Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Axcel Kembali
Bab 14
# Axcel kembali #
"Sora! Kau ini gila ya? Kan Mommy udah bilang jangan bawa aku ke rumah sakit! Stop... Bi Muna juga kenapa ikut-ikutan sih? Argh... sialan!"
Brugh!
Ino yang sedari tadi memberontak sengit dalam dekapan dua wanita itu tiba-tiba kehilangan tumpuan. Badannya tersungkur begitu saja ke depan. Jika saja kedua tangannya tidak dicengkeram erat oleh Sora dan Bi Muna, bisa dipastikan wajah tampan itu sudah mencium lantai marmer yang dingin. Pingsannya Ino secara mendadak membuat mereka berdua tersentak panik setengah mati. Dengan sisa stamina yang ada, Sora berusaha membalikkan tubuh besar Ino yang beratnya tidak main-main, lalu menyelimuti raga pria itu rapat-rapat menggunakan selimut tebal.
Tak berapa lama, sirene ambulans meraung-raung di depan kediaman Sora. Tim medis bergegas turun membawa tandu darurat.
"Pak, tolong jangan dibuka selimutnya dan jangan diintip ya! Angkat saja semuanya langsung!" bisik Sora panik.
Dua petugas ambulans saling berpandangan sejenak, melemparkan kode heran, namun akhirnya mengangguk paham. Mereka dengan cepat memindahkan raga Ino ke atas tandu dan membawanya meluncur menuju Rumah Sakit Xilomang. Di dalam ruang belakang ambulans, suasana terasa amat mencengkeram. Bi Muna dan Sora duduk mendampingi di sisi brankar. Sepanjang jalan, Sora tak berhenti menepuk-nepuk pelan pipi Ino, berharap sosok ajaib itu terbangun. Namun tidak ada respon sama sekali.
"Nona, lebih baik segera hubungi keluarga Tuan Ino," bisik Bi Muna cemas.
Sora langsung menepuk-nepuk semua saku pakaiannya, lalu menepuk jidatnya sendiri dengan muka merana. Ponselnya tertinggal di atas meja kamar. Dalam kepanikan luar biasa tadi, ia benar-benar lupa membawa benda krusial tersebut. Sora yang linglung malah meraba-raba tubuh Ino dari luar selimut untuk mencari ponsel pria itu.
Petugas medis wanita yang duduk di sudut ambulans mendadak menatap pergerakan tangan Sora dengan mata melotot, berkali-kali menelan ludahnya sendiri karena berpikiran yang tidak-tidak.
"Nona... Tuan Ino kan tidak bawa ponsel, Nona lupa ya?" Bi Muna menepuk bahu Sora pelan. "Pakai ponsel saya saja ini."
Sora menghentikan aksinya, menghembuskan napas kasar sambil mengutuk kepikunannya. Ia menyambar ponsel jadul milik Bi Muna dan mulai mengusap layar keluar masuk aplikasi dengan amat kacau. Sora begitu panik hingga otaknya mendadak buntu total.
"Nona sedang mencari apa sih? Kenapa tidak segera menelepon keluarga Tuan Ino?" tanya Bi Muna heran.
"Bik... nomor telepon Ibunya berapa? Huaaa..." Isak tangis Sora akhirnya pecah layaknya anak kecil yang kehilangan balon. Tampangnya nampak semakin kacau.
Melihat Nonanya menangis sesenggukan, Bi Muna menenangkan Sora dan mengambil kembali ponselnya. Bi Muna dengan sigap menekan satu nomor.
"Halo Nyonya, maaf mengganggu. Apa saya bisa minta tolong dibuatkan jalur ke nomor Nyonya Evelyn, kenalan Tuan Besar? Nanti setelah ini saya jelaskan kondisinya Nyonya, sekarang Nona Sora perlu menghubungi Nyonya Evelyn... Baik, terima kasih Nyonya."
Ting!
Tak berapa lama setelah Bi Muna menghubungi ibunda Sora, sebuah pesan masuk berisi nomor kontak Mark, asisten pribadi Nyonya Evelyn. Bi Muna harus menelusuri beberapa kali panggilan sebelum akhirnya tersambung. Maklum, orang penting sekelas Mark tentu tidak sembarangan mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal.
"Halo, maaf apa benar ini Pak Mark? Ini kami sedang mengantar Tuan Ino ke IGD Rumah Sakit Xilomang karena tiba-tiba pingsan, Pak. Tuan Ino belum siuman sama sekali. Tolong sampaikan ke Nyonya Evelyn ya, Pak. Terima kasih."
