Aku hanyalah manusia biasa yang bisa merindu mu didalam diam ku. Lalu aku menghapus setiap air mata yang terus menetes di wajah ku.
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Karya ke 2 dari saya, semoga kalian suka...
Happy reading ya... Mmuuacchhh... 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rengsi Hutagaol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 " Rencana Pergi "
Diam - diam, Dante selalu menemui mama nya. Terkadang mereka bertemu di resto favorite mereka. Keadaan mama Dante semakin membaik. Mama nya pun kini sudah mulai mau makan. Tubuhnya semakin berisi. Melihat perkembangan mamanya, Dante sangat bahagia sekali. Itu artinya, ia telah siap meninggalkan seluruh keluarganya.
Malam itu, Dante sibuk mempersiapkan semua berkas - berkas yang akan di bawanya ke Amerika. Dante belum mengabari Elsa mengenai niat nya pergi kesana.Selesai berbenah, Dante menemui Elsa.
" Kamu uda makan belum? " tanya Dante.
Elsa menggelengkan kepalanya.
" Gimana kalau kita cari makan? "
" Aku uda masak lho, pak ! "
" Masak apa? "
" Ikan pindang pedas, pak. Satria yang minta. "
" Oh gitu. Hhmm, boleh ga aku cicipi, dikiiiit aja! "
" Hahaha, ya boleh lah, pak. Ntar aku ambilin dulu ya, pak! "
Elsa mengambil makanan itu dan membawanya untuk di hidangkan.
" Nih, pak! "
Dante mengambil nya dan mencoba mencicipinya.
" Gimana, pak? "
" Hhmmm, enaakkk banget. Kamu itu pintar banget sih masak! "
" Hehehe, ga pintar, pak. Tapi ya dikit - dikit sih, "
" Pasti ibu kamu dulu pintar masak ya! "
" Ia, kata bude , ibu aku itu emang pintar masak. "
" Oh ya, mama perna tuh cari catering , karena minggu depan ada acara dirumah. Ulang tahun pernikahan mereka. Kamu mau ga? ya itung - itung nambah uang saku kamu! ".
" Bapak ga salah ngasih pekerjaan ini sama aku? "
" Salah gimana? "
" Pak, emang bapak ga ingat, aku itu kan uda pernah ketemu sama orang tua bapak . Apa kata mereka nanti, kalau keluarga bapak tahu, aku itu perempuan yang pernah bapak aja bohong. "
" Uhuk... uhuk.. uhuk.. " Dante tersedak makanan itu.
" Minum dulu to, pak! "
Dante menganggukkan kepala nya.
" Lagian mana mungkin pak, keluarga bapak mau makan, makanan seperti ini. Biasanya orang kaya itu kan, makanan nya mewah. Lah, aku hanya bisa masak, makanan kampung seperti ini! "
" Justru orang kota itu suka makan makanan seperti ini. "
" Itu kan kata bapak. "
" Kamu ga mau cari kerja lain? "
" Seperti nya aku uda betah jualan pak, hehehe! "
" Kamu ga mau seperti Satria. Kerja sambil kuliah! "
Elsa terdiam.
" Sa, siapa tahu kamu itu setelah kuliah, punya rejeki yang lebih bagus lagi. Kamu lihat Satria, dia bekerja sambil kuliah. Bisa kan? malah semuanya berjalan dengan baik. Nilai nya juga bagus. Apa kamu ga pengen seperti Satria? "
Elsa masih saja diam.
" Siapa tahu kelak, kamu bisa jadi manager, ya ga? "
Elsa tersenyum. Ia mencoba menahan air matanya.
" Sa, kamu kenapa? "
" Ga kenapa - napa, pak. "
" Maaf ya, kalau aku uda buat kamu sedih! "
" Ia pak, ndak apa - apa kok! "
" Oh ya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Bulan depan, aku akan pergi! "
" Pergi kemana, pak? "
" Aku akan pergi ke Amerika. Aku akan bekerja disana. Ada teman yang nawari . Aku akan coba. Ya, itung - itung ngumpulin modal, biar perusahaan aku bisa kembali lagi. "
Mendengar ucapan Dante, Elsa merasa sedih. Bagaimana tidak, Elsa mulai menyimpan rasa pada Dante. Pria itu berhasil membuat nya nyaman.
" Berapa lama bapak disana? "
" Belum tahu, ya sampai modal ku terkumpul dan perusahaan ku bisa kembali lagi. Kenapa? kamu sedih ya? "
Elsa hanya bisa diam dan menunduk.
" Bapak pasti nanti lupa sama kita - kita disini! "
" Ya ga lah. Aku akan ingat semua pengorbanan kalian, Elsa dan Satria itu uda banyak menolong aku. Kamu juga baik - baik disini, jaga diri ya. Paling penting ni, kalau mau nikah, undang - undang ya, hehehe! "
" Nikah? astaga bapak, hahaha! "
" Emang kamu ga mau nikah? "
" Belum lah pak. Jodohnya aja ga ada. "
" Ya di cari dong. Makanya kamu sesekali keluar, jalan gitu. Biar nemu cowok idaman kamu. "
Elsa hanya bisa tersenyum
" Tapi aku berharap sih, kamu itu bisa sukses, bisa kuliah , biar punya pekerjaan yang menetap. "
Elsa menangis.
" Sa, kamu kenapa? kamu nangis? "
" Aku mau cari ibu ku dulu, pak! "
" Kamu mau cari kemana? "
" Kemana aja, aku kangen. Dari kecil aku ga pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. "
" Kamu yang sabar ya! "
Elsa menganggukkan kepalanya.
****
Niat baik Dante pergi ke Amerika pun diketahui papa Dante. Papa Dante merasa senang, akhirnya anaknya itu jauh dari Elsa.
" Itu artinya, Dante ga akan pernah lagi bersama wanita jalang itu, papa senang akhirnya Dante pergi jauh. "
" Pa, papa ga boleh ngomong gitu. Elsa itu wanita baik - baik. " bela Nania
" Kalau dia wanita baik - baik, ga akan pernah mau di goda laki - laki. "
" Sudahlah, lupakan semua yang telah terjadi. Sekarang kita dukung Dante, supaya dia sukses disana dan perusahaannya bisa kembali padanya. "
" Papa akan mendukungnya. "
****
Pagi itu Elsa tidak bersemangat untuk pergi berjualan. Elsa masih kepikiran Dante. Dante akan pergi selamanya, dan akan melupakannya.
Elsa menceritakan semua ini pada Satria. Satria juga merasa sedih. Padahal mereka sudah sangat dekat dengan mantan bos nya itu.
" Pak Dante akan pergi, kamu juga bakalan pergi kan, Tri? "
" Aku mau pergi kemana? "
" Lah, kalau kamu uda tamat kuliah, pasti kamu akan pergi juga! "
" Tapi aku uda betah di kota ini. "
Elsa pun menangis.
" Kamu kenapa nangis? "
" Hidup ku sungguh malang, Tri! "
" Apel malang kali, hahaha...! "
" Kamu apa'an sih? "
" Kamu kenapa nangis? "
" Aku uda filling, orang - orang terdekat ku, semua akan pergi. Orang tua ku juga begitu. Huffttt... sedih tahu, "
" Aku ga akan ninggalin kamu. Kita akan sama - sama cari ibu kamu, kamu harus ketemu orang tua mu. "
" Kamu serius mau membantu aku?"
" Ia, aku serius. Di kota ini, aku hanya punya kamu, Sa. Kita sama - sama anak perantau, jadi kita harus tolong - menolong. Aku tahu, hidup di rantau tanpa keluarga itu sakit banget. Sa, kamu harus kuat ya, jangan sedih terus! "
Elsa menganggukkan kepalanya.
Pagi itu Dante sangat sibuk mengurus beberapa dokumen nya ke kantor Imigrasi setempat. Hingga Dante pun lupa untuk sarapan pagi nya. Padahal Elsa sudah menyiapkannya.
Tanpa di sengaja, Dante dan Anisa bertemu di kantor yang sama. Anisa mengurus dokumen, karena ia akan pergi liburan bersama keluarga besarnya.
" Mas Dante! " sapa Anisa.
Dante menoleh ke arah suara. Dante berusaha menghindar dari Anisa.
" Mas, apa kabarnya? kamu kemana aja selama ini? "
" Itu bukan urusan mu, "
" Kita berteman dari kecil, aku bisa lihat raut wajah mu, kalau kamu ada masalah. Cerita dong, gimana sekarang kamu. "
" Urusan ku, adalah urusan ku. Bukan urusan mu. Jadi stop kepo mengenai hidup ku. "
" Aku kepo karena aku sayang sama kamu, "
" Tapi aku ga, "
" Karena kamu ga pernah mau mencoba nya. Kalau kamu mau mencobanya, kita pasti bahagia. "
Dante terdiam.
" Kamu mikir ga sih mas, keadaan orang tua mu gimana. Mereka semakin tua. Mereka itu butuh kebahagiaan. Kamu tahu, kebahagiaan mereka itu hanya bisa melihat anak - anak mereka itu menikah trus hidup bahagia. "
" Menikah belum tentu membuat orang bisa bahagia. Kamu salah, Anisa! "
" Kamu emang egois. Dulu kamu menyetujui kalau kita hidup bersama. Sekarang? kamu uda beda. Mungkin karena kamu uda sukses. Tapi apa yang kamu dapat sekarang? kamu kehilangan segalanya kan? "
Dante langsung pergi meninggalkan Anisa.