Rifki tak menyangka menikah dengan Nabila, mantan pacarnya. Wanita yang ingin dijauhi justru menjadi istrinya atas perjodohan dari orang tua.
Mereka menjalani rumah tangganya tanpa cinta. Rifki tetap berhubungan dengan pacarnya. Sementara Nabila sibuk bekerja. Kehadiran orang ketiga mampu memecah belah pernikahan yang terjalin.
Mampukah Rifki mempertahankan pernikahannya?
Atau ia memilih berpisah dan menikah dengan Linda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebersamaan Nabila dan Denis
Dua puluh menit Rifky dan Nabila berbicara dengan Ayun dari jarak jauh. Mereka membahas perjalanan yang akan dilakukan besok dan hari selanjutnya. Terlihat sangat begitu mesra dan romantis di depan ibunya. Bahkan, beberapa kali tangan Rifky sempat merangkul pundak mungil sang istri dengan penuh tekanan, tentunya.
''Sudah ya, Bu. Aku ngantuk.'' Rifki menarik tangannya yang mengulur di belakang punggung Nabila. Menutup mulutnya yang pura-pura menguap.
''Dasar pengantin baru, bawaannya ngantuk melulu.'' Ayun menggoda. ''Ya sudah, dilanjut itu nya, ibu matiin dulu. Da…da…'' Melambaikan tangannya, lalu menekan lencana merah.
Wajah Ayun menghilang. Layar ponsel pun kembali ke wallpaper utama menandakan sambungan terputus. Bergegas, Rifky bangkit dari ranjang. Mengibas-mengibaskan tangannya yang menyentuh Nabila, seperti orang tak suka.
''Kenapa? Badanku bau?'' bisik Nabila tiba-tiba. Entah sejak kapan berdiri di belakang Rifky, pria itu tak menyadarinya dan mengira masih bersandar di ranjang.
''Kamu sengaja ya buat ibu curiga padaku?'' tuduh Rifky sambil menyemprot bajunya dengan parfum untuk menghilangkan bekas kulit Nabila.
Begitu jijiknya hingga sedikitpun tak ingin ada bekas wanita itu di tubuhnya. Seolah ditempeli kuman yang membawa virus menular, begitu lah Nabila menyiratkan sikap suaminya itu.
''Iya, memangnya kenapa?'' Tertawa cekikikan melihat aksi panik suaminya.
Rifky menatap Nabila bengis. Meletakkan parfum dengan asal karena matanya fokus pada sang istri yang kembali duduk di tepi ranjang sembari membalut tubuhnya dengan selimut. Sengaja agar pria itu tak memakainya.
''Dasar perempuan licik, kamu. Awas ya!'' Menunjuk wajah Nabila penuh kebencian.
Kakinya melangkah mendekati dan berhenti di samping ranjang. Tangannya mengulur, menarik selimut yang dipakai Nabila lalu membuangnya ke sembarang arah.
''Malam ini kamu tidur di sofa,'' serunya kemudian.
Bukan hal yang berat bagi Nabila. Ia juga tak mau tidur seranjang dengan Rifky, takut pria itu melakukan sesuatu diluar batas. Lantas, ia turun dan berjalan menuju sofa. Membersihkan tempat yang tadi diduduki Linda menggunakan kemoceng. Ditambah meniup-niup seolah ada debu.
Kening Rifky berkerut. Bingung dengan sikap Nabila yang seolah menirukan gayanya.
''Sebenarnya aku lebih suka duduk di tempat bekas orang gila daripada pelakor. Sayang sekali di sini hanya ada satu sofa, kira-kira nular gak ya?'' ucap Nabila menohok. Melirik ke arah Rifky yang dari tadi mengawasinya.
Merebahkan tubuhnya tanpa batal. Mencoba memejamkan mata yang sebenarnya belum ngantuk. Mungkin kebanyakan minum kopi saat tadi di restoran bersama Denis.
Tidak ada tanggapan, namun dari wajahnya yang datar dipastikan pria itu marah dengan ucapan Nabila barusan.
Rasakan kamu Rifky, kamu pikir hanya kamu yang bisa menghinaku, aku pun bisa.
Malam terlewati begitu cepat. Sorot mentari dari celah jendela membangunkan Rifky yang masih tenggelam di alam mimpinya. Terasa masih kurang puas, namun ia harus tetap terbangun.
Tangannya mengulur meraba nakas, mencari ponsel yang semalam diletakkan di sana. Melihat jam yang tertera di layarnya. Ternyata sudah jam tujuh waktu setempat.
''Tumben Linda gak bangunin aku. Katanya pagi ini ngajakin jalan.'' Meletakkannya lagi di tempat semula. Mengangkat kepalanya duduk bersandar di headboard. Mengumpulkan nyawanya yang masih tercecer.
