.
Leonardo, yang membaca semuanya, memiringkan kepala. Ia tersenyum tipis, senyum gelap dan licik yang menjanjikan kekacauan dan dosa.
"Kamu tidak menolakku, Zaira," bisiknya di telinga gadis itu, napas hangatnya membuat kulit lehernya meremang. "Kamu hanya takut pada betapa besarnya kamu menginginkanku."
Suaranya sebuah belaian rendah, bagai beludru yang tersobek. Getarannya menjalari tulang punggung Zaira seperti sensasi dingin yang basah. Zaira membuka mulut hendak menyangkal, tapi tak sempat.
Leonardo menerkam bibirnya, mengklaimnya seakan memang haknya. Ciuman itu adalah sebuah serbuan, sebuah serangan, sebuah pertempuran yang kalah sejak sentuhan pertama.
Mulut mereka bertemu dengan kekasaran purba, sarat oleh rasa lapar dan dendam yang lama tertimbun. Rasa pria itu membanjirinya: maskulin, hangat, dengan jejak anggur dan hasrat. Ia menciumnya secara mentah, tanpa meminta izin, memaksa keluar erangan tertahan yang ditelannya tanpa ampun.
Kedua tangan besar Leonardo melingkari pinggangnya dengan tekad brutal, menarik tubuh Zaira rapat ke tubuhnya. Sentuhan ereksinya, keras dan berdenyut, menekan perut bawah gadis itu, memancing napas terengah yang tak bisa disembunyikannya.
Zaira melepaskan isak yang merupakan amarah... sekaligus hasrat.
Ia membenci dirinya sendiri karena tak mendorong pria itu pergi. Karena kulitnya meremang, karena listrik yang berdesir di saraf-sarafnya, karena basah lengket yang tumbuh di antara pahanya bagai rahasia yang memalukan.
Leonardo menyusurkan satu tangan menuruni punggungnya, turun perlahan, seakan menghafalnya dengan jari. Lekuk pinggangnya, kekokohan pinggulnya, kepasrahan tubuhnya yang gemetar.
"Milikku," geramnya, suaranya compang-camping oleh nafsu, mengaum ke mulut gadis itu. "Seluruh dirimu, sialan."
Ia mengangkat Zaira dari lantai seolah gadis itu tak berbobot sama sekali. Zaira memekik kaget saat pria itu membawanya ke dinding terdekat. Hantaman punggungnya ke tembok membuatnya terengah, tapi ia tak sempat memprotes.
Bibir Leonardo turun bagai badai menyusuri lehernya, tulang selangkanya, meninggalkan jejak air liur yang membara, gigitan-gigitan yang akan menandainya seperti sebuah karya bertanda tangan. Napasnya adalah api di atas kulit Zaira. Gadis itu melengkungkan punggung tanpa sadar, menyerahkan diri bahkan tanpa menyadarinya.
"Katakan kamu tidak menginginkanku," bisik Leonardo, suaranya parau oleh kecemasan, sementara jarinya yang tak sabar melepaskan kancing pertama blusnya.
Zaira gemetar. Ia ingin menjerit tidak. Bahwa ia membenci pria itu. Bahwa semua ini adalah sebuah kesalahan.
Namun hanya erangan yang lolos dari tenggorokannya ketika Leonardo menarik turun kain itu dan mulutnya menangkap salah satu puting Zaira melalui renda, yang kini basah oleh lidahnya. Isapan itu hangat, menyelimuti, lidahnya melukis spiral yang membuat tubuh gadis itu meleleh bagai lilin.
Zaira mencengkeram tengkuk Leonardo dengan putus asa, jarinya membenam ke rambut pria itu, menariknya lebih dekat. Seakan kenikmatan bisa membenarkan kelemahannya.
"Leonardo, namaku Leonardo," gumam pria itu, mendambakan namanya terucap dari mulut Zaira.
"Leonardo..." erangnya, hilang arah, suaranya nyaris tak terdengar di antara nikmat dan rasa bersalah.
Leonardo tersenyum di atas kulitnya, senyum pemangsa yang puas namun masih lapar. Dengan tangan tak sabar, ia menyusup ke balik celana Zaira, turun menyusuri paha hingga menemukan pakaian dalamnya. Ketika merasakan betapa basahnya, napasnya menjadi lebih kasar, lebih liar.
"Lihat dirimu," bisiknya, menggosokkan jarinya pada kain yang basah itu. "Begitu basah untukku..."
Zaira memejamkan mata rapat-rapat, rasa malu berbaur dengan kenikmatan yang melucuti pertahanannya.
Tapi tubuhnya tak berdusta.
