Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Tidak Seharusnya Ditemukan
Alya bangun di kamar tamu rumah Raze. Selimut tebal yang jauh lebih lembut dari yang pernah dia rasakan di kosnya sendiri. Untuk sesaat, sebelum ingatannya semalam sepenuhnya kembali, dia lupa bahwa dunia di luar kamar ini penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. Semalam, setelah pengakuan di kantornya, Raze memintanya untuk tidak pulang sendirian larut malam. Seperti biasa, Alya tidak punya cukup alasan untuk menolak.
Kamar itu sendiri sederhana untuk ukuran rumah sebesar itu. Dinding putih polos, satu lukisan abstrak yang tidak mencolok, dan jendela besar yang menghadap taman belakang, jauh dari kesan mewah berlebihan yang Alya bayangkan sebelumnya. Dia duduk sebentar di tepi kasur, meraba seprei yang lembut, bertanya-tanya berapa banyak malam pria itu tidur sendirian di rumah sebesar ini sebelum akhirnya mengizinkan seseorang menempati kamar tamunya.
Aroma kopi dan roti panggang menuntunnya ke dapur. Dia menemukan Raze berdiri di sana, dengan lengan kemeja digulung, rambutnya masih sedikit berantakan tanpa gel yang biasa merapikannya, memasak telur dengan konsentrasi yang sama seperti saat dia melakukan operasi jantung. Presisi, tanpa terburu-buru, seolah bahkan telur dadar pun harus sempurna di tangannya.
"Kamu bisa masak?" Alya bertanya, geli, bersandar di ambang pintu dapur.
"Aku bisa telur dan roti panggang," katanya, tanpa menoleh. "Jangan berharap lebih dari itu."
"Bisa mengelola sepuluh perusahaan dengan sangat perfect, tapi nggak bisa masak nasi goreng?" Alya menggoda, melangkah masuk ke dapur.
"Ada koki untuk itu," Raze menjawab, serius, dan Alya tertawa lagi sembari menggelengkan kepala mendengar betapa literalnya jawaban itu. Seolah konsep memasak sendiri adalah sesuatu yang benar-benar asing baginya.
Dia menyeberangi dapur, berdiri di belakangnya, lengannya melingkari pinggangnya dari belakang, dagunya bertumpu di bahunya, mengintip apa yang sedang dia masak. Raze berhenti sejenak, membiarkan kehangatan itu menjalar, sebelum melanjutkan memasak dengan satu tangan. Tangan yang lain turun menggenggam tangan Alya yang melingkar di perutnya.
"Aku suka ini," Alya berbisik, hidungnya menyusuri lehernya. "Pagi kayak gini."
"Aku bisa memberimu setiap pagi seperti ini," katanya, suaranya rendah, penuh janji yang belum sepenuhnya dia ucapkan lengkap. "Kamu cuma perlu memilihnya."
Alya tidak menjawab, memilih untuk menikmati momen itu tanpa harus membebaninya dengan keputusan besar pagi itu. Raze, seolah memahami, tidak mendesaknya lebih jauh, hanya membalikkan badan sejenak untuk mengecup dahinya sebelum kembali fokus pada telur yang hampir gosong.
"Gosong," Alya menunjuk panci dengan dagu, tertawa kecil.
"Aku bilang aku bisa masak telur. Aku tidak bilang aku bisa masak telur yang enak," Raze menjawab, dengan nada seserius mungkin. Mendengar jawaban dari Raze, Alya tertawa lebih keras, suara yang membuat sudut bibirnya sendiri ikut terangkat. Ekspresi langka yang jarang sekali muncul di hadapan siapa pun selain gadis ini.
Mereka duduk berdampingan di meja dapur, lutut saling bersentuhan di bawah meja, dan sesekali Raze mengulurkan tangan untuk membetulkan rambut Alya yang jatuh ke dahinya. Gestur kecil yang sudah menjadi kebiasaan tanpa perlu dia sadari lagi.
"Kalau setiap pagi kayak gini," Alya berkata, menyandarkan kepalanya sebentar ke bahunya, "aku ngerti kenapa orang mau ngelakuin apa aja buat mempertahankannya."
"Aku senang mendengarnya," Raze berkata, mengecup puncak kepalanya. "Karena aku juga akan melakukan apa saja untuk mempertahankan ini."
Kalimat itu terdengar manis di telinga Alya pagi itu, tanpa dia sadari betapa harfiahnya makna yang tersimpan di baliknya. Beberapa jam kemudian, di ruang konsultasi yang dingin, dia akan mengerti persis apa yang dimaksud pria itu dengan "apa saja".
Sarapan mereka berlangsung tenang, diselingi obrolan ringan tentang jadwal hari itu, tentang rencana kecil yang belum sepenuhnya berani mereka sebut sebagai masa depan, sampai ponsel Alya bergetar di atas meja, layar menampilkan nama Bayu.
