Indonesia
NovelToon NovelToon
Juna

Juna

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen Angst / Teen School/College / Persahabatan / Tamat
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: nadia

Lu sentuh pacar gue, jangan harap lu besok masih bisa melihat langit yang biru.

@Arjuna Algivano Guenya.

Siapa sih yang tidak mengenal Juna, semua isi sekolah tau akan siapa Juna. Seorang pria tampan yang di penuhi dengan kesempurnaan yang melekat dalam dirinya. Namun siapa sangka seorang Arjuna yang tampan ini masih belum punya pacar, et bukan karena dia tidak laku yah, melainkan karena ia terlalu pemilih dalam soal wanita.

Ia juga mempunyai geng di sekolahnya yang bernama Abstrak yang beranggotakan tida orang, dirinya, Alvino Guerrero, dan juga alfandi Digraha. Ketiga sahabat yang terkenal akan kenakalan dan juga kesomplakannya. Siapa sangka pada akhirnya ia malah akan memperebutkan satu wanita yang tak sengaja ia temukan saat di kantin.

Akan seperti apakah persahabatan mereka? mereka akan mempertahankan persahabatan mereka atau malah memilih mendapatkan perempuan itu, dengan cara apapaun. Ikuti kisah mereka, jangan lupa Follow autor juga yah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 17

Sementara itu Andi dan Varo bukannya pulang ke rumah, mereka malah pulang ke apartemen Juna, entahlah rasanya mereka lebih suka berada di apartemen Juna.

"Lapar nih, " Ucap Andi sambil memegang perutnya.

"Gue juga lapar, " Balas Varo, rupanya mereka berdua saat ini sedang kelaparan, namun cuaca di luar benar-benar tidak mendukung nya. Di luar sedang hujan deras, yang tidak memungkinkan mereka untuk keluar cari makan.

"Terus gimana? Di luar kan hujan, " Tanya Andi, sepertinya cacing dalam perutnya sudah meminta makan.

"Kita liat aja di kulkas ada makanan gak? " Titah Varo yang berjalan dari ruang utama ke dapur untuk melihat makanan.

"Ada gak? " Tanya Andi yang masih berada di ruang utama.

"Ada tapi cuman telur doang, " Balas Varo sambil memperhatikan telor tersebut.

Andi berjalan menghampiri Varo sambil membawa Helm yang tadi ia pinjam sewaktu pulang sekolah dari temannya, saat Varo melihat Andi membawa helm ke dapur ia tertawa geli.

"Ngapain ketawa? " Tanya Andi yang heran kenapa temannya malah menertawakan dirinya.

"Lu mau ngapain bawa helm? Mau masak atau mau balapan? " Tanya Varo terus tertawa.

"Eh lu tau gak kalau goreng telur itu katanya ya suka ada yang meledak, di tambah kompor gas itu bahaya, udah banyak kejadian kompor gas meledak, " Balas Andi sambil berbidik ngeri jika membayangkan apa yang terjadi akibat kompor gas meledak.

Varo kembali tertawa, ia benar-benar tidak tau kenapa sahabatnya sampai segitunya hanya ingin memasak telor saja.

"Lu gak usah gila deh, " Ujar Varo yang selesai tertawa, saat ini Varo berjalan untuk mengambil piring dan setelah itu ia memecahkan dua telor ke piring tersebut.

Lalu ia mengaduk nya hingga rata, tak lupa ia juga menambahkan garam dan penyedap rasa agar rasanya lebih enak, " Eh gak ada nasi yah? " Tanya Varo sambil menatap ke arah Andi.

"Kagak ada, eh lu liat aja tuh di sana, siapa tau ada, soalnya dari yang gue tau tadi si Juna berangkat sekolah dari sini, " Balas Andi sambil menunjuk lemari makanan.

Varo membuka lemari makanannya, dan ternyata nasi putih ada di sana walaupun keadaannya sudah dingin, Juna mungkin lupa tidak memasukan nasi itu ke penghangat nasi.

Kini waktunya Varo menggoreng telor ia juga sudah memanaskan minyak dalam wajan, namun tiba-tiba Andi berlindung di belakang Varo.

"Apaan sih luh? " Risih Varo mencoba melepaskan tarikan tangan Andi.

"Gue takut, bagaimana kalau wajah mulus dan indah ku terkena minyak panas? " Balas Andi yang tetap bersembunyi di balik tubuh kekar milik Varo.

"Dasar lemah, " Ujar Varo, lalu setelah itu Varo mulai menuangkan telor tersebut ke wajannya.

Terdengar suara dari telor yang di masak Varo dan suara itu mampu membuat Andi ketakutan, " Lu matiin napa kompor nya gak denger apa tuh suara telornya, udah kayak yang mau meledak aja, " Titah Andi tanpa mau menatap ke arah kompor nya.

