Indonesia
NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Gelap total turun lebih cepat di lereng barat. Tidak ada bulan. Hanya bintang-bintang yang sesekali muncul di sela awan tipis. Di dalam rumah kosong itu, satu-satunya cahaya berasal dari pelita kecil yang dinyalakan Arya Wibawa di sudut ruangan, cukup untuk melihat peta kain yang terbentang di meja retak.

Jayengrana mengamati denah itu untuk terakhir kali. Jarinya menelusuri garis yang menandai saluran air tua, tiga titik jaga, dan pintu besi lama. Ia menghafal setiap belokan, setiap jarak yang diperkirakan.

“Pergantian jaga terjadi setiap dua jam,” kata Arya Wibawa pelan. “Jeda terpanjang ada setelah gong kedua berbunyi dari menara utara. Saat itu pengawal lama turun, yang baru belum sepenuhnya siap. Kita punya waktu sekitar dua puluh napas untuk melewati pintu besi.”

Pengemis Tua yang berdiri di dekat jendela rusak bergumam, “Dua puluh napas mudah dihitung di kepala. Sulit dijalani jika ada yang berubah di lapangan.”

Arya Wibawa tidak membantah. “Itulah mengapa aku akan masuk bersama kalian sampai titik pertama. Setelah itu, aku kembali. Kehadiranku di dalam terlalu lama akan menimbulkan pertanyaan.”

Jayengrana mengangguk sekali. Ia menoleh ke Jaka. Anak itu duduk bersila di sudut, lutut dilipat, mata terbuka di gelap.

“Kau tetap di belakangku,” kata Jayengrana. “Jika aku bilang diam, diam. Jika aku bilang lari, ikut Pengemis Tua. Jangan mencoba membantu dengan cara yang membuatmu terlihat.”

Jaka mengangguk. “Aku mengerti.”

Mereka memadamkan pelita. Kegelapan memenuhi ruangan. Hanya suara napas dan gesekan kain yang terdengar ketika mereka bergerak keluar rumah.

Angin malam membawa bau tanah basah dan sungai yang mengering. Arya Wibawa memimpin, menyusuri jalur turun yang curam di antara akar dan batu. Jayengrana mengikuti, tombak siap di tangan. Pengemis Tua dan Jaka menutup barisan.

Saluran lama itu muncul di balik semak berduri—mulutnya gelap, cukup lebar untuk dilalui orang dewasa dengan membungkuk, dindingnya dilapisi lumut dan kerak kering. Bau pengap langsung menyambut. Arya Wibawa masuk lebih dulu, diikuti Jayengrana.

Di dalam, kegelapan hampir mutlak. Jayengrana mengaktifkan pecahan Mata Pemburu. Dunia menjadi sedikit lebih jelas: dinding batu yang retak, akar yang menjulur dari celah, dan jejak kaki lama yang sudah membatu. Ia merasakan Jaka berjalan tepat di belakangnya, napas anak itu teratur, tidak panik.

Mereka bergerak pelan. Setiap langkah diperhitungkan agar tidak menimbulkan gema. Di beberapa titik, air menggenang dangkal, memaksa mereka melangkah lebih hati-hati.

Setelah beberapa waktu yang terasa lebih lama dari sebenarnya, Arya Wibawa mengangkat tangan. Isyarat berhenti.

Di depan, cahaya obor samar terlihat memantul di belokan. Suara dua orang berbicara terdengar sayup—pengawal yang sedang berganti tugas.

Jayengrana memberi isyarat kepada yang lain agar menempel ke dinding. Ia sendiri maju beberapa langkah, cukup untuk melihat. Dua pengawal berdiri di dekat pintu besi tua yang berkarat. Salah satu sedang menyerahkan kunci, yang lain menguap.

Gong jauh dari menara utara berbunyi dua kali.

Pergantian dimulai.

Arya Wibawa berbisik hampir tanpa suara, “Sekarang.”

Mereka bergerak. Arya Wibawa lebih dulu, lalu Jayengrana, Jaka, dan Pengemis Tua. Langkah mereka cepat tetapi tetap terkendali. Pintu besi terbuka. Mereka menyelinap masuk satu per satu ke koridor yang lebih sempit dan lebih gelap.

