Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Umpan yang Terpasang
Aroma barang kulit berkualitas dan wangi parfum mahal menyeruak di sepanjang lorong pusat perbelanjaan kelas atas Jakarta Selatan. Bagi Raisha, sore itu terasa seperti sebuah pelarian yang sangat menyegarkan.
Berjalan menyusuri deretan gerai busana ternama bersama Erick sama sekali tidak menyisakan kecanggungan, meski status di antara mereka adalah mantan kekasih. Hubungan mereka di masa lalu yang minim drama dan berakhir secara dewasa membuat interaksi sore ini mengalir begitu alami dan santai.
Setelah menyelesaikan agenda belanja dan membawa beberapa kantong barang, Erick membawa Raisha ke sebuah restoran fine dining ternama yang terletak di lantai atas mall tersebut.
Suasana restoran yang hangat, diiringi alunan musik instrumental yang lembut dan pendar lampu remang, memberikan ketenangan yang sudah lama tidak dirasakan Raisha.
Di sela-sela menyantap hidangan utama, percakapan mereka bergulir hangat dari urusan bisnis hingga ranah pribadi. Erick mengisahkan beberapa pengalaman asmaranya yang selalu kandas di tengah jalan setelah mereka berpisah.
"Entah kenapa, urusan asmaraku selalu apes," ujar Erick seraya menyunggingkan senyum tipis, menatap gelas minuman kristal di tangannya.
"Tapi ya... kalau dihitung-hitung, yang paling tragis tuh sebenarnya waktu aku jalanin hubungan sama kamu, Ra."
Raisha menghentikan gerakan sendoknya sejenak, mengangkat alisnya bingung. "Kenapa?"
Erick terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi empuk restoran.
"Dulu aku nggak sadar kalau kamu menjalin hubungan sama aku itu murni tanpa perasaan sama sekali. Di saat cewek-cewek lain yang pernah jalan sama aku selalu menunjukkan obsesi berlebih dan over jealousy, kamu malah cuek-cuek aja. Waktu itu aku mikir kamu cewek paling dewasa, tapi belakangan aku baru paham... kamu cuek ya karena emang nggak ada rasa." Erick menceritakan keresahan sewaktu berhubungan sama Raisha.
Raisha terkekeh lepas mendengar kejujuran dari mulut mantan kekasihnya itu. Tidak ada rasa bersalah yang menyengat, melainkan sebuah kepasrahan lucu atas kenyataan masa lalunya.
"Maaf ya, Ricklalunyaaku emang setransparan itu."
"Nggak apa-apa, Ra," balas Erick hangat.
"Malah aku kagum, dari dulu kamu selalu jujur sama sikap kamu. Makanya sekarang aku seneng banget bisa lihat kamu rileks begini."
"Ya, mungkin karena aku juga sedikit baru paham, kalau memaksakan menerima ketika hati belum siap, hanya karena sebuah validasi dari orang, benar-benar hal yang menyakitkan." Sahut Raisha.
"Kamu? Merasakan hal yang menyakitkan? Yang ketika aku meminta pisah karena sikap cuek kamu aja, kamu nggak ada tuh wajah tersakiti." seloroh Erick.
"Aku kan udah minta maaf. Aku memang bukan tipe orang meromantisasi sebuah hubungan." Raisha sedikit cemberut.
Erick hanya tersenyum. Dulu Raisha tidak pernah se ekspresif ini. Yang bisa menunjukkan wajah ketidaksukaan atau wajah bersalah. Erick bertanya dalam hati, apa yang membuatnya sedikit berubah.
Pertemuan sore itu ditutup dengan hangat, memberikan sedikit ketenangan di dada Raisha sebelum Erick mengantarnya pulang ke apartemen.
"Makasih atas traktiran shopingnya." ujar Raisha seraya mengangkat beberapa bag yang di jinjingnya.
Erick mengangguk seraya tersenyum. "Sampai ketemu besok ya, Ra."
Raisha mengangguk dan memandang laju mobil Erick yang semakin menjauh dari pandangan.
