Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Kotak yang Belum Terisi
...#...
...Bima tidak langsung bergerak. Ia menatap foto di layar sampai tepi cahayanya terasa menusuk mata, lalu mematikan ponsel dan memasukkannya ke saku dalam jaket, di sebelah cincin perak yang sudah membuat kain di sana terasa berat....
...Sirene polisi di ujung pasar makin jelas. Ada suara ember jatuh, teriakan penjual yang disusul tawa pendek, lalu bunyi besi ditarik di atas semen. Orang-orang mulai membuka tenda, mengira pagi sudah datang lebih cepat....
...Bima menyusuri lorong di antara lapak. Lengan kirinya ia tekan ke tubuh. Setiap langkah membuat perban menempel lebih dalam, dan ia sudah berhenti mencoba menahan napas karena dadanya terus-menerus naik turun tanpa diminta....
...Di ujung lorong ada gerobak tahu yang masih tertutup terpal. Seorang laki-laki tua duduk di kursi kayu di sebelahnya, menyeruput kopi dari gelas kaca yang sudah retak di tepi. Ia melihat Bima dari atas sampai bawah, lalu melihat noda merah di lengannya....
..."Jatuh dari motor?" tanyanya....
..."Iya."...
..."Motornya di mana?"...
..."Di sana."...
...Laki-laki tua itu mengangguk seperti sudah menduga, lalu menggeser sebuah kantong plastik berisi kerupuk ke arah Bima tanpa mengatakan apa-apa....
...Bima tidak mengambilnya. Tapi ia berhenti, dan laki-laki itu tidak bertanya lagi....
... ...
...Ia berjalan ke arah jalan besar lewat gang kecil di belakang pasar. Di sini bau amis berganti bau bensin dan sampah basah. Lampu jalan menyala setengah, dan ada beberapa motor yang diparkir berderet dengan kunci masih menggantung....
...Bima mengeluarkan ponsel tua itu lagi. Layarnya menyala sebentar, lalu kembali gelap. Ia tidak membalas pesan tadi. Ia hanya menatap kotak kosong yang masih ada di layar, meski layarnya sudah mati....
...*Kotak itu belum pernah diisi. Ayahmu tidak sempat.*...
...Ia mengingat tulisan di bawah foto kuasa tadi, tinta biru, tanggal empat belas, dan tanda tangan ayahnya yang miring. Kalau ayahnya tidak sempat mengisi kotak itu, lalu siapa yang sudah menulis tanda tangan di kolom atas? Dan kenapa kotak kosong itu masih sampai ke tangannya?...
...Ia berhenti di depan sebuah warung kopi yang tutup. Kaca etalasenya penuh sisa stiker, dan di pojok bawah ada tulisan pensil yang sudah pudar. *Melayani sampai jam tiga.* Ada angka tiga yang ditimpa tanda silang....
...Bima memandanginya cukup lama. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasa tulisan itu seperti sesuatu yang sengaja ditinggalkan untuk dibaca orang yang lewat sendirian....
... ...
...Taksi kuning berhenti di ujung jalan saat ia melambaikan tangan kanan. Sopirnya perempuan paruh baya dengan kacamata bulat dan radio kecil yang memutar lagu dangdut lirih....
..."Mau ke mana, Mas?"...
..."Gang Melati."...
..."Jauh juga. Bayar dulu, ya."...
...Bima mengeluarkan dompet dengan tangan kanan. Ada tiga lembar uang sepuluh ribu dan satu lembar lima ribu yang kusut. Ia menghitung ulang sambil memegang pintu....
..."Pas?"...
..."Kurang sepuluh ribu."...
..."Ya sudah, nanti turun di depan pasar saja."...
...Bima masuk. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan kepala ke jok dan memejamkan mata. Bau pewangi mobil dan rokok lama bercampur jadi satu. Radio memutar lagu yang ia kenal dari warung, lagu yang dulu sering dinyanyikan ayahnya sambil mengipasi arang....
...Ia tidak menangis. Tapi dadanya terasa sesak, dan itu lebih buruk....
..."Sakit ya, Mas?" tanya sopir itu tanpa menoleh....
..."Nggak."...
..."Itu darahnya banyak."...
..."Nggak apa-apa, Bu."...
...Sopir itu mengangkat bahu dan tidak bicara lagi. Di kaca spion, Bima melihat matanya sesekali melirik ke arahnya, tidak curiga, hanya khawatir. Sesuatu dalam dirinya ingin bilang terima kasih, tapi ia tidak tahu harus bilang terima kasih untuk apa....
... ...
...Taksi berhenti di depan pasar. Bima turun dan berjalan ke arah gang rumah Pak Darto. Langit sudah terang sepenuhnya, dan jemuran orang-orang mulai berderet di atas atap seng....
...Di depan rumah cat hijau itu ada motor berhenti. Bukan motor yang tadi mengikutinya, tapi motor bebek biasa dengan keranjang di depan. Pengendaranya turun dan mengetuk pintu dua kali, lalu menunggu....
...Pintu terbuka. Wartini berdiri di ambang pintu, memakai daster dan selendang yang diikat di pinggang. Wajahnya sudah lama tidak tidur, dan ketika melihat Bima ia tidak langsung bicara....
...Ia menoleh ke pengendara motor, lalu menoleh lagi ke Bima....
..."Mas," katanya pelan. "Ada yang datang nyari kamu."...
..."Siapa?"...
...Wartini menggeleng, lalu menunjuk ke dalam rumah dengan dagunya. Dari ruang tamu, di balik tirai tipis, Bima melihat sosok duduk di kursi plastik. Punggungnya tegak, tangannya di pangkuan, dan kakinya bersilang dengan santai....
...Sosok itu menoleh ke arah pintu. Itu Pak Hendar. Jasnya sudah tidak ada, dan kacamatanya tergantung di saku dada....
..."Selamat pagi, Pak Bima," katanya. "Maaf mengganggu. Saya cuma mau mengantar sesuatu."...
..."Apa?"...
...Hendar mengangkat map biru dari meja. Bukan map yang sama dengan tadi, tapi serupa. Ia menaruhnya di pangkuan, dan jari-jarinya mengetuk sisi map dua kali....
..."Kotak yang belum terisi," katanya. "Kamu sudah lihat fotonya, kan?"...
...Bima tidak menjawab. Ia menoleh ke Wartini, dan ibunya menatapnya dengan mata yang melebar....
..."Mas," bisik Wartini. "Dia yang kemarin nyimpan amplop di laci itu."...
... ...
...Bima masuk ke ruang tamu. Lantai semen dingin, dan kipas angin di langit-langit berputar pelan, berderit setiap kali baling-balingnya menghadap ke arah yang sama. Dimas tidak ada. Pintu kamarnya tertutup rapat....
...Hendar membuka map itu dan menggeser selembar kertas ke atas meja kecil. Di sana ada kotak tanda tangan, kosong, dengan garis tipis di bawahnya, dan cap notaris di sudut kanan yang sudah kering....
..."Ini bukan dokumen untuk pengelola pasar," kata Hendar. "Ini dokumen untuk Gudang Empat. Sekarang atas namamu, dan sebagian masih atas nama ayahmu."...
..."Ayah saya sudah mati."...
..."Iya. Makanya tanda tangannya belum selesai."...
...Bima menatap kotak itu. Tangannya tidak bergerak. Ia merasa tubuhnya tidak ingin mengambil pena yang sudah disiapkan Hendar di sebelah kertas....
..."Kalau saya nggak tanda tangan?" tanyanya....
...Hendar melepas kacamatanya dan membersihkannya dengan ujung dasi yang sudah longgar. Ia tidak terburu-buru. Ia menatap Bima dengan mata yang lelah, bukan mata orang yang sedang mengancam....
..."Kalau kamu tidak tanda tangan, ada yang akan tanda tangan untukmu," katanya pelan. "Dan dia tidak akan menulis dengan tinta biru."...
..."Terus siapa?"...
...Hendar memasang kembali kacamatanya. "Kamu sudah tahu tulisan siapa yang ada di kolom saksi."...
...Bima mengangkat wajah. Ia teringat baris pensil di bawah nama Carla Vieri. *Biar dia tanya sendiri.*...
...Ia menarik kursi dan duduk. Pena biru itu ia genggam dengan tangan kanan. Ujungnya dingin, dan ia bisa merasakan denyut nadinya sendiri di sela jari....
...Ia menatap kotak kosong itu. Kotak yang tidak pernah diisi ayahnya. Kotak yang sekarang menunggunya....
..."Bima," bisik Wartini dari ambang pintu. "Jangan."...
...Bima tidak menoleh. Ia mengangkat pena sedikit, dan ujungnya menyentuh kertas. Tinta biru mulai keluar, membentuk garis pertama yang gemetar....
...Di luar, dari arah gang, terdengar bunyi motor berhenti. Lalu langkah sepatu kulit, pelan, berjalan mendekati pintu rumah Pak Darto. Berhenti di depan pagar. Dan suara perempuan yang sudah lama ia kenal, rendah dan tenang, memanggil dari luar....
..."Bima. Jangan tanda tangan itu. Itu bukan namamu."...