Dari utara Italia, Fiorella diculik dan dijual ke sebuah klub gelap di Rusia—dunia tempat para mafia, polisi korup, dan pengusaha berkuasa membeli tubuh perempuan seperti membeli barang. Gadis tujuh belas tahun yang dulu punya sejuta mimpi kini hanya punya satu: bertahan hidup.
Lalu ia dibeli oleh Burian, bos mafia Rusia yang dingin, kejam, dan tergila-gila padanya sejak pandangan pertama. Di tangan Burian, Fiorella menemukan neraka sekaligus gairah yang tak pernah ia mengerti—cinta dan kebencian yang saling membakar, membelenggu keduanya lebih erat daripada rantai mana pun.
Tapi pengkhianatan, darah, dan luka mengubah segalanya. Ketika Fiorella akhirnya lolos dari cengkeraman sang mafia, ia tak kembali sebagai korban. Ia kembali sebagai Sang Ratu Putih—dan kali ini, dialah yang datang untuk menagih setiap utang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alendra rivero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
JUDUL: TERLUKA UNTUK KEDUA KALINYA.
Burian
Setiba di kamar, kutanggalkan seluruh pakaianku, tapi kututupi bagian bawah tubuhku dengan handuk lalu berjalan ke mini bar. Kutuang segelas minuman dan kududuk di sofa. Malam ini kuniatkan menjadikannya milikku di setiap sudut kamar ini.
"Boleh masuk, Burian? Aku perlu bicara denganmu," kata Vladimir.
Mendengarnya, aku mengerutkan kening. Yang kuinginkan si gadis Italia, bukan mengobrol dengan orang tolol ini.
"Masuk."
Kunyalakan sebatang rokok sembari melihatnya masuk, dan aku bertanya-tanya kenapa gadis itu tak datang bersamanya.
"Mana si gadis Italia?"
"Ada masalah. Kukira kau tak akan membayar lebih untuknya. Pembayaranmu terlambat datang, dan saat aku sadar, si gadis Italia sudah punya pemilik baru." Begitu ia berkata, amarahku meledak.
"Apa maksud omong kosongmu itu? Pembayaran sudah kulakukan di muka, beberapa hari sebelumnya." Aku berteriak seperti orang kesetanan, bangkit berdiri, dan mencengkeram leher Vladimir.
"Kumohon, lepaskan aku."
"Di mana dia? Di mana? Bicara sekarang juga, anjing bajingan." Kulepaskan ia agar bisa bicara. Aku cuma ingin tahu di mana ia dan siapa yang memilikinya.
"Tak bisa kuberikan informasi itu. Rahasia," jawab bajingan itu, dan satu-satunya yang berhasil dilakukannya cuma mengobarkan amarahku.
"Kaupikir aku ini orang sembarangan?" Kudekati ia dan mulai kuhajar. Kami saling melayangkan tinju, dan bajingan itu berani-beraninya melawanku. Kubanting ia ke lantai dan kutendang tubuhnya, lalu kepalanya.
"Kuberi kau satu kesempatan terakhir. Beri tahu aku, kepada siapa kau menjualnya." Suaraku yang serak mencerminkan amarah seluruh diriku.
Tapi bajingan itu malah memandangku sambil tersenyum.
Aku berpakaian dan keluar dari kamar. Setiba di ruang utama, kulihat semua orang sedang bersenang-senang. Kucabut pistol dan kutarik pelatuknya, menembak ke langit-langit. Para perempuan ketakutan dan berlindung di bawah meja, tapi para lelaki bangkit berdiri dengan senjata di tangan.
Kami semua yang datang ke tempat ini adalah orang-orang bejat, tapi tak ada yang sebejat aku.
"Jangan ikut campur urusan yang bukan urusan kalian, dan kalian takkan punya masalah denganku. Sekarang, siapa yang mau adu tembak denganku, aku di sini."
Kusunggingkan setengah senyum.
Aku sendiri tak tahu kenapa aku bereaksi begini. Selama ini aku selalu memperhitungkan tiap langkah agar tak kehilangan kedudukanku, tapi hari ini aku bertindak tanpa akal sehat.
"Tuan, apa yang Anda lakukan?" tanya Marcos.
