Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Pesta Darah di Bawah Kuil Leluhur
Lin Tian melesat turun dari bibir tebing bagai meteor hitam yang membelah kegelapan gua. Angin siulan dari pedang hijau bergeriginya bercampur dengan raungan amarah Tetua Xue Tu.
"Kau berani?! Bocah Pengumpulan Qi berani menodai ritual suci?!"
Meski meridiannya sedang robek akibat dampak balikan formasi, Xue Tu tetaplah monster di ambang ranah Inti Emas. Ia meraung, dan darah di danau mendidih di bawahnya langsung terbang ke udara, memadat menjadi puluhan tombak darah raksasa yang melesat ke arah Lin Tian.
Lin Tian tidak menghindar. Mata hitamnya berkilat dingin. Ia mengayunkan pedang hijaunya dalam satu lengkungan sempurna. Qi hitam keemasan yang korosif memancar dari bilah pedang, membentuk sabit raksasa yang membelah udara.
Ssssss!
Saat sabit qi hitam itu bersentuhan dengan tombak-tombak darah, suara desingan yang memekakkan telinga menggema. Darah yang dipadatkan dengan qi Pondasi Awal Puncak itu meleleh dan menguap seketika, seolah es yang dilemparkan ke dalam lautan lava. Racun korosif dari pedang Lin Tian tidak hanya menghancurkan serangan itu, tetapi juga merambat melalui koneksi qi, langsung menuju lengan Xue Tu.
"Arghhh!" Xue Tu menjerit, melihat lengan kanannya yang mulai menghitam dan membusuk dengan kecepatan yang terlihat mata. Ia dengan kejam memotong lengannya sendiri menggunakan tangan kirinya untuk mencegah racun itu menyebar ke jantung. Darah segar menyembur deras, mewarnai altar giok.
"Siapa kau sebenarnya?! Tidak ada teknik ortodoks yang bisa melelehkan darahku!" Xue Tu mundur terhuyung-huyung, matanya yang merah darah kini dipenuhi oleh ketakutan primal. Ia menatap Lin Tian yang mendarat di atas altar dengan ringan, tanpa sedikit pun debu yang menempel di pakaiannya.
Lin Tian melangkah maju, suara langkah kakinya bergema di atas altar yang retak. "Kau membantai keluargaku di Kota Qingshui. Kau memeras darah leluhurku untuk memberi makan ambisimu yang menyedihkan. Dan sekarang, kau bertanya siapa aku?"
Lin Tian melepaskan sedikit tekanan dari darah jantung naga purba dan darah leluhur Keluarga Lin yang telah ia serap. Aura merah dan hitam bercampur, membentuk ilusi naga raksasa yang melingkar di belakang punggungnya.
Mata Xue Tu membelalak, pupilnya menyusut hingga seukuran jarum. "Darah Penjaga Kunci... tapi ini mustahil! Darah itu seharusnya sudah dimurnikan di dalam Sumur Yin! Dan aura naga ini... Kau... Kau adalah hantu dari pembantaian itu!"
"Aku bukan hantu," ucap Lin Tian, mengangkat pedangnya. "Aku adalah algojo-mu."
Xue Tu tahu ia tidak punya jalan keluar. Kultivasinya yang runtuh dan racun yang menggerogoti tubuhnya membuat ia tidak mungkin menang dalam pertarungan jarak dekat. Wajahnya yang pucat tiba-tiba berdistorsi menjadi senyuman gila.
"Jika aku tidak bisa menjadi dewa, maka kita semua akan menjadi abu!"
Xue Tu memasukkan kedua tangannya ke dadanya sendiri, mencengkeram pusaran energi Inti Emas palsu yang retak di dantiannya. Ia memaksa seluruh sisa qi dan darah di tubuhnya masuk ke dalam inti itu, memicunya untuk meledak. Ledakan dari seorang ahli di ambang Inti Emas yang meledakkan dantiannya cukup untuk meruntuhkan seluruh gua bawah tanah ini dan mengubur mereka berdua hidup-hidup.
"Mati bersamaku, bocah sialan!" teriak Xue Tu, cahaya merah menyilaukan mulai memancar dari celah-celah kulitnya.
Namun, Lin Tian tidak mundur. Ia justru melangkah maju, tepat ke dalam jangkauan ledakan. Ia menyarungkan pedang hijaunya dan membuka kedua telapak tangannya. Di dalam tubuhnya, Segel Dewa Penelan Langit berputar dengan kecepatan maksimal, menciptakan pusaran hisap yang tak terlihat di depan dadanya.
"Terima kasih atas hadiah terakhirmu, Tetua Xue Tu," bisik Lin Tian.
BOOOOM!
Tubuh Xue Tu meledak. Gelombang kejut energi merah yang menghancurkan menyapu altar, menghancurkan giok dan batu di sekitarnya menjadi debu. Namun, saat gelombang energi itu mencapai tubuh Lin Tian, ia tidak meledak.
