Semua hal di dunia ini memiliki harga yang patut dibayar. Selatan, gadis yang bertekad menyatukan keluarga seutuhnya terseret pada serangkaian polemik dan tentunya harus memberikan pengorbanan atas imbalan yang dia dapatkan.
Imbalan dan pengorbanan seperti apa yang sanggup Selatan jalani ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayleela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membangkitkan Aura Romantis (Bag 2)
"Emm... Boleh aku meminta air putih ?" Selatan bertanya dalam keadaan tenggorokan seret.
"Kau tidak suka tequila Shyshine ?" Morrone malah menjawab dengan pertanyaan.
"Aku tidak meminum air yang mengandung alkohol. Lebih dari itu, aku tidak menyukai aromanya." Jawab Selatan.
"Pardon me, I dont know about that." Ucap Morrone meminta maaf.
"It's Okay Senyor. That's my behavior. Tak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini." Selatan menjelaskan dengan sangat hati - hati.
Morrone memerintahkan bodyguard nya untuk membawa air putih supaya Selatan bisa minum. Gerak mereka sangat cepat sehingga Selatan bisa segera membasahi tenggorokannya yang kering.
Ketika hidangan penutup disajikan, Selatan sumringah dan nyeletuk "I mad for dark chocolate". Dessert berbentuk cake dibaluri coklat dan berry berwarna ungu membuat segar hidangan manis tersebut.
"Makanlah Shyshine. Matamu tak sanggup jika hanya melihatnya saja." Ucap Morrone.
Selatan menikmati makanannya. Sampai pada satu suapan terakhir yang sungguh memberatkan. Memang sudah kebiasaan, satu suapan terakhir kue tersisa, tatkala perutnya terasa overload. Selatan seperti mengikuti ritme nafas, menunduk memperhatikan satu suap kue tersebut. Tak bergeming, dan Morrone merasa janggal terhadap tingkah Selatan.
"Shyshine. Que Pasa ? Kau baik - baik saja kan ?"
Selatan memejamkan mata sekaligus mengernyitkan kening mengatakan bahwa dia sudah kenyang namun kue ini tinggal satu suap lagi. Dengan ekspresi mempersilahkan, Morrone berkata tidak apa apa jika menyisakan kue itu.
"Kata mama aku, makanan harus dihabiskan. Apalagi makanan tinggal satu suap lagi. Itulah rezeki terbesar untuk kita. Mungkin sudah penyakit jika aku kenyang sebelum makanan habis." Selatan menjelaskan.
"Kau bisa menjadikan cheating day untuk sekarang." Ucap Morrone.
"Tidak, tidak. Aku tidak mau jika suatu saat rezekilah yang mencurangi hidupku." Sergah Selatan.
"Kau menjadi filsuf, Shyshine." Ucap Morrone.
"Hahaha filsuf. Aku terobsesi menjadi haluan." Selatan tertawa.
"Haluan kehidupan?" Tanya Morrone.
"Haluan hidupmu." Setelah berucap seperti itu, Selatan melontarkan senyum yang bersuara. Tak lupa dia menaikan kedua alisnya dua kali di hadapan Morrone yang ikut tersenyum juga menggelengkan kepala.
"Tanyakan sesuatu padaku. Aku ingin menjawab dengan antusias sepertimu." Pinta Morrone.
"Wait. Aku akan melahap ini terlebih dahulu." Ucap Selatan sembari memasukan kue ke dalam mulutnya.
Setelah meminum air, Selatan mengelap bibirnya dengan kain tangan yang sudah disediakan.
"Kau memiliki fobia ?" Tanya Selatan.
"Aku hanya memiliki sebuah ketakutan." Jawab Morrone.
"Apa itu ?" Tanya Selatan.
"Aku ketakutan disaat kau menanyakan ketakutan apa yang kumiliki." Ucap Morrone.
"Sangat curang dan tidak konsisten. Baru saja kau berucap menjawab dengan antusias tapi ternyata kau menyanggahnya sendiri. Tak usah menjawabnya. Berikan kedua tanganmu." Selatan yang terus merocos, meminta kedua tangan Morrone diserahkan padanya.