Begitu panggilan terputus, roda ambulans berhenti tepat di depan pintu IGD. Petugas medis bergerak cepat menyorong brankar Ino masuk ke ruang penanganan. Sora diminta bergegas ke bagian administrasi untuk mendaftarkan data pasien.
"Bagaimana ini Bik, aku tidak bisa jadi walinya! Aku juga tidak tahu data diri lengkap Ino. Lagipula kita tidak membawa dompetnya tadi..." Sora memutar otak dengan panik saat menghampiri dokter jaga. "Dokter, mohon berikan pertolongan pertama dulu. Keluarga pasien sedang jalan ke sini. Tapi tolong sekali, jangan buka selimut yang menutupi tubuhnya ya Dok, dan tirai pembatasnya ditutup rapat saja."
Seolah mengerti keinginan Sora yang terkesan protektif terhadap privasi pasien, dokter muda itu mengangguk dan langsung melakukan pemeriksaan tanpa menyingkap selimut maroon yang membungkus Ino. Ia hanya mengeluarkan lengan kanan Ino untuk mengecek tensi serta nadi, lalu memasukkan stetoskop ke balik selimut serta memeriksa pupil matanya.
"Semuanya normal, tanda vital stabil. Namun untuk memastikan penyebab pasti ketidaksadarannya, kami harus melakukan tes laboratorium. Saya butuh tanda tangan wali sebelum mengambil tindakan medis lebih lanjut. Kira-kira kapan wali pasien tiba? Pasien sudah pingsan lebih dari 20 menit, ini cukup lama untuk sekadar pingsan biasa," terang Dokter.
Bi Muna mengangguk-angguk mengerti dan memohon agar dokter bersabar sebentar lagi mengingat jalanan ibu kota yang selalu macet parah di jam-jam ini. Dokter pun pamit sejenak menuju ruang jaga.
Tepat saat itu, di atas brankar, sosok di balik selimut mulai bergerak pelan.
"Ssshhh... aww... kenapa kakiku perih? Kamu... siapa...?"
Kelopak mata itu mengerjap pelan, mengusir rasa silau lampu IGD. Pandangannya masih kabur, tak mampu mengenali wajah Sora dan Bi Muna yang berdiri di dekatnya.
Sreeekkk!
Tirai pembatas mendadak ditarik kasar dari luar.
"Mama...! kenapa aku ada di sini?"
Orang yang baru siuman itu bisa langsung mengenali sosok Nyonya Evelyn yang berdiri anggun di ambang tirai. Belum sempat Sora memberikan sepatah kata penjelasan, sosok di atas brankar itu mendadak bangkit berdiri dan melempar selimut penutupnya begitu saja.
Melihat pemandangan di depannya, Mark dengan gerakan refleks yang amat cepat kembali menarik tirai ruangan dan menguncinya rapat-rapat. Area IGD sedang cukup ramai malam itu, dan akan menjadi skandal terbesar abad ini jika ada orang yang mengambil foto sang calon pewaris tunggal Pierce Group tengah berdiri mengenakan dress orange jeruk mandarin.
"Aww... Ma, kenapa kakiku sakit? Ini kenapa diperban begini?" Sosok itu berdiri pincang, telapak kaki kirinya berdenyut hebat hingga tak mampu menapak lantai marmer. Lilitan itu bukan lagi perban milik Sora, tapi perban baru yang dibalut oleh suster setelah di bersihkan secara teliti. Pria itu terduduk kembali di tepi bangsal, matanya membelalak syok menatap pakaian yang melekat di tubuhnya sendiri. "Ehh... tunggu dulu! Kenapa aku pakai baju cewek?!"
Ia menatap kosong ke depan dengan napas memburu. Sementara Sora di sampingnya semakin ketakutan setengah mati. Sora memegang lengan Nyonya Evelyn, berniat meminta maaf dan menjelaskan alasan logis di balik keputusannya membawa anak beliau ke IGD. Nyonya Evelyn hanya menepuk-nepuk lembut punggung tangan Sora sembari mengulas senyum menenangkan.
Sora yang merasa sedikit lega berusaha menggapai tangan pria di atas bangsal untuk menenangkannya. Namun di luar dugaan, pria itu menepis keras tangan Sora bahkan sebelum kulit mereka benar-benar bersentuhan.
Masih dengan tatapan dingin yang lurus menembus dinding, pria itu meraba daun telinganya. Ia merasa ada beban aneh yang mengikat di sana. Pupil matanya melebar seketika saat jarinya meraba sepasang anting perak yang menancap manis di telinganya.
"Selain ini... apa masih ada luka lain?" tanyanya dengan nada suara yang benar-benar berbeda. Bariton, berat, dingin, dan menusuk tulang.
