Disarankan membaca Diatas Sajadah Cinta terlebih dahulu.
Erik dan El sama- sama terjebak didalam situasi, dimana Erik terpaksa menikahi El karena tidak ingin orang tuanya kecewa meskipun Erik tahu persis El sangat mencintai sahabatnya sendiri. Tidak ada rasa cinta antara mereka diawal pernikahan, mereka tidak lebih dari sekedar teman satu rumah. Hingga suatu peristiwa membuat El jadi bertekuk lutut kepada Erik yang juga memendam rasa kepadanya. Tapi sayangnya mereka sama tidak peka dan saling menunggu pernyataan cinta satu sama lain. Lalu bagaimana kebucinan El kepada Erik? bagaimana Erik dapat menaklukkan El? Dan selamat menikmati perjalanan cinta yang penuh warna Erik dan El.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MaeZa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara yang sempurna
Hari ini El dan keluarga telah menghadiri undangan dari kedua orang tua Erik. Dari turun mobil mereka sudah disambut oleh bagai tamu yang sangat terhormat. Tampak pelayan yang berjejer rapi membungkukkan badan dengan serentak. Rumah Erik yang begitu megah dan mewah, membuat orang tua El merasa terkagum-kagum. Sebagai Raja bisnis sukses di negeri ini tentu tidak heran Pak Chen memiliki kekayaan yang tidak habis tujuh turunan. Tapi semua kekayaan itu tak lantas menjadikan pribadi Erik sebagai raja, malahan Erik memilih mandiri dan hidup dari hasil kerja kerasnya.
"Pak Baskoro?" Pak Chen kaget ternyata El adalah anak pak Baskoro teman bisnisnya.
"Selamat malam Pak Chen" Pak baskoro mengulurkan tangan disambut hangat Pak Chen
"Ternyata dunia ini memang sempit ya Pak Baskoro, saya tidak menyangka ternyata Pak Baskoro Papa dari gadis secantik El"
"Iya Pak Chen, untuk masalah kecantikan itu turunan dari istri saya Zahra. Oh Ya Kenalkan ini istri saya Zahra" Orang tua El dan Erik kemudian saling berjabat tangan memperkenalkan diri.
"Selamat malam Om dan Tante" Erik segera menyalami kedua orang tua El. Erik bersikap sangat sopan dan ramah, meski kedua orang tua El tahu Erik dan El sedang berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Tapi lain halnya dengan kedua orang tua Erik yang menganggap mereka memang saling mencintai.
"Ayo silahkan Pak Baskoro" Pak Chen mengajak pak Baskoro untuk segera ke meja makan. Pak Baskoro menyambut Pak chen dengan bahagia meski Jabatan mereka jauh berbeda, bagi pak Chen sekarang persamaan derajat tidaklah penting. Melihat Erik telah menemukan seorang pujaan hati adalah suatu keajaiban bagi mereka, bagaimana tidak diusia yang tidak mudah lagi Erik belum pernah memperkenalkan seorang gadis pun pada orang tuanya. Sekarang mereka telah bahagia Erik sudah menemukan pendamping hidup yang akan menemaninya sampai tua nanti.
Mereka telah mendekat ke meja makan , sementara Erik segera menggeser sebuah kursi di sampingnya dan mempersilahkan El untuk duduk.
"Kamu cantik sekali sayang" Puji Erik pada El yang hanya tersipu malu, sementara kedua orang tua mereka memandangi mereka dengan bahagia.
"Oh ya Pak Baskoro, bagaimana kalau kita segera melangsungkan acara pernikahan antara Erik dan El. Mereka kan sudah sama-sama dewasa dan saling mencintai, jadi kita sebagai orang tua harus segera menikahkan mereka" Pak Chen bicara serius kepada Pak Baskoro disela-sela makan malam mereka.
"Saya, setuju-setuju aja pak Baskoro. Tapi kita dengarkan bagaimana pendapat Erik dan El terlebih dahulu" Jawab pak Baskoro bijak.
"Bagaimana Erik, apa kamu setuju pernikahan kami di gelar minggu depan?" Pak Chen langsung menetapkan hari pernikahan El dan Erik.
