Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Vivienne duduk santai di sofa sambil menikmati semangkuk buah potong. Tangannya sesekali mengambil stroberi atau potongan melon, sementara satu tangannya yang lain berada di atas perutnya yang semakin besar.
Di sampingnya, Estelle duduk dengan laptop terbuka di atas meja. Beberapa laporan pekerjaan Giselle terpampang di layar. Estelle membaca satu per satu dengan senyum puas, lalu sesekali menggulir layar untuk melihat laporan berikutnya.
"Kontrak besar ketiga juga tidak diperpanjang," ujar Estelle sambil menunjuk layar laptop dengan jarinya.
Vivienne mengambil sepotong stroberi dan memasukkannya ke mulut. Ia mengunyah perlahan sebelum menjawab dengan nada polos, "Kasihan."
Estelle langsung menoleh. Alisnya terangkat tinggi. "Kamu kasihan?" tanyanya sambil menahan tawa.
Vivienne menelan stroberi yang sedang dikunyahnya, kemudian mengangguk kecil. "Sedikit."
Estelle terkekeh. "Kamu bahkan tidak terdengar seperti orang yang sedang kasihan."
Vivienne ikut tertawa kecil. Ia mengambil sepotong melon sambil berkata santai, "Aku memang tidak melakukan apa-apa kepadanya."
Estelle mengangkat alis sambil menunjuk layar laptop. "Kamu memang tidak melakukan apa-apa." Ia kemudian mengetuk layar dengan ujung jarinya.
Vivienne menahan senyum. Ia menundukkan wajah untuk menyembunyikan ekspresinya sebelum menjawab, "Makanya aku bilang, aku tidak melakukan apa-apa."
Estelle tidak mampu menahan tawanya lagi. Ia tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Kamu ini benar-benar pintar mencari alasan."
Vivienne hanya mengangkat bahu dengan wajah polos.
Estelle akhirnya menutup laptop dan meletakkannya di atas meja. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya dengan lebih santai.
"Kamu cukup bermain di belakang layar. Tidak perlu repot-repot mengurus semuanya sendiri," ujar Estelle sambil menatap perut Vivienne. "Fokus saja pada kondisi kesehatanmu."
Vivienne terdiam sejenak. Tangannya perlahan mengusap perutnya. "Aku tahu," jawabnya lembut.
Vivienne kemudian menoleh kepada Estelle dan tersenyum hangat. "Aku juga harus mengucapkan terima kasih banyak kepadamu."
Estelle mengernyitkan kening. "Untuk apa?"
"Karena kamu mau direpotkan dengan masalahku," jawab Vivienne sambil tertawa kecil.
Estelle langsung terkekeh dan melambaikan tangannya. "Aku merasa tidak direpotkan, kok!" jawabnya ringan.
Vivienne menatapnya seolah tidak percaya. "Benarkah?"
"Tentu saja," jawab Estelle sambil mengangkat bahu. Ia kemudian mengambil cangkir teh yang berada di atas meja dan menyeruputnya perlahan. "Lagipula, yang sibuk mengurus pemutusan kerja sama Giselle bukan aku."
Vivienne langsung mengangkat alis.
Estelle mengangkat bahu dengan santai. "Aku punya beberapa kenalan yang bisa membantu."
Vivienne menatapnya curiga. "Kenalan?"
"Iya."
"Kamu yakin mereka mau membantu?"
Estelle tersenyum sambil mengangkat cangkir tehnya. "Selama aku yang meminta, mereka akan mempertimbangkannya."
Vivienne mengangguk pelan. "Aku jadi merepotkanmu."
"Sudah kubilang, aku tidak merasa direpotkan."
Estelle sengaja mengalihkan pandangan ke laptop agar Vivienne tidak melihat senyum kecil di wajahnya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa orang yang paling sibuk membantu Vivienne justru seseorang yang selama ini selalu bertengkar dengannya, Killian.
Kakaknya itu bahkan tidak pernah meminta Vivienne mengetahui apa yang dilakukannya. Dan Estelle berniat menjaga rahasia itu selama mungkin.
Vivienne ikut tersenyum. Namun, setelah beberapa saat, tatapannya beralih ke laptop. Tidak ada kegembiraan berlebihan di wajahnya. Tidak ada pula ekspresi puas karena melihat Giselle kehilangan pekerjaan.
Vivienne hanya terlihat tenang. Ia memang tidak ingin menghancurkan Giselle secara terbuka. Ia tidak membutuhkan berita besar atau skandal yang membuat namanya ikut terseret.
Selama ini, Giselle hidup dari nama besar, pekerjaan, uang, dan perhatian banyak orang. Jadi, Vivienne hanya perlu membuat semua itu berkurang sedikit demi sedikit. Dan yang paling penting, tanpa memberikan celah kepada Giselle untuk menyerangnya kembali.
"Ngomong-ngomong, kamu serius tidak akan menyebarkan berita perselingkuhan Dominic dengan Giselle?" tanya Estelle dengan alis naik turun dan senyum dikulum.
Vivienne mengambil segelas air, lalu berkata pelan, "Aku tidak ingin ada celah."
Estelle menoleh. "Celah?"
Vivienne mengangguk. Jarinya masih memegang gelas dengan tenang.
"Kalau aku menyebarkan hubungan mereka, mereka bisa menuduhku mencemarkan nama baik," ujar Vivienne. "Aku tidak mau memberikan mereka kesempatan untuk memainkan peran sebagai korban."
Estelle tersenyum puas. "Jadi, kamu memilih membiarkan orang lain mengambil keputusan sendiri?"
"Ya," jawab Vivienne singkat. Ia menatap ke luar jendela. Cahaya sore menyentuh wajahnya yang terlihat semakin tenang.
"Kalau sebuah perusahaan memutuskan tidak memperpanjang kontrak dengan Giselle, itu keputusan mereka."
Estelle mengangguk perlahan. "Dan kalau mereka mulai mempertanyakan reputasinya."
"Itu juga bukan urusanku," potong Vivienne tenang.
Estelle terdiam beberapa detik sebelum terkekeh. "Kamu benar-benar sudah belajar banyak."
Vivienne tersenyum tipis. Tangannya kembali mengusap perutnya dengan lembut.
"Dulu aku terlalu mudah percaya. Sekarang aku hanya lebih berhati-hati."
Senyumnya tetap lembut. Namun, ada ketegasan di balik tatapannya. Ia tidak ingin bertindak karena kemarahan sesaat. Ia ingin memastikan setiap langkahnya memiliki alasan yang kuat.
Jika Giselle jatuh, maka perempuan itu harus jatuh karena kehidupannya sendiri mulai kehilangan pijakan. Bukan karena Vivienne menyerangnya secara terbuka.
Estelle memperhatikan sahabatnya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum.
Malamnya, Vivienne berdiri di depan cermin kamar. Tangannya mengusap perut yang semakin besar. Bayi di dalamnya bergerak kecil.
Vivienne tersenyum. Ia menundukkan kepala.
"Hari ini Mama cukup bahagia. Bukan karena mereka menderita." Senyumnya melembut. "Tapi karena sekarang Mama sudah tidak takut lagi."
Di luar kamar, Estelle sedang berbicara melalui telepon dengan Killian.
"Bagaimana?" tanya Estelle.
Killian menjawab dari seberang dengan suara tenang. "Beberapa kerja sama Giselle sudah berhenti. Tapi aku tidak menyentuh perusahaan yang benar-benar tidak punya alasan bisnis untuk memutus kontrak."
Estelle tersenyum. "Bagus."
"Kita tidak perlu berlebihan," ujar Killian. "Vivienne ingin mereka kehilangan pijakan, bukan membuat masalah hukum baru."
Estelle melirik ke arah pintu kamar. "Dia akan senang mendengarnya."
Killian terdiam sebentar. "Bagaimana kondisinya sekarang?"
Senyum Estelle berubah lembut. "Masih harus banyak istirahat."
"Jaga dia."
"Aku tahu."
Setelah panggilan berakhir, Estelle menatap pintu kamar Vivienne. Di dalam sana, sahabatnya sedang mengusap perut sambil tersenyum. Perempuan itu masih terluka. Masih harus menghadapi perceraian dan memiliki banyak hal yang harus diselesaikan.
Namun, Vivienne tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess