Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 14
Alensky berusaha sekuat tenaga menenangkan diri, berjalan keluar dari kantin menuju ke kantin lain, sepertinya apa yang dikatakan Draja ada benarnya, lebih tenang mendapat makanan di kantin belakang, tidak ada gangguan walau dengan menu yang sangat sederhana.
Terdengar suara memanggilnya, sebenarnya bukan panggilan, tapi lebih pada memberikan perintah, hal menyebalkan dan tak akan membuat Alensky menghentikan langkahnya.
"Alensky!, berhenti!"
Teriakan itu di ulang lagi, mungkin lebih tiga kali dan Alensky tidak peduli.
Sampai akhirnya, dia merasakan gerakan cepat yang akan menyambar tangannya.
Di tengah kekesalan yang menumpuk di dada, sepertinya Alensky sudah tak kuat lagi, memastikan tempat itu aman dari Cctv dan akhirnya memberikan perlawanan, kali ini tak peduli lagi jika harus melukai seseorang, peduli setan!
Tranaka terkejut, dan beruntung berhasil menangkis pukulan Alensky yang begitu tiba-tiba dan tak di duga, selanjutnya_
"Kau gila?!" Teriak Tranaka, namun tak menghentikan Alensky yang telah menyerang nya.
Gerakan yang cepat dan cukup membuat tangan Tranaka ngilu saat menahan serangan nya.
"Ini bukan tehnik bela diri biasa" batin Tranaka yang lebih waspada menghindari dan menahan serangan Alensky yang bertubi-tubi.
Sampai pada akhirnya, Alensky terpaksa berhenti saat ponselnya berbunyi.
"Ada apa, aku sedang sibuk kak!" Teriaknya kesal sekali.
"Apa yang kamu lakukan Alen, aku bisa merasakan kau mulai menggunakan tenaga dalam mu, hentikan!" Teriakan itu nyaring sekali, seketika Alensky tersadar dan mengatur nafasnya.
"Aku hanya latihan saja, katakan ke Oma jika dia menanyakannya"
"Latihan di siang bolong saat kamu ada di kampus, jangan bercanda!"
"Iya kak, aku akan berhenti!"
Ceklek!
Ponselnya di tutup begitu saja, teriakan Sera kakak sepupunya membuatnya tambah pusing.
Hanya ada tatapan tak suka sebelum Alensky berbalik dan akan melanjutkan langkahnya.
"Alen tunggu!" Tranaka tak membiarkan, lalu berlari menyusul Alensky.
"Kenapa menyerang ku?" Tanya Tranaka sambil berjalan di samping Alensky yang tak mau menghentikan langkahnya kali ini.
"Aku kesal"
"Padaku?" Tanya Tranaka tanpa dosa.
Alensky segera berhenti, lalu menoleh ke samping menatap Tranaka yang menurutnya begitu menyebalkan sekarang ini.
"Iya, aku kesal padamu, pada Meriya dan pada kalian semua!!" Teriak Alensky sekencang-kencangnya.
Tranaka sampai terkejut akan reaksi wanita yang sudah di klaim menjadi kekasihnya.
"Alen, tenanglah" ucapnya pelan.
"Kenapa kau menganggu ku, kanapa kalian begitu tidak adil padaku, aku hanya ingin menyelesaikan kuliah ku dengan tenang, tak bisakah kalian mengerti hal itu?!" Teriaknya lagi,
Untuk sesaat, terlihat sekali Alensky nampak lelah dengan semua masalah hidupnya kali ini, sudah lelah berpindah tempat kuliah di sana sini, tapi kenapa selalu saja ada masalah yang terus menghampiri.
Alensky masih terdiam, berdiri di tempatnya, tatapannya meredup setelah berteriak menumpahkan sesak di dadanya sesaat, lalu berbalik pergi dengan meninggalkan kata, "Jangan mengikuti ku lagi"
Tranaka terpaku, entah kenapa kali ini tak berani melangkahkan kaki untuk mengejar Alensky, kata-kata terakhirnya seperti sebuah sihir yang membuatnya tak bisa bergerak sama sekali, hingga bayangan Alensky hilang dari pandangan.
Bergerak perlahan, kali ini Tranaka berbalik pergi, berjalan kembali menuju tempat sebelumnya, dengan semua rasa penasaran yang ada di dalam dadanya, tentang satu orang, yaitu Alensky.
"Naka, dimana Alensky?" Tanya Vito saat melihat kedatangan Tranaka duduk di depannya.
