Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Penyelamat di Tengah Malam
Awan hitam pekat berkumpul tebal di atas langit malam, menyelimuti permukiman padat dan kompleks Perumahan Asri yang terletak persis di seberang bantaran sungai. Hujan deras turun tanpa henti sejak sore hari, membasahi atap-atap rumah dan membuat debit air sungai membendung tinggi. Di dalam rumah tuanya, Dirga berdiri menatap keluar jendela kayu. Tangannya yang memegang ponsel memperlihatkan saldo rekening sebesar seratus dua puluh juta rupiah, sebuah pencapaian finansial yang membebaskannya dari belenggu kemiskinan. Namun, ingatan akan kilatan visi masa depan yang diterimanya di kantor sekuritas tadi siang membuat raut wajahnya makin tegang.
"Air sungai sudah berada di ambang batas bahaya," gumam Dirga pelan. Suaranya dingin, namun di dalamnya tersimpan kewaspadaan yang amat sangat. "Tanggul pembatas di Perumahan Asri tidak akan sanggup menahan tekanan debit air ini lebih lama lagi. Jika aku berdiam diri, puluhan nyawa akan melayang malam ini."
Dirga segera mengenakan jaket ojolnya yang kusam, mengambil sebuah senter besar, lalu melangkah menerobos tirai hujan deras menuju kompleks perumahan tetangga yang berjarak tiga ratus meter dari permukimannya.
Suasana Perumahan Asri tampak lengang di bawah guyuran hujan badai. Sebagian besar warga telah tertidur lelap di dalam rumah masing-masing, tidak menyadari ancaman maut yang mengintai dari balik dinding tanggul beton yang mulai retak.
Dirga berlari menelusuri jalanan kompleks yang mulai tergenang air semata kaki. Ia menggedor pintu pagar besi salah satu rumah warga dengan keras, menggunakan gagang senternya.
Brak! Brak! Brak!
"Bangun! Semuanya bangun dan segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi!" teriak Dirga lantang, suaranya bersaing ketat dengan gemuruh suara hujan dan petir yang bersahutan.
Pintu rumah terbuka. Pak Wijaya, seorang tokoh warga setempat berbadan gemuk, keluar dengan wajah bersungut-sungut, mengenakan sarung dan jaket tebal. Tatapannya penuh kekesalan saat melihat Dirga berdiri basah kuyup di depan pagarnya.
"Kamu ini siapa malam-malam begini bikin geger?" bentak Pak Wijaya dengan nada tinggi dan penuh amarah. "Menggedor pagar orang seperti ada kebakaran saja! Kamu orang dari mana?"
"Saya Dirga, warga dari kampung seberang sungai," jawab Dirga dengan gaya bahasa yang sangat formal, tegap, dan penuh ketegasan tanpa ada keraguan sedikit pun. "Pak Wijaya, saya minta Anda segera membangunkan seluruh warga kompleks ini sekarang juga. Tanggul pembatas sungai di ujung blok ini akan jebol dalam hitungan menit!"
Pak Wijaya mengerutkan dahi, menatap Dirga dari atas ke bawah sebelum akhirnya tertawa terkekeh dengan nada meremehkan.
"Tanggul jebol?" cela Pak Wijaya sambil menggelengkan kepala. "Anak muda, kamu ini ketiduran terus mimpi buruk ya? Tanggul beton itu baru direnovasi dua tahun lalu oleh pemerintah daerah! Struktur betonnya sangat kokoh. Setiap kali hujan deras datang, air sungai memang meluap sedikit, tapi tidak pernah sampai jebol!"
Beberapa warga lain yang terganggu oleh kegaduhan tersebut mulai keluar rumah menggunakan payung. Pak RT Perumahan Asri, Pak Hendro, melangkah mendekati pagar bersama dua orang warga lainnya.
"Ada apa ini ramai-ramai di tengah hujan badai begini?" tanya Pak Hendro dengan dahi berkerut, menatap Dirga dengan pandangan curiga.
"Ini Pak RT, ada tukang ojek tidak jelas dari kampung sebelah mendatangi rumah saya dan berteriak-teriak minta warga mengungsi," adu Pak Wijaya dengan sikap sinis. "Katanya tanggul beton kita mau jebol. Benar-benar tidak masuk akal dan mengganggu waktu istirahat warga!"
Pak Hendro menatap Dirga dengan tatapan serius. "Anak muda, atas dasar apa kamu menyebarkan kepanikan seperti ini? Apakah kamu petugas resmi dari badan penanggulangan bencana atau Dinas PU yang mengawasi pintu air?"
