Indonesia
NovelToon NovelToon
Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Lari Saat Hamil / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nova sari

Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.

Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.

Sejak itu Lorenzo mengurungnya.

"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."

Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Lorenzo Papa Siaga

Setelah kejadian penculikan berdarah di rumah sakit St. Mary dan Isabella Moretti dipenjara seumur hidup di penjara wanita paling kejam di New York, akhirnya mansion De Luca benar-benar damai.

Tidak ada lagi musuh. Tidak ada lagi pistol. Tidak ada lagi penculikan. Keluarga Moretti sudah habis total. Ayahnya di penjara 30 tahun, anaknya Isabella di penjara seumur hidup. Tidak ada yang berani lagi mengganggu keluarga De Luca.

Sekarang, fokus utama di mansion De Luca hanya satu: *MENJAGA NYONYA ELENA YANG HAMIL KEMBAR 9 MINGGU DAN HARUS BED REST TOTAL!*

Dr. Emily bilang Elena harus bed rest total 1 minggu di rumah sakit, dan 1 bulan di rumah tidak boleh capek-capek, tidak boleh stres, tidak boleh jalan terlalu banyak, karena perutnya pernah terbentur dan sempat pendarahan sedikit.

Mendengar kata BED REST TOTAL, Lorenzo De Luca langsung mengambil keputusan paling gila yang pernah dia ambil seumur hidupnya sebagai Tuan Muda Mafia.

Dia LIBUR jadi Mafia selama 1 bulan!

Ya, Tuan Muda Mafia paling kejam yang bisnisnya triliunan dollar, yang biasanya rapat jam 6 pagi sampai jam 12 malam, sekarang memutuskan untuk CUTI jadi Mafia dan jadi PAPA SIAGA full time di rumah!

Keputusan itu membuat 20 bos Mafia di New York melongo dan hampir pingsan.

"Tuan Muda De Luca cuti jadi Mafia? Karena istrinya bed rest? Ya Tuhan, Nyonya Elena itu bener-bener ratu!"

Di mansion De Luca, suasana sekarang seperti rumah bapak-bapak siaga baru.

Jam 6 pagi, yang biasanya Lorenzo sudah pakai jas hitam rapi dan berangkat ke kantor mafia dengan 10 mobil pengawal, sekarang Lorenzo bangun dengan piyama hitam bergambar naga kecil (piyama couple sama Elena) dan langsung ke dapur.

Di dapur mewah mansion De Luca, terlihat pemandangan yang sangat langka dan sangat lucu.

Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia bertato naga di leher dan punggung, tinggi 185 cm, badan berotot, wajah super ganteng tapi dingin, sedang memakai celemek masak warna pink bertuliskan *"PAPA SIAGA LEON & LUNA"* pemberian Elena.

Di depannya ada wajan, ada telur, ada buku resep, dan ada Bi Inem yang mengajari dia masak.

"Tuan Muda, pelan-pelan pecahin telurnya, jangan pakai emosi kayak mukul musuh, Tuan! Pelan!" kata Bi Inem sambil menahan tawa melihat Tuan Muda-nya yang kejam itu masak telur dengan celemek pink.

Lorenzo mencoba memecahkan telur dengan sangat hati-hati, tapi karena tangannya terlalu kuat (tangan yang biasa memegang pistol), telurnya malah hancur dan kulitnya masuk ke wajan.

"Ah! Gagal lagi! Bi, kenapa masak telur saja susah sekali! Lebih gampang tembak musuh!" keluh Lorenzo.

Bi Inem tertawa ngakak. "Tuan Muda, musuh kan tidak perlu dikupas kulitnya, Tuan! Telur harus sabar!"

Setelah 5 kali gagal, akhirnya Lorenzo berhasil membuat telur ceplok setengah matang yang lumayan cantik untuk Elena.

Lorenzo membawa piring telur ceplok itu, plus bubur ayam buatan Bi Inem, plus jus mangga muda (untuk ngidam Elena), plus susu hamil, naik ke kamar utama di lantai 2.

Di kamar utama yang luasnya 100 meter persegi, Elena terbaring di tempat tidur king size dengan perut buncit kecil 9 minggu yang sudah mulai terlihat jelas kalau pakai piyama. Elena tidak boleh turun dari tempat tidur, hanya boleh miring kiri miring kanan. Rambut pirang panjangnya berantakan, wajahnya tanpa make up tapi tetap cantik glowing.