"Alya, aku nemuin buktinya," suara Bayu terdengar tegang begitu dia menjawab, tanpa basa-basi. "Perusahaan yang narik investasi dari proyekku, itu anak perusahaan Aldevar Group. Semua dokumennya jelas, cuma disembunyiin di balik nama lain."
Alya merasakan darahnya mengalir dingin.Matanya sekilas melirik ke arah Raze yang sedang menyesap kopinya. Tenang seolah tidak tahu apa-apa, meski Alya sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu ketenangan itu sendiri adalah topeng.
"Kak, tunggu dulu, jangan buru-buru—"
"Aku udah di depan rumah sakit," Bayu memotong, suaranya tegas, keputusannya sudah bulat. "Aku mau ketemu dia langsung. Aku pantas dapet jawaban, Alya, bukan cuma dugaan."
Panggilan terputus sebelum Alya sempat membalas, dan dia berdiri cepat, jantungnya berdegup panik. "Bayu tahu, Raze. Dia lagi ke rumah sakit sekarang."
Untuk sesaat, wajah Raze tidak menunjukkan apa pun, hanya kilatan singkat di matanya yang bisa jadi kekhawatiran, bisa jadi justru kepuasan yang tersembunyi rapi. "Kalau begitu," katanya, meletakkan cangkirnya perlahan, "sebaiknya kita berangkat sekarang."
Di dalam mobil, Alya duduk tegang, tangannya meremas ujung roknya sendiri. "Raze, tolong, apa pun yang dia bilang nanti, jangan bikin lebih runyam. Dia orang baik. Dia nggak pantas diperlakukan kayak musuh."
"Aku tidak akan mencari masalah dengannya, Alya," Raze menjawab, matanya tetap ke jalan. Satu tangan terulur menggenggam tangannya yang gemetar di pangkuan. "Tapi aku juga tidak akan berpura-pura bersalah untuk sesuatu yang aku yakini sudah kulakukan demi alasan yang benar."
"Alasan yang benar bukan berarti caranya juga benar," Alya berkata, suaranya penuh kekhawatiran yang tidak bisa dia sembunyikan.
Raze tidak menjawab, hanya meremas tangannya sekali, lebih erat, dan keheningan yang mengikuti terasa jauh lebih berat daripada macet pagi yang mereka lalui menuju rumah sakit.
Bayu sudah menunggu di lobi rumah sakit ketika mereka tiba. Wajahnya merah menahan amarah yang jelas sudah lama membara, map berisi dokumen di tangannya digenggam erat hingga kertasnya sedikit kusut.
"Dokter Raze," katanya, suaranya keras, cukup untuk membuat beberapa perawat di sekitar lobi menoleh. "Kita perlu bicara. Sekarang."
"Tentu," Raze menjawab, tenang, mengarahkan mereka ke ruang konsultasi kosong terdekat. Gerakannya begitu terkendali hingga terasa hampir mengejek di tengah amarah Bayu yang jelas terlihat.
Begitu pintu tertutup, Bayu melemparkan map itu ke meja. Dokumen-dokumen tumpah keluar, garis-garis yang ditandai spidol merah menghubungkan nama perusahaan yang menarik investasinya dengan struktur kepemilikan Aldevar Group.
"Jelasin ini," Bayu berkata, suaranya bergetar menahan amarah. "Jelasin kenapa perusahaan yang narik semua investasi dari proyekku, ternyata punya kamu."
Raze memandangi dokumen itu sekilas, tidak terkejut sedikit pun, seolah sudah lama tahu hari ini akan datang. "Keputusan bisnis," katanya, singkat. "Investasi ditarik karena proyeksi keuntungannya tidak lagi sesuai dengan portofolio kami."
"Bohong," Bayu menggeram, mendekat selangkah. "Semuanya masih lancar sampai tiba-tiba mundur, tepat setelah kamu mulai deket sama tunanganku. Kamu pikir aku bego, Dok? Kamu sengaja jatuhin proyekku, biar aku sibuk, biar aku jauh, biar kamu punya waktu lebih banyak sama Alya."
"Itu tuduhan yang berat, Bayu," Raze berkata, tenang, tangannya terlipat di depan dada. "Kau punya bukti konkret, atau cuma garis-garis merah di atas kertas yang bisa berarti apa saja?"
"Aku punya cukup," Bayu menjawab, menunjuk salah satu halaman dokumen. "Tanggal penandatanganan penarikan investasi, sehari setelah kamu manggil Alya buat ketemu 'pasien VIP' yang katanya nggak pernah ada. Kebetulan yang terlalu rapi buat disebut kebetulan."
Untuk sesaat, keheningan menggantung berat di ruangan itu, dan Alya menahan napas, menunggu bantahan yang tidak kunjung datang.