Di belakang, suara pengawal masih terdengar saling menyapa, belum menyadari apa pun.

Arya Wibawa berhenti di persimpangan kecil. Ia menunjuk ke kiri. “Dari sini aku kembali. Jalur ke ruang penyimpanan ada di depan, dua belokan lagi. Pintu kayu berkunci dari luar. Kuncinya biasanya digantung di paku di sebelah kanan.”

Jayengrana menatapnya sejenak. “Jika ini jebakan…”

“Maka aku sudah mati sejak lama,” jawab Arya Wibawa pelan. “Hati-hati, Senopati. Ada sesuatu di bagian bawah itu yang tidak hanya dijaga oleh manusia.”

Ia berbalik dan menghilang kembali ke arah saluran tanpa menunggu jawaban.

Jayengrana, Jaka, dan Pengemis Tua kini tinggal bertiga di koridor bawah Gedung Utara.

Bau yang familiar langsung terasa—campuran debu, besi berkarat, dan sesuatu yang lebih lama, seperti ruangan yang jarang dibuka. Jayengrana mengeratkan genggaman pada tombaknya. Di ujung jarinya, api hitam-kemerahan yang sangat kecil menyala sejenak, cukup untuk menerangi beberapa langkah ke depan, lalu ia padamkan lagi.

Penunggang berbisik, suaranya hampir menyatu dengan keheningan koridor.

“Tempat ini mengingatmu. Dan ia mengingat apa yang kau bawa di dalam dada.”

Jayengrana tidak menjawab. Ia memberi isyarat, lalu melangkah maju, menyusuri koridor yang menurun pelan, menuju dua belokan yang disebut Arya Wibawa.

Di belakangnya, Jaka berjalan tanpa suara, sementara Pengemis Tua menutup barisan dengan langkah yang sama heningnya.

Di depan, di balik gelap yang semakin dalam, sesuatu menunggu.

Koridor bawah itu menurun pelan, seolah bangunan ini memang dirancang untuk menenggelamkan siapa pun yang masuk lebih dalam. Dinding batu dingin menekan dari kedua sisi. Udara semakin pengap, bercampur bau besi berkarat, lumut basah, dan sesuatu yang lebih lama—seperti abu yang sudah mengendap bertahun-tahun.

Jayengrana berjalan di depan. Pecahan Mata Pemburu aktif, membuat gelap tidak sepenuhnya gelap. Ia melihat retakan di dinding, jejak kaki lama yang sudah membatu, dan goresan-goresan halus yang tidak dibuat oleh alat biasa. Beberapa goresan membentuk bagian dari lambang yang sama: lingkaran dengan tiga garis melengkung. Tidak lengkap. Seolah sengaja dihapus sebagian.

Jaka berjalan tepat di belakangnya. Napas anak itu teratur, tetapi jari-jarinya sesekali menyentuh dinding, seolah membaca sesuatu yang tidak terlihat.

“Tempat ini penuh dengan orang yang menunggu,” bisik Jaka pelan. “Bukan hanya yang masih hidup.”

Pengemis Tua di belakang hanya mengangguk samar, tidak berkomentar.

Mereka melewati belokan pertama. Koridor menjadi sedikit lebih lebar. Di sisi kiri dan kanan mulai muncul pintu-pintu kayu tua yang dikunci dari luar. Beberapa pintu memiliki lubang kecil di bagian atas, cukup untuk melihat ke dalam tanpa bisa keluar. Jayengrana menghentikan langkah di salah satunya. Ia mengintip.

Di dalam, gelap. Bau pengap. Tidak ada gerakan. Tidak ada napas.

Ia melanjutkan.

Di belokan kedua, seperti yang dikatakan Arya Wibawa, pintu kayu yang lebih kokoh muncul di ujung koridor. Kunci tergantung di paku di sebelah kanan, persis seperti keterangan. Jayengrana memberi isyarat berhenti. Ia mendekat pelan, Naluri Niat menyapu area di sekitar pintu.

Tidak ada niat menyerang yang aktif di dekat sini. Hanya rasa was-was residual, seolah pengawal baru saja lewat dan akan kembali.

Ia mengambil kunci. Bunyi logam beradu sangat pelan ketika ia memasukkannya ke lubang kunci. Pintu terbuka dengan bunyi derit yang ia tekan semaksimal mungkin.

Di dalam, ruangan lebih besar dari sel-sel sebelumnya. Cahaya dari celah tinggi di dinding hanya cukup untuk memperlihatkan beberapa rantai yang tergantung di dinding, sebuah meja kayu rendah, dan di sudut jauh… sebuah kurungan besi yang lebih kecil.

Jayengrana masuk lebih dulu. Jaka dan Pengemis Tua menyusul, lalu menutup pintu hampir rapat.

Di dalam kurungan besi itu, seseorang duduk memeluk lutut. Tubuhnya kecil. Pakaiannya kotor dan robek di beberapa bagian. Rambutnya acak-acakan. Ketika kepala itu terangkat pelan, wajah anak laki-laki yang pucat terlihat di setengah gelap.

Jayengrana berhenti di tempatnya.

Anak itu menatapnya. Tidak menangis. Tidak berteriak. Hanya menatap dengan mata yang terlalu tenang untuk usianya—mata yang seolah sudah lama menunggu.

Istri Jayengrana tidak ada di sini untuk memastikan, tetapi sesuatu di dada Jayengrana berkontraksi keras. Bentuk wajah itu, garis rahangnya yang masih halus, cara menatap yang tidak takut berlebihan…

“Anak itu…” suara Pengemis Tua hampir tidak terdengar.

Jayengrana berlutut di depan kurungan, tetap menjaga jarak aman. Ia melepaskan Topeng Jiwa untuk sejenak, membiarkan wajah aslinya terlihat di depan anak itu.

Anak laki-laki itu menatap lebih lama. Bibirnya bergerak, mengeluarkan suara serak yang jarang dipakai.

“…Ayah?”

Satu kata itu cukup.

Jayengrana merasakan sesuatu yang panas merambat dari tanda perjanjian di dadanya ke seluruh tubuh. Bukan api yang keluar. Melainkan tekanan yang sangat dalam, seolah Penunggang ikut serta merasakan momen itu.

Ia mengulurkan tangan ke antara jeruji, pelan.

“Aku di sini,” katanya, suaranya lebih rendah dari yang ia duga. “Aku datang.”

Anak itu tidak langsung meraih. Ia menatap tangan itu, lalu ke wajah Jayengrana, lalu kembali ke tangan. Kemudian, dengan gerakan yang masih ragu, jari-jari kecil itu menyentuh ujung jari ayahnya.

Dingin. Kurus. Tapi nyata.

Di belakang mereka, dari arah koridor yang baru mereka lewati, terdengar bunyi langkah kaki yang semakin dekat. Lebih dari satu orang.

Pengemis Tua sudah berbalik menghadap pintu. “Mereka datang.”

Jayengrana tidak melepaskan pandangan dari anaknya. Ia berbicara cepat, tetapi tetap tenang.

“Kita keluar sekarang. Jangan lepaskan tanganku.”

Ia memasukkan kunci ke gembok kurungan. Bunyi klik terdengar pelan. Pintu besi terbuka. Anak itu ragu sejenak, lalu keluar dan langsung merapat ke sisi Jayengrana. Tubuhnya kecil, tetapi genggamannya pada kain baju ayahnya kuat.

Langkah di koridor semakin dekat. Suara rantai dan gesekan senjata mulai terdengar.

Jayengrana mengaktifkan kembali Topeng Jiwa. Ia mengangkat anak itu ke lengannya dengan satu tangan, tombak di tangan yang lain. Api hitam-kemerahan yang sangat kecil menyala di ujung jari yang memegang tombak, lalu padam lagi ketika ia mengendalikan diri.

“Jalur kembali,” perintahnya singkat kepada Pengemis Tua.

Mereka bergerak keluar dari ruangan. Di koridor, cahaya obor sudah memantul dari belokan. Bayangan beberapa pengawal bergoyang di dinding.

Jayengrana tidak menunggu.

Ia berlari ke arah berlawanan—bukan kembali ke saluran masuk, melainkan ke arah yang lebih dalam, ke jalur yang belum mereka kenali, sambil membawa anaknya di lengan.

Di belakang, suara teriakan mulai terdengar.

“Ada penyusup!”

Di dalam dadanya, tanda perjanjian berdenyut kencang, seolah ikut berlari bersama mereka.

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!