Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:42.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

Berasal dari keluarga berada dan berkecukupan membuat Kirana begitu mencintai dunia. Hidup gadis berusia dua puluh lima tahun itu seakan sempurna dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan yang selalu saja mengelilinginya. Membuatnya lupa bahwa itu semua hanyalah titipan semata dan dapat menghilang tanpa pernah ia duga.

Hingga pada suatu saat, badai itu datang menerpa. Kehadiran wanita idaman lain yang membuat hati sang Papa berpaling menjadi awal dari prahara keluarganya. Tidak ada lagi ketenteraman. Tidak ada lagi kenyamanan. Yang ada hanyalah percekcokan dan pertengkaran kedua orang tuanya. Hingga ia pun memilih untuk menjatuhkan dirinya ke dalam kubangan nista sebagai salah satu bentuk protes kepada Rabb-nya.

Sampai pada saat ramadan tiba, takdir mempertemukan Kirana dengan seseorang yang ternyata menjadi jalan hijrahnya. Dan siapa sangka jika lelaki itu menaruh hati kepada Kirana.

Apakah Kirana akan menyambut cinta dari lelaki itu?


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Allah Tengah Merindukanmu

Tubuh Kirana bergerak ke sana kemari saat merasakan hawa panas yang menyergap tiba-tiba. Entah mengapa malam ini atmosfer di kamar ini terasa panas, hingga membuat wanita itu tidak nyenyak dalam tidurnya. Kirana mengerjapkan mata berupaya untuk meraih kesadarannya. Ia menggeser tubuhnya untuk bersandar di head board ranjang sembari sesekali meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa begitu kaku.

"Mengapa malam ini badanku terasa gerah sekali? Apakah aku harus keluar untuk mencari angin? Namun sepertinya suasana masih sangat sepi. Aku takut jika...,"

Kirana bermonolog lirih. Ingin rasanya ia keluar kamar dan  mencari angin segar, namun suasana sepi dan sunyi sedikit membuat wanita itu bergidik ngeri. Sejenak, wanita itu nampak larut dalam pikirannya sendiri. Pada akhirnya, ia memilih untuk keluar kamar setelah rasa gerah itu benar-benar terasa menyiksa sekali.

Kirana melangkahkan kaki menyusuri tiap sudut yang ada di dalam rumah ini. Sebuah rumah yang terasa begitu nyaman, karena di bagian belakang, ada sebuah taman yang lengkap dengan kolam ikan. Taman itulah yang begitu menarik perhatian Kirana untuk duduk-duduk di sana. Tentunya untuk menghempas rasa gerah yang melanda.

Kala tubuhnya hampir sampai di taman, tiba-tiba langkah kaki Kirana terhenti tatkala sayup-sayup ia mendengar suara merdu seorang laki-laki yang tengah membaca Al-Qur'an. Karena dilanda oleh rasa penasaran, ia pun mencoba mengikuti sumber dari suara itu. Hingga pada akhirnya, Kirana sampai di salah satu ruangan yang letaknya tidak jauh dari taman.

Ruangan ini tidak terlalu luas. Namun sepertinya masih bisa jika hanya untuk menampung tujuh orang dewasa. Dan di sana terlihat seorang laki-laki yang tengah khusyuk dalam lantunan ayat-ayat suci yang ia lantunkan.

Suara Rama terdengar begitu lembut dan terasa begitu menenangkan hati bagi siapapun yang mendengarnya. Tidak berbeda jauh dengan Kirana, ia juga merasakan sesuatu yang lain tatkala mendengarkan pemuda itu melantunkan ayat-ayat suci hingga membuatnya larut dalam rasa damai yang baru pertama kali ia rasakan. Kirana pun hanya bisa berdiri terpaku menatap punggung Rama yang sedang khusyuk dalam aktivitasnya.

Merasakan ada seseorang yang menghampirinya, Rama mencoba membalikkan tubuhnya. Dan terlihat, Kirana berdiri tidak jauh dari tempatnya bersimpuh saat ini.

"Kirana?!"

Kirana terkesiap saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia yang tengah larut dalam pikirannya sendiri mencoba mengerjapkan mata dan mulai bangun dari lamunannya. Ia baru sadar jika Rama sudah dalam posisi berhadapan langsung dengannya.

"Rama  ... aku ... eh.. apakah aku mengganggumu?"

Rama tersenyum simpul. Ia tutup Al-Qur'an yang ada di hadapannya, ia letakkan kembali di tempatnya. Masih dengan baju koko, sarung dan kopiah nya Rama mendekat ke arah Kirana.

"Mengapa kamu terbangun di jam-jam seperti ini, Kiran? Apakah ada sesuatu yang kamu perlukan?"

Kirana mengangguk pelan. "Hawa di kamar yang aku tempati terasa begitu panas Ram. Aku bermaksud untuk pergi ke taman itu. Namun sebelum sampai sana, aku mendengar ada suara seseorang yang sedang mengaji dan akhirnya aku berada di sini."

Rama tersenyum simpul. Sejak pertemuan pertamanya dengan Kirana, ia merasa bahwa ada satu beban hidup yang dirasakan oleh wanita ini. Hal itu nampak jelas dari sorot sendu yang terpancar dari netranya. Dan sore tadi ketika Kirana mengatakan ingin berhijrah, Rama merasa bahwa saat ini adalah waktu yang tepat baginya untuk menarik tangan wanita ini agar dapat keluar dari kubangan dosa.

"Mau ke sana? Mari aku temani!"

"T-tapi...."

"Tenang saja Ran... Aku tidak akan berbuat macam-macam. Jam-jam seperti ini suasana rumah ini sudah ramai. Lihatlah, Abi dan Umi sudah berada di dapur untuk menyiapkan menu untuk sahur!" ucap Rama sambil menunjuk ke arah dapur.

Pandangan Kirana tertuju pada ruang dapur yang nampak begitu terang. Di sana juga nampak bayangan dua orang yang sibuk bercengkerama sembari memegang sayuran di masing-masing telapak tangannya. Sesekali mereka juga nampak tertawa lepas seakan tidak memiliki beban hidup yang dirasakannya.

Mata Kirana memanas. Siluet-siluet kemesraan kedua orang tuanya kembali bermain-main di pikirannya. Tidak pernah ia duga jika keromantisan kedua orang tuanya berakhir dengan cara yang begitu memilukan seperti itu.

Kirana menyeka bulir bening yang menetes dari bingkai kelopak mata. Dengan senyum getir, ia mencoba untuk menyembunyikan kesedihan yang ia rasa.

"Aku ingin ke taman itu Ram!"

"Baiklah, ayo aku temani!"

Pada akhirnya dua manusia itu berjalan menuju taman. Keduanya duduk di bangku taman yang ada di sana. Bangku taman itu terpisah, itu berarti keduanya tidak duduk di bangku yang sama.

"K-kamu biasa ya bangun di jam segini?"

Kirana mencoba membuka suara untuk mulai mengobrol dengan Rama. Pandangannya masih lurus ke depan, ke arah pohon palem hias yang tinggi menjulang. Jika sebelumnya rasa gerah yang menyergap, kini hanya ada rasa sejuk yang terasa. Hembusan angin malam di taman ini benar-benar terasa menyejukkan.

Rama mengangguk pelan. "Ya, di jam seperti keluargaku memang terbiasa bangun, Ran. Terlebih saat ramadan seperti ini."

"Untuk shalat malam dan mengaji juga?"

"Ya, bisa dikatakan seperti itu. Dan pastinya bersiap untuk sahur."

"T-tapi mengapa yang lainnya tidak terlihat ada di ruangan yang kamu gunakan tadi Ram?" tanya Kirana begitu penasaran.

"Abi dan Umi jika ramadan seperti ini biasanya mengerjakan sholat malam setelah menyiapkan makanan untuk sahur. Sedangkan Yasmin, shalat malam di kamarnya sendiri."

Wajah Kirana mendadak berubah pias. Ia merasa teramat malu berada di tengah-tengah keluarga yang taat dalam ibadah seperti keluarga Rama ini.

Rama menatap heran raut wajah Kirana yang sedikit berbeda itu. "Kamu kenapa Ran? Mengapa wajahmu menjadi sendu seperti itu?"

"A-aku malu Ram.. Aku malu...," lirih Kirana dengan kepala menunduk.

Dahi Rama mengernyit, tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh wanita ini. "Malu? Apa yang membuatmu malu?"

Kirana menghela napas dalam dan ia hembuskan sedikit kasar. "Aku malu berada di tengah-tengah keluarga yang taat beribadah seperti keluargamu ini Ram, aku merasa rendah diri, karena aku berbeda dengan kalian."

Dahi Rama semakin berkerut dalam. "Berbeda? Kita masih menyembah Tuhan yang sama bukan? Mengapa kamu bisa mengatakan kalau kamu berbeda denganku dan keluargaku?"

Pandangan Kirana kembali ke arah depan dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan oleh wanita itu.

"Rasa-rasanya aku sudah terlalu jauh meninggalkan Tuhanku. Jika aku ingin kembali mendekat, apakah Tuhanku masih bersedia membukakan pintu dan menerimaku?"

Mata Kirana memanas. Entah apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Sejak pembicaraannya dengan Rama sore tadi perihal taubatan nasuha dan melihat Yasmin Istiqomah dengan hijab yang ia pakai, hati Kirana semakin didera oleh perasaan asing yang bergelayut manja di hatinya. Hatinya seperti tercubit.

Dan kini saat ia mendengarkan Rama melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, membuatnya merasakan kedamaian yang sulit untuk ia jabarkan. Tanpa sadar, setetes bulir bening kembali jatuh dari pelupuk mata Kirana.

Senyum manis Rama kembali terbit di bibirnya. Lelaki itu merasa, saat ini Allah tengah menyentuh seonggok daging bernyawa yang bersemayam di dalam tubuh wanita ini. Ia percaya, bahwa Allah memiliki cara-caraNya sendiri untuk bisa membolak-balikkan hati manusia.

Yaa muqollibal quluub, itulah Allah. Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

"Kamu ingin kembali mendekati Rabb-mu?" tanya Rama berusaha untuk kembali meyakinkan Kirana.

Kirana sudah tidak mampu lagi untuk berkata apa-apa. Ia pun hanya bisa menganggukkan kepala.

Lagi, senyum lebar kembali merekah di bibir Rama. "Allah tengah merindukanmu, Ran. Merindukanmu mengucap kalimat istighfar yang terucap dari bibirmu, merindukanmu meneteskan air mata di saat kamu mengingat semua dosa yang pernah kamu lakukan, merindukanmu memuji keagungan namaNya, dan merindukanmu melantunkan ayat-ayat cinta yang ada di dalam kitab Nya."

"T-tapi sudah terlalu jauh aku meninggalkan Tuhanku.  Apakah aku masih pantas untuk diterima kembali?" ucap Kirana masih ragu.

"Seperti apa yang sudah aku katakan sore tadi. Seberapa besar dosa yang kita lakukan, percayalah jika pintu ampunan Allah jauh lebih besar untuk hamba-hambaNya. Ketuklah pintu kasih sayang serta ampunan Allah. Dia pasti akan menerima dan menyambut kehadiranmu."

Ucapan Rama benar-benar bisa menembus kerasnya pintu hati Kirana yang selama ini terkunci. Pintu hati yang selama ini tidak pernah tersentuh oleh nilai-nilai religi, kini terbuka lebar dan siap untuk mulai berbenah diri. Ia menautkan pandangannya ke arah Rama, dan tersenyum ke arah pemuda ini.

"Bantu aku mengatakannya pada Umi, Ram. Aku ingin dibimbing oleh Umi untuk menjemput hidayah."

"Alhamdulillah..."

.

.

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1
......Maiko.....
gara2 si arman,jdi kesel kalo lihat muka suami,pengen nakol 🤭😂🤣
......Maiko.....
😭😭😭bukan laki aja yg bosen dngn perjalanan rumah tngga,kta wanita jga sama bosen,jenuh,cape..tpi bisa bertahan,malah GK kepikiran tuk selingkuh 🤧emang sableng si Arman 😠
Fania kurnia Dewi
Mampir
Yanti Daryanti
.😥
ˢ⍣⃟ₛ ❤️⃟Wᵃfᴹᵉᶦ🏡s⃝ᴿ ℛᵉˣ🌍ɢ⃟꙰Ⓜ
pendek amat kak tiba tiba end aja,gak ada bonus nya kah 😁
AwanMendung26: Assalamu'alaikum. 🌻
Halo, kak. Jika berkenan mampir di cerita aku juga, yuk! Judulnya Jodoh Untuk Syakayla. 🌻

Terima kasih. 🌻
total 1 replies
mama Al
Kalau novel kak Rasti yang namanya Rama pasti Perfecto
Rasti Yulia: wkkwkkk... ngepasin namanya sama bulan Ramadhan kak😆
total 1 replies
Arthi Yuniar
Udah end aja kk... gak di lanjut lagi
Rasti Yulia: emang sengaja pendek kak... 😂😂 khusus untuk bulan Ramadhan 😆
total 1 replies
Ukhty Sinta
karya ini sangat bagus dan sangat memotivasi saya yang saat ini jauh dri allah
Rasti Yulia: Terima kasih banyak kak😊😊
total 1 replies
Ahmad Affa
Assalamu'alaikum kak Ras.....

ternyata ada karya baru dan aku baru menyadarinya 😄 sudah berapa episode ini ketinggalannya 😅

gpp ws semoga selalu sukses aja ya kak doa terbaik biat othor 🥰🥰
Rasti Yulia: Terima kasih Kak Affa🥰🥰🥰
total 2 replies
Arthi Yuniar
Wah akhirnya Kirana resmi di lamar sama Rama, tinggal tunggu hari H nya semoga tak ada halangan
ˢ⍣⃟ₛ ❤️⃟Wᵃfᴹᵉᶦ🏡s⃝ᴿ ℛᵉˣ🌍ɢ⃟꙰Ⓜ
kok belum up kak
Arthi Yuniar
Syukurlah kluarga Kirana sudah utuh kembali semoga tak ada lagi pelakor dan pak Arman benar2 bertaubat
Arthi Yuniar
Ya ampuun to the point banget Rama baru aja kenal dua hari😅😅
Liena Akbar
semangat thor aku suka cerita ny
Arthi Yuniar
Minta maaf mah gampang pak Arman, kalo sudah seperti ini siapa yang mau bertanggung jawab istri depresi dan anak entah ada dimana
Arthi Yuniar
O.. oo.. kamu ketahuan😅
Viviana Chan
mampir baca novelku dong kak, sekalian kasih saran .
#pernikahan_termahal
ˢ⍣⃟ₛ ❤️⃟Wᵃfᴹᵉᶦ🏡s⃝ᴿ ℛᵉˣ🌍ɢ⃟꙰Ⓜ
ikut nangis aku ran😭😭😭😭semoga hanya sekali saja ya pak Arman jgn sampai masuk kejurang yg sama
Lisa: Mengandung bawang merah 😭😭😭
total 1 replies
Arthi Yuniar
Raina apa Kirana kak?
Rasti Yulia: wkkwkkk.. maaf typo kak... ini aku nyambi bikin cerita tentang Raina, jadi harap maklum jika sering typo 🥰🥰🥰
total 1 replies
Arthi Yuniar
Gak tahu aja Kirana jika di belakang mereka papahnya sudah berkhianat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!