"Saya bukan petugas dinas mau pun pihak berwajib," tegas Dirga, matanya memancarkan tatapan tajam dan dingin yang mengintimidasi. "Namun jika Anda semua tetap memilih berdebat di sini demi mempertahankan kenyamanan tidur Anda, Anda semua akan tenggelam dalam air bah setinggi dada manusia!"
"Kurang ajar!" bentak seorang warga lain yang berdiri di samping Pak RT. "Kamu jangan asal bicara ya! Menakut-nakuti orang tua di tengah malam begini! Kalau cuma mau cari perhatian atau mau berbuat kejahatan di kompleks kami, mending kamu pergi sekarang sebelum kami panggil keamanan!"
"Benar, Pak RT! Usir saja orang gila ini!" sahut Pak Wijaya penuh emosi. "Udah basah kuyup, datang-datang menyumpahi perumahan orang akan Kena musibah!"
Dirga menarik napas panjang. Ia melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Pak Hendro, menatap lurus ke dalam manik mata sang Ketua RT tanpa sedikit pun gentar oleh makian warga.
"Pak RT, dengarkan saya baik-baik," kata Dirga, suaranya merendah namun dipenuhi getaran wibawa yang membuat Pak Hendro terdiam seketika. "Struktur beton itu memang terlihat kokoh di luar, tetapi rembesan air di dasar bawah tanggul telah mengikis fondasi tanahnya sejak sore tadi. Periksa fondasi tanggul di Blok C sekarang juga jika Anda tidak percaya! Jika dalam sepuluh menit Anda tidak membunyikan peringatan dan mengungsikan warga ke area lantai dua atau tempat tinggi, nyawa seluruh warga kompleks ini akan berada di tangan Anda!"
Pak Hendro terpaku. Wajahnya yang tegang membeku saat melihat ketulusan yang beradu dengan ketegasan luar biasa dari mata Dirga. Tidak ada nada main-main atau kebohongan di dalam kalimat pemuda tersebut.
"Pak RT, jangan dengarkan ucapan dukun gadungan ini!" seru Pak Wijaya berusaha menyela.
"Cukup, Pak Wijaya!" potong Pak Hendro mendadak. Rasa cemas mulai merayapi benaknya. "Tidak ada salahnya kita mengecek kondisi Blok C sebentar daripada berisiko!"
Pak Hendro segera berlari bersama Dirga dan beberapa warga menuju ujung Blok C yang berbatasan langsung dengan dinding tanggul sungai. Senter besar milik Dirga mengarahkan sorot cahayanya yang terang tepat ke dasar struktur beton.
Seketika itu juga, wajah Pak Hendro dan warga yang ikut mendadak pucat pasi bagaikan mayat.
Di dasar dinding tanggul, retakan-retakan besar berukuran lebar telah membentang panjang. Air sungai berwarna cokelat pekat menyembur keluar dengan sangat deras dari balik celah retakan tanah. Suara gemertak beton yang hendak patah terdengar makin membahana di balik deru air sungai.
"Ya Alloh... retakannya sudah selebar ini!" teriak Pak Hendro penuh kepanikan yang amat sangat.
"Tanggulnya... tanggulnya benar-benar mau runtuh!" jerit warga lain yang tadi memaki Dirga. Tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan.
"Jangan buang waktu lagi!" perintah Dirga tegas, suaranya memotong kepanikan mereka. "Pak RT, segera pukul tiang listrik sekarang! Perintahkan seluruh warga evakuasi mandiri ke atas atau keluar dari jalur utama air!"
Pak Hendro tidak berpikir panjang lagi. Ia berlari kencang menuju tiang listrik terbawa kepanikan dan memukul tiang besi itu berkali-kali menggunakan batu besar.
Teng! Teng! Teng! Teng!
Suara tanda bahaya membahana menyelimuti seluruh Perumahan Asri. Warga yang tadinya tertidur lelap mulai berhamburan keluar rumah dengan panik. Pak RT dan beberapa warga berteriak histeris meminta semua orang berlari menuju tempat aman di area perbukitan kompleks atau lantai atas bangunan.
Tepat lima menit setelah seluruh warga berhasil dievakuasi keluar dari jalur bawah...
Brak! Bressss!
Dinding tanggul beton di Blok C meledak hancur dihantam gelombang air sungai yang dahsyat. Air bah keruh berwarna cokelat pekat meluncur deras bagaikan naga air yang mengamuk, menghantam dan merendam puluhan rumah di perumahan tersebut hingga setinggi dada manusia dalam hitungan detik. Pagar-pagar besi terlepas dan kendaraan-kendaraan terseret arus air yang sangat kencang.