Elena sedang mengelus-elus perut buncit kecilnya sambil ngobrol dengan bayi kembarnya.

"Leon, Luna, pagi... Mama kangen Papa... Papa lagi masak di bawah... semoga tidak gosong ya..."

Tepat saat itu pintu kamar terbuka.

Lorenzo masuk dengan celemek pink PAPA SIAGA dan membawa nampan sarapan.

"Selamat pagi, Nyonya De Luca yang cantik dan Leon dan Luna yang ganteng dan cantik! Sarapan sudah siap! Buatan Papa Siaga!" kata Lorenzo dengan gaya seperti pelayan restoran bintang 5, tapi dengan celemek pink.

Elena yang melihat Lorenzo pakai celemek pink langsung ngakak sampai perut buncitnya guncang.

"Lorenzo! Ya ampun! Celemek pink! PAPA SIAGA LEON & LUNA! Kamu beli di mana? Lucu banget!"

Lorenzo yang biasanya jaim dan dingin, sekarang malah bergaya di depan Elena dengan celemek pinknya.

"Bagus kan? Saya pesan khusus dari Indonesia! 10 celemek pink! Biar Leon dan Luna tahu Papanya siaga! Sekarang, Nyonya, silakan sarapan! Ada telur ceplok buatan Papa, bubur ayam buatan Bi Inem, jus mangga muda untuk ngidam Nyonya, dan susu hamil!"

Lorenzo duduk di pinggir tempat tidur dan menyuapi Elena dengan sangat lembut.

"Ayo, sayang, buka mulut... aaa... untuk Leon... aaa... untuk Luna..." kata Lorenzo sambil menyuapi bubur ayam ke mulut Elena.

Elena makan dengan lahap sambil tersenyum bahagia. Meskipun telur ceplok buatan Lorenzo agak gosong dan asin, bagi Elena itu adalah telur terenak di dunia karena dibuat dengan cinta oleh Tuan Muda Mafia yang bucin.

"Enak, Lorenzo! Enak banget telurnya! Leon dan Luna suka!" kata Elena.

Lorenzo langsung bangga setengah mati.

"Benarkah? Enak? Saya belajar dari jam 5 pagi, Bi Inem sampai capek ngajarin saya! Besok saya mau belajar bikin rujak sendiri biar Nyonya tidak usah tunggu Bi Inem kalau ngidam jam 2 pagi!"

Setelah selesai menyuapi sarapan, Lorenzo tidak langsung pergi. Dia malah naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelah Elena, memeluk Elena dari samping dengan sangat hati-hati supaya tidak menekan perut buncit kecil Elena.

Tangan besar Lorenzo mengelus perut buncit kecil Elena yang mulai terlihat itu dengan lembut.

"Halo, Leon... Halo, Luna... ini Papa... Papa Siaga... Papa hari ini cuti jadi Mafia... Papa mau jaga Mama dan kalian seharian di rumah... kalian jangan nakal ya di perut Mama... jangan bikin Mama mual lagi ya..." bisik Lorenzo ke perut Elena.

Elena tertawa. "Lorenzo, mereka baru 9 minggu, belum bisa dengerin Papa ngomong..."

Lorenzo menggeleng dengan serius.

"Tidak! Mereka pasti dengar! Mereka anak Mafia! Anak Mafia itu pintar sejak di perut! Saya yakin Leon dan Luna dengar suara Papa!"

Tiba-tiba, Elena merasa mual lagi. Efek bed rest dan hormon hamil kembar memang bikin mual terus.

"Uekh! Lorenzo! Saya mual lagi!" kata Elena sambil menutup mulut.

Lorenzo langsung panik dan mengambil baskom kecil yang sudah dia siapkan di sebelah tempat tidur.

"Di sini, sayang, muntah di sini! Jangan ditahan! Keluarkan saja! Kasihan Leon dan Luna kalau Mamanya nahan mual!"

Elena muntah di baskom kecil itu.

"Uekh! Uekh!"

Lorenzo memegangi rambut pirang Elena dan mengusap punggung Elena dengan lembut.

"Sudah, sudah, keluarkan semua... Papa di sini... Papa pegangin..."

Setelah selesai muntah, Elena lemas dan bersandar di dada Lorenzo.

"Lorenzo... saya capek jadi ibu hamil... mual terus... pusing... perut sakit..."

Lorenzo mencium kening Elena yang berkeringat karena muntah.