"Dia pergi" ucap Tranaka setelah menerima pesanan makan siangnya yang sudah ada di atas meja.
Sambil menikmati makanan, Galen hanya melirik sekilas, tidak biasanya Tranaka begitu diam sambil makan, seolah pikirannya tidak sedang di tempat di mana raganya berada.
"Ada yang terjadi?" Tanya Galen pada akhirnya.
"Tidak, aku penasaran apa yang terjadi dengan makanan Alensky" ucap Tranaka.
Vito menatap Galen seketika, berharap temannya itu menjelaskan karena dia yang pertama kali berada di kantin sebelum Tranaka dan dirinya datang.
"Soal makanan aku tidak tau, tapi saat aku sampai aku mencegah Meriya yang hampir saja melayangkan tangannya"
"Dia menampar Alensky?" Tanya Viko, sementara Tranaka masih mendengarkan.
Galen menggeleng sambil menunggu makanan di mulutnya tertelan, "Tidak, aku menghentikan tangannya"
"Alensky diam saja?" Tanya Tranaka.
"Memangnya apa yang bisa dia perbuat dengan Meriya?, kalian tau sendiri bagaimana tabiat wanita yang sudah berkali-kali menang kejuaraan bela diri dengan sabuk hitamnya" jawab Galen.
"Hem, benar juga, Apalagi kau sudah menyeret Alensky dalam lingkaran masalah Meriya saat ini Naka, sebaiknya Alensky harus berhati-hati" ucap Vito
"Benar sekali, setidaknya kau harus bertanggung jawab, karena kau sudah meng klaim dia menjadi kekasih mu, jadi Alensky pantas mendapat perlindungan mu" sahut Galen.
"Bahkan kau mengatakan hal itu pada Dekan yang waktu itu memanggil kalian" ucap Vito.
"Ditambah lagi perbuatan mu padanya, apa yang terjadi di mobil hingga banyak mulut mengatakan jika kau tergoda olehnya" Galen juga rupanya masih penasaran akan kejadian yang sesungguhnya.
"Untuk itu, Alensky harus dapat perlindungan mu" ucap Vito lagi.
"Aku rasa itu tak perlu"
"APA?!"
Vito dan Galen terkejut dengan ucapan Tranaka yang tak biasa, dan memberikan tatapan tajamnya seketika.
"Kenapa dengan kalian?" Tanya Tranaka heran akan reaksi kedua temannya.
"Aku tidak pernah melihat Tranaka begitu brengsek sampai harus mempermainkan seorang wanita, dan asal kau tau, mungkin jika Alensky bertemu dengan ku lebih dulu, aku yang akan mengambilnya menjadi kekasih ku" ucap Galen ber api-api.
"Benar sekali, kau kira aku tidak berminat melakukan hal itu juga?, lihat saja pesonanya, dia bahkan tak memakai riasan apapun di wajahnya, tapi kecantikan nya_"
"Diam!"
Sahut Tranaka yang merasa gerah tiba-tiba.
"Terus?" Tanya Galen.
"Apanya yang terus?" Tanya Tranaka.
"Perlindungan mu, kalau tidak mau biar aku yang melakukannya" ucap Galen
"Aku juga, kasian Alensky" sahut Vito.
"Asal kalian tau, dia tidak butuh perlindungan kalian, dan soal statusnya, masih sama, jangan berani-berani kalian merayu atau menganggu nya, dia masih milikku" ucap Tranaka lalu meminum air dalam gelas nya dan pergi begitu saja meninggalkan Galen dan Vito.
Bukan pergi dari kantin itu, tapi menuju ke meja yang berada di seberang sana, dimana ada tiga wanita yang makan dengan santai dan sesekali tertawa.
PRANK!
Seketika makanan diatas meja berpindah tempat di lantai semua, orang-orang terkejut dan berdiri melihat apa yang terjadi.
"Apa yang kau lakukan Naka?!" Teriak Meriya tak terima, karena sebagian makanan juga berhamburan mengotori bajunya.
"Ini peringatan dariku, jangan berani mengganggu Alensky" ucapan yang pelan sekali, tapi membuat siapapun yang mendengarkan pasti tau betapa serius nya hal itu.
Sementara Vito dan Galen akhirnya bisa tersenyum puas melihat pemandangan di sana, sepertinya Wanita yang di khawatirkan sudah mutlak mendapatkan perlindungan.
Yang masih semangat, yuk lah komen yang banyak, jangan lupa LIKE, VOTE dan HADIAH nya.