Sebaliknya, energi ledakan yang masif itu seolah tersedot ke dalam lubang hitam. Segel Dewa Penelan Langit menelan seluruh esensi ledakan, memfilter qi liar dan racun darah, lalu memaksanya masuk ke dalam lautan dantian Lin Tian.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh Lin Tian saat energi sebesar itu membanjiri meridiannya. Kulitnya retak-retak, memancarkan cahaya merah dan hitam, namun darah jantung naga purba langsung bekerja keras, meregenerasi jaringan tubuhnya secepat kerusakan yang terjadi.
Dalam hitungan detik, ledakan dahsyat itu lenyap, tersedot habis ke dalam tubuh Lin Tian.
Di tempat Xue Tu berdiri tadi, kini hanya tersisa sebuah cincin spasial berwarna merah darah dan sepotong tulang lengan yang tidak hancur. Xue Tu, sang Tetua Istana Langit Hitam, telah lenyap tanpa sisa, dicerna hingga ke tingkat spiritual oleh Segel Dewa Penelan Langit.
Namun, kematian Xue Tu dan hancurnya Inti Emas palsu itu adalah pemicu terakhir bagi formasi yang sudah tidak stabil.
Delapan pilar obsidian yang tersisa kini meledak secara beruntun. KRAK! KRAK! KRAK! Langit-langit gua raksasa itu mulai runtuh. Bongkahan batu seukuran rumah berjatuhan ke dalam danau darah. Rantai-rantai yang mengikat para tawanan kultivator putus satu per satu akibat gelombang kejut, membebaskan mereka dari penyedotan, namun menjatuhkan mereka ke dalam kekacauan reruntuhan.
Lin Tian tidak punya waktu untuk menyelamatkan siapa pun. Ia bukan pahlawan; ia adalah pembalas dendam. Nasib para tawanan kini berada di tangan dewa keberuntungan mereka sendiri.
Sebuah stalaktit raksasa patah dan jatuh lurus ke arah kepalanya. Lin Tian tidak mencoba menangkisnya. Ia langsung meremas sebuah Jimat Bayangan Darurat di tangannya.
Jimat itu terbakar menjadi abu. Ruang di sekitar Lin Tian terdistorsi, dan tubuhnya langsung lenyap tepat sepersekian detik sebelum batu raksasa itu menghantam altar.
Di atas tanah, Kota Naga Langit yang megah sedang mengalami mimpi buruk.
Gempa bumi dahsyat mengguncang ibu kota. Jalanan batu bata terbelah, gedung-gedung mewah runtuh, dan yang paling mengerikan, halaman Kuil Leluhur Kekaisaran amblas ke dalam, menelan paviliun-paviliun suci ke dalam kegelapan.
Gong tanda bahaya berbunyi nyaring dari setiap menara pengawas. Pasukan Naga Besi berlarian panik di jalanan, sementara para pejabat dan bangsawan menjerit ketakutan. Di pusat istana, Kaisar dan para ahli Inti Emas dari faksi kekaisaran terbang ke udara, menatap dengan wajah pucat dan murka ke arah Kuil Leluhur yang hancur. Mereka bisa merasakan Urat Naga Bumi kekaisaran sedang meraung kesakitan, terluka parah oleh ritual terlarang yang baru saja meledak di bawahnya.
Jauh di luar tembok utara kota, di tengah hutan lebat yang gelap, ruang terdistorsi dan Lin Tian terlempar keluar.
Ia jatuh berlutut di atas daun-daun kering, memuntahkan segumpal darah hitam kental. Napasnya tersengal-sengal, dan pakaiannya robek di sana-sini. Menelan ledakan dantian seorang ahli di ambang Inti Emas bukanlah hal yang mudah, bahkan dengan Segel Dewa Penelan Langit. Tubuhnya butuh waktu untuk mencerna energi liar tersebut.
Namun, saat ia mendongak dan menatap ke arah Ibu Kota yang kini diselimuti debu dan cahaya api dari kejauhan, senyuman tipis dan dingin terukir di wajahnya.
Ia membuka telapak tangannya. Di sana tergeletak cincin spasial merah darah milik Xue Tu, dan di dalam lautan dantiannya, lautan qi hitam keemasannya kini telah mengembun, membentuk tetesan-tetesan cairan padat yang berkilauan. Ia belum membentuk Inti Emas, namun fondasinya kini telah mencapai batas absolut yang belum pernah tercatat dalam sejarah kultivasi mana pun.
"Satu nyawa terlunasi," bisik Lin Tian ke arah angin malam, menatap bulan gerhana yang mulai kembali berwarna perak. "Tapi Istana Langit Hitam masih memiliki lebih banyak kepala. Dan Kekaisaran ini... akan segera tahu bahwa pelindung mereka telah mati."
Ia bangkit, menyimpan cincin itu, dan melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan kekacauan yang ia ciptakan di belakangnya. Sang pembantai telah menyelesaikan pembalasan dendam pertamanya, namun perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.