Apa yang ada dalam pikiranmu saat mendengar kata Panti asuhan. Tempat anak-anak jalanan, tempat anak yatim piatu, atau anak yang sengaja ditelantarkan oleh pihak keluarganya. Kamu tidak salah. Karena aku adalah salah satu dari anak yang tumbuh besar di tempat tersebut.
_Ingga Sagara_
Mohon untuk meninggalkan jejak🙏🏻🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santiissla_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerima Ajakan
"Apa kau berpura-pura lagi hanya untuk mendapatkan perhatian dari anak Panti itu? Sadarlah Sandra! dia tak pantas untukmu." Satria mulai emosi.
"Diam! kau tak perlu ikut campur." Bentak Sandra cepat.
"Kau memang sudah tidak waras." Ucap Satria malas seraya pergi meninggalkan Sandra.
Sandra semakin bertambah kesal dengan ucapan Satria. Ia melangkah masuk ke dalam kelasnya. Teman-temannya hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Sandra.
Ingga melirik sesaat ke arah pintu masuk saat melihat Sandra yang berjalan tanpa kesulitan atau kesakitan sedikitpun. Ingga yang sudah tahu sejak awal bahwa Sandra hanya berpura-pura kesakitan pun tak ingin meladeni. Ia kembali fokus pada buku yang ia baca.
Sandra yang melihat Ingga begitu tenang duduk di bangkunya seketika kembali merasa kesal, lagi-lagi Ingga mengabaikan bahkan tak memperdulikannya sama sekali. Ia melangkah ke tempat duduknya dengan perasaan kesal.
Kelas yang awalnya sedikit bising tiba-tiba senyap saat seorang guru berdiri diambang pintu.
"Maaf menganggu waktu kalian. Ibu sedang mencari Ingga." Ucap guru tersebut.
Ingga yang mendengar namanya dipanggil langsung mengangkat tangannya.
"Bisa ikut dengan Ibu sebentar ke ruang guru Ingga."
"Baik Bu." Ingga segera bangkit lalu melangkah untuk pergi ke ruang guru.
Ingga terus membuntuti sang guru sampai tiba di ruang guru. Ingga perlahan masuk sambil mengucap salam. Guru tersebut menyuruh Ingga untuk menemui sang Kepala Sekolah di ruangannya.
Ingga kembali mengetuk pintu ruangan itu lalu terdengar suara bariton yang memperbolehkan nya untuk masuk.
Ingga duduk di kursi yang berhadapan dengan sang Kepala Sekolah. Ia mulai merasa cemas, khawatir bila ia telah melakukan sebuah kesalahan. Ia duduk dengan canggung menunggu sang Kepala Sekolah berbicara.
"Apa kabar Ingga?" Tanya sang Kepala Sekolah tegas.
"Kabar saya baik Pak." Jawab Ingga dengan sopan.
"Langsung saja saya beritahu kamu. Saya ingin merekrut kamu langsung untuk mengikuti perlombaan Sains antarsekolah. Juara pertama akan mendapatkan Beasiswa ke perguruan tinggi. Selain ingin mengharumkan nama sekolah kita, saya juga ingin kamu bisa lebih mudah untuk masuk ke perguruan tinggi. Saya sangat yakin dengan kemampuan yang kamu miliki Ingga." Kata sang Kepala Sekolah.
Ingga bagai mendapat oasis di tengah gurun pasir. Hal yang sama sekali tidak ia duga, lagi-lagi Ingga mendapat keberuntungan yang sangat berharga baginya.
Apa ini sungguhan. Batinnya tertegun.
Melihat Ingga yang diam tanpa merespon apapun, sang Kepala sekolah langsung menyadarkan Ingga dari lamunannya.
"Bagaimana Ingga?" Tanyanya tak sabar.
Ingga langsung tersadar.
"Saya sangat senang atas apresiasi yang Bapak berikan. Saya akan mengusahakan yang terbaik untuk sekolah ini." Ucap Ingga dengan begitu semangat.
Setelah beberapa saat berbincang, Ingga akhirnya diperbolehkan kembali ke kelasnya. Kepala Sekolah memberitahu jika akan ada bimbingan belajar untuknya karena perlombaan akan diadakan bulan depan dan Ingga harus mempersiapkannya dari sekarang.
Ingga masuk ke kelasnya berniat meminta izin untuk pergi ke perpustakaan. Sang guru yang sudah tahu jika Ingga akan mengikuti perlombaan dengan mudah memberikan izin.
...****...
Ingga tengah mencari beberapa buku yang ia butuhkan untuk perlombaan. Setelah mendapat beberapa buku yang berkaitan dengan materi-materi perlombaan, ia melangkah ke tempat duduk paling pojok.
Ingga mulai membuka halaman demi halaman, ia begitu fokus sampai getaran ponsel mengalihkan perhatiannya.
Terlihat ada satu pesan yang masuk. Ingga mengeryit, ia langsung membuka pesan itu dan seketika jantungnya berdetak cepat.
Ayka
^^^Hai... Apa kabar?^^^
Maaf ini siapa?
Pesan singkat dari Ayka membuat jantung Ingga tak karuan. Ia mulai mengetik sesuatu.
Ayka
^^^Hai... Apa kabar?^^^
Maaf ini siapa?
^^^Aku Ingga. Lama tidak bertemu denganmu Ayka^^^
Ingga tersenyum setelah mengetikan kalimat itu. Ia langsung memikirkan bagaimana ekspresi Ayka ketika mengetahui jika yang mengirim pesan itu adalah dirinya.
Senyum Ingga hanya muncul sesaat.
Apa yang kau pikirkan Ingga. Kau benar-benar sudah kehilangan akal. Batinnya tersadar.
...----------------...
Di sekolah yang berbeda, Ayka baru saja memainkan ponselnya setelah semalaman ia tertidur. Saat membuka ponselnya, ia dibuat heran oleh nomor tak dikenal yang mengiriminya sebuah pesan singkat.
+62 8*****
Hai... Apa kabar?
^^^Maaf ini siapa?^^^
Setelah beberapa saat membalas pesan tersebut ia terkejut ketika sang pengirim dengan cepat membalas kembali pesannya.
Aku Ingga. Lama tidak bertemu denganmu Ayka
Deg... deg... deg...
Jantung Ayka seketika berdebar setelah membaca nama orang yang selalu ia pikirkan setiap hari. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Ingga akan menghubunginya lebih dulu. Ia begitu senang sampai pipinya bersemu.
+62 8*****
Hai... Apa kabar?
^^^Maaf ini siapa?^^^
Aku Ingga. Lama tidak bertemu denganmu Ayka
^^^Ternyata ini kamu, kabarku baik☺️^^^
"Bahkan hanya sekedar pesan singkat pun aku sudah sangat bahagia." Gumam Ayka pelan.
"Apa yang membuatmu tersenyum sendiri?" Suara seseorang mengagetkan Ayka.
Ayka menengok ke sampingnya dan melihat Bima yang ternyata tengah duduk di sebelahnya. Ayka hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Bima.
"Aku ingin mengajakmu makan saat libur sekolah nanti, apa kamu mau?" Ajak Bima dengan penuh harap.
Ayka menatap Bima, ia berpikir keras mencari alasan agar bisa menolak ajakan Bima lagi. Lama Ayka terdiam sampai tiba-tiba terdengar helaan nafas Bima.
"Pasti kamu sedang berusaha untuk menolak lagi ajakan ku bukan?" Bima tersenyum miris.
Ayka yang mendengar ucapan Bima pun mulai merasa bersalah. Memang benar jika Ayka selalu saja menolak ajakan apapun dari Bima.
Sangat sulit memaksa perasaan. Jika tidak ada rasa nyaman pada seseorang, maka sebaik apapun orang tersebut tidak akan bisa membuat perasaan kita terbuka padanya.
"Mungkin hanya sebentar." Ucap Ayka pelan.
Bima seketika terkejut.
"Maksudmu..." Bima menjeda kalimatnya karena saking terkejutnya.
Ayka hanya mengangguk pasrah. Tidak ada salahnya ia mencoba menghargai ajakan Bima walaupun hanya sekali.
"Aku akan menjemputmu nanti, oke!" Ucap Bima dengan penuh semangat.
Ayka kembali mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Bim!" Panggil salah satu teman Bima.
tpi di tangan mungil outhor .. kamu GK bakal bisa nolak kalau jodoh mu Jesicca 🤣🤣
biyar kagak lupaaa 🤭🤭
gak lihat apa udah keluar tanduk nya tu si Ingga 🤣🤣
semangat terus Thor ...
dikit kali Thor ...
jadi pengen bawa pulang Ingga dech 🤣🤭🥰