Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Perjodohan
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lonafx

Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.

Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.

Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.

Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.

____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?

kuyyy ikuti kisahnya~

📢FYI, cerita ini alurnya santuyy yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Sisi Kehidupan Tamara

Tamara yang baru sampai di dekat Amanda, terburu ikut menghentikan langkahnya.

Matanya membesar melihat sosok di depan mereka.

Arvin.

Laki-laki itu berdiri dengan tenang tanpa ekspresi berlebihan, melihat dua perempuan itu kompak mematung.

Di sebelahnya, Jenna yang sepertinya sejak tadi menemani, hanya berdiri kaku di antara momen itu.

Hingga Tamara berdeham singkat, wajahnya langsung melembut.

Melihat kehadiran suaminya, sebuah ide terlintas begitu saja di benaknya.

Alisnya terangkat nakal, dengan sudut bibir terangkat miring.

"Sayang... kamu di sini?" Tamara menyapa Arvin dengan suara lembut.

Suaranya memecah keheningan. Wajahnya, terlalu antusias, nyaris berlebihan.

Tanpa menunggu jawaban, ia lantas menambah langkah untuk menghampiri Arvin.

Bahkan saat melewati Amanda, ia menyempatkan membalas perempuan itu dengan menyenggol bahunya, sehingga tubuh Amanda sedikit bergeser dari posisinya.

Senyum Tamara melebar dengan mata berbinar, saat sudah tiba di dekat Arvin.

Ia bahkan langsung melingkarkan kedua lengannya di pundak sang suami, memeluk singkat, membuat tangan Arvin refleks terangkat menyentuh pinggangnya.

Sikap Tamara mendadak manja, agak drama, dan yang terpenting baginya sengaja 'menunjukkan' itu di depan Amanda.

Satu tangannya berpindah dan membelai sisi wajah Arvin, kemudian...

Cup.

Satu kecupan mesra mendarat di pipi laki-laki itu, tanpa peringatan.

"Seharian nggak ketemu... jadi kangen, tau." Kalimat itu meluncur dengan nada ringan dari mulut Tamara.

Arvin terdiam. Ekspresi wajahnya memang tetap terkontrol dengan baik, tapi tubuh Tamara yang menempel padanya membuat otaknya gaduh—sesuatu yang bahkan jarang terjadi padanya.

Sementara Amanda hanya terpaku, nyaris terperangah melihat kelakuan Tamara yang menurutnya sengaja pamer kemesraan.

Sedangkan Jenna sudah membekap mulut menahan senyum, melihat tingkah bosnya hari ini yang sangat 'tidak normal'.

Tamara tersenyum manis ke arah Arvin, terlalu manis.

"Kamu mau jemput aku?" tanyanya dengan suara lebih lembut, terkesan dibuat-buat.

Arvin mengangguk.

Sorot mata Tamara tambah antusias, seakan tak bisa menyembunyikan kegirangannya.

"Ya ampun, kamu so sweet banget sih, Sayang."

Matanya bertemu dengan tatapan Arvin, tapi tak mengubah sikap sok dramatisnya.

Ia tahu laki-laki itu akan sangat mudah membaca tingkahnya, dan mungkin akan langsung illfeel dengan perubahan sikapnya.

Sementara Arvin masih bisa tetap bersikap tenang, seolah tak terganggu.

Diamnya tidak canggung, justru hatinya merasa geli sendiri dengan tingkah istrinya yang terlihat konyol.

Sesuatu yang bahkan baru pertama kali ia lihat, di balik sosok perempuan tegas itu.

Tamara meraih lengan Arvin, melingkarkan tangannya dengan mesra.

Pandangannya berpindah ke arah Amanda, senyumnya penuh kemenangan, dan jelas pamer.

Sorot matanya seolah berkata: Lihat kan?

Amanda menyilangkan tangan, wajahnya tetap angkuh.

Tatapannya sinis, melihat sisi kehidupan Tamara yang selalu terlihat sempurna dan menyenangkan—hal yang selalu membuatnya iri sejak lama.

