Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Jejak Memori di Perusahaan Investasi

Aroma tanah basah dan kayu lapuk dari atap dapur yang runtuh kemarin masih tercium samar di dalam rumah panggung tua milik Dirga. Di atas meja kayu yang beralaskan taplak lusuh, sebuah televisi tabung 20 inci masih menyiarkan potongan gambar wawancara eksklusif media nasional. Di layar kaca, wajah Lisa Larasati tampak begitu dingin namun menyimpan badai kehancuran emosional setelah membongkar skandal perselingkuhan kekasihnya di Kamar 808 Hotel Grand Paramita.

Dirga merogoh saku celana kainnya yang kusam. Tangannya yang kasar membelai pinggiran kartu nama bersepuh emas milik Lisa. Kartu yang tadinya begitu mengilap itu kini sedikit terlipat dan menempel noda debu serta keringat.

"Penglihatan itu seratus persen tepat," gumam Dirga pelan. Suaranya terdengar berat, menggema tipis di dalam ruangan yang sunyi. "Roda takdir sudah mulai berputar, Lisa. Tapi aku tidak bisa hanya menunggu engkau berlutut mencariku tanpa mempersiapkan fondasi kekuasaanku sendiri."

Ia menarik napas panjang melalui hidung, menahannya selama beberapa detik di dada, lalu menghembuskannya perlahan lewat mulut, persis seperti teknik pemusatan fokus yang ia latih setiap malam demi mengendalikan kemampuan mata batin peninggalan Sang Leluhur. Rasa pening yang biasa menusuk tajam di tempurung kepalanya kini perlahan menyusut menjadi kedutan ringan yang terkontrol.

Dirga mematikan televisi. Ia meraba dompet kulitnya yang tipis, mengeluarkan lembaran-lembaran uang tunai hasil narik ojek beberapa hari terakhir, lalu menatap amplop cokelat tebal milik Lisa Larasati yang tergeletak di pojok meja. Di dalam amplop itu, tersimpan uang ganti rugi sebesar lima puluh juta rupiah, sebuah nominal yang sanggup melunasi ancaman utang kasbon lima juta rupiah dari Pak Bambang sekaligus memperbaiki atap rumahnya yang hancur.

Namun, harga diri Dirga menolak keras untuk menggunakan uang itu begitu saja secara cuma-cuma.

"Uang ganti rugi ini adalah bentuk penghinaan yang ia lempar saat memandang rendah diriku di tepi jalan," bisik Dirga dengan tatapan mata yang mengeras, memancarkan keteguhan yang makin dingin. "Aku tidak akan membelanjakannya untuk belas kasihan. Jika aku harus menyentuhnya, uang ini harus menjadi alat beranak pinak. Menjadi senjata untuk menghancurkan orang-orang yang telah menginjak-injak harga diriku."

Pikirannya mendadak melayang mundur ke masa-masa ketika ia masih mengenakan seragam biru kusam sebagai seorang Office Boy di PT Kantor Investasi. Setiap kali menyapu lantai marmer di ruang analisis atau menyajikan cangkir kopi untuk para manajer portofolio, telinga Dirga kerap menangkap potongan percakapan tingkat tinggi tentang analisis teknikal, pola candlestick, volume transaksi, hingga aksi korporasi tersembunyi.

"Dahulu aku hanya seorang pembersih ruangan yang mendengarkan istilah-istilah itu tanpa modal," gumamnya seraya mengambil ponsel pintar jadul berlayar retak dari dalam saku jaketnya. "Pak Hendra dan Pak Bambang selalu menganggapku sampah yang tidak memahami dunia keuangan. Mereka tidak tahu bahwa selama berbulan-bulan, aku merekam seluruh logika dasar pasar modal di dalam kepalaku."

Dirga membuka aplikasi peramban sederhana di ponselnya. Koneksi internet yang lambat membuat layar berkedip beberapa kali sebelum menampilkan grafik saham domestik. Jemarinya yang dipenuhi bekas luka kerja keras mulai menggeser layar, menampilkan deretan kode saham perusahaan yang terdaftar di bursa.

"Jika penglihatan masa depan ini bisa bekerja pada nasib seseorang," bisik Dirga pada dirinya sendiri, "apakah kemampuan yang diturunkan Sang Leluhur ini juga sanggup menembus tabir waktu pada pergerakan angka-angka kapital?"

Dirga memajukan posisinya, duduk bersila secara tegap di atas lantai papan. Ponsel jadulnya diletakkan rata di atas meja. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengalihkan seluruh kesadaran dan energi ke titik tengah di antara kedua alisnya.

Suasana kamar mendadak terasa hampa. Hembusan angin malam yang menerobos lewat celah jendela seolah melambat. Dirga mulai menyatukan ingatan teknis tentang grafik saham yang pernah ia pelajari di kantor investasi dengan gelombang penglihatan mata batinnya.