Erik menelan ludah sambil memandangi Mamanya
"Papa kok mendadak sudah menetapkan waktu pernikahan? Aduh gimana ini Mama kayaknya sudah berharap banget tuh," Bisik hati Erik yang masih berpikir sejenak
"Baiklah Erik bersedia Pa Ma" Akhirnya Erik menjawab pertanyaan Pak Chen
"Syukurlah kalau begitu" Papa tertawa kecil mendengar jawaban Erik
"Bagaimana dengan kamu El? Apakah kamu bersedia menikah minggu depan?" Pak Baskoro pun mengajukan pertanyaan yang sama pada Putrinya
"Aduh sial, gimana ini malah Erik sudah setuju lagi, Gue harus jawab apa?" El berpikir sebentar.
"Hmm" Kaki mama langsung menginjak kaki El memastikan El tidak akan menolak permintaan Pak Chen.
"Iya, El bersedia Pa" El memandangi wajah Buk Zahra yang tersenyum puas mendengar jawabannya.
"Syukurlah, Kalau begitu kita bisa melaksanakan pernikahan El dan Erik minggu depan" Ucap Pak Baskoro semangat.
"Iya Pak Baskoro, saya sudah tidak sabar melihat putra saya bersanding dengan seorang bidadari seperti El. Mereka pasti menjadi pasangan yang paling serasi di negeri ini. Pasangan yang sangat tampan dan cantik. Iya kan Ma?" Pak chen tersenyum ke pada buk Mellya
"Iya Pa, Mama juga sudah tidak sabar melihat Erik bersanding dengan El Pa" Ucap Mama Erik.
"Tapi, Pa Ma, boleh nggak setelah menikah lagi El dan Erik tinggalnya di rumah Erik. Bukan karena apa-apa Pa Ma, Erik hanya ingin mandiri dan merasakan suasana hidup berdua dengan El iyakan sayang" Erik menatap El sambil tersenyum hangat.
"Iya Om Tante, Itulah yang membuat El sangat mencintai Erik. Erik pribadi yang mandiri dan suka bekerja keras dan El setuju dengan rencana Erik Om Tante" El langsung menyetujui rencana Erik
"Ya sudah kalau begitu sayang, yang penting apa yang buat kamu bahagia akan kami dukung " Pak Chen sangat bangga dengan kemandirian Erik. Walaupun dia selama ini tidak mendidik Erik secara keras, tapi memang kepribadian itu telah muncul dari dalam dirinya semenjak kecil.
"Om dan Tante tidak keberatan kan dengan rencana Erik?" Erik melempar pertanyaan pada pak Baskoro dan Buk Hana.
"Oh tentu tidak Nak Erik, malahan kami sangat bangga El memiliki calon suami yang bertanggung jawab seperti nak Erik" Pak Baskoro tersenyum bahagia dengan sifat Erik yang dewasa itu. Saat ini dia tidak lagi membahas tentang Erik yang kepergok berduaan dengan El di apartemen malam itu. Dia juga tidak mengatakannya kepada orang tua Erik, baginya sekarang biarlah itu menjadi rahasia yang tidak perlu lagi dibicarakan. Dia pun sangat lega ternyata Orang tua Erik sangat menyukai El sebagai calon mantu mereka.
Makan malam berjalan dengan hangat, Sesudah makan malam Pak Baskoro melanjutkan perbincangan mereka tentang bisnis, sementara Buk Zahra tengah asyik berbincang masalah pernikahan El dan Erik di ruang tengah. Kini tinggal Erik dan El di meja makan.
"Sssttt El" Erik berbisik memanggil El yang sedang memainkan Hp
"Ya" El mendongak menatap Erik, masih banyak pelayan yang disekitar mereka.
"El kita ke kolam renang yuk" Erik tak ingin percakapan mereka di dengar para pelayan. El pun menuruti Erik duduk santai di kursi di pinggir kolam renang".
"El, maafkan aku yang harus menyetujui pernikahan kita minggu depan" Erik bicara sambil menatap kolam renang.
"Ya mau bagaimana lagi Rik, orang tua aku juga sudah ngebet banget kita menikah" El menatap nanar air bening di kolam renang.
"El, aku juga minta maaf kalau setelah menikah nanti kita nggak tinggal di rumah ini tapi kita akan tinggal di rumah saya mungkin tidak semewah ini" Erik menatap El serius.
"Ya nggak apa-apa lah Rik, malah aku setuju dengan ide kamu." El menatap layar Hpnya
"Iya itulah yang saya pikirkan , kalau kita tinggal serumah sama Papa dan Mama yang ada nanti kita bakalan ketahuan pura-pura mencintai" Erik menjelaskan.
"Iya aku ngerti kok, lagian kalau tinggal disini kita bakalan sekamar dong. Tapi kalau di rumah kamu kita nggak sekamar kan?" El menatap Erik meminta kepastian.
"Kamu tenang aja, nanti kamu bakal ada kamar sendiri kok" Erik tersenyum menatap El rupanya mereka sama-sama seide.
"Ya sudah aku ketempat Mama aku dulu ya" El berjalan meninggalkan Erik, menginjak sedikit genangan air sehingga membuat tubuhnya oleng.
"Awww" Erik dengan sigap menangkap pinggang mungil El mendekapnya agar tidak jatuh. Hati Erik berdegup kencang lagi ketika matanya menatap mata El. Tapi kali ini dia tidak menjatuhkan El,dia malah betah berlama-lama mendekap tubuh El. Sementara El hanya mematung dalam dekapan Erik.
"Sayang, kamu nggak kenapa-napa" El langsung terkesiap menyadari kedua orang tua mereka memperhatikannya.
"Untung aku cepat menyadari kehadiran Papa, kalau nggak tadi kan bisa saja si Teletubbies gue jatuhkan ke lantai" Bisik hati Erik
"Oh nggak apa, makasih ya sayang" El tersipu malu.
"Sial, ngapain juga gue sampai kepeleset segala, untung aja ada Mama sama Papa kalau nggak pasti si Erik bakalan jatuhin tubuh aku lagi seperti waktu itu" El juga sudah menggerutu di dalam hatinya.
"Aduh Erik dan El, nanti saja mesra-mesranya kalau sudah menikah. Kalian sudah tidak sabar ya?" Mama Erik bicara sambil tersenyum membuat El bertambah malu dengan wajahnya yang semakin merah seperti kepiting rebus. Sementara Erik hanya tersenyum tipis meski hatinya kembali berbisik
"Ih siapa juga yang mau mesra-mesra sama nih Teletubbies? Mama kan nggak tahu aja kalau Teletubbies ini sering jahilin Erik".
Kedua orang tua El tersenyum kecil mendengar ucapan Buk Mellya
"Ya sudah kalau begitu Pak Chen dan Buk Mellya. Kami permisi dulu, terimakasih jamuan makan malamnya sangat berkesan sekali" Pak Baskoro tersenyum hangat.
"Oh ya Pak Baskoro, soal persiapan pernikahan biar kami semua yang mengatur pokoknya beres itu Pak Baskoro" Pak Chen bersemangat sekali mempersiapkan pernikahan Erik yang memang sudah lama dia nantikan itu.
"Baiklah kalau begitu Pak Chen, Terimakasih banyak" Pak Baskoro sangat bersyukur dengan kebaikan Pak Chen. Bahkan beliau yang akan mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan El dan Erik.
"Kalau begitu kami permisi dulu Pak Chen"
"Oh ya silahkan Pak Baskoro"
"Om dan Tante El permisi dulu ya, terimakasih makan malamnya Om dan Tante" El juga pamit pada kedua orang tua Erik. Buk Zahra mencubiti pinggang El yang lupa pamit pada Erik.
"Sayang, aku pulang dulu ya sayang" El tersenyum manja pada Erik
"Iya sayang, hati-hati ya sayang nyampe rumah jangan lupa telpon aku ya" Erik membalas El dengan senyuman mesra, seolah-olah mereka memang sepasang calon pengantin yang saling mencintai. Sementara Pak Baskoro dan Buk Zahra terkagum-kagum dengan akting Erik dan El yang sangat meyakinkan itu. Mereka berharap semoga nanti El dan Erik benar-benar saling mencintai bukan lagi sebuah sandiwara belaka.
bersambung❤️❤️❤️