Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengandung Anak Selingkuhan Suamiku

Mengandung Anak Selingkuhan Suamiku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:178.1k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.

Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.

"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."

Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.

Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Vivienne duduk santai di sofa sambil menikmati semangkuk buah potong. Tangannya sesekali mengambil stroberi atau potongan melon, sementara satu tangannya yang lain berada di atas perutnya yang semakin besar.

Di sampingnya, Estelle duduk dengan laptop terbuka di atas meja. Beberapa laporan pekerjaan Giselle terpampang di layar. Estelle membaca satu per satu dengan senyum puas, lalu sesekali menggulir layar untuk melihat laporan berikutnya.

"Kontrak besar ketiga juga tidak diperpanjang," ujar Estelle sambil menunjuk layar laptop dengan jarinya.

Vivienne mengambil sepotong stroberi dan memasukkannya ke mulut. Ia mengunyah perlahan sebelum menjawab dengan nada polos, "Kasihan."

Estelle langsung menoleh. Alisnya terangkat tinggi. "Kamu kasihan?" tanyanya sambil menahan tawa.

Vivienne menelan stroberi yang sedang dikunyahnya, kemudian mengangguk kecil. "Sedikit."

Estelle terkekeh. "Kamu bahkan tidak terdengar seperti orang yang sedang kasihan."

Vivienne ikut tertawa kecil. Ia mengambil sepotong melon sambil berkata santai, "Aku memang tidak melakukan apa-apa kepadanya."

Estelle mengangkat alis sambil menunjuk layar laptop. "Kamu memang tidak melakukan apa-apa." Ia kemudian mengetuk layar dengan ujung jarinya.

Vivienne menahan senyum. Ia menundukkan wajah untuk menyembunyikan ekspresinya sebelum menjawab, "Makanya aku bilang, aku tidak melakukan apa-apa."

Estelle tidak mampu menahan tawanya lagi. Ia tertawa sambil menggelengkan kepala.

"Kamu ini benar-benar pintar mencari alasan."

Vivienne hanya mengangkat bahu dengan wajah polos.

Estelle akhirnya menutup laptop dan meletakkannya di atas meja. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya dengan lebih santai.

"Kamu cukup bermain di belakang layar. Tidak perlu repot-repot mengurus semuanya sendiri," ujar Estelle sambil menatap perut Vivienne. "Fokus saja pada kondisi kesehatanmu."

Vivienne terdiam sejenak. Tangannya perlahan mengusap perutnya. "Aku tahu," jawabnya lembut.

Vivienne kemudian menoleh kepada Estelle dan tersenyum hangat. "Aku juga harus mengucapkan terima kasih banyak kepadamu."

Estelle mengernyitkan kening. "Untuk apa?"

"Karena kamu mau direpotkan dengan masalahku," jawab Vivienne sambil tertawa kecil.

Estelle langsung terkekeh dan melambaikan tangannya. "Aku merasa tidak direpotkan, kok!" jawabnya ringan.

Vivienne menatapnya seolah tidak percaya. "Benarkah?"

"Tentu saja," jawab Estelle sambil mengangkat bahu. Ia kemudian mengambil cangkir teh yang berada di atas meja dan menyeruputnya perlahan. "Lagipula, yang sibuk mengurus pemutusan kerja sama Giselle bukan aku."

Vivienne langsung mengangkat alis.

Estelle mengangkat bahu dengan santai. "Aku punya beberapa kenalan yang bisa membantu."

Vivienne menatapnya curiga. "Kenalan?"

"Iya."

"Kamu yakin mereka mau membantu?"

Estelle tersenyum sambil mengangkat cangkir tehnya. "Selama aku yang meminta, mereka akan mempertimbangkannya."

Vivienne mengangguk pelan. "Aku jadi merepotkanmu."

"Sudah kubilang, aku tidak merasa direpotkan."

Estelle sengaja mengalihkan pandangan ke laptop agar Vivienne tidak melihat senyum kecil di wajahnya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa orang yang paling sibuk membantu Vivienne justru seseorang yang selama ini selalu bertengkar dengannya, Killian.

Kakaknya itu bahkan tidak pernah meminta Vivienne mengetahui apa yang dilakukannya. Dan Estelle berniat menjaga rahasia itu selama mungkin.

Vivienne ikut tersenyum. Namun, setelah beberapa saat, tatapannya beralih ke laptop. Tidak ada kegembiraan berlebihan di wajahnya. Tidak ada pula ekspresi puas karena melihat Giselle kehilangan pekerjaan.

Vivienne hanya terlihat tenang. Ia memang tidak ingin menghancurkan Giselle secara terbuka. Ia tidak membutuhkan berita besar atau skandal yang membuat namanya ikut terseret.

Selama ini, Giselle hidup dari nama besar, pekerjaan, uang, dan perhatian banyak orang. Jadi, Vivienne hanya perlu membuat semua itu berkurang sedikit demi sedikit. Dan yang paling penting, tanpa memberikan celah kepada Giselle untuk menyerangnya kembali.

"Ngomong-ngomong, kamu serius tidak akan menyebarkan berita perselingkuhan Dominic dengan Giselle?" tanya Estelle dengan alis naik turun dan senyum dikulum.

Vivienne mengambil segelas air, lalu berkata pelan, "Aku tidak ingin ada celah."

Estelle menoleh. "Celah?"

Vivienne mengangguk. Jarinya masih memegang gelas dengan tenang.

"Kalau aku menyebarkan hubungan mereka, mereka bisa menuduhku mencemarkan nama baik," ujar Vivienne. "Aku tidak mau memberikan mereka kesempatan untuk memainkan peran sebagai korban."

Estelle tersenyum puas. "Jadi, kamu memilih membiarkan orang lain mengambil keputusan sendiri?"

"Ya," jawab Vivienne singkat. Ia menatap ke luar jendela. Cahaya sore menyentuh wajahnya yang terlihat semakin tenang.

"Kalau sebuah perusahaan memutuskan tidak memperpanjang kontrak dengan Giselle, itu keputusan mereka."

Estelle mengangguk perlahan. "Dan kalau mereka mulai mempertanyakan reputasinya."

"Itu juga bukan urusanku," potong Vivienne tenang.

Estelle terdiam beberapa detik sebelum terkekeh. "Kamu benar-benar sudah belajar banyak."

Vivienne tersenyum tipis. Tangannya kembali mengusap perutnya dengan lembut.

"Dulu aku terlalu mudah percaya. Sekarang aku hanya lebih berhati-hati."

Senyumnya tetap lembut. Namun, ada ketegasan di balik tatapannya. Ia tidak ingin bertindak karena kemarahan sesaat. Ia ingin memastikan setiap langkahnya memiliki alasan yang kuat.

Jika Giselle jatuh, maka perempuan itu harus jatuh karena kehidupannya sendiri mulai kehilangan pijakan. Bukan karena Vivienne menyerangnya secara terbuka.

Estelle memperhatikan sahabatnya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum.

Malamnya, Vivienne berdiri di depan cermin kamar. Tangannya mengusap perut yang semakin besar. Bayi di dalamnya bergerak kecil.

Vivienne tersenyum. Ia menundukkan kepala.

"Hari ini Mama cukup bahagia. Bukan karena mereka menderita." Senyumnya melembut. "Tapi karena sekarang Mama sudah tidak takut lagi."

Di luar kamar, Estelle sedang berbicara melalui telepon dengan Killian.

"Bagaimana?" tanya Estelle.

Killian menjawab dari seberang dengan suara tenang. "Beberapa kerja sama Giselle sudah berhenti. Tapi aku tidak menyentuh perusahaan yang benar-benar tidak punya alasan bisnis untuk memutus kontrak."

Estelle tersenyum. "Bagus."

"Kita tidak perlu berlebihan," ujar Killian. "Vivienne ingin mereka kehilangan pijakan, bukan membuat masalah hukum baru."

Estelle melirik ke arah pintu kamar. "Dia akan senang mendengarnya."

Killian terdiam sebentar. "Bagaimana kondisinya sekarang?"

Senyum Estelle berubah lembut. "Masih harus banyak istirahat."

"Jaga dia."

"Aku tahu."

Setelah panggilan berakhir, Estelle menatap pintu kamar Vivienne. Di dalam sana, sahabatnya sedang mengusap perut sambil tersenyum. Perempuan itu masih terluka. Masih harus menghadapi perceraian dan memiliki banyak hal yang harus diselesaikan.

Namun, Vivienne tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.

1
Ita rahmawati
akhirnya lahir juga si kembar
Ita rahmawati
sampe mau lahiran nyidamnya killian GK hilang hilang 🤣
Ummee
ceritanya seru nih kyknya...
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kirain up si kill
Uthie
Sudah mampir dongg... 😍😍👍

dan ditunggu-tunggu malah Up nya yg banyak cerita tsb 👍👍😍😍😍🙏
Kar Genjreng
hadirrrr Kakak Santi 👍👍❤️❤️
Kar Genjreng
setelah sekian lama menahan kesakitan dan tidak keberdayaan Viviane ahirnya
berakhir bahagia buah dari kesabaran nya yang sebegitu panjang kini sudah. memiliki. keluarga yang utuh semoga selalu bahagia,, Aamiin 🙏🙏❤️🙏🙏
Kar Genjreng
Dominic harusnya sadar bukannya malah ingin menjadi penghianat kembali. ya nasib belum beruntung justru buntung
coba sadar dan menyadari ,,,ga usah di permasalahkan keadaan Arabella terpenting bisa melihat walaupun dari jarak jauh,,, sekarang justru dari tujuh. tahun. di tambah dua lima.mati di penjara,,😮😮
Kar Genjreng
betul banget ada Suami dan ketiga putra putri nya yang selalu mendampingi nya dalam suka maupun duka bersama sama,,, ternyata waktu.nua telah tiba untuk meraih kemerdekaan sebagai keluarga ,,,hingga belasan tahun.ahirnya
usai juga
Marini Suhendar
awal cerita menarik thor
Ita rahmawati
blm ketauan yg kasih obat penggugur eh udah hamil dianya 😂
Ita rahmawati
hamil kan
Ita rahmawati
nah kan bener ada campur tangan mereka dibalik kegugurannya Vivienne 😔
Ita rahmawati
ada siapa ya
sweetpurple
keren!
Halimah
Akhirnya happy ending...Makasih byk thor udah bikin karya sebagus ini,semoga kedepannya lbh sukses lg ya🥰🥰🥰
Fa Yun
happy ending 🙏🙏 thor
Fa Yun
bagus ceritanya
Reni Setia
akhirnya,,,, selamat ya thor udah tamat karyanya
Esther
Keluarga yang penuh cinta.
Ara tidak perlu takut, sudah banyak penjaga nya.
Terima kasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!