Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertanam Terpatahkan
Seperti biasa, Zara akan menunggu di kantin sekolah, tempat biasa kami bertukar cerita.
Satu jus alpukat sudah tersedia di atas meja. Zara memberikan senyum sambil mengedipkan matanya padaku. Kenapa dia?
“Untuk Ibu Guru Alya, biar otaknya kembali lancar dalam merangkai kata.”
“Apaan sih, Ra, kamu ada-ada aja sih,” ujarku sambil menghempaskan tubuh di atas kursi panjang kantin. Sebelah tanganku sibuk memangku laptop.
“Dua hari kamu libur update novel bikin para pembaca pada berisik, tau, Al. Cepatlah betulkan laptopnya.”
Aku menyimpan laptop di atas meja, senyum terukir pada wajahku.
“Laptopnya sudah bagus lagi, Ra... Hari ini aku akan membombardir para readers yang sudah menunggu.”
Zara melebarkan kedua matanya, bibirnya membulat sempurna.
“Kok bisa cepat banget bagusnya? Bukannya ketimpa rak buku, ya, layarnya?” ujar Zara sambil kembali menyedot jus terong Belanda.
“Kak Revan yang bantu betulkan. Aku juga nggak minta. Tapi laptop ini tiba-tiba ada di atas nakas, dengan keadaan jauh lebih baik,” ujarku datar, sambil mencicip tahu goreng pedas milik Zara.
Binar mata Zara menyala begitu saja.
“Hemm, manis sekali kalian. Jadi kangen sama Mas Arsyad...”
Sontak aku melebarkan kelopak mata, memelototi Zara yang terus menatapku dengan tatapan penuh godaan.
“Jangan gitu, ah, Ra. Kak Revan hanya menganggap aku sebagai pasiennya saja. Tidak lebih dari itu...”
“Haha, pasien? Sumpah, ini lucu banget, Alya...” Zara tertawa ringan.
Aku hanya bisa mengernyitkan dahi melihat Zara yang masih tertawa sampai mengeluarkan air mata. Tidak tahu apa sakitnya hatiku, yang hanya dianggap pasien oleh suami sendiri.
“Maaf, Al, tapi ini lucu banget...”
“Tega banget kamu, Al....” ungkapku sambil mengerucutkan bibir, sebal dengan kondisi rumah tanggaku yang dianggap sebagai candaan oleh Zara. Mentang-mentang hubungan dia dan suaminya sudah mulai membaik.
“Aku ikut bahagia deh sama rumah tangga kamu dan Mas Arsyad-mu itu yang mulai membaik. Selamat bucin deh kalian.”
Zara masih terkekeh, sementara aku sudah mendelikkan tatapan sinis padanya.
“Al, percaya deh, Allah itu Maha Membolak-balikkan hati. Jalan Allah itu jauh lebih indah daripada apa yang kita kira.”
Aku mulai menegakkan tubuh, memandang sendu pada layar laptop yang sedang menampilkan deretan kata yang sudah aku rangkai dengan sebaik mungkin.
“Allah pemilik segalanya. Allah yang memiliki kehendak atas segala sesuatu.”
Kini tatapan Zara menatapku lembut. Hijab warna lilac-nya berkibar lembut tersapu angin.
“Contohnya, Allah sudah menuliskan tanggal pernikahanmu dengan Revan waktu itu. Itu semua tidak luput dari guratan takdir-Nya. Semuanya sudah tertulis dengan rapi, dari tanggal, waktu, bahkan harinya.”
Zara bisa saja membuat hati ini terasa tenang.
“Al, Revan memang memiliki wanita lain di hatinya, tapi ingat, kamu yang sudah ditakdirkan menjadi miliknya. Jangan berkecil hati, skenario Allah itu berjalan dengan sangat indah.”
Tidak terasa air mata ini menetes lembut, mengalir pelan membasahi pipi. Zara pun ikut berkaca-kaca saat melihatku menangis.
“Ra... kamu berkata seperti itu. Seolah menanamkan kepercayaan untukku untuk berharap lebih pada Kak Revan. Zara, ketahuilah, Kak Revan sudah memiliki kekasih. Mereka saling mencintai satu sama lain. Aku tidak mau menjadi penyebab wanita lain hatinya tersakiti karena kehadiranku sebagai orang baru.” Aku mengusap pelan air mata yang kembali turun. Bayangan Kak Revan dan Aira saat berpegangan tangan masih teringat jelas.