Sora dan Bi Muna membeku. Mengapa pria ini menanyakan luka? Luka apa yang dimaksud? Apakah semua hiasan yang menempel di tubuhnya dianggap sebagai bentuk penganiayaan?
Karena Sora maupun Bi Muna tak kunjung bersuara, pandangan dingin pria itu mengusap lurus tepat ke arah mata Sora. Detik berikutnya, Nyonya Evelyn, Mark, hingga Bi Muna ikut-ikutan menatap Sora. Mereka seolah sedang mengepung Sora untuk segera memberikan pengakuan jujur.
Gugup luar biasa, Sora tak yakin dengan apa yang harus ditunjukkannya. Dengan jari gemetar, Sora hanya bisa menunjuk ke arah area perut pria itu. Semua mata otomatis berpindah memandangi perut berbaju orange tersebut. Tak paham dengan isyarat Sora, sang Tuan Muda kembali menatap Sora sembari menaikkan sebelah alisnya tebal-tebal. Sora mengoper lirikan matanya ke kiri dan ke kanan, pasrah karena tekanan atmosfer di ruangan itu serasa ingin meremukkan tulang rusuknya.
"Itu... kemarin kau juga memasang piercing di pusar," cicit Sora pelan.
Pria itu bergegas menyingkap bagian bawah dress-nya. Dan benar saja, sebuah tindikan perak menancap mulus tepat di area pusarnya. Rahang pria itu mengeras seketika. Tangannya mengepal sangat kuat hingga meremas kain dress laknat yang dikenakannya sampai kusut.
"Ma... bawa Axcel pulang sekarang."
Nyonya Evelyn mengulas senyum tipis, lalu memberi isyarat mata pada Mark. Sang asisten pribadi dengan sigap melepas jas hitamnya dan memasangkannya ke tubuh Axcel untuk menutupi bagian atas dress tersebut. Mark lantas menghubungi Rio yang bersiap di luar untuk mengurus penghapusan seluruh riwayat pendaftaran pasien di sistem rumah sakit serta memusnahkan rekaman CCTV IGD.
Enggan menggunakan kursi roda, Mark membungkuk rendah, membiarkan Axcel naik ke punggungnya untuk digendong keluar agar kaki terluka itu tidak perlu menapak lagi. Namun sebelum tubuhnya terangkat penuh, Axcel meraih wig rambut panjang yang tergeletak di samping bangsal, lalu melempar benda itu tepat ke wajah Sora.
"Kau... namamu Sora, bukan?" tatap Axcel dengan iris mata yang tajam bagai sembilu. "Kau berutang penjelasan padaku."
Tubuh Sora seketika bergetar lemas. Ia hampir saja ambruk ke lantai jika Bi Muna tidak cepat-cepat menangkap tubuhnya. Mereka berdua sama sekali tidak memahami dinamika ajaib yang baru saja terjadi. Satu-satunya kesimpulan yang berhasil ditangkap oleh otak sederhana Sora adalah, hantu wanita gemulai itu sepertinya sudah diusir keluar, dan pemilik tubuh asli yang bernama Axcel telah mengambil alih kendali penuh.
Namun mengapa tatapan Axcel begitu penuh dengan dendam membara padanya? Apakah Axcel mengira Sora adalah dalang utama yang memprovokasi kepribadian femininnya untuk menindik tubuh dan memakai dress? Aura dingin Axcel benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari Ino yang manja dan menggemaskan. Axcel terasa teramat menakutkan.
Sora menelan ludah membayangkan bagaimana jadinya jika mereka harus bertatap muka kembali di kampus nanti. Rasanya Sora ingin menggali lubang di dasar bumi dan bersembunyi di sana selamanya. Ia yang awalnya berniat menyelamatkan penerus Pierce Group dari gangguan gaib, malah berakhir menjadi sahabat dekat dari sang "hantu". Dan kini, ketika sang pemilik tubuh telah kembali, hati Sora justru terasa hampa dan kehilangan. Tidak akan ada lagi Ino yang menari-nari menunggunya dengan dress cantik.
Di dalam mobil mewah yang melaju membelah malam, Axcel duduk bersandar dengan raut wajah amat mendung.
"Ma... tolong bantu lepas semua benda aneh ini," gumam Axcel menahan ringisan saat Nyonya Evelyn perlahan mencabut anting di telinganya. "Suruh Mark membakar baju laknat ini sampai jadi abu. Mama bagaimana sih, tumben nggak jaga Ino? Kok bisa-bisanya Ino ada di IGD bersama orang asing dengan dandanan seperti ini?"
