Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Misteri yang membingungkan.
Matahari meninggi, namun di dalam kamar itu, suasananya masih terasa dingin, kelam dan sunyi.
Bang Dante bangun lebih dulu, merapikan pakaian seragamnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah sosok yang masih terbaring diam di atas ranjang. Kemudian tak lama, mata Sea terbuka.
"Saya tambahi uang sakumu. Seharusnya bisa lebih centil, kan??" Ucapnya sambil meletakan uang dua juta lima ratus ribu rupiah dengan kasar di atas tempat tidur. Hatinya masih penuh amarah, kecewa, dan rasa dikhianati yang menyakitkan, namun entah kenapa, tiap kali melihat wajah istrinya yang terlihat begitu lemah itu, ada rasa tidak tega yang menyelinap, meski ia tolak sekuat tenaga.
Bang Dante bergegas keluar rumah tanpa pamit. Di dalam kamar, Sea meringkuk di balik selimut, tubuhnya gemetar hebat. Tubuhnya mendadak demam tinggi, nafasnya terasa panas, sementara air mata tak henti mengalir membasahi bantal.
Sea tak berani bergerak terlalu banyak, seluruh tubuhnya terasa sakit, perih, seakan hancur berkeping-keping. Malam itu, Letnan Dante bukan saja merenggut keperawanannya, tapi juga merenggut bagian dari dirinya yang paling berharga. Dan yang lebih menyakitkan, pria itu melakukannya karena mengira dirinya adalah Cherry.
"Kak Cherry, maafkan akuu..." bisiknya lirih di antara isak tangis. "Apa yang harus aku lakukan?? Aku takuuutt."
//
"Pasang di balik pakaianmu, kau harus bergerak cepat. Aku nggak mau nunggu lama lagi, Cher. Aku mau nikah sama kamu." Kata Bang Al.
"Sabar, Bang. Aku masih belum selesaikan urusanku sama laki-laki itu."
"Tapi benar kau tidak di apa-apakan sama si Herder itu, kan??" Selidik Bang Al.
"Nggak.. Aku bisa jaga diri, Bang."
"Sampai dia berani mencolekmu sedikit saja, habis dia di tanganku." Ancam Bang Al.
Cherry menggeleng malas. Sepertinya pria di sampingnya itu memang pencemburu. Cherry pun kemudian mengecup bibir Bang Al. "Kau bawa 'barangnya'?"
"Kenapa?? Itu benda haram." Jawab Bang Al.
"Setelah itu kau halalkan ya, Bang." Pinta Cherry.
...
"Wanita ini, buat aku sakit kepala." Bang Dante mengurut pelipisnya. Hasil pengamatan yang ia rangkai dari setiap laporan yang datang menunjukan bahwa titik koordinat gadis itu tak jauh dirinya. "Siapa kamu?? Dimana posisimu??"
Sungguh Bang Dante di landa frustasi hingga mengacak-acak rambutnya yang kini bermode cepak rapi.
Pikiran itu kembali berantakan apalagi bayang wajah Cherry dan kejadian semalam tidak bisa hilang dalam ingatannya. Cherry berontak mati-matian dalam dekapannya meskipun jelas gadis itu tak mampu menandingi tenaganya.
Masih terbayang jelas tangis sesenggukan Cherry yang memohon ampun dan merintih kesakitan. Jujur batinnya menangis karena memperlakukan istrinya dengan tidak layak, tapi ia juga tidak sanggup membayangkan istrinya memadu cinta dengan pria yang ia kenal.
"J****k." Umpatnya geregetan.
//
"Kau sakit??" Tanya Cherry saat diam-diam mengunjungi Sea.
"Nggak, kak." Jawab Sea.
"Ini aku bawakan obat, biar kemarin lukamu benar-benar pulih." Kata Cherry. "Bagaimana si Herder, dia curiga atau tidak??"
"Ng_gak, kak." Sea terbata menjawabnya.
"Oke, kau terus jaga jarak dengannya. Bagaimanapun dia itu laki-laki."
\=\=\=
"Ini uang kuliahmu..!!" Bang Dante meletakan kasar amplop coklat di atas meja ruang tamu lalu duduk bersandar di sofa. "Sini..!! Pijat pundak saya..!!" Perintah Bang Dante.
Sea mendekati Bang Dante dengan langkah gemetar. Bang Dante semakin merasa ada yang tidak beres dari gerak gerik istrinya. Ia pun menarik kasar tangan gadis itu hingga berlutut di hadapannya.
Seringai senyum Bang Dante kembali membuat Sea ketakutan. "Kau suka ini, kan??"
***
Hari-hari Sea serasa di neraka. Entah sudah berapa hari berlalu, dan di rumah itu, keheningan yang dingin semakin menguasai.