"Berisik luh, mending lu ke dalem aja, ganggu tau gak, " Balas Varo yang menyuruh Andi untuk pergi saja ke ruang utama kehadirannya hanya membuat dia susah saja.

"Kenapa gue gak kepikiran ke sana yah, kalau gue takut mah yang tinggal pergi aja dari sini, tumben otak lu bener, " Ujar Andi sambil berlari ke ruang utama, ia duduk di sofa sambil mengusap dadanya.

"Akhirnya wajah ku yang tampan ini masih bisa terselamatkan, " Ujar Andi sambil meraba wajahnya yang masih seperti semula tampan nya.

Sementara itu di tempat lain Dinda masih di rumah Juna, ia sebenarnya sudah mau pulang namun di luar sedang hujan deras. Sedari tadi kerjaan Dinda hanya mundar-mandir tidak jelas di kamar Juna, karena sangking bosannya.

"Kapan berhentinya sih nih hujan, " Kesal Dinda karena hujan tidak mau berhenti.

"Sabar, lu mah orangnya gak sabaran. Emang gak seneng apa kejebak dalam kamar sama orang ganteng kayak gue, Orang-orang mah malah pada ngantri" Balas Juna yang kenarsisannya sudah mulai keluar.

"Gak udah sok pede deh jadi orang, " Balas Dinda kesal sambil memincingkan tatapannya.

Juna menarik tangan Dinda dan membuat Dinda duduk di pangkuannya, "Jangan berdiri terus nanti kaki luh yang indah ini pegel, " Ujar Juna sambil menatap mata Dinda.

Deg, detak jantung Dinda berdetak tidak normal lagi, bahkan ia benar-benar menikmati wajah tampan milik Juna, ia sama sekali enggan memalingkan tatapannya dari wajah indah milik Juna.

"Ganteng yah? " Tanya Juna sambil tersenyum.

"Ganteng banget, baru sadar ternyata manusia ini ganteng juga yah, walaupun agak nyebelin dikit, " Gumamnya dalam hati.

"Apa? Gak-gak apa yang lu omongin barusan gak bener, " Dinda sadar apa yang ia ucapkan salah, bahkan kali ini Dinda langsung berdiri dan memalingkan wajahnya yang saat ini sudah memerah karena perlakuan Juna padanya.

"Jangan salting gitu napa? " Goda Juna yang melihat kalau Dinda saat ini sedang salting.

Dinda langsung duduk di kasur king size milik Juna dan mencoba menstabilkan dirinya kembali, "Kagak ada yang salting, Ngapain juga gue salting sama orang modelan kayak lu, " Balas Dinda sinis.

Juna yang sedang duduk di sofa pun berjalan dan duduk di samping Dinda, " Yakin gak salting? " Tanya Juna menatap Dinda dengan tatapan yang tak dapat di ekspresi kan.

Dinda berusaha menghindari tatapannya, namun tiba-tiba Juna memegang kedua pipi Dinda dan dia menghadapkan Dinda agar menatapnya Dinda yang kaget pun refleks menatap matanya Juna yang mengingatkan dia dengan seseorang.

Tiba-tiba Dinda memegang kepalanya, " Sakit, sakit, " Rintis nya sambil menegang kepalanya.

Juna yang kaget pun langsung memegang tangan Dinda ia berusaha menenangkan gadis itu, " Kamu kenapa? Tenang!! " Ujar Juna panik.

"Sakit, Sakit, " Teriak Dinda ia merasa kepalanya menjadi sangat sakit.

Juna yang semakin khawatir langsung mendekap tubuh mungil Dinda, entah kenapa ia sangat khawatir dengan gadis ini seperti ada sebuah ikatan yang entah apa itu. Di dalam pelukan Juna Dinda juga menjadi semakin tenang, rasa sakitnya perlahan sedikit mereda.

Juna mengelus rambut Dinda, "Lu gak papa kan? " Tanya Juna sambil menegang tangan Dinda.

Dinda mulai melepaskan tangannya yang memegang erat kepalanya, ia rasa sakitnya kembali hilang.

"Lu tidur yah, " Juna menyuruh Dinda untuk tidur di sana.

Dan Dinda pun mengangguk ia mulai membaringkan tubuhnya di kasur milik Juna tersebut, Juna membantu menyelimuti tubuh Dinda bahkan sebelum pergi Juna mengecup hangat kening Dinda dan duduk di samping Dinda sambil terus mengelus rambut nya Dinda.

Ia merasa ada sebuah ikatan yang tak bisa di jelaskan dengan Dinda untuk saat ini. Dinda sudah mulai tertidur lelap, ia juga merasakan hal yang sana dengan apa yang Juna rasakan, namun jujur Dinda tak mampu mengingat apapun di masa lalunya.

Ada sebuah perasaan yang tak asing ketika mereka bersama, perasaan yang tidak bisa ia jelaskan sedikitpun.

1
HippySunshine
plis thorr up yang banyak🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!