Shafira, seorang gadis yatim piatu ingin mengubah kehidupannya dengan mencari pekerjaan di kota. Kehidupan keras di kota banyak mengajarinya bagaimana arti sabar dan menjadi orang yang lebih baik.
Suatu hari, dia bertemu seorang anak kecil yang membawanya dalam mencari arti cinta yang sebenar. Namun, masa lalu menjadi penghalang bagi Shafira menggenggam cinta itu.
Akankah kebahagiaan yang ditawarkan Darren menjadi nyata bagi Shafira? Apakah Shafira bisa menjadi seorang ibu jika jiwa dan raganya belum bersedia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razi Maulidi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Kedatangan wanita lain
Shafira keluar dari kamarnya dengan di awasi oleh dua bodyguard tampan, walau ia merasa jenuh dengan pengawasan itu tapi ia berpura-pura saja seolah dia sedang seorang diri.
Ia duduk di taman halaman belakang. Udara segar mulai melusuri tubuhnya. Rasanya sangat adem.
"Nyonya, ini bibi buatkan minuman. Ayo, di minumlah nyonya." ucap bibi Juni dengan membawakan segelas jus dan sepiring cemilan sehat untuk Shafira.
Ia pun menerima dengan senang. Bayang bayang tampak di sana dari kejauhan. Shafira bergeming tak menghiraukan apapun itu. Tapi, setelah di pikir pikir wanita itu penasaran siapa yang berdiri di sana. Kenapa bayangan itu tampak sedang bersembunyi.
Shafira bangkit dari duduknya dan menuju ke sana. "Nyonya mau kemana?" tanya salah satu bodyguard nya.
"Rehan, apa kamu melihat bayangan di sana? Aku melihat ada seseorang di sana, ayo kita melihat lebih dekat!" jawab Shafira.
Dua bodyguard itu tampak celingak celinguk melihat Arab yang di tunjukkan Shafira.
Tanpa menunggu lama, Shafira segera ke sana dan di ikuti dua bodyguard di belakang nya.
Ia begitu terkejut melihat bayangan itu, tak asing baginya.
"Itu kan, Lina?" seru Shafira.
Shafira meminta untuk dekat lagi dan kemudian bersembunyi di balik tembok sana.
Shafira mendengar ucapan itu dengan seksama.
Shafira membekam mulutnya sendiri rasa tak percaya apa yang barusan di ucapkan Lina dengan telepon genggamnya.
"Pa, pokoknya beres. Yang penting kita jangan gegabah, urusan di sini biar aku yang urus. Itu perempuan baru celaka sedikit kan, tunggu dan lihat saja pada waktu yang tepat kita pasti akan melenyapkan nya." ucap Lina dengan suara lantang tanpa melihat kiri kanan.
Sungguh ia tak berpikir ada orang atau tidak. Jika ada orang yang mendengarkan ucapan itu bisa habis dia.
Shafira tak percaya semua itu. "Ternyata kecelakaan ini ulah Lina? Apa urusan dia dengan ku?" lirih Shafira.
Shafira baru kembali masuk ke kamar setelah Lina pergi dari sana.
Lama menunggu, akhirnya Darren pulang.
Awalnya Shafira ragu untuk bicara. Tapi ia pikir semua ini untuk keselamatan keluarganya.
"Mas, aku ingin bicara." ucap Shafira.
"Mau bicara apa sayang, ohh kamu sudah siap ya?" tebakan Darren yang tampak selalu siap menggodanya.
"Bukan itu, tadi aku melihat Lina sedang bicara dengan papanya di telepon."
Hal itu membuat Darren sedikit terkejut, tapi tetap tanpa ekspresi.
"Memangnya kenapa?" tanya Darren berpura-pura tidak tau.
"Dia yang merencanakan kecelakaan ku, dan dia juga merencanakan hal lainnya. Aku takut keluarga ini jadi ancaman. Sudah aku bilang Lina itu bukan orang baik, dan lain kali jangan biarkan Kenzo dekat dengan nya lagi." tunas Shafira dengan was was. Padahal terlihat ia sangat marah.
Tapi kok bisa ya, pria di hadapannya itu menanggapi dengan senyum senyum saja.
"Kamu dengar nggak sih ucapan ku?" tanya Shafira.
"Iya dengar, kamu baru tau itu. Kamu harus tenang. Aku tau mereka sedang menyusun rencana yang matang untuk menyerang. Aku juga sedang mengatur rencana untuk menangkap mereka semua. Lina tetap di sini. Kita cukup berpura-pura saja tidak tau apapun. Aku juga menyuruh bodyguard untuk tetap mengawasinya." jawab Darren dengan memeluk wanitanya supaya ia tenang.
"Bagaimana lukamu?" tanya Darren lagi.
"Aku sudah membaik, masih terasa sakit sih." jawabnya dengan jujur.
"Kamu tau, aku tidak bisa menunggu dalam waktu yang sangat lama. Beri aku sekali saja. Aku janji aku akan pelan." ucap Darren.
Ia sengaja mempererat kan memeluknya. Tapi wanita itu berusaha melepaskan pelukan itu. Tapi ia tak cukup kuat untuk mendorong tubuh kekar itu, tubuh Shafira masih sangat lemas saat ini.