Di sisi lain, Bang Dante mulai menyadari ada sesuatu yang sangat salah. Setiap kali ia pulang, istrinya itu selalu ketakutan, namun saat ada kegiatan di kantor, istrinya itu sangat berani seolah sudah sangat menguasai situasi.
Seperti saat ini, sang istri tak berani menatap matanya, bicara sepatah dua patah saja dengan suara gemetar. Bang Dante juga melihat terkadang istrinya berisi, tapi kadang kurus seperti ini kalau sudah memasang wajah sedihnya yang bersamaan dengan wajah pucat.
Beberapa waktu ini Cherry sering mual di pagi hari dan yang paling membuat Dante tertegun. Tatapan Cherry begitu polos, kadang jenaka, kadang manja. Meskipun kadang nampak sekuat baja.
duugghhh..
pyyyyrr..
Sea berlari hingga tak sengaja menabrak Bang Dante sampai memecahkan gelas.
"Kau sakit?" tanyanya singkat, namun nada bicaranya sudah tak sekeras dulu.
Sea menggeleng lemah, wajahnya pucat pasi. "Nggak, Om.. Cuma mual biasa." Wajah itu juga bukan wajah 'bentrok penarik massa'.
Ada nada yang mungkin hanya Bang Dante yang menyadarinya. Suara kasar, suara lembut, suara manja, ia pahami dengan teliti. Sedikit demi sedikit, ia mencoba mendekati gadis itu dengan caranya, tidak berlogika tajam dan keras sebagai Intelijen, tapi lebih pada seorang pria pada wanitanya yang memiliki rasa.
Untuk sejenak, Bang Dante mengesampingkan egois dalam diri demi sebuah jawaban.
"Saya antar ke kamar..!!" Bang Dante hendak mendekati Cherry, tapi gadis itu mundur selangkah seolah memberi jarak. Wajahnya nampak ketakutan.
Pernah di suatu ketika, Ia mendekati 'Cherry' tapi gadis itu langsung menghindar secara frontal dengan rentetan omelannya.
Bang Dante kembali mencoba mendekat. Ia menggendong Cherry disana, menuju ke kamar namun reaksi itu berbeda. Cherry bersandar di bahunya dan menangis.
"Jangan marah lagi, ya. Aku takuut." Ucapnya.
Hati pria mana yang tidak tersentuh. Bang Dante sampai menelan ludah dengan kasar.
"Kenapa kamu berubah-ubah, kamu selalu memancing emosi saya. Saya tidak akan bahas tentang Al, saya akan lupakan semua. Tapi kamu harus janji untuk tinggalkan dia. Kamu ini punya suami, saya juga punya harga diri. Tapi kalau sampai sekali lagi saya melihatmu bersama dia lagi.... Saya tempeleng betul wajahmu, saya injak, saya hajar kamu tanpa ampun." Ancam Bang Dante mendidik istrinya meskipun ada perasaan tidak tega. "Asal kamu tau, Cher. Seorang suami menanggung segalanya atas istrinya, termasuk mendidiknya dengan benar. Dosa, haram bertemu dengan laki-laki lain. Tolong hargai saya..!!"
Sungguh Sea ketakutan, ia menangis sampai dadanya terasa sesak. "Aku, nggak tau harus bagaimana. Aku takut, aku nggak berani. Om Wira............. Om Dante." Sea semakin terisak.
Kening Bang Dante berkerut, gadis itu tak pernah menyembunyikan nama yang ia gunakan dalam penyamaran untuk penyelidikannya kali ini.
Ada dua nama yang ia gunakan dalam penyelidikan ini. Diego, nama yang ia gunakan sebagai pengenal pada pihak kepolisian atas dalam daerah operasi pusat, namun Wira.. Nama itu hanya di ketahui pihak Intelijen dua instansi yang ia gunakan saat ini untuk daerah jaringan operasi berbahaya.. Penanganan mafia penjual psikotropika dan senjata ilegal yang melibatkan pengkhianatan 'di dalam kubu'.
Tapi kemudian Bang Dante menarik senyumnya. "Ada saya, tidurlah.. Kamu aman sama saya."
...
Setelah memastikan Cherry tidur, Bang Dante membuka laptop dan meneliti kembali seluruh berkas yang ia dapatkan. Hampir satu jam lamanya ia mencoba melacak seluruhnya.
"B*****t, kenapa signalnya ada disini??" Umpatnya geram pusing sendiri sampai meremas kepalanya. Ia mengambil rokok dari saku celananya tapi rokoknya sudah habis. "A*u..!!! Sekalian ku cek lokasi saja deh."
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara