Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Dinamika Makanan Jepang dan Insiden di Parkiran
~ HAPPY READING ~
|
"Hel... bagaimana perasaan kamu sekarang?" tanya Alex seraya memindai seluruh wajah Elia. Raut mukanya datar tanpa ekspresi, namun nada suaranya yang sedikit bergetar tak bisa menyembunyikan rasa cemas yang dalam.
"I’m okay. You don’t have to worry about me. Aku nggak apa-apa, kamu nggak perlu mengkhawatirkanku," ujar Elia sembari menghembuskan napas lega.
"Sudah seperti ini kamu masih saja ingin membuat saya kesal. Kalau tadi kamu sampai terkena serangan jantung, saya yang repot. Keluarga Lauren pasti akan menyalahkan saya," balas Alex dengan nada datar dan dingin. Namun, perkataan dingin pria itu justru berhasil memantik emosi Elia dalam sekejap.
"Oii, Paman!" Elia langsung merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk tegak di atas sofa VIP. Gadis itu menatap Alex tajam. "Paman, gue cuma panik, bukan sakit! Plus, gue tuh sehat, GAK PUNYA SAKIT JANTUNG! Catat itu!" ujar Elia dengan nada yang meninggi, menunjuk dada Alex penuh rasa jengkel.
"Kamu aslinya cerewet ya," ujar Alex santai, sama sekali tidak terpengaruh oleh ocehan dan nada tinggi Elia.
"Hah? Paman bilang apa tadi? Gue cerewet?! Ralat ya tolong, gue cuma banyak bicara, bukan cerewet. Catat!" protes Elia lagi, tidak terima dilabeli cerewet.
Alex menahan kedutan di sudut bibirnya. "Baiklah, baiklah... Tampaknya kondisi kamu memang sudah stabil—"
"Udah! Gue udah baik-baik saja! Udah bisa berdiri nih, lihat!" potong Elia cepat. Untuk membuktikannya, gadis itu langsung melompat turun dari sofa dan melakukan lompatan-lompatan kecil di depan Alex.
"Baiklah, baiklah. Ayo, kita harus makan siang. Ini sudah jam 11.30—"
"Belum jam 12, kan? Kenapa harus pergi sekarang?" potong Elia lagi sambil melipat kedua tangannya di dada.
Alex tersenyum tipis sebuah ukiran senyum langka yang amat tipis melihat Elia yang sudah kembali ceria dan penuh energi. "Kamu mau makan apa?" tanya Alex mengalah.
"Ke restoran Jepang aja!" jawab Elia cepat tanpa berpikir panjang.
"Nah, perjalanannya memakan waktu 15 menit. Sampai di sana kita harus menunggu pesanan lagi setidaknya 15 sampai 20 menit, maka saat kita mulai makan itu sudah pas di pukul 12.00," ujar Alex menjelaskan alasan logisnya secara terperinci.
Elia terdiam, mengatupkan mulutnya karena alasan Alex sangat masuk akal.
"Sudah, hemat tenaga kamu, stop bicaranya. Dan stop panggil saya Paman, Helena. Panggil saya Alex," ujar Alex dengan nada suara yang dalam dan penuh intimidasi, menatap lurus ke mata Elia.
Aura dominan yang mendadak menguar dari tubuh Alex membuat keberanian Elia seketika mengkerut. Gadis itu akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah karena aura intimidasi Alex benar-benar membuat mentalnya menciut.
Alex meraih telapak tangan Elia, menggenggamnya dengan erat dan hangat, lalu membimbingnya keluar dari ruangan privat tersebut. Direktur toko perhiasan dan para pegawainya mengiringi langkah mereka dari belakang dengan rasa hormat yang tinggi.
Mereka terus mengawal hingga Alex dan Elia masuk ke dalam kabin sedan mewah. Begitu mobil melaju perlahan meninggalkan pelataran butik, direktur dan para pegawai toko membungkukkan badan memberikan penghormatan terakhir sampai mobil tersebut benar-benar menghilang di belokan jalan raya.
"Kembali bekerja," perintah sang direktur dengan nada tegas pada seluruh stafnya begitu kendaraan mewah itu tak lagi terlihat.
Sementara itu, di Hotel Azure yang megah, suasana hangat menyelimuti ruangan khusus staf di area belakang. Leila dan para pegawai hotel lainnya tengah duduk santai bersenda gurau menikmati waktu jeda setelah seluruh rangkaian tugas pagi mereka rampung dengan sempurna.
"Sebentar lagi jam 12 nih, Lei. Mau makan apa nanti siang?" tanya Mirna, rekan kerja Leila dari divisi housekeeping/cleaning service.
"Apa aja, yang penting enak," sahut Leila santai seraya merenggangkan otot-otot lengannya yang pegal.
"Yah, kalau masalah enak, makanan di sini enak-enak tau, Lei! Pokoknya the best, jempol dua buat kokinya!" ujar Arumi yang tiba-tiba menyambung percakapan mereka seraya membawa segelas air mineral.
"Eh... Mbak Arumi kapan masuknya?" tanya Leila kaget karena Arumi mendadak sudah duduk di samping mereka.
"Tadi baru aja. Kalian terlalu serius ngobrol sampai-sampai aku masuk kalian nggak sadar sama sekali," ujar Arumi tertawa kecil.
Pembicaraan hangat dan canda tawa itu terus berlangsung hingga bel tanda jam makan siang berkumandang. Lima belas menit setelah menyelesaikan makan siang, seluruh staf kembali ke posisinya masing-masing.
Leila dan Mirna pun mulai bergerak kembali bekerja. Setelah jam makan siang, beberapa tamu check-out dari kamar mereka, sehingga Leila dan Mirna harus sigap mengganti seprai, sarung bantal, serta menata ulang perabotan agar kebersihan dan kenyamanan kamar tetap terjaga sempurna demi para pelanggan berikutnya.
Di sisi lain kota, di sebuah restoran Jepang eksklusif bernuansa kayu otentik, Elia tengah melahap hidangan yang telah disajikan di atas meja. Berbagai sajian khas Jepang tertata sangat mewah. Tanpa memikirkan citra atau etiket makan bangsawan, Elia dengan tanpa malu-malu menyantap setiap makanan di depannya dengan sangat antusias.
Sampai akhirnya, sumpit Elia jatuh pada deretan makanan mentah seperti sushi, sashimi, dan hidangan laut segar lainnya. Tanpa curiga, Elia memasukkan satu potong daging ikan mentah ke dalam mulutnya.
Mengunyah... mengunyah...
"Emmm... HUEK!"
Elia seketika memuntahkan kembali makanan itu ke tisu di tangannya. Wajahnya meringis geli dan mual.
"Gak enak! Masih mentah!" ujar Elia berseru enek. Dengan cepat ia meraih kotak susu rasa pisang yang tersedia di meja, menyedotnya dalam-dalam untuk menetralisir rasa amis dan enek yang melapisi lidahnya.
"Jangan dimakan, Hel. Sudah, sudah..." tegur Alex lembut namun sigap. "Jeslin, bawa deretan makanan mentah ini dari sini."
"Baik, Tuan," jawab Jeslin patuh. Dengan sigap, Jeslin dan para pelayan menarik seluruh piring yang menyajikan hidangan mentah dari atas meja.
‘Sumpah, enek banget gue! Jadi gak nafsu makan kan!’ batin Elia mengeluh kesal dalam hati.
"Hel, ada apa?" tanya Alex peka saat melihat Elia mendadak terdiam. Binar antusias yang tadinya memancar dari mata cantik gadis itu seketika padam.
"Gak ada... Cuma udah gak selera aja. Enek rasanya. Mau makan yang lain pun perut gue rasanya nolak," jawab Elia jujur seraya meletakkan sumpitnya.
Alex mengangguk paham. Pria itu mengalihkan pandangannya yang tajam ke arah Jeslin dan Rayyanza yang berdiri tak jauh dari mereka. "Lain kali, makanan seperti sushi, sashimi, dan lainnya yang bersifat mentah, jauhkan dari Helena."
"Oke, Bos!" jawab Rayyanza sigap.
Sementara Jeslin hanya mengangguk hormat. "Paham, Tuan."
"Mau pulang?" tanya Alex pelan, menatap lekat ke arah Elia.
"Hmm..." jawab Elia malas.
Gadis itu langsung berdiri dari tempat duduknya tanpa menunggu Alex. Dengan langkah lesu dan perut yang terasa tidak nyaman, Elia berjalan terlebih dahulu menuju area parkiran restoran.
Namun, saat baru saja melangkah keluar dari pintu kaca dan menyusuri area parkiran VIP
BRUK!
Tanpa sengaja, tubuh Elia berbenturan cukup keras dengan seorang wanita berpenampilan sangat mencolok yang sedang berjalan searah.
"Kalau jalan pakai mata dong! Tas saya mahal ini!" bentak wanita itu nyaring dengan raut wajah penuh kekesalan, menatap Elia dengan pandangan meneliti yang tajam.
Bersambung 🫰🏻🤗
kena tumbal juga dia wkwkwk
bikin kapok ya