Apalagi setelah melihat langsung sosok suami Tamara yang penuh karisma, juga kemesraan mereka. Ia tidak tahan melihatnya lebih lama.

Perempuan itu mendadak kehabisan kata, lalu pergi begitu saja membawa perasaan jengkel yang menumpuk di dalam dada.

Tamara menatap Arvin lagi, tangannya masih lengket di lengan laki-laki itu.

Wajahnya mendadak polos, hanya untuk menutupi rasa panas yang mulai menjalar di pipi karena terlanjur malu.

Hingga Jenna pura-pura terbatuk ringan. "Ehm... Kalau gitu, saya permisi dulu, Bu," pamitnya, lalu segera meninggalkan mereka.

Tamara melepaskan lengan Arvin. Jarinya merapikan sedikit ujung rambutnya di sisi wajah—gaya andalan menolak mati gaya.

"Maaf," ucapnya, lalu buru-buru klarifikasi. "Aku hanya ingin menunjukkannya di depan perempuan songong itu."

Tangannya menyilang, sorot matanya kembali ke 'setelan normal'. "Enak aja. Dia sembarangan mengomentari soal hidupku. Didepanku, lagi."

Arvin hanya mengangguk, senyumnya maklum.

Ia lalu memberitahukan soal kedatangannya, dan ingin mengajak Tamara berangkat bersama ke rumah papanya Tamara, yang meminta mereka datang.

"Aku tadi udah kirim pesan ke kamu, kalau aku akan jemput," kata Arvin, dengan sikap yang tidak berubah sedikit pun.

Tamara menepuk pelan jidatnya. "Ya ampun... maaf ya, aku belum sempat buka pesan kamu. Tadi lumayan banyak kerjaan... "

Ia melirik ke arah jejak langkah Amanda. " ...dan ada sedikit gangguan."

Setelahnya, keduanya berjalan bersama menuju parkiran basemen.

Sepanjang jalan, Tamara menceritakan sedikit soal pertemuannya dengan Amanda tadi.

Arvin fokus mendengarkan, sesekali hanya mengangguk pelan tiap mendengar Tamara mengutarakan kekesalannya.

Tamara bahkan tanpa sadar, merasa nyaman saat bercerita banyak.

Ia terus menggerutu, mengingat kelakuan Amanda yang selalu membuatnya naik pitam.

"Ya aku kesel, lah. Masa dia bilang aku bayar kamu buat nikah kontrak, biar dapat perhatian publik? Hanya karena berita tentang produknya kalah populer," suara Tamara pelan, tapi nada bicaranya jelas jengkel.

Ia melanjutkan, "Aku nggak bisa terima dong... Dia pikir dia siapa berani bilang tentang kamu seenak jidat."

"Lagian, kita juga nikahnya beneran. Bukan settingan—"

Tamara langsung menahan ucapannya, seakan baru sadar kebanyakan bicara.

Lagi-lagi pipinya memerah, karena Arvin terus menatapnya dengan ekspresi yang selalu sulit dibaca olehnya.

....

Beberapa saat kemudian.

Hari masih terang ketika mobil yang dikemudikan Arvin tiba di kediaman papanya Tamara.

Mereka segera masuk dan disambut senyum bahagia dari pria paruh baya itu.

Ketiganya mengobrol, makan malam bersama layaknya sebuah keluarga bahagia, dan untuk pertama kalinya, Tamara merasa telah menjadi tamu di rumah itu.

Rumah yang sudah menyimpan terlalu banyak kenangan dan banyak kisah hidupnya, yang bahkan tak pernah tersorot oleh media mana pun.

Di sela kebersamaan itu, ia pergi ke kamarnya, sekadar melepas rindu pada suasana itu sambil mengemas beberapa barang miliknya yang akan ia bawa.

Sementara, Rudi mengajak Arvin ke ruang pribadinya.

Ruangan itu masih sama—dingin, terlalu sepi, tapi penuh ketenangan.

Arvin duduk di sofa kulit, sambil fokus dengan kertas di tangannya yang baru diberikan oleh Rudi.