"Vladimir keparat itu menjual perempuanku," jawabku. "Akan kubuat klub terkutuk ini terbakar seperti neraka."
Aku tak mampu menahan gejolakku. Belum pernah aku merasakan amarah sedahsyat ini.
Semua orang meninggalkan tempat itu, dan kuperintahkan Marcos menyiram klub dengan bensin. Aku ingin klub ini menyala seperti neraka.
"Apa-apaan kau?" seru Miya. "Segini ributnya cuma demi seorang pelacur murahan? Kau mau tahu apa yang dilakukan si sok suci itu selama kau pergi? Kau mau tahu?
"Dia bercinta dengan Mijail di sini, di depan semua orang, layaknya pelacur kelas kakap seperti dia sebenarnya," kata Miya, dan aku tak sudi mempercayainya.
"Aku tak percaya. Dia tak seperti kau."
"Sayang, Fiorella tidak seperti yang kaukira," timpal Tais. "Dia menikmati kehidupan ini."
"Diam kalian."
Aku tak percaya satu kata pun. Si gadis Italia bukan perempuan macam itu. Kulihat di matanya, ia tak punya keserakahan maupun kejahatan. Kalian cuma dua jalang yang sakit hati.
"Jangan bakar klubnya," sela Sonya. "Aku tahu di mana Fiorella."
"Bicara sekarang, sialan."
"Dia bersama Vladimir."
Aku tersenyum mendengar kata-kata perempuan di depanku ini.
"Jadi benar, betina terkutuk itu menyerahkan dirinya pada bajingan itu?"
"Biar kujelaskan. Semuanya tak seperti yang kaukira. Kau harus tahu apa yang terjadi selama kau tak ada," kata Sonya.
Aku tak berhenti untuk mendengarkan alasan apa pun. Kupanggil anak buahku dan berangkat menuju penthouse Mijail, tempat ia menyimpan para pelacurnya, atau dalam hal ini, pelacurku.
Aku akan merebut kembali apa yang menjadi milikku, dan akan kubuat ia membayar atas pengkhianatannya.
Dulu aku pernah dilukai seorang betina terkutuk, tapi kali ini akan berbeda. Aku takkan memaafkan pengkhianatan kedua. Aku takkan memaafkan luka yang kedua.
Tais
Burian harus terbang ke Italia. Ia tak mau membawaku, tapi aku takkan menyia-nyiakan kesempatan sebesar itu. Karena aku perempuan lajang yang ingin hidup mewah, aku gadis muda yang cantik, dan aku tahu aku bisa mendapatkan apa yang kumau.
Beberapa hari sebelum keberangkatan, kupenuhi semua hasratnya, meski kadang ia terlalu kasar. Dan ketika hari keberangkatan tiba, kumohon padanya untuk membawaku serta. Kujanjikan akan menjadi gadis yang manis, dan akhirnya ia menerima. Tapi aku tak suka Magdalena ikut dengan kami. Aku ingin cuma aku, aku ingin jadi satu-satunya.
Kami berangkat, dan setiba di Italia aku mengunjungi banyak tempat indah. Burian memenuhi semua keinginanku, tapi aku tak berhasil menyingkirkan Magdalena.
Namun aku punya masalah yang jauh lebih besar, si gadis Italia terkutuk itu.
Burian menyuruh Marcos membayar tagihan sebulan untuk si betina itu, dan begitu Marcos selesai, kutunggu ia keluar dari kantor lalu aku masuk.
Kuperiksa komputernya dan kubatalkan pembayaran. Aku tak punya banyak waktu bersama Vladimir, tapi dari apa yang pernah kudengar darinya, aku tahu kalau pembayaran Burian tak datang tepat waktu, ia akan menjual si gadis Italia.
Beberapa hari kemudian.
Tepat pada hari kepulangan kami, aku bangun pagi-pagi karena Burian tidur dengan Magdalena. Aku pergi ke kantor dan melakukan pembayaran, tapi dengan sadar bahwa saat itu sudah lewat sehari dari tanggal yang disepakati.
Aku tersenyum puas. Kini satu masalahku berkurang. Tinggal menyingkirkan Magdalena, dan aku akan menjadi pemilik terkutuk dari segalanya.