"Fokus... pusatkan pikiran pada pergerakan harga tiga hari ke depan," bisiknya lirih, mengatur napas agar dadanya tetap tenang.

Perlahan, keheningan itu terpecahkan oleh gelombang panas yang menjalar cepat dari tulang belakang menuju dasar tengkoraknya. Denyut jantungnya meningkat drastis.

Deg! Deg! Deg!

Napas Dirga tercekat. Rasa sakit yang tajam meledak di dalam benaknya, bagaikan ribuan jarum halus yang menusuk saraf otaknya secara bersamaan. Keringat dingin langsung membasahi pelipis dan celana kusam yang membungkus tubuhnya.

"Ugh!" Dirga meringis menahan erangan, tangannya mencengkeram tepi meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih. "Tidak... aku tidak boleh menyerah pada rasa sakit ini. Aku harus melihatnya!"

Di balik kegelapan matanya yang terpejam, ruang hampa putih mendadak membentang luas. Gambar-gambar acak bermunculan dengan kecepatan tinggi, bayangan deretan angka hijau, suara riuh papan perdagangan saham, hingga grafik-grafik fluktuatif yang meluncur liar. Rasa sakit di kepalanya makin menyengat, mencoba memaksa kesadarannya runtuh.

Namun, keteguhan hati Dirga untuk bangkit dari jurang penderitaan menahan guncangan tersebut. Dengan sisa tenaga dan daya fokusnya, Dirga memaksakan mata batinnya mengunci satu kode saham spesifik yang terus terbayang terang di tengah pusaran angka.

PT Medika Perkasa Tbk.

Di dalam bayangan penglihatan masa depan itu, grafik saham PT Medika Perkasa yang awalnya berada dalam kondisi stagnan dan cenderung menurun mendadak dihantam oleh gelombang volume pembelian yang sangat masif. Batang candlestick hijau menjulang tinggi melampaui batas batas atas perdagangan.

Angka penutupan saham itu terlihat begitu tebal dan jelas, bercahaya di tengah kegelapan benaknya, sebuah lonjakan harga yang spektakuler, melonjak naik hingga tiga ratus persen dari harga dasarnya saat ini.

Brak!

Dirga membuka matanya secara mendadak. Tarikan napasnya naik turun dan terengah-engah, seolah baru saja muncul dari dalam permukaan air yang dalam. Keringat menetes deras dari dagunya, membasahi permukaan meja kayu. Sakit kepala yang menyengat itu perlahan surut, meninggalkan sensasi hangat yang tenang di seluruh tubuhnya.

Ia langsung menatap layar ponsel jadul di hadapannya. Jemarinya yang sedikit gemetar mengetik kode saham yang baru saja hadir di dalam penglihatannya.

"PT Medika Perkasa..." baca Dirga dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan kepastian.

Layar ponselnya menampilkan data riil pasar saat ini. Harga saham PT Medika Perkasa sedang berada di titik terendah, dihujani sentimen negatif dan dijauhi oleh mayoritas investor retail maupun lembaga. Grafik harga menunjukkan tren penurunan yang konsisten selama dua pekan terakhir.

Dirga menarik napas dalam-dalam, menyapu keringat di dahinya dengan lengan jaket ojolnya. Sebuah senyuman dingin, tipis, namun penuh percaya diri terukir di sudut bibirnya.

"Pasar sedang membuangnya karena menganggap perusahaan ini hampir bangkrut," ujar Dirga, menatap angka di layar ponsel dengan mata yang tajam. "Tapi mata batin tidak pernah berbohong. Dalam tiga hari ke depan, angka ini akan meledak tiga ratus persen."

Ia kembali menatap amplop tebal berisi uang ganti rugi lima puluh juta rupiah milik Lisa Larasati yang berada di samping ponselnya, lalu mengalihkan pandangan pada lembaran uang ratusan ribu sisa narik ojeknya.

"Penghinaan dari Leon, kemarahan Pak Hendra, manipulasi Pak Bambang, dan tatapan merendahkan dari Lisa Larasati..." kata Dirga lirih, suaranya dipenuhi ketetapan hati yang tak tergoyahkan. "Besok pagi, langkah pertamaku di dunia finansial akan dimulai. Aku akan membuktikan bahwa seorang bekas petugas kebersihan yang mereka injak-injak ini sanggup memutarbalikkan takdir dalam hitungan hari."

Dirga mengepalkan tangannya erat-erat di atas meja. Penglihatan presisi mengenai lonjakan saham PT Medika Perkasa kini telah terkunci rapat di dalam memorinya, menjadi jembatan awal bagi lompatan besar yang akan mengubah jalurnya dari seorang pemuda tertindas menjadi sosok yang sangat ditakuti di masa depan.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!