Bahunya yang semula tegak, mendadak merosot ketika melihat surat keterangan pemeriksaan kondisi kesehatan papa mertuanya itu.

"Papa sakit jantung?" Arvin bertanya dengan nada hampir tak percaya.

Jemarinya sedikit menekan ujung kertas, meneliti catatan hasil diagnosa, istilah medis, dan barisan kalimat yang bahkan terasa terlalu menusuk untuk menentukan hidup seseorang.

Rudi yang duduk di sampingnya, mengiyakan. Kemudian bercerita sedikit tentang kondisinya selama ini yang ia simpan rapat bahkan dari putrinya.

"Papa serius, nggak mau ngasih tahu Tamara soal ini?" tanya Arvin di tengah obrolan mereka.

Rudi tak langsung menjawab, hanya sedikit menundukkan pandangan.

"Dia akan sangat rapuh kalau tahu soal ini, Vin," katanya.

Ia bicara sambil menatap menantunya. "Tamara itu, nggak sekuat kelihatannya. Papa hanya nggak mau dia jadi kepikiran... "

Tangannya menepuk pelan pundak Arvin. "...dengan menikahkan dia sama kamu, itu sudah cukup buat Papa, Vin. Papa percaya kamu bisa menjaganya."

Arvin hanya terdiam menatapnya, mencoba memahami betapa beratnya menyimpan hal itu sendirian.

"Saya mungkin bukan orang yang sempurna buat Tamara, Pa... tapi saya akan berusaha menjaga amanah Papa dengan baik."

Rudi menarik napas panjang, tersenyum kecil.

Bukan senyum puas karena telah mengatur hidup anaknya, tapi senyum pasrah seorang ayah yang merasa tidak punya banyak waktu lagi.

"Terima kasih ya, Vin. Kamu sudah mau menerima Tamara di hidup kamu. Papa bisa merasa lebih tenang," ucapnya.

Arvin mengangguk, mengiyakan.

Rudi menyandarkan punggung. "Memang agak susah memahami dia, Vin. Papa harap, kamu bisa memaklumi. Dia memang sangat mencintai pekerjaannya."

"Bagi orang-orang, Lunara adalah wujud dari segala ambisinya, tapi nggak ada yang tahu kalau... Itu bentuk dari rasa kesepiannya."

Suaranya melemah. "Terutama sejak mamanya Tamara, meninggalkannya waktu ia masih berusia sangat muda."

Arvin masih setia di sampingnya, mendengarkan dengan perhatian penuh, seolah ingin menyimpan informasi itu baik-baik dalam kepalanya.

Rudi lalu menceritakan tentang putrinya, karena ia merasa Arvin sebagai suami berhak tahu tentang Tamara.

Tamara sebenarnya tumbuh dalam keberlimpahan kasih sayang dan perhatian, ia juga anak yang periang.

Sebelum hari itu datang, saat usianya masih 12 tahun, mamanya tiba-tiba memilih pergi meninggalkannya.

Dalam sekejap, dunia di hadapannya terasa runtuh.

Kehilangan yang menyisakan luka mendalam, sempat membuat Tamara tumbuh menjadi anak penyendiri dan tertutup dari dunia luar.

Dari malam-malam panjang, Rudi yang harus berperan sebagai orang tua tunggal, berusaha mengarahkannya ke berbagai hal positif dengan mengajarinya banyak hal.

Tak mudah, tapi cukup berhasil.

Tamara mulai menemukan kesibukan, dan seiring berjalannya waktu terus termotivasi ingin mengembangkan diri.

Perlahan, ia juga mulai mau membuka diri untuk dunia luar.

Pada usia remaja, di saat teman sebayanya masih asyik bermain dan bersenang-senang, ia justru banyak menghabiskan waktu untuk belajar dan mencari peluang.

Ia membangun Lunara dari titik terendah, ketika usianya masih tergolong muda, 20 tahun. Waktu dimana masa-masa kesenangannya ia korbankan, untuk kerja keras membangun mimpi-mimpinya.

Hingga ia berada di titik sekarang, membuktikan bahwa dari rasa kesepian pun, ia berhasil mewujudkan mimpinya menjadi sesuatu yang besar dan berharga.