“Bahkan aku siap kapan saja jika Kak Revan akan melepaskanku. Mencintai bukan berarti harus memiliki. Aku tidak ingin diri ini dikuasai oleh egoku sendiri, yang mencintai seorang pria yang sudah memiliki seorang kekasih. Lancang sekali aku, Ra.”
Zara menggeleng pelan. Senyumnya kembali terbit pada wajahnya.
“Tidak ada yang salah dengan sebuah rasa. Aku salut sama kamu, Al. Kamu mencintainya, tapi kamu tidak egois.”
Zara menepuk pelan pundakku.
“Satu lagi, Al. Tidak ada yang melarang akan harapanmu. Teruslah berdoa. Kamu yang sudah ditakdirkan untuknya, itu berarti kamu yang terpilih untuknya. Bukan wanita itu...”
🌸🌸🌸
Aku melangkah pelan menelusuri setiap lantai rumah yang terbuat dari marmer yang mengilap. Siang ini aku memilih jalan yang berbeda untuk menuju kamar. Aku memilih lorong luar yang terhubung langsung dengan balkon kamar.
“Alya sudah tahu tentang hubungan kamu dengan Aira...?” Suara Bu Rahayu terdengar samar. Seketika aku menghentikan langkah.
Di balik dinding pembatas, Bu Rahayu dan Kak Revan sedang duduk berdua di dalam rumah joglo. Kak Revan tampak menundukkan wajahnya. Aku tahu pernikahan ini sangat berat baginya.
“Sampai kapan Revan harus menyembunyikannya, Ibu? Alya harus tahu hubungan aku dan Aira, agar dia tidak berharap lebih dengan pernikahan ini.” Kak Revan berkata tegas.
“Maafkan Ibu, Revan. Tapi Ibu tahu apa yang terbaik untuk kehidupanmu. Belajarlah menerima Alya di hidupmu. Dia cantik, baik. Kurang apa lagi Alya?” Bu Rahayu tetap dengan pandangannya yang lembut.
“Tidak semudah itu untuk mencintai seseorang, Ibu. Revan sudah sangat mencintai Aira. Kenapa Ibu tidak merestui hubungan kami? Apa salah Aira pada Ibu? Dia sangat baik, Ibu.”
Aku melihat Bu Rahayu yang mulai menangis. Bahunya terguncang hebat. Bukan Bu Rahayu saja yang hatinya sakit saat ini, aku pun juga.
Dari sini aku paham, cinta Kak Revan pada Aira tidaklah main-main.
“Terserah kamu, Revan. Jika kamu tidak menganggap Alya istrimu lagi, tapi Ibu akan selalu menganggapnya seorang anak. Satu lagi, Revan, jangan sampai rasa cintamu itu membutakan segalanya.”
Sampai situ, aku sudah tidak tahan. Aku kembali melangkahkan kaki menuju kamar. Kembali membenahi diri, seolah tidak mengetahui apa pun. Kembali mengurus semua keperluan Kak Revan, sampai masa baktiku selesai untuknya.
Mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah membantu membetulkan laptopku yang rusak.
Setelah melaksanakan ibadah, aku mengganti pakaianku dengan blouse berwarna soft yellow dengan celana yang berwarna senada. Merapikan rambutku dan mengikatnya sebagian.
Sampai, pintu kamar terbuka, menampilkan seorang dokter yang akan memasuki kamar bersama pasiennya.
Kak Revan, seperti biasa, tatapan kami akan beradu untuk beberapa detik sebelum akhirnya kami sama-sama memalingkan wajah.
“Kak Revan, makasih udah membetulkan laptop ku yang rusak.” Aku menghampirinya, seperti biasa mencium punggung tangannya dan mengambil tas kerjanya.
“Sekalian saja, sambil membetulkan laptop punyaku.”
Aku mengangguk.
“Mandi, lepas itu istirahat. Kak Revan tampak sangat lelah.”
“Kak, nanti malam ke rumah sakit?”
Aku melihat anggukan samar darinya. Ia yang sedang melepas kancing kemejanya kemudian melirik padaku sambil menaikkan alisnya.
“Aku mau titip ini untuk anak-anak yang kemarin memberiku hadiah. Kalau Kak Revan tidak keberatan untuk membawanya...”
“Simpan saja, nanti aku bawa.”
Aku mengangguk dengan senyum tipis pada wajah.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen, dan subscribe, ya...