"Maaf, aku masih belum bisa. Lagipula luka perutku masih belum sembuh. Tunggu sembuh luka ini dulu ya," jawab Shafira yang kembali memeluknya.
Darren merasa hangat dalam pelukan wanitanya, rasanya enggan ia melepaskan genggaman dan pelukan itu. Harum mewangi tubuh istrinya membuat ia tak tahan. Tangan mulai meraba seluruh tubuh Shafira.
Anehnya, kali ini wanita itu tersenyum saja melihat aksi suaminya yang mencoba menggodanya dengan caranya sendiri.
"Jangan dulu, tangan ini harus diam dan menunggu. Jika tidak, maka berpelukan pun tidak di izinkan lagi." tekan Shafira.
"Tidak ada yang bisa melarang aku memeluk wanita ku. Dan aku bisa bebas melakukan apa saja pada wanita ku." jawab Darren.
Ia mencium leher jenjang Shafira dengan lembut penuh mesra.
Rasa birahinya makin meningkat, dan ia sudah tak mampu menahannya lagi.
"Sial!" umpatnya dalam hati.
Di sisi lain, di bawah sana ada suara ketukan pintu.
Padahal hari sudah sore. Siapa yang bertamu ya?
Bibi Juni membuka pintu, "ehh non. Cari siapa ya?" tanya bibi Juni.
"Saya cari mas Darren, apa dia ada di rumah bi." jawab gadis itu dengan lantang.
"Ada, tapi Tuan sedang di kamarnya. Mari masuk dulu, biar saya panggilkan Tuan."
Wanita itu mengangguk dan melangkah masuk.
Bibi memanggil tuannya, ia mengatakan kalau ada tamu yang mencarinya di bawah.
Tak lama Darren pun turun bersama bibi. "Sayang..." seru wanita itu sembari berlari kecil memeluk Darren.
Darren tak suka itu, ia menepis pelukan wanita itu.
"Kenapa kau datang ke sini? Apa aku memintamu datang, dengar! Aku tidak pernah memintamu datang, aku juga tidak punya hubungan dengan mu." seru Darren dengan suara meninggi.
"Hah. Sekarang kamu bilang begitu. Dulu kamu selalu mencari kepuasan dengan wanita wanita di bar. Darren, kamu tau aku sangat mencintaimu. Aku rela berbagi tubuhku untukmu." jawab wanita itu kembali.
"Keluar kamu dari rumahku! Berani kamu masuk dan bicara seenaknya." bentak Darren dengan suara meninggi.
"Ada apa denganmu sayang? Dulu kamu selalu puas dengan ku, apa sekarang kamu tidak tertarik lagi dengan tubuhku yang indah ini. Apa sekarang karena sudah ada yang menggantikan ku? Siapa dia?" wanita itu mana peduli dengan bentakan pria seperti Darren. Mungkin karena wanita itu sudah terbiasa bersama Darren.
"Cih! Kamu yang selalu menjual tubuhmu untuk uang, kamu bilang kamu masih cantik. Cih! Mana sudi aku dekat dengan mu."
"Jadi benar nih kamu tidak tertarik lagi. Kamu lihat ini sayang, tubuh ini sudah lama tak di sentuh olehmu." wanita itu tetap saja pada keinginannya. Dia terus mendekat dengan Darren dan mulai membuka sedikit baju atasannya.
Tapi Darren malah membuang muka. Ia merasa jijik melihat tubuh wanita itu.
Sekali lagi bentakan, wanita itu berhasil di usir keluar dari rumah itu.
Entah kenapa, sakit rasanya saat ia melihat semua itu. Shafira berdiri di depan pintu kamarnya. Ia melihat dengan tidak tau malu wanita itu mendekat dengan Darren. Wanita itu gila. Wanita itu tidak tau malu. Dia menjual dirinya untuk uang. Pikirnya.
Ia merasa tak percaya dengan semua ucapan wanita itu. Ia merasa Darren tidak mungkin seperti itu.
Hari sudah malam, semua anggota keluarga berkumpul makan malam. Shafira juga ikut duduk di sana. Ia mengambil piring dan mulai menaruh nasib dan lauk untuk Darren. Wanita itu hanya diam saja.
Setelah itu ia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Darren terus saja menatap wanita di sampingnya. Ia takut jika Shafira melihat dan mendengar semua itu.
Setelah makan, Shafira kembali ke kamarnya. Ia duduk di balkon dengan ponsel di tangannya. Ia duduk dan mendengarkan musik.
"Kenapa kamu diam saja? Ada apa?" tanya Darren.
"Tidak ada." jawab Shafira ketus.
"Nggak mungkin. Katakan, ada apa?" tanya Darren lagi.
"Siapa dia, yang datang tadi ke sini tadi sore."
"kamu cemburu?" pria itu bukannya menjawab tapi malah bertanya balik.
"tidak." jawab Shafira datar dan singkat.
maaf ya bestiee, baru bisa update. maaf membuat kalian menunggu.. aku cinta kalian 🥰🥰