Menatap ke arah sofa yang ternyata sudah kosong. Pasti Nabila sudah pergi dari kamar, artinya wanita itu bangun lebih awal. Tak sengaja, matanya menangkap mukena dan lipatan sajadah tak jauh dari ranjang.
Tiba-tiba hatinya bergetar. Bibirnya terkunci tak mampu mengucap. Seolah ada sesuatu yang menggerakkan jiwanya. Entah sejak kapan ia melalaikan kewajibannya, sampai-sampai sekalipun tak pernah terlintas lagi di otaknya.
Ia turun dari ranjang, merapikan alat-alat sholat itu dan memasukkannya ke dalam lemari. Langkahnya terhenti di dekat jendela. Membuka tirai sepenuhnya. Berdiri di balkon menikmati udara pagi yang begitu menyejukkan dengan aroma khas sakura yang menyerbu rongga penciuman.
''Ah, kenapa kamu yang menang lagi.'' Suara dari arah bawah mampu membuat Rifky menunduk.
Suara yang sangat familiar dan beberapa hari ini sering bercekcok dengannya, Nabila.
Menatap Nabila dan seorang pria yang asyik bermain basket di lapangan samping hotel. Dilihat dari kejauhan, mereka terlihat akrab. Terlebih saat pria itu mengajari cara-cara melempar bola dengan benar.
Sebenarnya siapa dia? sejak kapan mereka kenal? Bukankah Nabila baru kemarin berada di sini? Berbagai pertanyaan muncul di benak Rifky terutama tentang hubungan mereka.
Bergegas Rifky ke kamar mandi membersihkan diri, setelah itu keluar dari kamar. Bertepatan berada di depan pintu lift. Linda pun keluar dengan tampilan yang sudah sangat cantik dan seksi.
''Kenapa kamu belum siap sih?'' omelnya mendekati Rifky yang belum sempat menekan tombol pintu lift.
''Aku kira gak jadi pergi, makanya aku belum siap.'' Rifky sedikit gelagapan.
Mengurungkan niatnya dan kembali menghampiri Linda yang tampak memanyunkan bibir, tanda kesal. Baisa, ia harus membujuk sang wanita supaya tak marah-marah.
''Kamu tunggu disini ya, aku ganti baju sebentar,'' ucapnya meyakinkan.
Hampir saja ikut masuk, Rifky menahan tubuhnya. ''Jangan masuk, nanti kita dimarahin sama Nabila,'' bohongnya.
Menutup pintunya tanpa menunggu jawaban dari Linda. Bagaimanapun juga ia harus menepati janji, takut terjadi masalah yang lebih besar, pasti wanita itu tidak akan tinggal diam dengan sikapnya.
Setibanya di lobi hotel, Rifky melihat Nabila dan pria tadi. Terlihat jelas mereka berbincang dengan jarak yang begitu dekat, bahkan seperti orang yang akan berciuman.
Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mencari kesalahan Nabila. Mengambil ponselnya dari saku celana.
Memotret Nabila dan pria tadi dari arah tersembunyi dan belakang, supaya di dalam foto mereka terlihat seperti orang yang berciuman. Memanfaatkan momen yang mungkin akan menjadi jalan ia dan wanita itu terpisah.
Tunggu saja kejutan dariku, Nabila.
Membuka pintu mobil lalu masuk. Melajukannya keluar dari hotel untuk menikmati indahnya Jepang dengan kekasih tercinta seperti yang direncanakan sebelum berangkat.
''Dua kali kita bertemu, tapi aku gak pernah melihat suamimu? Ke mana dia? Atau jangan-jangan kamu ke sini sendiri?" tanya Denis menyelidik.
Nabila tertawa alay. Otaknya berputar mencari jawaban yang tepat dan tidak mencurigakan. Denis tidak boleh tahu tentang hubungannya dan Rifky yang kurang baik.
Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya, pasti pria itu akan menertawakannya.
''Kebetulan saja dia memang gak ikut. Tadi waktu aku turun dia masih tidur, mungkin sekarang belum bangun, makanya tidak mencariku,'' jawab Nabila asal, tapi masuk akal juga.
Denis manggut-manggut mengerti. Percaya begitu saja dengan ucapan wanita di depannya itu. Dari tampangnya yang cantik dan sederhana, tidak mungkin berbicara bohong. Begitu Denis menilainya.
''Nanti siang kamu mau gak, aku ajak makan di restoran yang kemarin?'' tanya Denis serius. Ia merasa nyaman saja saat di dekat Nabila.
''Maaf, aku gak bisa,'' jawab Nabila lugas.