Arvin terdiam sepanjang penuturan itu. Wajahnya memang tidak menunjukkan reaksi berlebihan, tapi hati kecilnya diam-diam semakin mengagumi.

...

Sementara itu, Tamara masih di kamarnya, tanpa tahu jika dua orang pria sedang menyebut namanya dalam obrolan.

Ditemani Bi Marni—sang asisten rumah tangga, ia mengemas beberapa barang yang perlu dibawa.

"Yang ini mau dibawa juga, Non?" tanya wanita paruh baya itu, ketika melihat satu kotak besar masih terbuka di hadapannya.

Tamara mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen di tangannya, melirik sebentar ke arah barang-barang di dalam kotak itu.

"Itu bawa ke gudang aja, Bi," jawabnya.

"Tapi ini kan foto-foto... " suara Marni tertahan.

Sorot matanya terpaku pada tumpukan bingkai foto, yang menumpuk di dalam kotak itu.

Beberapa potret masa-masa dulu, juga potongan kenangan Tamara kecil dengan seorang wanita dalam kebersamaan penuh canda, tawa, dan rona bahagia.

Tamara meletakkan dokumen di tangannya ke atas meja.

"Saya nggak perlu lagi mengenang tentang Mama, Bi. Jadi, singkirkan saja barang-barang itu," katanya dengan suara datar.

Tamara menarik napas pendek.

"Lagipula, kalau pun Mama masih ada di dunia ini... hidupnya juga pasti jauh lebih menyenangkan tanpa kami," ungkapnya.

Ia lantas kembali merapikan barang-barang miliknya, mencoba tetap tegar seperti biasa, meski matanya sudah berkaca-kaca.

BERSAMBUNG...

1
Wawan
Salam kenal buat Tamara ✍️
🌺Bunga_Ros⁹⁷
baca nyicil dlu beb, nnti aku kembali lgi setelah iklan yg satu ini😂🤣😁
🌺Bunga_Ros⁹⁷
pilihan papa pasti pria yg lebih matang dan dewasa, Tamara tenang aja.. semua akan baik² aja.. wkwkwkw 🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
pasti pilihan papa yg terbaik dan GK pernah salah, ayo ta terima jgn di tolak😁
🌺Bunga_Ros⁹⁷
papanya pasti ngejodohin sama pria lain nih klo udh gini cerita percintaan tamara😂
🌺Bunga_Ros⁹⁷
rata² seorang ayah memang gtu yah, di balik sikap cuek nya dia sama anak perempuan nya pasti di lain sisi ia tetap mengawasi
🌺Bunga_Ros⁹⁷
berita dlm sekejap udh tersebar aja nih🤭 makin deg²an aja
🌺Bunga_Ros⁹⁷
nyonya CEO mah santai 🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
GK usah di buat galau, Tamara GK rugi amat ninggalin pria yg GK tau diri kayak Andra itu jg
🌺Bunga_Ros⁹⁷
Tamara pasti cuman Mandang fisik sih ini pantas aja udh seefort itu, GK tau nya mokondo🤦
🌺Bunga_Ros⁹⁷
mampir di karya mu lgi beb walau udh terlambat jauh sekali 😂
🌺Bunga_Ros⁹⁷
bagi lu yg normal tapi bagi Tamara itu hal yg paling menjijikan 🤭
🌺Bunga_Ros⁹⁷
nikah dlu bloon biar GK lakuin dosa klo lgi birahi😁🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
adegan yg tadi udh cukup jls, mau lu jlsin apa lgi woii😁
🌺Bunga_Ros⁹⁷
jgn gini, lu pikir semua cwek bisa lu bodoh²in.. 😁🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
udh ketauan baru saling menyalahkan😂
🌺Bunga_Ros⁹⁷
udh mokondo gak tau diri lgi🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
iyah² putus, sampah tidak pantas dipelohara
🌺Bunga_Ros⁹⁷
bukan seperti yg kamu lihat🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
untung masih pacar mba, ayo hempaskan sampah itu😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!