Anggita bisa kembali kemasa lalu karena sebuah mimpi, Ia mulai mencari lebih banyak jawaban mengenai apa yang terjadi didalam dunia mimpi.
semua yang ada dimimpi Gita mulai bermunculan didunia nyata, termasuk Daniel. ada hubungan apakah dengan Daniel dan Gita Lestari..?
apakah Anggita dan Gita Lestari adalah seseorang yang sama atau ada hal rahasia lainnya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan didunia nyata
Setiap pagi Bagas selalu datang menjenguk kekasihnya tak lupa membawa bunga mawar putih kesukaan Ratna. Tapi harapannya tak bisa jadi nyata. Kekasihnya masih tak kunjung bangun dari koma. Dengan tatapan sedih dan penuh penyesalan
" Maafin aku sayang, harusnya aku cegah kamu pergi saat itu. Aku salah"
Ucapan Bagas masih tetap sama dari hari kehari. Ia selalu berkata menyesal. Mungkin semua orang sudah menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Ratna saat ini.
Bagas segera mengusap air mata yang membasahi pipinya, karena mendengar derap langkah seseorang yang hendak masuk ke kamar tempat Ratna dirawat.
Klekk...
Suara pintu yang dibuka seseorang. Bagas segera bangkit dari duduknya,
Hanah memasuki ruangan tempat anaknya dirawat. Ruangan yang cukup luas dengan didominasi warna putih khas Rumah Sakit pada umumnya. Melihat Bagas disana Ia langsung mencegahnya untuk pergi. "Tunggu. Tidak usah pergi, silahkan duduk kembali"
"iya....iya saya duduk kembali" Bagas cukup gugup menjawab ucapan dari Ibu Kekasihnya itu.
Hanah mengajak Bagas untuk duduk di sofa panjang diruangan itu. Pembicaraan mereka cukup panjang dan sulit untuk dijawab oleh Bagas. Hanah hanya ingin tau sejauh mana hubungan anaknya dengan Bagas.
"kamu pernah berbuat apa dengan anak saya" pertanyaan itu muncul dengan spontan dari mulut Hanah. Dengan pembawaannya santai yang cukup membuat Bagas waspada.
Bagas menarik nafas panjang, mencoba mencerna pertanyaan yang dilayangkan calon mertuanya itu. "Berbuat bagaimana maksud Ibu?"
Hanah cukup sabar menghadapi lawan bicaranya saat ini. Tapi sekarang Ia mulai kesal dengan Bagas. "aku gak akan menikahkan kalian, kamu jawab saja jujur"
"saya sudah berhubungan layaknya sepasang suami istri" jawab Bagas dengan santai tanpa beban apapun. Ia cukup mengikuti kata hatinya. tak peduli apapun reaksi dari Hanah.
Hanah tersenyum penuh arti. "baiklah, sekarang tinggalkan dia. Saya sudah bilang kalau saya tidak akan menikahkan kalian"
"tapi kalau anak ibu mengandung bayi saya bagaimana? , apakah akan anda nikahkan dengan orang lain?" ucapan Bagas kali ini benar-benar ingin membuat lawan bicaranya naik darah. Tapi Bagas tetap santai dalam posisi duduknya yang tak berubah.
Hanah langsung berdiri dan melayangkan satu tamparan keras kepada Bagas. Plaakkkk.
"jaga omongan Anda ya, Anda bisa pergi sekarang juga dari ruangan ini. Saya gak mau ada suster dengar keributan ini" ucap Hanah yang sangat emosi.
Bagas sambil meringis menahan sakit langsung bergegas pergi, Ia tak terpikirkan akan ditampar calon mertuanya saat ini. Kesan pertama pertemuan yang sangat buruk. Tapi Ia tak akan menyerah dan akan tetap kembali untuk kekasihnya yang belum sadarkan diri itu.
Bagas mendaratkan bokongnya dikursi besi panjang. Pikirannya kacau saat ini, restu yang harusnya didapat malah berakhir dengan kebencian yang mungkin takan pernah termaafkan.
"Gilaa dulu gue dihantam Denis eh sekarang emaknya. Sial" umpat Bagas sambil meratapi nasib buruknya.
......................
Aku sudah menyiapkan bekal untuk makan siang Denis, untuk pertama kalinya bagiku mengantarkan Denis bekal. anggap saja untuk merayakan hari dimana dia mengungkapkan perasaannya, walaupun entah sekarang dia menggapku apa tapi dia menginginkanku menjadi istrinya.
Hariku sedang berbunga saat ini. Ibu sedang di Rumah Sakit. Sejak aku resign aku lebih banyak meluangkan waktu untuk menemani Ibu dan membantu pekerjaan rumahnya.
Aku sudah memesan Gojek untuk segera pergi mengantar bekal yang sudah aku siapkan. Tak sabar melihat reaksi dari Denis melihatku sampai dikantornya.
Aku cukup tau kantor tempat Denis bekerja, karena dulu aku sempat melamar bekerja disini sebelum di restoran. Jadi aku cukup hafal tempatnya. Denis bekerja bagian kepala marketing. posisi yang lumayan untuk dia karna dia juga bekerja sudah cukup lama disini.
Sesampainya dikantor. Aku langsung menghubungi Denis.
📞 Gita : Mas, aku mau ngantar makan siang.
📞 Denis : apa Git, beneren aku gak salah denger
📞 Gita : (tertawa) iya mas, sekarang aku ada di lobby.
📞 Denis : tunggu bentar ya Mas selesaikan dulu pekerjaan Mas, 15 menit gak papa kan nunggu?
📞 Gita : iya Mas gak papa kok, aku tunggu diKantin aja ya Mas
📞Denis : iya-iya sayang, byee sampai jumpa dikantin (menutup telepon)
Aku yang mendengar panggilan sayang dari Denis langsung senyum-senyum salah tingkah. Seperti kataku, aku langsung menuju kantin untuk menunggu Denis.
Kulihat sekeliling Kantin nampak sepi, sepertinya memang belum jam makan siang. Dan aku terlalu cepat datang. Aku langsung memilih duduk dikursi yang terletak dipojok. Pikirku enak sambil nyender santai menunggu Denis Datang.
Baru saja duduk pandanganku sudah memusat kepada lelaki yang memakai kemeja hitam sedang duduk sambil bermain ponsel. Mataku tidak mungkin salah melihat dia seperti seseorang yang aku kenal.
Aku terus mengamatinya, hingga mungkin Ia tersadar kalau ada wanita gila yang terus menatapnya sedari tadi hingga mata kita saling beradu pandang.
Lelaki dengan rahang tegas, dada bidang dan aura dingin yang sangat kuat. Tapi yang membuat berbeda kali ini wajah dan tubuhnya sangat berbeda, tidak maksudnya sama tapi berbeda.
Aku menyebutnya Daniel diusia matang, Aku memperhatikan urat dilengannya yang begitu menonjol seperti sengaja dipamerkan untuk membuat wanita terkesima.
Karena tau aku memperhatikannya terus menerus, ia akhirnya pergi. Tapi mataku terus mengekori ia sampai tak terlihat sedikitpun.
"Git, kamu liatin siapa" tanya Denis yang tampa kusadari sudah berada didepanku.