"Saya tahu, sayang... jadi ibu hamil itu berat... apalagi hamil kembar... tapi kamu hebat, Elena... kamu Mama paling kuat... saya janji, setelah Leon dan Luna lahir, saya akan jaga kamu lebih lagi... saya akan gendong kamu tiap hari kalau kamu capek..."

Elena tersenyum lemah. "Janji ya?"

Lorenzo mengangguk. "Janji! Janji Papa Siaga!"

Siang harinya, Lorenzo yang seharusnya rapat bisnis triliunan dollar, malah duduk di lantai kamar bersama Elena yang bed rest, merakit box bayi kembar.

Ya, box bayi kembar!

Lorenzo membeli 2 box bayi mewah warna biru dan pink, plus 100 mainan bayi, plus 50 baju bayi kembar, semua ditaruh di kamar.

Lorenzo yang tidak pernah merakit apa pun selain pistol, sekarang merakit box bayi dengan obeng, sambil keringat bercucuran.

"Bi Inem! Ini bautnya di mana? Kok box bayinya miring? Leon sama Luna nanti jatuh kalau box-nya miring!" teriak Lorenzo dari kamar.

Bi Inem datang dan melihat box bayi yang dirakit Lorenzo miring ke kiri.

"Tuan Muda, kebalik, Tuan! Bautnya kebalik!"

Lorenzo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ah! Lebih susah dari rakit bom!"

Elena yang melihat dari tempat tidur hanya bisa tertawa ngakak melihat suami Mafianya yang super ganteng dan super kejam itu berkeringat merakit box bayi dengan celemek pink.

Sore harinya, Thomas datang ke kamar dengan membawa laptop dan setumpuk dokumen bisnis.

"Tuan Muda, maaf mengganggu waktu Papa Siaga, tapi ada 5 dokumen bisnis triliunan dollar yang harus Tuan tanda tangan hari ini, dan ada 3 bos Mafia yang mau video call dengan Tuan..."

Lorenzo yang sedang memijat kaki Elena yang bengkak karena hamil kembar, langsung menatap Thomas dengan tajam.

"Thomas! Saya sudah bilang saya cuti jadi Mafia 1 bulan! Bilang sama 3 bos Mafia itu, Tuan Muda mereka sedang jadi Papa Siaga dan sedang mijitin kaki istrinya yang hamil kembar! Kalau mereka protes, suruh mereka hamil sendiri!"

Thomas langsung mundur ketakutan dan membawa laptopnya pergi.

"Baik, Tuan Muda Papa Siaga!"

Di kamar, Elena tertawa lagi.

"Lorenzo, kasihan Thomas dimarahin..."

Lorenzo kembali memijat kaki Elena yang bengkak dengan lembut.

"Tidak apa-apa, Thomas sudah biasa saya marahin... yang penting sekarang kaki Nyonya De Luca tidak bengkak lagi... Leon dan Luna kan kembar, jadi kaki Mamanya bengkak dua kali lipat... Papa harus pijit dua kali lebih lama..."

Malam harinya, jam 9 malam, setelah seharian jadi Papa Siaga (masak, nyuapin, mijit, rakit box bayi), Lorenzo akhirnya berbaring di sebelah Elena di tempat tidur king size mereka.

Elena sudah mengantuk, matanya berat.

Lorenzo memeluk Elena dari belakang, tangannya mengelus perut buncit kecil Elena yang sudah 9 minggu itu.

"Tidur ya, Nyonya De Luca, Leon, dan Luna... besok Papa Siaga akan masak lagi... Papa mau belajar bikin rujak mangga yang enak seperti buatan Bi Inem..."

Elena mengangguk sambil setengah tidur.

"Iya, Papa Siaga... terima kasih... saya sayang kamu... Leon dan Luna sayang Papa..."

Lorenzo mencium rambut pirang Elena.

"Saya juga sayang kalian bertiga... tidur yang nyenyak ya... Papa jaga kalian semalaman..."

Lorenzo tidak tidur semalaman. Dia terjaga sambil mengelus perut Elena dan melihat Elena tidur dengan ngiler karena kecapekan hamil kembar.

Di luar kamar, Thomas dan Bi Inem mengintip dari celah pintu dan tersenyum haru.

"Tuan Muda benar-benar sudah jadi Papa Siaga yang bucin... Nyonya Elena beruntung sekali..." bisik Bi Inem.

Keluarga De Luca akhirnya benar-benar bahagia dan damai. Tidak ada lagi musuh, hanya ada cinta, rujak, es krim durian, dan celemek pink PAPA SIAGA.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!