Indonesia
NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Lyn

BRAKH!

Elea menendang keras pintu gudang hingga terbuka dengan kasar, engselnya berderit protes, membentur dinding dengan suara nyaring yang menggema di kesunyian malam.

"LYN!" teriaknya, menerobos masuk ke dalam kegelapan gudang pendingin yang luas.

Hanya sunyi yang menyambutnya. Bau dingin dan lembab langsung menusuk hidungnya, bercampur dengan aroma logam yang samar.

"Lyn, kamu di mana, Nak? Ibu datang!" Elea terus melangkah masuk, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang temaram, hanya diterangi cahaya bulan yang menyusup dari celah-celah dinding.

Rak-rak besi tinggi berdiri berbaris, menciptakan lorong-lorong gelap. Elea bergerak cepat menyusuri, panik mulai menguasainya.

Hingga langkahnya terhenti.

Di lantai, tak jauh dari kakinya, terdapat genangan cairan merah gelap yang sudah mengering di beberapa bagian.

Jantung Elea terasa berhenti mendadak.

"Tidak..." bisiknya.

Ia berlutut, tangannya gemetar hebat saat menyentuh cairan itu. Ribuan pikiran buruk menyerbu benaknya seketika. 'Apa ini darah Lyn?'

"Lyn... tidak, putriku masih hidup..."

Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi ia buru-buru menyekanya, memaksa dirinya untuk tetap fokus.

Matanya kemudian menangkap sesuatu di lantai berdebu, jejak kaki yang mengarah menjauh dari genangan darah itu, menuju sudut ruangan.

"Ada jejak kaki..." gumamnya, segera bangkit dan mengikuti arah jejak itu dengan penuh harap.

Jejak itu membawanya ke sudut gudang, di mana ia menemukan sebuah kursi tua, ditumpuk dengan beberapa palet kayu, tersusun rapi menjulang ke atas, tepat mengarah ke sebuah ventilasi terbuka di langit-langit.

Elea mendongak, matanya melebar.

"Apa... Lyn kabur lewat sini?" bisiknya, nadanya campur aduk antara keraguan dan harapan yang mulai bersemi.

Ia menaikkan tumpukan itu perlahan, memeriksa ventilasi yang sudah terbuka lebar, baut-bautnya berserakan di sekitarnya, bekas perjuangan seseorang yang jelas memaksa jalan keluar.

Senyum tipis, nyaris tak terlihat, muncul di wajah Elea yang tadinya dipenuhi ketakutan.

"Putriku masih hidup," gumamnya, kali ini lebih mantap, seperti meyakinkan dirinya sendiri. "Dia masih hidup."

Seberkas harapan itu langsung membakar semangatnya. Elea segera turun, matanya menyapu sekeliling mencari arah ventilasi itu bermuara.

"Di mana ujungnya?" Ia bergerak cepat, mengikuti jalur ventilasi yang membentang di sepanjang langit-langit, hingga akhirnyanya menemukan arahnya. "Belakang gudang!"

Tanpa membuang waktu, Elea berlari keluar, menerobos pintu yang tadi ia dobrak, menuju bagian belakang bangunan.

Baru beberapa langkah, ia hampir bertabrakan dengan Vanesa yang datang dari arah berlawanan, napasnya masih memburu, tangannya berlumuran darah dari pertarungan tadi.

"Elea!" Vanesa buru-buru mendekat. "Gimana? Lyn udah ketemu?"

Elea menggeleng cepat, tapi matanya berkilau penuh harap. "Belum, Nes. Tapi Lyn masih hidup. Dia berhasil kabur lewat ventilasi!"

Wajah Vanesa langsung berubah lega. "Serius? Di mana?"

"Belakang gudang!"

Keduanya segera berlari menuju bagian belakang bangunan, jantung mereka berdegup kencang penuh harap. Namun sesampainya di sana, yang mereka temukan hanyalah kegelapan kosong, tak ada tanda-tanda Lyn sama sekali.

"LYN?!" teriak Elea. "IBU SUDAH DATANG MENJEMPUTMU... IBU JANJI NGGAK AKAN MEMAAFKAN ORANG YANG SUDAH MERENDAHKAN KITA!"

Hanya angin malam yang menjawab, berdesir pelan di antara reruntuhan dan kontainer tua.

Vanesa buru-buru mengeluarkan laptopnya, jarinya bergerak cepat di atas keyboard.

"Aku coba cek rekaman CCTV di area ini, siapa tahu..." ia terdiam, alisnya berkerut.

"Kenapa, Nes?"

"CCTV di area ini..." Vanesa menggeleng frustasi, "sudah diputus sebelum kita sampai. Nggak ada rekaman sama sekali."

Elea menatap kegelapan di sekitarnya, rasa panik kembali merayapi dadanya. Lyn ada di luar sana, sendirian, terluka... tapi ke mana perginya?

Elea merosot lemas ke tanah, kekuatan yang sedari tadi menopangnya seketika runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah, mengalir deras membasahi pipinya.

"Maafkan Ibu, Lyn..." isaknya, suaranya tercekat. "Seharusnya Ibu bisa mencegah semua ini..."

Vanesa segeta berjongkok di samping sahabatnya, merangkul bahu Elea yang bergetar hebat. "Lea, dengarin gue," ucapnya lembut, tapi dengan nada sedikit tegas. "Lyn itu anak yang kuat. Dia berhasil kabur sendirian dari gudang itu, tanpa bantuan siapa pun. Itu bukti dia nggak menyerah."

"Tapi dia sendirian di luar sana, Nes! Terluka, kedinginan!" Elea menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya berguncang menahan isak tangis yang tak lagi bisa ia bendung.

Vanesa mengelus punggung Elea perlahan, mencoba memberikan sedikit kekuatan lewat sentuhannya. "Justru karena itu ia nggak boleh berhenti sekarang. Lyn masih hidup, Lea. Itu udah lebih dari cukup buat terus semangat cari dia."

Elea mengangkat wajahnya, matanya sembab dan merah, tapi ada secerah tekad yang mulai kembali menyala di sana. "Kamu benar... aku nggak boleh nyerah sekarang."

"Nah, gitu dong," Vanesa tersenyum tipis, membantu Elea berdiri. "Lyn pasti masih di sekitar sini. Dia baru aja kabur, nggak mungkin udah jauh. Kita sisir area ini pelan-pelan, oke?"

Elea mengangguk, menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengumpulkan kembali kekuatannya yang sempat runtuh.

"Kita cari Lyn. Sampai ketemu."

Vanesa meraih tangan Elea, menggenggamnya erat sejenak sebagai penguat. "Kita pasti nemuin dia, Lea. Gue janji."

—•—

"Al, Clarisa akhirnya masuk sekolah."

Alaric yang sibuk dengan ponselnya langsung menoleh pada Rifki.

"Di mana dia sekarang?" ucapnya dengan nada dingin.

"Dia lagi di kelasnya."

Tanpa menjawab, Alaric segera berjalan ke arah kelas Clarisa dengan raut wajah datar.

Brakh! Ia membuka kasar pintu kelas, membuat seisi kelas terkejut termasuk Clarisa dan dua sahabatnya.

"Alaric..." ucap pelan Clarisa, buru-buru ia merapikan penampilannya. "Guys, penampilan gue sudah bagus, belum?"

Selena dan Bianca langsung mengangguk, sambil memberikan jempol.

"Sudah bagus, bestie," ucap Selena.

"Alaric akan terpesona dengan lo," sambung Bianca.

Alaric menghampiri Clarisa, lalu menariknya dengan kasar. "Ikut gue sekarang!"

Clarisa terkejut, sedikit meringis saat tangannya ditarik paksa. "A-alaric, pelan-pelan dong," ucapnya manja, mencoba menyentuh lengan Alaric dengan lembut, berharap bisa meredakan sikap dingin pria itu.

Namun Alaric sama sekali tak menghiraukannya. Ia menoleh sekilas ke arah Selena dan Bianca yang masih terpaku di tempat duduk mereka, wajah bingung bercampur khawatir.

"Kalian berdua, jangan ikut campur," ucapnya tegas, tatapannya dingin dan tak menyisakan ruang untuk bantahan.

Selena dan Bianca saling pandang, tak berani membuka suara. Seisi kelas hanya bisa terdiam, menyaksikan Alaric menyeret Clarisa keluar tanpa peduli tatapan orang-orang disekitarnya.

"Alaric, sakit tau!" rengek Clarisa, mencoba melepaskan cengkeraman tangannya, tapi genggaman itu justru semakin erat.

Alaric tetap membisu, terus menariknya menyusuri koridor sekolah yang sepi, wajahnya begitu dingin yang hingga siapa pun yang melihatnya enggan menyapa.

"Al, kamu mau bawa aku ke mana?" Clarisa menatap sekeliling, suaranya mulai gelisah.

Alaric berhenti melangkah, menatap Clarisa lurus-lurus, sorot matanya tajam.

"Lo yang ngambil ponsel gue, kan? Terus kirim pesan ke Lyn pakai akun gue?"

Mata Clarisa melebar, ia langsung menggeleng, panik mulai menjalar di wajahnya. "Nggak! Aku nggak pernah bajak ponsel kamu, Al. Aku nggak pernah kirim pesan apa pun ke Lyn, sumpah!"

"Lo pikir gue bodoh, hah!" Suara Alaric meninggi, matanya menyala penuh amarah yang selama ini tertahan. "Lo yang sewa preman buat menghajar gue, kan?! Ngaku, sialan!"

Alaric mencengkeram kerah baju Clarisa erat-erat, mendorongnya hingga punggung gadis itu membentur dinding koridor. "Apa yang sudah lo lakukan sama Lyn, hah?! JAWAB!"

Deg!

1
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!