"Kalau aku bilang iya," Raze akhirnya berkata, suaranya begitu tenang hingga terasa lebih mengerikan daripada teriakan sekalipun, "apa yang akan kamu lakukan?"
Pengakuan setengah jujur itu jatuh seperti bom di tengah ruangan, dan Bayu mundur selangkah, wajahnya campuran antara syok dan kemarahan yang meledak. "Kamu... kamu beneran ngaku?"
"Aku tidak akan meminta maaf untuk sesuatu yang aku yakini benar," Raze berkata, matanya tidak berkedip. "Aku menginginkan Alya jauh sebelum kau bahkan menjadi masalah yang perlu kupikirkan. Kau hanya kebetulan berdiri di jalan yang sudah lama kutentukan."
"Kamu gila," Bayu berbisik, suaranya bergetar, matanya beralih ke Alya yang berdiri kaku di sudut ruangan. "Alya, kamu denger ini? Dia baru aja ngaku ngancurin karier aku demi... demi apa? Demi kamu?"
"Aku nggak tahu soal ini, Kak," Alya berkata, suaranya pecah, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. "Aku sumpah, aku nggak tahu."
"Kamu pikir aku akan diam aja?" Bayu berkata, berbalik menghadap Raze lagi, suaranya kembali keras. "Aku bakal bawa ini ke pengacara. Ke media. Biar semua orang tahu, orang sebaik apa yang selama ini dielu-elukan jadi pahlawan di kota ini."
"Pikirkan baik-baik sebelum melangkah lebih jauh, Bayu," Raze berkata, suaranya turun jadi bisikan yang jauh lebih dingin daripada teriakan mana pun. Langkahnya mendekat satu tapak, cukup untuk membuat Bayu secara refleks mundur meski dia berusaha tidak menunjukkannya. "Aku punya lebih banyak pengacara daripada yang bisa kau bayar seumur hidupmu, dan lebih banyak koneksi di media daripada yang bisa kau bayangkan. Tapi lebih dari itu, pikirkan baik-baik, apa benar kau ingin membuka perang dengan orang yang tahu persis di mana orang tuamu tinggal, di mana adikmu kuliah, dan berapa banyak utang toko kelontong keluargamu yang belum lunas."
Ancaman itu, diucapkan dengan nada sehalus itu, terasa jauh lebih menakutkan daripada jika diteriakkan. Seketika bayu diam membeku, wajahnya pucat, menyadari untuk pertama kalinya betapa dalam dan luasnya kekuasaan pria yang berdiri di depannya.
"Kamu ngancem keluarga aku?" suaranya nyaris tidak terdengar.
"Aku hanya menyatakan fakta," Raze menjawab, kembali ke nada tenangnya, seolah baru saja tidak mengucapkan sesuatu yang mengerikan. "Apa yang kau lakukan dengan fakta itu, sepenuhnya pilihanmu."
"Raze, hentikan," Alya akhirnya bersuara, langkahnya maju di antara mereka berdua, matanya penuh air mata dan kemarahan yang bercampur jadi satu. "Ini udah keterlaluan. Dia bukan musuhmu yang perlu dihancurkan."
"Dia mengancam membawa ini ke publik, Alya," Raze menjawab, menoleh kepadanya, suaranya melunak sedikit meski masih dingin. "Aku hanya melindungi apa yang perlu dilindungi."
"Dengan ngancem keluarganya?" Alya berkata, suaranya bergetar. "Itu bukan perlindungan, Raze. Itu teror."
Untuk sesaat, sesuatu di wajah Raze goyah, seolah kata-kata Alya menembus lapisan yang jarang sekali ditembus siapa pun, tapi dia tidak menarik kembali ucapannya. Hanya diam, rahangnya mengeras menahan entah apa yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.
Bayu keluar dari ruangan itu tanpa kata-kata lagi, wajahnya putih pucat, dan Alya berlari mengejarnya, menarik lengannya di lorong yang mulai ramai.
"Kak, tunggu—"
"Aku nggak apa-apa, Alya," katanya, meski suaranya jelas menunjukkan sebaliknya, tangannya gemetar saat mengambil kunci motornya. "Aku cuma... aku butuh waktu buat mikir langkah selanjutnya. Orang itu bukan cuma dokter kaya biasa. Dia sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah aku bayangkan."
"Aku minta maaf, Kak. Aku beneran nggak tahu dia bakal sejauh ini," Alya berkata, air matanya masih mengalir.
"Aku tahu," Bayu berkata, pelan, menatapnya sekali lagi sebelum menaiki motornya. "Tapi sekarang aku juga tahu, kamu jatuh cinta sama orang yang bahkan nggak akan ragu ngancem keluargaku demi dapetin kamu. Pikirin itu baik-baik, Alya. Buat dirimu sendiri."
