Indonesia
NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:27.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku tidak ingin kau mati dengan mudah!

Mobil sport mewah yang ringsek itu melintir hebat sebelum akhirnya terhenti di tengah jalanan yang lengang.

Asap tebal mengelayut keluar dari kap mesin yang hancur, bercampur dengan bau bensin dan aroma hangus yang menyengat.

Lampu depan yang pecah hanya menyisakan kerlip redup, menerangi serpihan kaca yang tersebar acak di atas aspal.

Di dalam kabin yang terkoyak, Fano terkulai tak berdaya di atas lingkar kemudi. Airbag yang mengembang penuh diliputi bercak darah segar yang mengalir pelan dari pelipisnya.

Keheningan yang sangat pekat kini membungkus area kecelakaan itu, tidak ada lagi suara langkah kaki, tidak ada lagi bisikan parau yang mencekik tenggorokannya.

Cengkeraman dingin di lehernya telah lenyap, menyisakan bekas memar kebiruan yang tercetak jelas di kulitnya.

Dada Fano naik-turun dengan sangat pelan dan tersendat. Kesadarannya berada di ambang batas antara hidup dan mati, tenggelam dalam rasa sakit yang membakar seluruh tubuhnya.

Dalam samar pandangannya yang kian menggelap, ia melihat bayangan kabur dari kaca spion yang pecah, sebuah siluet yang perlahan-lahan menghilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan Fano sendirian bersama penyesalan dan dosa masa lalu yang kini menagih bayarannya.

Dari kejauhan, suara raungan sirene ambulans mulai terdengar memecah malam, mendekat menuju tempat Fano terbaring tak bergerak di balik kemudi mewahnya.

Di detik-detik terakhir saat kelopak matanya tertutup rapat dan kegelapan total merayap masuk, bayangan hitam yang mencekam itu mendadak memudar, berganti menjadi sebuah visualisasi yang sangat jelas di dalam benaknya.

Sesosok wajah muncul tepat di hadapan Fano. Wajah seorang gadis yang dulu selalu tersenyum lembut, namun kini menatapnya dengan sorot mata yang penuh penderitaan.

Wajah yang pernah mereka acuhkan, mereka tertawakan ketakutannya, dan mereka tinggalkan begitu saja lima tahun yang lalu.

"Sab... Sabrina..." gumam Fano dengan suara yang hampir tak terdengar, keluar bersamaan dengan hembusan napasnya yang berat dan berdarah.

Nama itu menjadi kata terakhir yang mampu diucapkan bibirnya. Setelah gumaman lirih itu terucap, jemari Fano yang menempel di lingkar kemudi perlahan melorot dan jatuh terkulai.

Kesadarannya lenyap sepenuhnya, tenggelam dalam koma yang dingin di tengah raungan sirene ambulans yang makin mendekat.

Raungan sirene ambulans memecah keheningan malam saat kendaraan medis itu melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi.

Di dalamnya, para petugas medis bergerak cepat menempelkan alat pemantau detak jantung dan memasang masker oksigen pada wajah Fano yang bersimbah darah.

Grafik pada monitor menunjukkan garis yang kian melemah dan tidak stabil.

"Tekanan darah drop! Siapkan infus dan pembersih jalan napas!" teriak salah satu petugas medis seraya menekan luka berat di bagian kepala Fano untuk menahan pendarahan.

Setibanya di rumah sakit, pintu belakang ambulans dihempaskan terbuka.

Petugas dengan tergesa-gesa mendorong ranjang darurat brankar menerobos koridor Unit Gawat Darurat. Suara roda ranjang yang beradu cepat dengan lantai berdenting nyaring, bersahut-sahutan dengan instruksi tegas dari dokter jaga yang bertugas malam itu.

"Pasien kecelakaan lalu lintas tunggal! Trauma kepala berat, ada resiko pendarahan internal! Segera bawa ke ruang operasi!"

Lampu-lampu neon di langit-langit koridor UGD melintas cepat di atas pandangan Fano yang setengah tak sadar. Tubuhnya yang kaku dipindahkan ke atas meja operasi di bawah sorotan lampu bedah yang menyengat.

Di luar ruang operasi, lampu merah menyala tanda tindakan penyelamatan nyawa tengah berlangsung.

Di dalam ruangan bersuhu dingin itu, para dokter berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Fano yang berada di ambang kematian, sementara bayangan memar kebiruan berbentuk jarum-jarum jari di lehernya masih tercetak jelas, tak tersentuh oleh gunting dan pisau bedah para medis.

Di dalam ruang operasi yang dingin dan menegangkan, garis hijau pada monitor detak jantung mendadak mendatar.

Biiiiiiiippp...

"Pasien cardiac arrest! Siapkan defibrilator! Charge ke 200 Joule!"

perintah dokter bedah dengan nada panik. Petugas medis bergerak cepat menempelkan dua bantalan besi ke dada Fano yang dipenuhi luka.

