Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOPENG MASA LALU DAN OBSESI DI ATAS AWAN
Malam kian merambat larut melingkupi kawasan kediaman keluarga Vardhana. Angin malam yang berhembus dingin menusuk hingga ke tulang, menggoyangkan dedaunan di taman dalam dan menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di sepanjang lorong mansion. Namun, kegelapan terpekat tidak berada di luar sana, melainkan bertengger kukuh di dalam kamar utama yang temaram.
Di ruangan berhiaskan ukiran kayu jati kuno itu, Abi Vardhana dan Umi Fatimah duduk berdampingan di tepi tempat tidur bersepuh warna keemasan. Suasana begitu hening dan menekan, hingga detik jarum jam dinding terdengar bagaikan pukulan palu yang menghantam dada. Hanya helaan napas berat dan isak tangis yang tertahan dari Umi Fatimah yang memecah kesenyapan. Wanita paruh baya itu tak sanggup lagi menahan gejolak penyesalan dan rasa sakit yang membakar jiwanya.
Abi Vardhana menatap lurus ke dinding kosong di hadapannya dengan tatapan kosong. Pikiran dan ingatannya terlempar jauh ke belasan tahun silam—terseret kembali ke sebuah malam berdarah yang menjadi akar dari segala petaka dan penderitaan dalam keluarga mereka.
"Abi..." panggil Umi Fatimah dengan suara serak, bergetar menahan tangis yang makin membuncah. Ia meremas jemari suaminya yang dingin. "Apakah benar apa yang Abi dengar di lorong tadi? Aurelia... anak yang kita rawat dengan kasih sayang penuh itu... dia masih berhubungan dengan orang tua kandungnya?"
Abi Vardhana mengangguk pelan. Setiap gerakannya terasa sangat berat. Wajah tuanya yang biasa memancarkan keagungan dan ketenangan, kini tampak begitu rapuh, keriput, dan dipenuhi rasa penyesalan serta kepahitan yang amat mendalam.
"Abi mendengar dengan telinga Abi sendiri, Ummi," ucap Abi Vardhana liris, suaranya bagaikan bisikan dari dalam jurang penyesalan. "Di lorong belakang yang gelap itu... dia memanggil seseorang di seberang telepon dengan sebutan 'Mama'. Dia mengeluh ketakutan... takut jika kita sampai tahu siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya."
Umi Fatimah langsung menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Air matanya menetes merembesi jemarinya, membasahi kain mukena yang masih mengenakan tubuhnya. "Ya Allah... Ya Rabbi... jadi selama ini... Baron dan Melissa... mereka belum meninggal?!"
Memori kelam belasan tahun lalu mendadak berputar kembali dengan sangat jelas, bagaikan gulungan film tua yang berputar brutal di dalam kepala Abi Vardhana.
Kala itu, Baron—pria yang bekerja sebagai supir pribadi dan sangat dipercaya oleh Abi—bersama istrinya, Melissa, yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di mansion mereka, datang menghadap dengan wajah memelas. Mereka meminta izin untuk menumpang mobil keluarga Vardhana yang hendak berangkat menuju luar kota. Mereka beralasan ingin menemui sahabat lama yang baru tiba di kota pelabuhan. Tak lupa, mereka juga mengajak putri kecil mereka yang masih belia dan tampak polos, Aurelia. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Abi yang berhati dermawan memperbolehkan mereka ikut serta.
Namun, bencana yang diatur secara sistematis itu terjadi di tengah perjalanan. Saat mobil melaju menyusuri tebing curam di tepi pantai yang sepi, dua mobil sedan hitam tanpa plat nomor mendadak muncul dari kegelapan dan memepet mobil mereka dengan brutal. Benturan besi yang memekakkan telinga tak terhindarkan. Mobil keluarga Vardhana terseret keras, keluar dari jalur aspal, hingga bagian depannya terdorong dan menggantung berbahaya di ujung jurang—tergantung pasrah ratusan meter di atas hempasan gelombang lautan luas.