Pak Wijaya yang berdiri di area perbukitan tinggi menatap rumahnya yang kini tenggelam dengan tubuh gemetar hebat. Ia terduduk lemas di atas tanah basah, dadanya naik turun karena syok luar biasa.
"Rumah saya... mobil saya..." bisik Pak Wijaya terbata-bata. Lalu matanya perlahan beralih menatap pemuda berjaket ojol kusam yang berdiri tegap di samping Pak RT di tengah guyuran hujan. "Kalau... kalau pemuda itu tidak membangunkan kita... saya dan keluarga pasti sudah mati tenggelam di dalam kamar..."
Pak Hendro melangkah mendekati Dirga dengan memegang kedua bahu Dirga. Tangannya gemetar hebat, matanya berkaca-kaca penuh penyesalan dan rasa terima kasih yang tak terhingga.
"Anak muda... Nak Dirga..." panggil Pak Hendro dengan suara bergetar pelan. "Anda... Anda telah menyelamatkan nyawa ratusan warga di perumahan ini. Maafkan kelancangan dan prasangka buruk kami tadi..."
Dirga hanya menatap hamparan air banjir di bawah sana dengan raut wajah dingin. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Yang terpenting seluruh warga selamat," ucap Dirga singkat. "Tugas saya di sini sudah selesai."
Tanpa menunggu pujian lebih lanjut, Dirga berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kompleks perumahan yang porak-poranda tersebut, menghilang di balik kegelapan malam dan guyuran hujan.
Keesokan harinya, sinar mentari pagi membias terang menerangi permukiman. Bencana runtuhnya tanggul di Perumahan Asri menjadi berita utama di berbagai media lokal, menyoroti fakta ajaib bahwa tidak ada satu pun korban jiwa dalam musibah dahsyat tersebut berkat peringatan dini yang disebarkan secara cepat.
Namun, suasana di depan rumah tua milik Dirga mendadak berubah menjadi sangat riuh.
Puluhan warga Perumahan Asri beserta warga kampung sekitarnya telah berkumpul dan berkerumun memadati halaman rumah Dirga sejak subuh. Mereka datang membawa berbagai barang, mulai dari kotak-kotak makanan, parsel buah-buahan mewah, hingga amplop-amplop berisi uang tunai yang ditumpuk di atas meja teras rumah panggungnya.
Pak Wijaya dan Pak Hendro berdiri paling depan di antara kerumunan warga yang saling berdesakan tersebut.
Saat pintu kayu rumah panggung terbuka dan Dirga melangkah keluar dengan pakaian sederhananya, suasana halaman mendadak heboh. Warga saling berebut untuk mendekati tangga rumah panggung Dirga.
"Nak Dirga! Nak Dirga keluar!" seru salah seorang warga wanita setengah baya sambil menyodorkan parsel buah yang dibawanya.
"Nak Dirga, tolong terima makanan dan sedikit uang dari keluarga saya ini!" teriak warga lain dengan telapak tangan menyatu memohon-mohon. "Kami sangat berutang nyawa pada Nak Dirga atas kejadian semalam!"
Pak Wijaya menaiki satu anak tangga dengan wajah penuh harapan dan rasa hormat yang mendalam. Ia membungkukkan badannya di hadapan Dirga.
"Nak Dirga yang sakti..." panggil Pak Wijaya dengan suara memelas, jauh berbeda dari sikap angkuhnya semalam. "Selain mengucapkan terima kasih atas keselamatan keluarga saya, saya... saya memohon dengan sangat. Bisakah Nak Dirga menerawang nasib usaha toko saya yang sedang sepi ini? Atau kalau boleh, berikan saya penerawangan angka keberuntungan untuk mengembalikan kerugian harta saya akibat banjir semalam!"
"Benar, Nak Dirga!" sahut warga lain dari belakang dengan nada memohon yang makin menjadi-jadi. "Tolong terawang nasib keluarga saya juga! Beritahu kami kapan musibah akan datang lagi atau nomor angka keberuntungan kami minggu ini! Kami rela membayar berapa saja untuk petunjuk dari Nak Dirga!"
Dirga berdiri tegap di ambang pintu, menatap kerumunan warga yang menatapnya dengan pandangan penuh pemujaan gaib dan harapan kesaktian semata. Matanya mengeras dingin, menyadari bahwa kemampuan mata batin yang diturunkan Sang Leluhur kini mulai disalahartikan oleh masyarakat sebagai komoditas ramalan dan perjudian.