Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Tidur Bertiga
Banyak sekali yang ingin dikatakannya. Namun, teringat isi kontrak yang ia buat, ternyata membuatnya merasa sendirian di rumahnya sendiri.
Bahkan, anak yang ia rindukan, seolah melupakannya sebagai sosok yang selalu menemaninya semenjak bayi.
Akhirnya Arven hanya menghela napas. Ia berniat untuk melangkahkan kaki secepatnya keluar dari kamar ini.
Namun ketika melihat posisi Elden yang semakin mendekati pinggir ranjang, Arven mengurungkan niatnya.
Ia menarik selimut yang sedikit terlepas dari tubuh anak itu. Kemudian memperbaiki posisi Elden dan dibatasi dengan bantal.
Setelah itu, ia menatap Mireya lagi. Perempuan itu sama sekali tidak bergerak. Arven akhirnya duduk sebentar di sisi ranjang.
Ia menatap ke seluruh sudut kamar ini.
.
.
Pagi telah datang, disambut oleh suara alarm dari ponsel Mireya dengan suara yang sangat nyaring. Tangannya segera meraba sisi di bawah bantal dan mematikan alarm itu.
Mata Mireya masih terpejam. Entah kenapa tubuhnya terasa berat. Sangat berat. Ia mencoba bergerak.
Namun, ternyata ia tidak bisa. Mireya mengerutkan kening. Ada sesuatu yang hangat menempel di belakang tubuhnya.
Ia mencoba menebak, itu pasti Elden.
Benar.
Setiap malam, Elden selalu tidur bersamanya. Saat dibujuk tidur di kamarnya sendiri, Elden tak pernah mau.
Namun... Mireya perlahan membuka matanya. Ternyata, lengan seseorang melingkar di pinggangnya. Napas hangat terdengar teratur di belakang kepalanya.
Mireya membeku. Ini bukan Elden. Matanya perlahan bergerak ke bawah. Lengan itu terlalu besar untuk ukuran bocah berusia lima tahun.
Mireya menelan ludah. Kemudian ia menoleh sedikit. Wajah seorang pria terlihat sangat dekat di belakangnya.
Arven.
Mata dan bibir Mireya langsung membulat. Ia menarik napas dan menjerit dengan suara yang sangat kencang.
“Aaaaah!”
Refleks, ia mendorong tubuh yang berada di belakangnya hingga pria yang tidur itu terguling langsung jatuh ke lantai.
Bruk!
“Agh!” Suara berat terdengar dari lantai.
Mireya langsung menutup mulut. Matanya terbuka dengan sangat lebar.
Arven mengangkat kepala sambil meringis. “Apa yang kau lakukan?”
Mireya duduk tegak. “Harusnya aku yang bertanya. Apa yang Anda lakukan di sini?! Ini kan kamarku.”
Arven menatapnya. “Apa kamu lupa? Kamar ini juga rumahku.”
“Bukan itu maksudku!” Mireya menunjuk ranjang. “Kenapa Anda tidur di ranjangku? Dan tangan Anda ...” Mireya kembali mengingat pria itu memeluknya dari belakang. Tiba-tiba ia langsung merinding.
Arven menatap ranjang. Kemudian menatap Mireya. Kemudian melirik Elden yang masih tertidur pulas di antara mereka.
Barulah ia mulai menyadari apa yang terjadi. “Aku…”
Kali ini, Arven terlihat kehilangan kata-kata.
Mireya semakin panik. “Jangan-jangan…” Kedua tangannya menyilang saling mengusap lengannya sendiri.
“Apa?”
“Anda sengaja masuk malam-malam ke kamar ini saat aku tidur?”
Arven mengernyit. Ia segera bangkit. “Aku datang karena kalian tidak datang ke meja makan.”
Mireya terdiam. “Jadi?”
“Kalian tidur begitu saja. Apa tak memikirkan perasaanku yang makan sendiri?"
“Lalu?”
“Aku berniat membangunkan kalian berdua.”
“Lalu?”
Arven menatap Mireya. “Entah kenapa aku juga ikut tidur di sini.”
Mireya menatapnya tidak percaya. “...Begitu saja? Sambil meluk-meluk aku?”
Arven sejenak memijit hidungnya. Ia sendiri tidak tahu kenapa sampai tidur di samping Mireya. “Itu ... aku ....”
Mireya memegang dahinya. 'Pria ini benar-benar aneh.'
Sementara itu, Elden mulai bergerak. Matanya perlahan terbuka dan bibir kecilnya terbuka, menguap.
Kemudian melihat Arven yang berdiri di sana, senyum kecilnya langsung menyambut kehadiran sang ayah.
“Ayah?”
Arven menatap Elden. “Hmmm?”
Elden mengucek matanya. “Ayah tidur di sini juga ya?”
Arven belum sempat menjawab.
Elden justru tersenyum lebar. “Berarti malam ino kita tidur bertiga!”
Mireya langsung menoleh. “Bukan begitu!”
Elden tertawa kecil.
Arven hanya mengusap tengkuknya. Namun entah kenapa, sejak pernikahan mereka yang hampir dua bulan yang lalu, suasana rumah ini perlahan terasa berbeda.
Awalnya, Arven begitu kukuh menjadikan pernikahan mereka sebagai ikatan resmi menjadikan Mireya sebagai ibu untuk anaknya.
Setelah satu bulan tak bertemu, Mireya seakan sengaja menggodanya untuk menghapus kontrak yang telah ia buat sendiri. Padahal Mireya, merasa cocok sekali dengan perjanjian itu.
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?