Posisi mobil sudah miring ekstrem dan bergetar hebat. Setiap pergerakan kecil berisiko membuat kendaraan besi itu jatuh merosot ke dalam kematian. Abi dan Umi yang berada di kursi belakang berusaha keras mengimbangi bobot tubuh sembari memeluk Arumi kecil yang menangis histeris.
Di saat kritis itulah, Baron berbalik dari kursi kemudi. Ia menatap Abi dan Umi dengan raut wajah penuh pengorbanan palsu yang luar biasa meyakinkan.
"Kyai... Anda dan Umi harus selamat! Biar saya dan istri saya yang menahan posisi mobil ini dari depan. Jika mobil ini harus jatuh, biarlah kami yang tewas menghempas batu karang!" ucap Baron kala itu dengan air mata buaya, bahkan bersimpuh memohon di tengah gemetarnya bodi mobil. "Saya hanya titip satu hal, Kyai... jika kami tidak selamat, tolong angkat Aurelia sebagai anak Anda... berikan dia kehidupan yang layak..."
Saat itu, kepala Aurelia kecil berdarah akibat benturan, namun anak itu tetap dalam keadaan sadar penuh. Dalam situasi panik, mencekam, dan waktu yang sangat terdesak oleh maut, Abi dan Umi berhasil merangkak keluar dari jendela belakang yang dipecahkan, atas dorongan dari Baron dan Melissa.
Namun, tepat setelah Abi dan Umi berhasil membawa Arumi keluar dan merangkak ke area aman yang agak jauh dari bibir tebing, Aurelia tiba-tiba berteriak histeris dari dalam mobil. Pekikan suara anak itu membuat Abi dan Umi panik luar biasa. Perhatian dan fokus mereka sepenuhnya teralih untuk menenangkan Aurelia yang menjerit-jerit.
Di momen sepersekian detik saat perhatian Abi dan Umi teralihkan penuh oleh skenario Aurelia, Baron dan Melissa sebenarnya sudah berhasil merangkak keluar secara diam-diam melalui pintu depan yang terlindung dari pandangan Abi! Dengan dingin, Baron melepaskan rem tangan dan mendorong tuas transmisi, membiarkan mobil kosong itu terjun bebas menghempas batu karang dan lautan di bawah tebing.
Abi dan Umi selama belasan tahun ini hidup dalam bayang-bayang kebohongan besar. Mereka mengira Baron dan Melissa tewas secara mengenaskan demi menyelamatkan nyawa keluarga Vardhana. Rasa bersalah dan utang nyawa yang teramat besar itulah yang dimanfaatkan secara licik oleh Aurelia dan kedua orang tuanya. Anak itu sengaja berpura-pura amnesia akibat benturan kepala, memainkan peran sempurna sebagai anak yatim piatu yang malang dan trauma.
Demi menebus "utang nyawa" yang fiktif itu, Abi dan Umi tanpa sadar telah memperlakukan Aurelia bagaikan putri emas di mansion tersebut. Mereka selalu mengalah pada Aurelia, memanjakannya dengan kemewahan dan kasih sayang yang berlimpah. Sementara Arumi—putri kandung mereka sendiri yang polos dan tulus—perlahan-lahan terabaikan, dikesampingkan, dan seolah-olah menjadi sosok yang tak terlihat di dalam rumahnya sendiri.
"Kita sudah sangat zalim pada Arumi, Abi..." isak Umi Fatimah dengan dada yang bergolak penuh rasa bersalah yang membakar jiwanya. Air matanya menetes tanpa henti. "Demi anak dari penipu dan pengkhianat itu... kita menelantarkan Arumi kita sendiri. Bahkan ketika Adrian menghianati Arumi dan berpaling memilih Aurelia... Arumi menangis sendirian di dalam kamarnya tanpa pernah kita peluk dan kita pertahankan..."
Abi Vardhana mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata penyesalan yang sangat panas menetes melewati pipinya yang keriput.
"Abi yang bersalah, Ummi. Abi yang buta dan tidak waspada oleh kebohongan terencana mereka," suara Abi Vardhana bergema penuh rasa sakit dan amarah yang tertahan. "Abi yang membiarkan Arumi menderita di rumah ini. Tapi sekarang... demi Allah, Abi tidak akan biarkan Arumi terluka atau tersingkirkan lagi. Tujuh hari lagi, Arumi akan menjadi istri sah Raja Zean dan beralih ke dalam perlindungan terkuat. Dan di hari pernikahan itu pula... Abi sendiri yang akan mempreteli satu per satu topeng busuk Aurelia dan orang tua kandungnya di depan semua orang!"
Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya dari kediaman Vardhana...
Di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit berarsitektur modern yang puncaknya menembus gumpalan awan malam, ruangan penthouse bernuansa dark minimalis itu terasa begitu hening, dingin, dan menekan. Cahaya lampu ruangan disengaja redup, hanya menyisakan pendaran sinar bulan dan kilauan lampu kota yang megah dari balik kaca.
Seorang pria bertubuh jangkung, tegap, dan berwajah amat tampan namun berhawa dingin berdiri di depan dinding kaca raksasa. Pria itu mengenakan kemeja hitam bergaya kasual dengan beberapa kancing atas sengaja dibuka, menampilkan kulit putih pucat serta sebuah tato permanen berbentuk ukiran mahkota hitam berbalut duri di leher kirinya—simbol dari kegelapan yang mematikan.
Dialah Kazan Vance. Pria yang mewarisi seluruh takhta dan kekejaman dari empire mafia Marco Vance.
Jemari tegap Kazan yang berhias beberapa cincin perak berukir rumit menggenggam sebuah bingkai foto kecil berlapis emas. Di dalam foto itu, tampak sosok Arumi masa kecil yang sedang tersenyum lembut dengan mata jernihnya, mengenakan hijab putih bersih—sebuah foto rahasia yang ia peroleh dari hasil peretasan dokumen lama belasan tahun lalu.
Usapan jemari Kazan pada permukaan kaca foto itu terasa begitu halus dan penuh kelembutan yang kontras, namun sepasang mata elangnya memancarkan kilatan obsesi gila dan kepemilikan yang teramat pekat.
"Arumi..." suara Kazan mengalun rendah, serak, dan sangat mengintimidasi. Suara itu bergema tipis di dalam ruangan yang sepi.
Kazan memiringkan kepalanya sedikit, mengumbar senyuman tipis nan dingin yang sangat berbahaya. Bayangan masa lalu saat ayahnya mengikat perjanjian dengan keluarga Vardhana menari-nari di kepalanya. Bagi Kazan, Arumi bukanlah sekadar janji, melainkan satu-satunya obsesi dan piala terbesar yang harus ia miliki dalam hidupnya.
"Mereka pikir... mereka bisa menyembunyikanmu di balik kemewahan istana dan pasukan Baret Hitam milik Raja Zean..." bisik Kazan penuh gairah kegilaan yang membakar dada. "Mereka sangat bodoh, Wanitaku. Mereka lupa... sejak janji masa lalu itu diukir oleh darah ayah kita, jiwa, raga, dan seluruh napasmu sudah ditakdirkan hanya menjadi milikku. Tidak ada pria lain yang berhak menyentuhmu."
Kazan mendekatkan bingkai foto itu ke wajahnya. Ia memejamkan mata sejenak, mengecup bingkai kaca tepat di atas gambar wajah Arumi dengan lembut, sebelum akhirnya mencengkeram sudut bingkai itu begitu erat hingga jemarinya memutih.
"Tujuh hari lagi..." desis Kazan dengan sepasang mata yang mendadak menyala merah penuh dendam dan hasrat membunuh yang pekat. "Nikmatilah gaun pengantinmu, Wanitaku. tersenyumlah di hari bahagiamu itu... Karena pada hari pernikahan itu tiba... aku sendiri yang akan meruntuhkan benteng Zean, membunuh calon suamimu tepat di depan matamu, dan menyeretmu naik ke atas singgasana kegelapanku!"
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/