Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Apartemen penthouse pribadi milik Lucien ternyata jauh lebih mewah dari yang dibayangkan Eliana. Langit-langitnya tinggi dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan lanskap kota dari ketinggian. Kenneth menuntun Eliana menuju salah satu kamar tamu yang luas, lengkap dengan tempat tidur berukuran king-size dan kamar mandi dalam.
"Ini kamar Anda, Eliana. Segala kebutuhan dasar sudah disiapkan di dalam," ujar Kenneth sopan sebelum membungkuk hormat dan pamit mundur untuk mengurus pengamanan area luar.
Setelah pintu kamar tertutup rapat, Eliana langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang amat empuk. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu pendar lembut, mendadak diliputi rasa keheranan yang amat besar atas jalan hidupnya dalam beberapa hari terakhir.
Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, meremas sprei sutra di bawah jemarinya sembari memiringkan kepala.
"Kalau dihitung-hitung... kenapa harus gue yang nemenin nih Pangeran?" gumam Eliana lirih pada ruangan yang sepi. "Kenapa juga gue yang jadi sibuk amatiran gini terlibat dan bantuin dia? Harusnya kan gue cuma pelayan figuran yang lewat doang di babak pertama!"
Eliana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menyusuri kembali ingatan-ingatannya sejak awal terbangun di dunia novel ini.
"Apa gara-gara waktu itu ya?" gumamnya lagi dengan dahi berkerut dalam. "Gara-gara gue gak sengaja denger soal konspirasi pembunuhan Ibunda Ratu sama Perdana Menteri Oberon? Makanya Lucien nahan gue terus di dekatnya biar mulut gue gak ember ke mana-mana? Hmmm... bisa jadi sih. Pangeran securigaan dia mana mungkin lepasin saksi kunci gitu aja."
Ia menghela napas panjang, menepuk kedua kakinya pelan. Terlepas dari alasan Lucien menahannya, Eliana tahu ia sudah terlanjur basah. Jika Lucien kalah dalam perang politik ini, nyawanya sebagai orang terdekat sang Pangeran juga berada dalam bahaya besar.
"Okelah, mending sekarang fokus nyusun strategi," bisik Eliana pada dirinya sendiri. Tangannya menopang dagu, mencoba mengingat-ingat detail bab-bab pertengahan novel Tahta & Darah Valdoria yang pernah ia baca sekilas.
"Dari mana dulu ya kita harus nyari bukti buat meruntuhkan posisi Rosalie sama Oberon...?" Eliana menjentikkan jarinya mendadak. "Ah! Latar belakang keluarga Rosalie!"
Mata Eliana berbinar saat potongan plot rahasia itu muncul kembali di benaknya.
"Iya, benar! Rosalie itu mau ikut dalam rencana kudeta Oberon bukan cuma karena silau harta atau tahta, tapi ada dendam lama antara keluarganya sama garis keturunan Kerajaan Valdoria! Karena dendam keluarga itulah makanya dia tega banget mau numbalin Lucien yang padahal tulus banget sama dia!"
Eliana mengusap dadanya, merasa gemas sendiri mengingat betapa liciknya karakter Rosalie di alur asli.
"Aishhh... shibal! Nenek sihir itu bener-bener bermuka dua!" umpat Eliana kesal setengah berbisik.
Ia membaringkan kembali tubuhnya di atas ranjang, menyelimuti dadanya dengan kain tebal yang hangat sambil menatap ke arah pintu.
"Besok pagi deh gue kasih tahu Lucien soal ini. Biar Kenneth bisa langsung lacak berkas-berkas rahasia keluarga Rosalie sebelum perempuan itu makin melunjak," putusnya mantap, sebelum akhirnya memejamkan mata untuk menyambut esok hari.
Keesokan paginya, tatkala pendar cahaya matahari fajar baru saja membias tipis menembus dinding kaca raksasa penthouse, mata Eliana mendadak terbuka lebar. Ia mengusap matanya yang masih terasa berat, lalu mendesah pelan.