Leonardo menyingkirkan kain itu tanpa ampun dan membelainya langsung. Jarinya membenam ke dalam tubuh Zaira dengan kemudahan yang menghina, memaksa keluar jeritan yang tertahan.
"Kamu sempurna," geramnya. "Begitu rapat... begitu manis sialan."
Zaira bergerak menyambut tangan pria itu, pinggulnya mengikuti irama secara naluriah. Tubuhnya telah mengambil alih kendali, lapar, tak terpuaskan.
Leonardo tertawa, tawa rendah, dari kerongkongan, penuh kemenangan.
"Lihat?" bisiknya, menjilat ujung payudara Zaira sebelum menggigitnya. "Kamu milikku. Jangan melawan lagi."
Dengan sekali tarikan, ia melucuti celana dan blus Zaira, membiarkan gadis itu telanjang di hadapannya. Tatapannya menyapu setiap senti tubuh Zaira dengan hasrat yang gelap, khusyuk, kejam. Ia membelai payudaranya, menciuminya dengan kelembutan yang durhaka, berganti-ganti antara gigitan dan belaian.
Lalu ia melepas ikat pinggangnya dan menurunkan risleting celananya. Bunyi logam itu seakan memenuhi ruangan, bagai sebuah vonis.
Ia membebaskan ereksinya, tebal, panas, membengkak oleh hasrat. Zaira melihatnya dan menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya kering.
Leonardo menatapnya, mencari penyesalan. Sebuah isyarat. Sepatah kata. Sebuah gerakan.
Tapi gadis itu hanya gemetar. Ia sudah hilang arah. Dan Leonardo tahu itu.
Ia mencengkeram pinggul Zaira, mengangkat satu kaki gadis itu, dan menembusnya dengan satu hentakan, membenam ke dalam tubuhnya sampai ke pangkal. Rasanya bagai ledakan. Sebuah robekan kenikmatan.
Zaira menjerit, punggungnya melengkung ke dinding, tangannya mencengkeram bahu Leonardo. Ia merasakan pria itu di dalam dirinya, begitu dalam hingga hampir terasa sakit.
Dan ia mencintainya.
Dan ia membencinya.
"Milikku," aum Leonardo di sela gigi, mendorong lebih dalam lagi.
Setiap hentakan adalah cambukan nafsu, tusukan dalam yang terkendali, yang membuat Zaira kehabisan napas. Bunyi tubuh mereka beradu, basah, brutal, memenuhi udara bersama napas terengah dan bisikan terputus-putus.
Zaira mencakar punggung pria itu, lehernya, dadanya.
Ia ingin kabur sekaligus tinggal. Ia ingin Leonardo tak pernah berhenti.
Leonardo menjilat kerongkongan Zaira, menggigit bahunya, membisikkan kata-kata kotor dan pemujaan yang durhaka ke telinganya.
"Begitu rapat, sialan... Aku memimpikan momen ini setiap malam terkutuk sejak aku mencicipimu..."
Iramanya kian cepat, kian dahsyat. Tubuh Zaira bergetar menempel dinding, kakinya kini melingkari pria itu tanpa perlawanan lagi.
Ketika klimaks menerpanya, rasanya bagai ledakan yang merampas napasnya. Kewanitaannya menegang hebat mengurung Leonardo, suaranya pecah menjadi erangan yang terdengar seperti permohonan.
Leonardo mengaumkan namanya bagai serigala yang melahap mangsanya. Ia melepaskan diri, menghentaknya satu kali terakhir, mencurahkan diri ke dalam tubuh Zaira dengan pekik tertahan, otot-ototnya menegang, wajahnya terbenam di leher gadis itu.
Mereka tetap begitu, menyatu, terengah seakan dunia berhenti berputar.
Keringat merekatkan tubuh mereka.
Jantung mereka berdetak dalam irama yang sama.
Leonardo menyandarkan keningnya ke kening Zaira, napas hangatnya menyentuh bibir gadis itu yang gemetar. Mulutnya mencium Zaira sekilas, seakan kini, setelah neraka itu, ia boleh mengizinkan dirinya sedikit kelembutan.
"Sudah kubilang," bisiknya dengan senyum licik. "Kamu tidak akan lolos dariku."
Zaira memejamkan mata.
Air mata mengalir menuruni pipinya, tanpa suara.
Ia tak tahu apakah itu air mata amarah... atau karena ia baru saja merasakan kenikmatan paling menghancurkan dalam hidupnya.
Ia hanya tahu satu hal: ia terperangkap. Terperangkap tanpa harapan dalam jerat Leonardo. Dan sudah terlambat untuk melarikan diri.