"Kamu masih mau lapor ke media?" Alya bertanya, suaranya kecil, takut mendengar jawabannya.
"Aku nggak tahu lagi," Bayu menjawab jujur, menghela napas panjang. "Kalau aku nekat, keluargaku yang kena. Kalau aku diam, dia menang. Aku butuh mikir, Alya. Beneran butuh mikir."
Dia pergi tanpa menunggu jawaban. Motornya menghilang di ujung jalan, dan Alya berdiri sendirian di tempat parkir. Dadanya sesak oleh terlalu banyak perasaan yang bertabrakan sekaligus. Rasa bersalah, ketakutan, dan sesuatu yang jauh lebih rumit, kekhawatiran yang tumbuh untuk seseorang yang baru saja dia saksikan mengucapkan ancaman paling mengerikan yang pernah dia dengar seumur hidupnya.
Wulan menemukannya masih berdiri mematung di tempat parkir sepuluh menit kemudian, dan tanpa bertanya apa-apa, dia menuntunnya duduk di bangku taman terdekat.
"Aku denger sedikit dari perawat yang lewat," Wulan berkata, hati-hati. "Katanya ada keributan di ruang konsultasi tadi."
"Dia ngancem keluarga Bayu, Lan," Alya berbisik, suaranya masih gemetar. "Di depan aku. Nggak ada rasa bersalah sama sekali di wajahnya."
Wulan terdiam lama, memilih kata-katanya dengan hati-hati sebelum akhirnya berkata, "Aku pernah bilang, orang kayak dia nggak akan biarin apa pun ngalangin rencananya. Sekarang kamu udah liat sendiri, seberapa jauh dia rela pergi."
"Aku harus gimana, Lan?"
"Itu pertanyaan yang cuma kamu yang bisa jawab, Al," Wulan berkata, menggenggam tangannya sekali. "Tapi kalau kamu tanya pendapatku, orang yang bisa ngancem seenak itu, cepat atau lambat, ancaman itu bisa aja diarahin ke kamu juga, begitu dia ngerasa kamu jadi penghalang, bukan cuma pemenang."
Kalimat itu menempel dingin di dada Alya, dan dia tidak punya jawaban untuk membantahnya.
"Tapi di sisi lain," Wulan melanjutkan, lebih pelan, seolah ragu apakah harus mengatakan ini, "aku juga liat cara dia natap kamu, Al. Itu bukan tatapan orang yang main-main. Aku cuma nggak tahu, apa cinta kayak gitu? yang siap ngancurin siapa pun buat melindunginya. Itu jenis cinta yang bisa bikin orang selamat, atau jenis yang pelan-pelan nguburnya."
Alya tidak punya jawaban untuk itu juga. Mereka duduk dalam diam, membiarkan pertanyaan itu menggantung tanpa penyelesaian. Seperti kebanyakan pertanyaan lain yang menumpuk sejak beberapa minggu terakhir.
Di lantai dua puluh dua, malam itu, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang lebih tegas dari biasanya, tanpa keraguan sedikit pun.
♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡
Dia akhirnya tahu. Lebih cepat dari yang kuperkirakan, tapi tidak masalah, aku sudah lama siap untuk hari ini.
Aku mengancam keluarganya. Aku tidak menyesal. Ada garis yang tidak boleh dilewati siapa pun yang mencoba merenggut apa yang sudah kuputuskan menjadi milikku, dan pria itu baru saja mendekati garis itu terlalu dekat.
Alya menyebutnya teror. Mungkin dia benar. Aku tidak pernah mengklaim diriku sebagai sesuatu yang lain selain itu. Meski aku berharap dia bisa terus memilih mengabaikan bagian itu demi bagian dariku yang membawakannya sarapan setiap pagi.
Alya melihatku mengucapkannya. Aku melihat sesuatu retak di matanya. Bukan cinta yang hilang, tapi ilusi bahwa monster ini punya batas. Aku hanya berharap keretakan itu tidak cukup lebar untuk membuatnya pergi, karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak yakin sanggup kehilangan sesuatu yang sudah kuperjuangkan sejauh ini.
Pria itu akan butuh waktu untuk memutuskan langkahnya. Aku akan menggunakan waktu itu untuk memastikan, apa pun yang dia putuskan, tidak akan pernah cukup untuk mengubah keadaan yang sudah kususun.
♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡♡。·˚˚· ·˚˚·。♡
Ada batas yang, begitu dilewati, mengubah cara seseorang dicintai menjadi cara seseorang ditakuti. Dan yang paling menyedihkan bukanlah batas itu sendiri, melainkan menyadari bahwa yang melewatinya sering kali adalah orang yang paling yakin dia melakukannya demi cinta.◠ ̫◠
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