Keesokan harinya, agenda kerja Erick di daerah dekat kantor Raisha masih berlanjut. Mengingat ini adalah hari keduanya berada di kawasan bisnis tersebut, Erick kembali menghubungi Raisha untuk mengajak makan siang bersama di sebuah restoran khas Jepang yang terletak di lantai dasar gedung kantor Raisha. Agenda kerja Erick yang terbatas sehingga Erick mengajak makan ke tempat terdekat biar tidak memakan waktu di perjalanan.
Raisha yang sedang merasa senggang dan tidak ingin menghabiskan waktu istirahatnya di pantry kantor yang dipenuhi gosip, mengiyakan ajakan tersebut tanpa ragu. Apalagi restoran tempatnya makan masih digedung yang sama.
Sekitar pukul satu siang, restoran Jepang di lantai dasar itu tampak cukup ramai oleh para pekerja kantoran. Raisha duduk berhadapan dengan Erick di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke area taman dalam gedung.
Mereka mengobrol santai, sesekali tertawa saat Erick menceritakan kejadian konyol sewaktu meeting bersama kliennya pagi tadi.
Namun, di sudut lain restoran tersebut, sebuah pasang mata sedang mengawasi mereka tanpa berkedip. Sorot mata yang begitu tajam.
Aldo berdiri di dekat meja kasir setelah menyelesaikan pembayaran makan siangnya bersama beberapa rekan divisi. Tatapan matanya yang tajam mengunci sosok Raisha yang sedang tertawa renyah di hadapan pria yang sama seperti kemarin sore, pria bermobil mewah yang menjemputnya di pelataran parkir.
Awalnya, dada Aldo sempat bergetar oleh rasa cemburu dan ego yang tergores. Namun, begitu mendapati kebersamaan Raisha dan pria itu terjadi selama dua hari berturut-turut, sudut bibir Aldo perlahan terangkat. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan rencana licik terkembang di wajah tampannya.
Di dalam persepsi Aldo yang bengkok dan manipulatif, sebuah asumsi baru terbentuk secara instan: Raisha telah kembali berhubungan atau berpacaran dengan pria kaya itu.
Seketika itu juga, mekanisme psikologis di dalam diri Aldo bergejolak hebat. Rasa cemas dan penolakan yang sempat menghantuinya sewaktu Raisha berstatus single mendadak meluap, berganti dengan sengatan adrenalin yang sangat dikenalnya. Binar matanya yang tadinya redup kini berkilat terang oleh gairah yang aneh.
Bagi Aldo, melihat Raisha berpasangan dengan pria lain adalah sebuah pemicu instinktif. Saklar dalam dirinya yang menyukai tantangan, sensasi merebut milik orang lain, dan motivasi untuk menaklukkan objek yang sudah berpemilik, mendadak aktif kembali secara maksimal.
Ada getaran aneh yang membakar nadinya, sebuah sensasi kenikmatan psikologis saat membayangkan dirinya berhasil menarik Raisha kembali dari genggaman pria mapan tersebut.
'Jadi kamu udah punya pasangan lagi, Ra? batin Aldo seraya menyapu bibirnya pelan dengan jempol.
Seluruh keraguan, rasa takut akan komitmen, dan sikap dingin yang diperlihatkan Aldo selama beberapa minggu terakhir seolah menguap tanpa bekas. Keberadaan Erick di samping Raisha justru menjadi 'umpan' paling sempurna yang memancing Aldo keluar dari tempat tersembunyinya.
"Al, ayo naik ke lantai lima. Lu malah ngelamun di situ," tegur salah satu rekan kerjanya, menepuk bahu Aldo.
Aldo menoleh pelan, membetulkan posisi jam tangannya seraya menyunggingkan senyum manis yang dipenuhi niat terselubung.
"Duluan aja. Aku ada perlu sebentar."
Aldo kembali memalingkan pandangannya ke arah meja Raisha dan Erick. Binar matanya memancarkan ketertarikan yang sangat intens, tatapan penuh hasrat berburu yang dulu pernah diperlihatkannya saat pertama kali menyangka Raisha memiliki kekasih.
Permainan psikologis ini belum berakhir, dan kali ini, Aldo siap mengerahkan seluruh manipulasi manisnya untuk memenangkan permainan yang baru saja dimulai kembali.
Namun, tanpa Aldo sadari instinktif yang terpicu melihat kebersamaan Raisha dengan pria mapan itu akan menjadi sebuah obsesi.