Kebiasaan bangun sebelum subuh ini sebenarnya bukan sepenuhnya kehendak Eliana si jiwa mahasiswa yang biasanya hobi berbaring sampai siang. Namun, memori otot dan kebiasaan tubuh asli 'Eliana sang pelayan istana' telah terbentuk begitu kuat selama bertahun-tahun. Tubuh ini secara refleks langsung terbangun begitu fajar menyingsing, dipicu oleh rasa lapar yang langsung menggeliat di perutnya.
"Huuuh... tubuh ini emang udah disetting bangun jam segini," gumam Eliana serak sambil merenggangkan badannya.
Dengan langkah sedikit gulai, Eliana berjalan keluar kamar untuk mencari letak dapur. Dapur di penthouse mewah ini sangat luas, modern, dan didominasi marmer hitam yang elegan. Saat Eliana membuka pintu kulkas raksasa berdaun ganda di sudut ruangan, matanya seketika berbinar terang.
Kulkas itu terisi sangat penuh oleh Kenneth—mulai dari bermacam daging segar, sayuran hijau, telur, bahan pelengkap, hingga bumbu-bumbu lengkap.
"Buset, Kenneth niat banget belanja," bisik Eliana senang.
Rasa laparnya membuat jemari Eliana bergerak lincah secara telaten. Ia mengikat rambut panjangnya ke belakang, menyingsingkan lengan bajunya, lalu mulai meracik bahan masakan. Suara telenan beradu dengan pisau, irisan bawang yang harum saat ditumis di atas wajan, serta aroma gurih dari sup hangat dan tumisan daging langsung menyeruak memenuhi area dapur dan ruang tengah yang luas.
KLEK.
Pintu kamar utama terbuka pelan. Lucien melangkah keluar dengan gaya kasual yang amat langka mengenakan kaos hitam polos dan celana panjang santai. Rambut peraknya sedikit berantakan, dan wajah tampannya masih memancarkan sisa-sisa kelelahan.
Langkah Lucien terhenti beberapa meter dari dapur. Manik mata birunya menatap mematung ke arah Eliana yang sedang sibuk memindahkan masakan dari wajan ke atas piring saji dengan begitu cekatan. Suasana hening di apartemen mewah yang biasanya terasa dingin dan sepi itu mendadak dihidupkan oleh aroma masakan hangat dan presisi pergerakan gadis itu.
Eliana membalikkan badan sambil memegang mangkuk sup hangat. Matanya berkedip saat menyadari Lucien sudah berdiri di sana.
"Eh, Pangeran udah bangun?" panggil Eliana santai, memamerkan ukiran senyum tipis. Ia menunjuk meja makan marmer dengan dagunya. "Duduk, Pangeran. Sarapan dulu, saya udah bikin masakan rumahan simpel."
Lucien tidak bersuara. Pangeran Mahkota itu hanya menatap Eliana sejenak sebelum menuruti perintahnya melangkah pelan dan duduk di salah satu kursi makan.
Di hadapannya kini tersaji semangkuk sup daging berkuah bening yang harum, tumis sayur segar, dan nasi hangat. Beda jauh dengan hidangan kemewahan istana yang penuh hiasan formal namun terasa dingin, masakan Eliana memancarkan aroma kehangatan murni khas rumahan.
Lucien meraih sendoknya, mengambil sedikit kuah sup dan mencicipinya.
DEG.
Rasa gurih yang pas, hangat, dan menenangkan langsung menjalar di lidahnya. Masakan yang begitu sederhana ini mendadak menyengat ingatan lamanya tentang masa-masa kecil saat Ibunda Ratu masih hidup dan kerap membuatkannya hidangan hangat di luar protokol istana.
Lucien memakan hidangan itu dengan tenang dan lahap, menyuap demi menyuap tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Keheningan yang tercipta di antara mereka sama sekali tidak terasa canggung.
Di dalam kepalanya, Lucien menyimak suara batin Eliana yang bergema amat santai sembari gadis itu menyantap bagian makanannya sendiri di sudut meja.
"Gila, gurih banget sup buatan gue! Emang bakat terpendam gue tuh di bidang kuliner. Mending Lucien ketagihan terus masakan gue biar dia gak makin galak dan kaku kek biasanya," gumam batin Eliana riang, membuat sudut bibir Lucien terangkat sangat tipis hampir tak terlihat sembari melanjutkan sarapan hangatnya di pagi itu.