Meski hidupnya dililit oleh hutang ratusan juta yang tidak akan pernah lunas sampai dia mati, Lucia Winter tidak pernah memiliki niat untuk menjual diri. Tidak berarti ia memandang dirinya mulia, tidak pula ia merasa dirinya tidak berkualitas untuk dijajakan.
Lucia hanya tidak pernah menaruh perhatian terhadap lini pekerjaan itu sebagai salah satu solusi untuk masalah finansial hidupnya yang 'sangat bermasalah'.
Lucia malah memutuskan bekerja di kapal sebagai pelayan bar. Pekerjaan yang mempertemukannya pada Percy Duncan. Pria konglomerat yang menaruh minat padanya, rela membelinya dengan harga yang luar biasa.
Pertanyaannya adalah, apakah Percy Duncan adalah tiket emas yang akan menarik Lucia keluar dari lautan nestapa yang menggerogoti hidupnya, atau dia adalah siren yang akan menenggelamkan Lucia lebih dalam ke dasar neraka?
♤ SEA OF HONEY, BY VIPER ♤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V I P E R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Panas Dingin (2)
Lucia berhasil menarik dirinya mundur sejengkal dari jangkauan Percy Duncan dan hal pertama yang ia lakukan adalah meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Bernapas dengan hidungmu, Lucia. Apa pacarmu tidak mengajarimu apa-apa?" Percy meraih tengkuk Lucia kembali, "Atau dia hanya pria payah yang tidak tau cara berciuman sama sekali?"
"Pacar apa--ugghhh!" Ucapan Lucia terhenti begitu Percy mencengkram rahangnya, menahan bibirnya untuk mengucapkan sepatah kata.
"Aku tidak mau mendengarmu membahas pria lain saat bersamaku," ucap Percy kembali, "Karena kau adalah milikku."
Dua jari Percy menerobos masuk di bibir Lucia, bermain di dalam sana dengan lidahnya. "Gunakan lidahmu dengan lebih baik, Lucia. Kau terlalu payah."
'Apa yang kau harapkan memangnya, sialan?' Lucia sama sekali tidak mengerti.
Apa tujuan Percy menyumpal mulutnya dengan jari telunjuk dan jari tengah pria itu yang oh, tidak hanya panjang, tapi juga mempunyai ukuran yang dua kali lebih besar dari ukuran jari Lucia?
Lucia bisa merasakan panas jari pria itu di mulutnya, berlumuran saliva. Lucia ingin menggigitnya, tapi ia tau pemikiran itu hanya akan bersarang di kepalanya.
"Kau seburuk ini tapi kau berharga sangat mahal," Percy terkekeh pada keamatiran Lucia, ia menarik jarinya dari sana dan Lucia langsung terbatuk-batuk akibat ulahnya.
"Haruskah aku mengajarimu juga?"
"Mengajari apa?"
"Hanya..." kata Percy terjeda, ia kembali meraup rahang Lucia di telapak tangannya, bibirnya dengan jenaka menyapu perpatahan pundak Lucia. Meninggalkan jejak panas napasnya di kulit putih Lucia yang seperti kanvas tanpa noda. Kanvas yang akan ia warnai dengan gairahnya.
"Cara menjadi pel4cur profesional."
"Haaa?"
"Dengan begitu, setelah aku membuangmu, kau mempunyai skill yang dapat kau cantumkan di resume-mu."
Lucia tertawa bosan. Lagi-lagi pria itu merendahkannya.
"Akan kupikirkan," ucap Lucia kemudian, ia memaksakan senyuman. "Mungkin aku akan bertemu pria yang tidak terlalu banyak bicara. Aku akan mengatakan padanya kalau mentorku adalah pria cerew--Eh? Ap-apa.."
Mata Lucia melebar penuh kegugupan begitu jubah mandi yang ia kenakan luruh dari pundaknya, berlabuh di perutnya. Spontan, Lucia menutupi area dadanya dengan telapak tangan. Pipinya bersemu merah padam.
"Kau tidak mau pria yang banyak bicara, kan?" Percy mendorong Lucia ke tempat tidur dan menempatkan dirinya di atas Lucia, mengangkanginya dengan jubah tidur yang telah melonggar di tubuh jangkungnya. Bertemu tatap dengan mata Lucia yang menyembunyikan kegugupan--ketakutan, Percy menyeringai senang.
"A-aku lebih senang kalau kau banyak bicara," Lucia bergumam dengan kengerian. Melihat Percy di atasnya--mendominasinya, Lucia merasa ketakutan. Bukan ketakutan semacam ia akan mati atau hal-hal berbahaya seperti itu. Lucia takut pada hasil pilihannya, ketidak-tahuannya.