Nyonya Evelyn menghela napas lembut, membelai rambut putra tunggalnya dengan penuh kesabaran. Beliau mulai menceritakan seluruh kronologi kejadian sesuai dengan apa yang disampaikan Sora tadi. Namun mengenai asal-usul tindikan di pusar dan telinga, Nyonya Evelyn menyarankan agar Axcel bertanya langsung pada Sora.
"Axcel, jangan langsung menuduh dan marah-marah sama Sora ya," nasihat Nyonya Evelyn lembut. "Selama tiga hari ini, justru Sora yang direpotkan setengah mati oleh Ino. Bisa saja tindikan itu memang murni keinginan Ino sendiri, karena dia baru merasakan sensasi kabur dari rumah tanpa pengawasan orang tua."
"Tapi Ma, lain kali jangan pernah berikan kebebasan pada Ino kayak gini lagi! Dia bisa merusak tubuh ku sampai hancur kalau dibiarkan!" protes Axcel keras.
Axcel lantas merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul kulit tebal yang sengaja ia siapkan untuk media komunikasi dua arah antara dirinya dan Ino. Nyonya Evelyn menatap buku itu dengan pandangan ragu. Menurutnya, metode pesan tertulis itu akan sangat sulit berhasil. Ino sudah mencicipi manisnya kebebasan di luar sana. Begitu sosok itu kembali mengambil alih raga Axcel, besar kemungkinan Ino akan kabur lagi. Dan feeling seorang ibu mengatakan, tempat pertama yang akan dituju Ino tidak lain adalah rumah Sora.
"Jadi menurut Mama, kamu harus mencari tahu semuanya lewat Sora. Bersikap baiklah pada gadis itu," lanjut Nyonya Evelyn tersenyum penuh arti. "Mama lihat Sora itu anak yang sangat tulus. Dia sama sekali tidak mengeluh menghadapi kelakuan aneh Ino. Kamu bisa memanfaatkan kedekatan Ino dan Sora untuk mengontrol pergerakan Ino ke depannya, Nak."
Nyonya Evelyn lantas mengecup kening Axcel dan melangkah keluar kamar, membiarkan putranya beristirahat menenangkan pikiran.
Keesokan harinya di area koridor kampus Pierce University.
Suasana lantai dua gedung fakultas tampak riuh. Axcel yang sudah mengenakan pakaian formal pria super rapi melangkah lebar-lebar dengan raut wajah dingin. Setelah kelasnya usai, ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melacak keberadaan Sora Kyne. Panggilan teleponnya selalu ditolak, pesan singkatnya tidak pernah dibaca, dan teman-teman seangkatan Sora mendadak bungkam seolah sedang menyembunyikan gadis itu dari radar pencariannya.
Apakah Sora ketakutan setengah mati karena ancamannya semalam di rumah sakit? Atau gadis itu sengaja menghindarinya? Berbagai spekulasi berputar di kepala Axcel, membuat tekadnya semakin membara untuk menemukan gadis berambut panjang itu hari ini juga.
Saat melintasi area taman dekat perpustakaan luar, mata tajam Axcel menangkap punggung seorang gadis yang tengah berjalan tergesa-gesa sambil menutupi kepalanya menggunakan buku tebal.
"Itu... Sora kan ya?" gumam Axcel. Ia membelalakkan mata dan langsung melangkah cepat. "Sora! Sora! Hey tunggu, aku ada perlu denganmu!"
Langkah Sora di depan sana seketika membeku. Gadis itu menoleh perlahan dengan wajah sepucat kertas, menatap sosok bertubuh jangkung yang kini sedang berjalan mendekatinya dengan tatapan mengintimidasi.
⭐⭐⭐⭐⭐
WADUH Kiravers! Mampus kau Sora! 😱 Kesadaran Axcel yang jaim sudah kembali 100 persen, dan sekarang dia memburu Sora buat minta pertanggungjawaban soal tindikan pusar dan dress orange!
Kira-kira apa yang bakal terjadi saat Axcel benar-benar menyudutkan Sora di area kampus? Apakah Sora bakal terus mengira kalau Axcel ini possessed alias kesurupan, atau Axcel bakal membongkar fakta DID (kepribadian ganda) miliknya secara langsung? Dan yang paling bikin penasaran... kapan si cantik Ino bakal bangun lagi dan bikin kerusuhan baru?!
Yuk, tumpahkan teori gokil kalian di kolom komentar sekarang! 💬👇
Jangan lupa ya Kiravers:
TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung nasib Sora dari teraman Axcel!
SIMPAN CERITA INI KE LIBRARY kalian biar tidak ketinggalan Notifikasi Bab 15!
FOLLOW PROFILKU untuk dapat update cerita paling cepat!
Terima kasih banyak sudah setia membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading, Kiravers! 🚀🔥