Duk! Tubuh Fano terangkat di atas meja operasi, namun monitor tetap menyuarakan nada lurus yang mencekam.

Sementara itu, jauh di dasar alam bawah sadarnya yang gelap dan hampa, Fano merasa sedang melayang di tengah lautan hitam tanpa ujung.

Rasa sakit di tubuhnya mendadak hilang, digantikan oleh keheningan yang dingin. Namun, keheningan itu tak bertahan lama.

"Jangan mati dulu... Aku tidak rela kau mati dengan mudah..."

Bisikan suara wanita itu bergema nyaring, menusuk tepat di pusat kesadaran Fano. Suara itu sarat akan tuntutan penderitaan yang belum usai.

Serasa ada tangan tak terlihat yang menghempaskan jiwa Fano kembali ke raga dengan paksa.

Teeet... Teeet... Teeet...

Suara alarm lurus di ruang operasi mendadak terputus. Grafik pada monitor kembali melonjak naik secara tajam. Detak jantung Fano yang tadinya mati, mendadak berdenyut kembali dengan sangat cepat dan keras.

"Ada irama! Detak jantungnya kembali!" seru perawat penuh lega.

Dokter menghela napas panjang seraya menyapu keringat di dahinya. Fano telah berhasil ditarik kembali dari ambang kematian.

Namun, di balik kelopak matanya yang tertutup rapat di bawah pengaruh pembius, kenyataannya yang jauh lebih mengerikan, hidupnya diselamatkan bukan sebagai keajaiban, melainkan agar teror penagihan dosa itu bisa berlanjut.

Kabar tentang kecelakaan tragis yang menimpa Fano baru sampai ke telinga Julian, Rian, dan Adrian keesokan harinya.

Tanpa membuang waktu, ketiganya bergegas menuju rumah sakit tempat Fano dirawat, memacu kendaraan mereka dengan pikiran yang diliputi kekhawatiran dan tanda tanya besar.

​Setibanya di lokasi, Fano rupanya sudah melewati masa kritis, telah sadarkan diri, dan kini dipindahkan ke ruangan perawatan VIP sendiri.

Langkah ketiga sahabat itu melambat saat menggeser pintu kamar rawat tersebut. Fano terbaring di atas ranjang dengan perban tebal yang membungkus kepalanya dan jarum infus menancap di tangannya.

Wajahnya yang biasa dipenuhi tawa kini pucat pasi, dihiasi mata yang membengkak.

​"Fan! Lu gak apa-apa, kan?" tanya Rian terburu-buru seraya mendekati sisi tempat tidur.

Adrian dan Rian berdiri menyusul di belakangnya dengan raut wajah tegang.

"Kenapa bisa kayak gini, bro?"

​Fano perlahan memalingkan wajahnya yang sayu. Melihat kehadiran Julian dan yang lainnya, ingatan tentang kejadian mencekam malam itu berputar hebat di kepalanya.

1
Siti Yatmi
tunggu giliran kamu julian...sabar yah..nunggu antrian....pasti kamu kebagian, dan kamu yg spesial hukuman nya....
Nurr Tika
lanjut
Siti Yatmi
thorrrr lanjuttt
Siti Yatmi
tumben ga up....bolak balik buka??
Siti Yatmi
jgn bunuh dulu sab...trus teror..biar ilang tuh kewarasan nya
Siti Yatmi
syukurin luh...biarin..siapa suruh jahat
Siti Yatmi
setannya pengen nonton tv kali ....kan dikuburan ga ada tv
Siti Yatmi
sama ortu nya mah pada takut..taoi kelakuan kaya setan...
Siti Yatmi
sebentar lagi lo game over ..bye2 juliannnnnn
Siti Yatmi
mampus lu adrian...
Siti Yatmi
jiahhhh..katanya berkuasa...ayo dong lawan tuh setan,,,laporin ke polisi tuh setan
Siti Yatmi
nah..kan..adrian..nikmatilah...rasakanlah....
Siti Yatmi
lu pada sinting
Siti Yatmi
jadi menitikan air mata....
Siti Yatmi
hidup itu 2 pilihan, bodoh atau pintar,,sayang sabrina pilih bodoh....akhir nya, udh pasti tdk berdaya...
Siti Yatmi
pasti..itu video yg sabrina diperkosa sm 2 preman ..hadehhh
Siti Yatmi
owlah...pantes temen2 nya di teror and dimatiin....wajar sih...mending dihukum setan ketibang polisi ..💪sabrina
Siti Yatmi
ya Allah sabbb...melas banget sm nasib mu...
Siti Yatmi
astaga itu si dendi jahat amat..perasaan baca dr awal nama dendi ga ada..knp ternyatadia punya peran penting dlm kematian sabrina
Siti Yatmi
walah....kejamnya...dikau julian gila..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!