Apa yang akan terjadi setelah ini?
Lucia ingat teman-temannya mengatakan kalau pengalaman pertama begitu menyakitkan. Namun, ada pula yang mengaku kalau pengalaman pertamanya adalah yang terbaik...Lucia tidak tau bagaimana pengalaman pertamanya akan terjadi, ia takut itu menyakitkan..., tapi bila itu terasa luar biasa, tidakkah itu lebih menjijikkan?
"Lucia, tanganmu."
"Ya?"
"Kau adalah milikku," ucap Percy, teduh tenang suaranya menyiratkan bahaya. "Kau tidak boleh menutupi apa pun dariku, termasuk tubuhmu."
"Ta-tapi..." Lucia diliputi rasa malu yang mendalam.
Tanpa mendapat tanggapan verbal dari Percy, hanya tatapan pria itu yang mengintimidasi, Lucia mau tak mau melepaskan perlindungannya. Ia, pada akhirnya, mengekspos tubuhnya di depan Percy Duncan. Mata Lucia kemudian terpejam erat, rapat. Ia tidak mau melihat reaksi Percy, ia tidak mau tau bagaimana cara pria itu memindainya seperti berhala.
"Setidaknya, kau begitu jelita." suara Percy menyapa indera pendengaran Lucia, disertai jari telunjuk pria itu yang menggambar garis lurus dari rahangnya dan turun ke perutnya.
"Aku tidak menyesal membayarmu sangat mahal."
Lucia harap itu adalah pujian. Mungkin itu adalah pujian.
"Buka matamu, Lucia."
"Tidak, terima kasih."
"Lucia..."
**!*.
Lucia membuka mata, dan genangan air di pelupuk matanya membuat Percy terpana. Begitu mata mereka bersua, Percy kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Lucia. Menimpa gadis itu dengan bobotnya sebelum melabuhkan ciuman yang dalam dan dominan, penuh keserakahan di bibir Lucia.
Air mata gadis itu memicu gairahnya. Membuat kewarasannya meninggalkan kepala. Lucia dan air mata adalah kombinasi yang begitu menggugah hasratnya. Ia ingin menodai gadis itu dengan warna putus asa, tenggelam dalam ekstasi dan dosa. Lucia, miliknya.
"Mmnnh..." Lenguhan Lucia seperti melodi di telinga. Percy merasa keantusiasan semakin mendominasinya, jantung menggebu-gebu penuh nafsu.
Bibir Percy yang kini menyapu rahang Lucia, meninggalkan saliva dan jejak ciumannya di leher pucat gadis itu, mulai turun ke area yang begitu Lucia lindungi sebelumnya. Ia melahap gadis itu di mulutnya dan reaksi Lucia membuat Percy menyeringai jenaka.
Lucia mendekapnya, meremas surai hitamnya dengan rintihan putus asa. Ia menggeliat ke kiri dan kanan, mencoba meredam sensasi asing yang kini mendominasi tubuhnya. Menggelapkan matanya dalam gairah yang membuncah. "Percy..., nnghh...,"
Stimulasi yang Percy tanamkan di tubuhnya begitu luar biasa, Lucia tidak pernah membayangkan tubuhnya akan bereaksi seliar sekarang. Seperti tubuh dan pikirannya adalah dua hal yang terpisah.
"Ugh, please..." air mata bercampur dengan peluh mengalir di pelipis Lucia, membasahi rambutnya.
Lucia berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari gelitikan lidah Percy yang kini menari di tubuhnya, di dadanya, di perutnya. Ia ingin pria itu berhenti karena demi apa pun, Lucia merasa ia akan kehilangan kewarasannya. Ia begitu frustasi, tubuhnya bereaksi di luar kendali.
Desau napasnya berantakan.
"Percy," bisik Lucia, seperti lenguhan. Matanya berkunang-kunang.
"Mhm..., ada apa, Lucy?" Setelah panjang rintihan dan lenguhan yang memanggil namanya, Percy mengangkat dirinya kembali sama rata dengan arah pandang Lucia. Ia menyeringai puas melihat gadis itu diselimuti berahi. Stimulasi dari sentuhan yang ia berikan telah membuat Lucia berantakan, itu adalah pemandangan yang menggiurkan.
"Kau sepertinya bersenang-senang," Percy bergumam di telinga Lucia, menggoda gadis itu dengan bisikannya sebelum mengulum daun telinga gadis itu di bibirnya. Memancing erangan lain lepas dari bibir Lucia, gadis itu mencengkram pundaknya seperti hidupnya bergantung di sana.
"Kau terlalu sensitif, Lucy..."
Melanjutkan aksinya, tangan Percy mulai meraih area terlarang di tubuh Lucia, area yang menjadi pusat dari seluruh gairahnya, titik tersensitif di tubuhnya. Area yang begitu Percy menyentuhnya, langsung membuat saraf di seluruh tubuh Lucia menjeritkan alarm bahaya.
"Ja-jangan..."
Lucia terkesiap dan nyaris bangun dari posisi berbaringnya, tapi tekanan kuat di pundaknya membuat Lucia kembali terhempas ke tempat tidur dengan kedua pergelangan tangan tercekal di atas kepala. Percy mencekal kiri dan kanan tangan Lucia dengan satu tangan, penuh dominasi dan kekuatan yang tak terbantahkan.
"Kau tau kau milikku, kan?" Percy menunduk dan menyapu bibirnya di pipi Lucia. "Setiap inci tubuhmu adalah milikku, Lucia."
"..." Itu mungkin benar, tapi Lucia terlalu malu.
"Apa kau malu karena kau sudah sangat basah di sini?"
"E-eeh?"
Lucia merasakan jari-jari Percy membelai miliknya, menyentuhnya dengan cara yang tidak pernah Lucia rasakan dan lakukan pada dirinya sendiri. Lucia memejamkan mata frustasi, ia menggeliat gelisah menekan ekstasi yang mencoba menggelapkan akal sehatnya. Menggelapkan nuraninya.
"Pe-Percy, jangan...hnggghhh..."
tanpa menanggapi lenguhan Lucia, Percy melakukan apa yang ia inginkan dengan niat ingin mengerjai Lucia. Ia ingin membuat gadis itu hilang kewarasan dalam sentuhannya. Dua jarinya menyelinap masuk di tubuh Lucia, menggoda gadis itu dengan sentuhannya yang seperti menyetrum kepala.
Lucia menghempaskan tubuhnya, terengah, gelisah.
Isi kepalanya porak-poranda.
Saat itu, kendati Percy merasa ia memiliki kendali atas Lucia, menikmati mempermainkan gadis itu sesuka-hatinya, Percy pun..., perlahan-lahan terlarut dalam permainannya sendiri. Ia yang berniat menggoda Lucia, berujung tergoda atas reaksi gadis itu terhadap sentuhannya.
Keinginannya untuk membuat Lucia tenggelam dalam euforia, lupa sepenuhnya pada realita--keinginan itu mempengaruhi Percy sebagaimana itu mempengaruhi Lucia.
Napas Percy memburu. Rasa gerah dan panas melingkupinya, membuatnya dahaga.
Percy menginginkan lebih dan lebih dari Lucia. Ia ingin merasakan gadis itu seutuhnya--lebur dalam gairahnya.
"Lucia," Percy berbisik sembari menyibak kaki Lucia ke posisi yang begitu terbuka, begitu vulgar di mata--sangat menggoda. Di hadapan Lucia, di antara kakinya yang terbuka, Percy memposisikan dirinya di sana.
Lucia memandangnya, jantung menggebu-gebu waspada. Di sana, di hadapannya, Percy telah siaga untuk merasukinya, menyatu dengannya. Bukti gairah pria itu nampak menakutkan, begitu dominan. Lucia meneguk ludah dalam kekhawatiran.
Apa semua pria membawa benda semasif itu di balik celana mereka atau Percy hanya spesies yang berbeda?
'Apa ini wajar?'
Lucia dilanda kengerian, keberanian yang ia miliki saat menandatangani kontrak perbudakan itu telah turun ke mata kaki. Lucia tidak yakin ia sanggup untuk--
"Jangan khawatir," Percy mengusap kening Lucia, "Ini akan menyenangkan."
'Me-menyenangkan? Apa dia serius?'
Sementara Lucia tenggelam dalam kecemasannya, Percy kembali menanam ciuman di bibir Lucia, ia memagut bibir gadis itu dengan candu. Afeksi berbaur dengan nafsu.
Begitu pagutan mereka membaur dalam suasana, membawa euforia dan mengalihkan perhatian Lucia sepenuhnya dari apa yang akan terjadi, Percy pun perlahan-lahan menjalankan aksinya.
Percy Duncan, dengan kesabaran yang nyaris meninggalkan kepala, mempenetrasi Lucia. Menyatukan dirinya sepenuhnya di dalam Lucia, dan oh...
'Apa..., ini...?' Kening Percy bertaut begitu ia menemukan noda merah di sana--dari Lucia yang menggigil menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Bercanda, ya?"
...----------------...