Morrone pun menurutinya setelah menyuruh bodyguard membersihkan meja makan. Selatan memperhatikan pergelangan tangan sampai jari tangan Morrone yang memiliki tato seekor burung di sebelah kiri dan tato berbentuk huruf yang sepertinya sebuah kalimat di tangan sebelah kanan.
Selatan memberitahunya jika dia menyukai kedua tato tersebut. Tak habis fikir, dia pun penasaran arti kalimat dari huruf huruf itu.
"Aku sangat menyukai tato yang memiliki bentuk jelas seperti ini. Di tempatku kebanyakan tato dibuat abstrak. Hanya khas dengan tinta merah dan hitam. Aku membayangkan tato ini di kedua tanganku. Mungkin aku akan terlihat seperti ketua gangster. Tato - tato dengan bentuk mini juga menurutku menakjubkan. Jika aku diberi kesempatan untuk diperbolehkan menato tubuh, aku menginginkan bentuk dandelion. Aku tahu berlebihan tapi, kau mengalahkan aura pemeran hero marvel. Kau tampak menggoda dengan tato - tato ini. Tapi bukan berarti kau menambah lagi tato. Ini sudah cukup, menurutku. Tapi tubuhmu hak mu, aku tidak memiliki kuasa atasnya. Jadi mau ditambah atau tidak, itu terserah mu. Hanya menurutku seperti ini sudah lebih dari cukup untuk aksesoris ketampananmu. Hahahah." Selatan terus saja berbicara sampai Morrone hanya berbicara lewat isyarat gerakan tubuh saja.
"Kau tidak akan menyentuh tanganku ? Kau hanya menunjuk-nunjuk tato ini. Itu tidak sopan Shyshine." Ucap Morrone.
"Apa boleh ? Untuk sekarang, menyentuh tanganmu tidak dibutuhkan." Jelas Selatan.
"Begitukah ?" Morrone bertanya keheranan.
Mereka bercengkrama sampai waktu tak terasa sudah mau menginjak tengah malam. Selatan banyak mendominasi pembicaraan dan Morrone terlihat tidak bosan mendengarkan segala lontaran kalimat dari mulut Selatan.
Merasa lelah berbicara, Selatan akhirnya diam dan sesekali memandang mata Morrone. Selebihnya dia memandangi satu sisi yang membuat lehernya nyaman di posisi tersebut.
Suara musik tiba - tiba menggema lembut. Alunan irama klasik eropa membuat siapa saja ingin menari dan berdansa. Morrone meraih tangan Selatan dan mengisyaratkan untuk pergi dari taman tersebut. Mereka berjalan menuju rooftop melewati tangga yang berada di sisi sebuah kamar tidur.
Di tepian tangga, tepatnya sebelum melangkahkah kaki untuk naik, Morrone tiba - tiba merangkul punggung atas dan belakang lutut Selatan. Dia hendak menggendongnya. Selatan menolak karna dia masih sanggup berjalan melalui tangga yang lumayan banyak tersebut.
"Aku tidak mau kau berkeringat Shyshine. Tetaplah terjaga. Malam ini milikmu. Jangan kau nodai dengan tertutupnya mata indahmu." Ucap Morrone dengan wajah serius sembari menggendong Selatan dan berjalan menuju rooftop.
Meski dalam hati sudah dikerumuni berbagai pertanyaan termasuk pertanyaan apa yang sedang terjadi diikuti berdebarnya jantung, masih saja Selatan mengikuti alur malam itu. Dia menyelami sebuah perasaan yang memang ditujukan untuk dibangkitkan. Egois atau apapun itu namanya, Selatan tidak peduli. Yang dia pentingkan adalah bagaimana menari dengan perasaan yang sesuai dengan yang diharapkan.
Irama lagu masih menyala. Selatan masih mencium aroma parfum di tubuh Morrone. Menikmatinya dan tak terasa sudah sampai di atas marmer hitam yang menjadi lantai rooftop.
"Aku malu bertanya, tapi aku tidak bisa menahannya. Aku ... ." Belum rampung Selatan bertanya, Morrone menyela ucapan Selatan dengan berkata "Sono innamorato di te!"
Selatan menjawab bahwa dia belum sepenuhnya menguasai bahasa Italia dan dia melanjutkan pertanyaannya.
"Dari brand dan aroma apa parfum yang kau pakai ? Aku sangat menyukai harumnya." Tanya Selatan.
Dengan posisi siap berdansa, Morrone tidak menjawab pertanyaan Selatan. Tangannya sudah mendarat di pinggang Selatan. Lalu Selatan meletakan tangannya di kedua pundak Morrone. Kaki melangkah ke kanan dan ke kiri berulang - ulang. Mereka saling menatap bola mata coklat yang mereka miliki.
"Aku tidak takut, aku hanya membenci cahaya yang terang benderang." Ucap Morrone.
Selatan hanya mendengarkan dan bermonolog di dalam hatinya "Pantes disini banyak sekali temaram cahaya. Tidak maksimal menyalakan cahaya. Orang mah takut sama gelap, ini malah sebaliknya". Berusaha untuk mengeluarkan mimik wajah sewajarnya, Selatan tidak bergumam sedikitpun.
"Bagaimana kau bisa menginginkan parfum orang lain, jika dirimu saja sudah memiliki aroma khas tersendiri ?" Ucap Morrone penuh teka teki.
Selatan semakin tak karuan mendengar ucapannya. Dia menyembunyikan salah tingkah dengan hanya tersenyum sambil menunduk supaya tidak terlihat pipinya merah.
Seperti tak mau menjeda setiap moment, Morrone menarik erat pinggang Selatan sehingga tubuh mereka menempel dan posisi wajah mereka sejajar secara horizontal.
"Jika diriku menggoda seperti yang kau fikirkan, Apa aku pun bisa bertindak menggoda pula? Apa kau mengizinkan ?" Tanya Morrone.
"Tengok ke atas langit, Tre, Due, Uno. Happy Birthday Shyhine." Ucap Morrone.
Ketika Uno disebut, terdengar suara ledakan yang tidak terlalu bising dari arah atas rooftop. Kembang api menyala begitu mempesona. Membentuk sebuah kalimat dalam bahasa Indonesia "Selamat Ulang Tahun dan Berbahagia". Pinggang Selatan pun dilepas dari genggaman Morrone. Selatan masih melongo dan melotot tak percaya. Tiba - tiba taburan bunga menetes dari sekitaran kepala Morrone dan Selatan.
Selatan merentangkan tangan dan berputar diantara bunga - bunga yang masih berjatuhan. Mengajak Morrone berdansa dengan indahnya. Berputar ke kanan, berputar ke kiri, ke depan dan ke belakang.
Selesai dengan dansa, Selatan terduduk bahagia sambil mengatur nafas. Beranjak berdiri melihat lagi ke langit langit. Pertunjukan kembang api sudah selesai. Bunga - bunga pun sudah tidak berjatuhan lagi. Seketika itu Morrone memeluk Selatan dari belakang. Selatan ikut serta pula dalam memegang tangan yang sedang memeluknya lalu berkata "It's beautiful, Grazie".
Morrone kini membawa tubuh Selatan kembali berhadapan dengannya. Memegang kedua pipi Selatan lalu berkata "Aku jauh lebih berterima kasih, melihatmu sebahagia ini".
Bibirnya mulai mendekat dan hampir mendarat di atas bibir Selatan. Bayangan Aarav mendistraksi pandangan Selatan dan refleks mundur satu langkah. Tak mau jadi canggung, dia peluk erat tubuh Morrone. Menyamankan diri memeluk tubuh orang asing lalu berkata "No kiss, No ***, Just Hug, Morrone. I'm feeling amazing now. But you are more amazing than me".
lumayan...
nyastra nih, thor....
selesai makan malem lanjut lagi😍🤗